Sabtu, 20 April 2013

Kealehan Sosial dan Personal

Homili Jumat 19 April 2013
Kis 9 : 1 – 20
Mzm 117
Yoh 6 : 52 - 59


KESALEHAN PERSONAL DAN KESALEHAN SOSIAL
*P. Benediktus Bere Mali, SVD*

Majalah Hidup 14 April 2013 halaman 50 menurunkan sebuah tulisan yang sangat menarik perhatian saya karena memuat tentang dua kesalehan yang bagaikan dua sisi mata uang yaitu kesalehan pribadi dan kesalehan sosial. Yang dimaksudkan dengan kesalehan pribadi adalah membersihkan diri di dalam  multidimensi bidang kehidupan yang mengelilingi kehidupannya terutama membentuk dirinya menjadi pribadi yang bermutu. Sedangkan kesalehan sosial adalah membersihkan sesama dan alam sekitar dalam segala bidang kehidupan supaya sesame dan alam sekitar menjadi yang berkualitas.  Latarbelakang tulisan tersebut lahir dari penulis yang melihat dan menemukan kecenderungan Gereja Katholik yang introvert tetapi melupakan peran  Gereja yang ekstrovert.  Tulisan itu bertujuan kembali membangkitkan kesadaran akan karakter Gereja yang introvert sekaligus ekstrovert atau misi ad intra sekaligus misi ad extra atau kesalehan personal sekaligus kesalehan sosial.

Bacaan pertama menampilkan tokoh Ananias memiliki dua kesalehan sekaligus. Kesalehan pribadinya tampil di dalam kedekatannya dengan Tuhan Yesus. Kesalehan sosialnya ditunjukkan dalam  perutusannya kepada Saulus dan membersihkan Saulus menjadi pribadi yang layak memiliki kedekatannya dengan Tuhan Yesus dan itu dinyatakan di dalam pertobatannya. Saulus menganiayah sesama manusia pengikut Yesus, kemudian berkat bantuan Ananias  Saulus berjalan meninggalkan manusia lama Saulus menuju manusia baru Paulus misionaris handal Tuhan Yesus.  

Pribadi yang memiliki kesalehan sosial sekaligus kesalehan personal memiliki kekuatannya yang bersumber dari Ekaristi Kudus. Yesus bersabda “Akulah Roti Hidup. Akulah Air Hidup. Barangsiapa makan dagingKu dan minum darahKu ia akan mengalami kehidupan yang kekal”.   Yesus adalah makanan rohani setiap hari bagi kita. Ekaristi yang kita rayakan setiap hari adalah sumber makanan jiwa kita. Kesetiaan kita menerima makanan jiwa setiap hari menunjukkan kita peduli dan setia pada kekekalan kehidupan jiwa kita.  Sebaliknya kealpaan kita menghadiri Ekaristi Kudus membuat kita selalu lapar akan makanan jiwa dan akan membawa kematian jiwa. Maka seorang imam tertahbis senantiasa menyediakan makanan jiwa di dapur altar Ekaristi Kudus setiap hari bagi umat yang Tuhan percayakan kepadanya. Setiap imam yang alpa misa secara sengaja membiarkan jiwa jemaat yang Tuhan percayakan, hidup merana bahkan jiwanya akan mengalami kematian.
Kita setiap hari berjuang memiliki kesalehan personal sekaligus kesalehan sosial. Keduanya kita perhatikan agar kesalehan kita tidak mengalami kepincangan di atas jalan panggilan kita sebagai orang Katolik. Pusat kekuatan kesalehan personal dan kesalehan sosial adalah Ekaristi Kudus.  Maka seorang Katolik yang mencintai diri dan sesama, mencintai hidup pribadi dan sesama untuk mengalami usia hidup panjang, dan bahkan abadi kehidupan jiwanya, ia semestinya setiap memakan makanan jiwa setiap hari secara teratur disiplin dan setia mengikuti Sakramen Ekaristi Kudus yang setiap hari dirayakan oleh seorang imam tertahbis.

Jumat, 19 April 2013

Homili Wisuda Sarjana Kamis 18 April 2013



WISUDA SARJANA ATAU WISUDA DURJANA
*P. Benediktus Bere Mali, SVD*
Kis 8:26 – 40 ; Mzm 66 : 8 – 9.16 – 17.20; Yoh 6 : 44 – 51

Homili Misa Syukur Wisuda, Kamis 18 April 2013, Pukul 19.30 – 20.30 WIB di Rumah Kediaman Ibu Merici Sri Puji Artanti di Lingkungan St. Katarina dengan Ketua Lingkungan Bapak Albertus, Wilayah III St. Mikael dengan Ketua Wilayah Bapak Simbolon, Paroki St. Stefanus Jl. Manukan Rukun  23 – 25, dengan pastor Parokinya Rm. Setefanus Kholik Kurniadi, Pr, -  Keuskupan Surabaya. Perayaan Ekaristi Syukur atas Wisuda saudari Nesya Pramesthi Anggun Kusuma dan Syukur atas Penempatan Kantor di Surabaya dan mutasi Saudari Natasia Raras Indah Puspita dari Jakarta ke Surabaya serta Pemberkatan Rumah Kediaman Ibu Merici Sri Puji Artanti.

Saya pada saat menerima sms dan telephone untuk merayakan misa syukur wisuda saudari Nesya Pramesthi Anggun Kusuma, saya langsung teringat akan pengalaman saya diwisuda di Sekolah Tinggi Filsafat Teologi Malang pada tanggal 4 Mei 2004. Usai acara resmi wisuda disusul makan bersama. Di sela-sela makan bersama itu ada banyak orang yang memberikan selamat kepada saya. Di antara sekian banyak orang yang memberi salam kepada saya, ada seorang pastor senior yang sempat menyampaikan pesan kepada saya seperti ini.  Peristiwa Wisuda adalah peristiwa yang penting dimaknai. Diwisuda sebagai sarjana bukan diwisuda sebagai durjana. Diwisuda sebagai sarjana berarti perilakunya semestinya dijiwai oleh sifat kesarjanaan bukan perilakunya mengarah kepada kedurjanaan.
Mendengar kata-kata itu membangkitkan saya untuk bertanya di dalam diri saya. Pertanyaan yang muncul adalah mengapa Pastor Senior itu mengatakan demikian? Barangkali pastor yang banyak makan asam garam dalam hidupnya telah menemukan banyak orang yang memang secara legal diwisuda sebagai sarjana tetapi perilakunya seperti seorang durjana. Perilaku durjana adalah orang yang melakukan kejahatan di dalam multidimensi bidang kehidupan. Sebaliknya perilaku seorang sarjana adalah orang yang hidup dalam hakekat kesajarnaan yaitu melakukan yang baik dan benar dalam multidimensi kehidupan.
Bacaan – bacaan Kitab Suci pada hari ini membicarakan ciri khas seorang sarjana. Keunikan seorang sarjana adalah senantiasa berdialog yang baik dengan Tuhan, sesama, dan diri sendiri.
Seorang Sarjana yang suka dialog dapat terungkap secara konkret di dalam doa-doanya, di dalam buku-buku yang dibacanya, dan di dalam percakapan langsung dengan sesama manusia lintas batas terutama penatua-penatua sebagai perpustakaan hidup/ buku tua yang selalu hidup dan membangkitkan secara langsung ataupun melalui dunia maya misalnya  melalui telephon, email, chating, BBM dan sebagainya. Dunia maya menyediakan peluang bagi manusia lintas batas untuk semakin berkembang dalam dialog untuk memajukan diri atau menyesatkan diri dan sesama.
Kita membangun dialog untuk kebaikan dan kebenaran universal. Dialog itu bertujuan mencari dan menemukan kebenaran yang universal. Pencarian dan penemuan  kebenaran universal itu memandu pencari dan penemu melaksanakan kebenaran itu di dalam hidup sehari-hari. Hanya orang yang rendah hati di hadapan Tuhan dan sesama dapat dituntun oleh kebenaran yang sejati.
Bacaan Pertama memberikan contoh ciri seorang sarjana. Bagi saya Filipus adalah seorang Sarjana yang baik. Dia berdialog dengan Tuhan dan mendengarkan Tuhan sebagai sang dialog yang sejati. Allah mengutus MalaikatNya membuka dialog dengan Filipus. Filipus melaksanakan hasil dialog dengan Tuhan itu. Kemudian Filipus menemukan seorang Etiopia, yang sedang berdialog dengan Tuhan secara tidak langsung di dalam Kitab Nabi Yesaya tentang Hamba Yahwe yang melakukan yang baik dan benar dalam penderitaanNya bagi banyak orang langgar batas. Hasil Dialog dengan Tuhan dari  Filipus dengan Seorang Etiopia itu dipertemukan oleh Allah sang dialog sejati yang selalu menyelamatkan semua orang lintas batas. Pertemuan hasil dialog itu akhirnya berjumpa dengan Tuhan sebagai sang dialog yang sejati membawa kebenaran dan kebaikan bagi dunia melintas batas. Filipus menemukan kebenaran Tuhan dalam diri Malaikat utusan Tuhan. Orang Etiopia itu menemukan kebenaran di dalam Buku khususnya di dalam Kitab Yesaya. Kebenaran dari atas dan dari bawah bertemu dalam diri Yesus Kristus yang telah bangkit sebagai pemenuhan kebenaran Kitab Suci dan Kebenaran Malaikat utusan Tuhan.
Penemuan Tuhan sang dialog sejati itu dalam diri Hamba Yahwe dalam Kitab Nabi Yesaya, yang menjadi nyata di dalam diri Tuhan Yesus yang telah bangkit. Penjelasan dan pewartaan Filipus kepada seorang Etiopia yang dulunya kafir karena belum dibaptis, kemudian berjalan menuju sumber air Hidup lalu Filipus membaptisnya dalam nama Bapa dan Putera dan Roh Kudus. Pembatisan itu terjadi karena kepercayaan tulus dari seorang Etipia itu kepada Kristus Yesus sang Air Hidup yang selalu memberikan kehidupan yang abadi kepada setiap orang yang percaya kepadaNya. 
Yesus adalah sang dialog yang sejati. Yesus adalah Air Hidup dan Roti Hidup. Perayaan Ekaristi adalah puncak pemberian Yesus adalah Air Hidup dam Roti Hidup kepada umat manusia yang percaya kepadaNya yang senantiasa setia mengikuti dan merayakan Perayaan Ekaristi. Seorang imam tertahbis senantiasa setia menyiapkan makanan dan minuman kekal dalam ekaristi bagi semua orang beriman. Absen dalam Ekaristi adalah tanda kemalasan dan ketidaksetiaan kepada Tuhan dan sesama yang Tuhan percayakan kepada Imam terpanggil dan tertahbis.
Tanda imam adalah Sarjana yang sejati yaitu selalu dialog dengan Tuhan dan sesama dalam freim Yesus adalah Hamba Yahwe dan Yesus adalah Sang Dialog Sejati yang selalu berjalan di atas jalan-jalan yang membawa keselamatan universal bagi semua orang.
Kita barangkali bukan sebagai sarjana secara legal diwisuda. Tetapi kita bisa hidup dijiwai oleh ciri khas seorang sarjana yaitu sebagai insan dialog dalam nama Yesus untuk menyelamatkan semua orang melanggar batas. Artinya kita bisa berjuang dan berupaya hidup secara baik dan benar di hadapan Tuhan dan sesama, dalam rangka menjadi pribadi yang berkualitas secara iman maupun dalam freim kemanusiaan.
Orang yang bermutu senantiasa mudah mendapat pekerjaan. Orang yang berkualitas selalu dibutuhkan banyak orang langgar batas. Orang yang bermutu membahagiakan banyak orang. Maka kita semestinya menjadi pribadi-pribadi yang bermutu dalam keluarga kita, di tempat kerja kita, dan di dalam lingkungan masyarakat kita. Amin.






SARJANA versus Durjana

WISUDA SARJANA ATAU WISUDA DURJANA
*P. Benediktus Bere Mali, SVD*
Kis 8:26 – 40 ; Mzm 66 : 8 – 9.16 – 17.20; Yoh 6 : 44 – 51

Homili Misa Syukur Wisuda, Kamis 18 April 2013, Pukul 19.30 – 20.30 WIB di Rumah Kediaman Ibu Merici Sri Puji Artanti di Lingkungan St. Katarina dengan Ketua Lingkungan Bapak Albertus, Wilayah III St. Mikael dengan Ketua Wilayah Bapak Simbolon, Paroki St. Stefanus Jl. Manukan Rukun  23 – 25, dengan pastor Parokinya Rm. Setefanus Kholik Kurniadi, Pr, -  Keuskupan Surabaya. Perayaan Ekaristi Syukur atas Wisuda saudari Nesya Pramesthi Anggun Kusuma dan Syukur atas Penempatan Kantor di Surabaya dan mutasi Saudari Natasia Raras Indah Puspita dari Jakarta ke Surabaya serta Pemberkatan Rumah Kediaman Ibu Merici Sri Puji Artanti.

Saya pada saat menerima sms dan telephone untuk merayakan misa syukur wisuda saudari Nesya Pramesthi Anggun Kusuma, saya langsung teringat akan pengalaman saya diwisuda di Sekolah Tinggi Filsafat Teologi Malang pada tanggal 4 Mei 2004. Usai acara resmi wisuda disusul makan bersama. Di sela-sela makan bersama itu ada banyak orang yang memberikan selamat kepada saya. Di antara sekian banyak orang yang memberi salam kepada saya, ada seorang pastor senior yang sempat menyampaikan pesan kepada saya seperti ini.  Peristiwa Wisuda adalah peristiwa yang penting dimaknai. Diwisuda sebagai sarjana bukan diwisuda sebagai durjana. Diwisuda sebagai sarjana berarti perilakunya semestinya dijiwai oleh sifat kesarjanaan bukan perilakunya mengarah kepada kedurjanaan.
Mendengar kata-kata itu membangkitkan saya untuk bertanya di dalam diri saya. Pertanyaan yang muncul adalah mengapa Pastor Senior itu mengatakan demikian? Barangkali pastor yang banyak makan asam garam dalam hidupnya telah menemukan banyak orang yang memang secara legal diwisuda sebagai sarjana tetapi perilakunya seperti seorang durjana. Perilaku durjana adalah orang yang melakukan kejahatan di dalam multidimensi bidang kehidupan. Sebaliknya perilaku seorang sarjana adalah orang yang hidup dalam hakekat kesajarnaan yaitu melakukan yang baik dan benar dalam multidimensi kehidupan.
Bacaan – bacaan Kitab Suci pada hari ini membicarakan ciri khas seorang sarjana. Keunikan seorang sarjana adalah senantiasa berdialog yang baik dengan Tuhan, sesama, dan diri sendiri.
Seorang Sarjana yang suka dialog dapat terungkap secara konkret di dalam doa-doanya, di dalam buku-buku yang dibacanya, dan di dalam percakapan langsung dengan sesama manusia lintas batas terutama penatua-penatua sebagai perpustakaan hidup/ buku tua yang selalu hidup dan membangkitkan secara langsung ataupun melalui dunia maya misalnya  melalui telephon, email, chating, BBM dan sebagainya. Dunia maya menyediakan peluang bagi manusia lintas batas untuk semakin berkembang dalam dialog untuk memajukan diri atau menyesatkan diri dan sesama.
Kita membangun dialog untuk kebaikan dan kebenaran universal. Dialog itu bertujuan mencari dan menemukan kebenaran yang universal. Pencarian dan penemuan  kebenaran universal itu memandu pencari dan penemu melaksanakan kebenaran itu di dalam hidup sehari-hari. Hanya orang yang rendah hati di hadapan Tuhan dan sesama dapat dituntun oleh kebenaran yang sejati.
Bacaan Pertama memberikan contoh ciri seorang sarjana. Bagi saya Filipus adalah seorang Sarjana yang baik. Dia berdialog dengan Tuhan dan mendengarkan Tuhan sebagai sang dialog yang sejati. Allah mengutus MalaikatNya membuka dialog dengan Filipus. Filipus melaksanakan hasil dialog dengan Tuhan itu. Kemudian Filipus menemukan seorang Etiopia, yang sedang berdialog dengan Tuhan secara tidak langsung di dalam Kitab Nabi Yesaya tentang Hamba Yahwe yang melakukan yang baik dan benar dalam penderitaanNya bagi banyak orang langgar batas. Hasil Dialog dengan Tuhan dari  Filipus dengan Seorang Etiopia itu dipertemukan oleh Allah sang dialog sejati yang selalu menyelamatkan semua orang lintas batas. Pertemuan hasil dialog itu akhirnya berjumpa dengan Tuhan sebagai sang dialog yang sejati membawa kebenaran dan kebaikan bagi dunia melintas batas. Filipus menemukan kebenaran Tuhan dalam diri Malaikat utusan Tuhan. Orang Etiopia itu menemukan kebenaran di dalam Buku khususnya di dalam Kitab Yesaya. Kebenaran dari atas dan dari bawah bertemu dalam diri Yesus Kristus yang telah bangkit sebagai pemenuhan kebenaran Kitab Suci dan Kebenaran Malaikat utusan Tuhan.
Penemuan Tuhan sang dialog sejati itu dalam diri Hamba Yahwe dalam Kitab Nabi Yesaya, yang menjadi nyata di dalam diri Tuhan Yesus yang telah bangkit. Penjelasan dan pewartaan Filipus kepada seorang Etiopia yang dulunya kafir karena belum dibaptis, kemudian berjalan menuju sumber air Hidup lalu Filipus membaptisnya dalam nama Bapa dan Putera dan Roh Kudus. Pembatisan itu terjadi karena kepercayaan tulus dari seorang Etipia itu kepada Kristus Yesus sang Air Hidup yang selalu memberikan kehidupan yang abadi kepada setiap orang yang percaya kepadaNya. 
Yesus adalah sang dialog yang sejati. Yesus adalah Air Hidup dan Roti Hidup. Perayaan Ekaristi adalah puncak pemberian Yesus adalah Air Hidup dam Roti Hidup kepada umat manusia yang percaya kepadaNya yang senantiasa setia mengikuti dan merayakan Perayaan Ekaristi. Seorang imam tertahbis senantiasa setia menyiapkan makanan dan minuman kekal dalam ekaristi bagi semua orang beriman. Absen dalam Ekaristi adalah tanda kemalasan dan ketidaksetiaan kepada Tuhan dan sesama yang Tuhan percayakan kepada Imam terpanggil dan tertahbis.
Tanda imam adalah Sarjana yang sejati yaitu selalu dialog dengan Tuhan dan sesama dalam freim Yesus adalah Hamba Yahwe dan Yesus adalah Sang Dialog Sejati yang selalu berjalan di atas jalan-jalan yang membawa keselamatan universal bagi semua orang.
Kita barangkali bukan sebagai sarjana secara legal diwisuda. Tetapi kita bisa hidup dijiwai oleh ciri khas seorang sarjana yaitu sebagai insan dialog dalam nama Yesus untuk menyelamatkan semua orang melanggar batas. Artinya kita bisa berjuang dan berupaya hidup secara baik dan benar di hadapan Tuhan dan sesama, dalam rangka menjadi pribadi yang berkualitas secara iman maupun dalam freim kemanusiaan.
Orang yang bermutu senantiasa mudah mendapat pekerjaan. Orang yang berkualitas selalu dibutuhkan banyak orang langgar batas. Orang yang bermutu membahagiakan banyak orang. Maka kita semestinya menjadi pribadi-pribadi yang bermutu dalam keluarga kita, di tempat kerja kita, dan di dalam lingkungan masyarakat kita. Amin.







Kamis, 18 April 2013

Warga Dunia dan Warga Surga



Misa Requiem bagi Bapak Simon Gunawan Tirtapraja di Lingkungan Simon IV wilayah Simon Paroki Roh Kudus Rungkut Keuskupan Surabaya. Pastor Paroki Roh Kudus adalah Rm. Stefanus IKAS SVD. Ketua Wilayah Simon adalah  Bapak Antonius Sulianto. Ketua Lingkungan Simon IV adalah Ibu Maria Fransiska Sulianto. Pemimpin Ekaristi adalah Rm. Benediktus Bere Mali, SVD. Video ini berisi Homili Rm. Benediktus Bere Mali SVD dalam misa Requiem  atas RIP. Bapak Simon Gunawan  Tirtapraja di Rumahnya di Wilayah Simon Lingkungan Simon IV, Paroki Roh Kudus Rungkut, Keuskupan Surabaya. Homili berdasarkan Bacaan Kitab Wahyu 20 : 11- 15 dan Injil Yohanes 14 : 1 -6.

“WARGA DUNIA DAN WARGA SURGA”
Homili Misa Requiem
RIP. Bapak Simon Gunawan Tirtopraja
Rabu Malam 17 April 2013 di Wliayah Simon 4
Paroki Roh Kudus – Surabaya
Why 20 : 11 – 15
Yoh 14 : 1 – 6
*P. Benediktus Bere Mali SVD*

Kita semua adalah warga negara Indonesia. Kita adalah umat Paroki Roh Kudus. Apa buktinya kita adalah umat Katolik Paroki Gereja Roh Kudus Rungkut? Apa buktinya kita adalah warga Negara Indonesia? Apa tanda legal bahwa kita ini adalah orang Katolik dan Warga Negara Indonesia? Tanda legal kita sebagai warga negara Indonesia adalah memiliki Kartu Tanda Penduduk Warga Negara  Indonesia. Kita adalah warga Gereja Katolik secara legal adalah nama kita tercatat di dalam buku Baptis Paroki Roh Kudus dan memiliki Surat Baptis yang dikeluarkan Gereja Roh Kudus. Ketika kita memiliki Kartu Tanda Penduduk Warga Negara Indonesia, kita pergi kemana saja di wilayah Kesatuan Negara Republik Indonesia tanpa menghadapi aneka kesulitan karena identitas kita jelas, tidak diragukan. Ketika nama kita tercatat di dalam Buku Permandian Paroki dan Memiliki Surat Baptis Paroki, kita tidak mengalami kesulitan untuk mengurus berbagai hal yang berhubungan dengan Gereja Roh Kudus karena identitas kita tidak diragukan lagi. Demikianlah persyaratan kita sebagai orang Katolik dan Warga Negara Republik Indonesia.
Perjalanan kita menuju Surga pun membutuhkan identitas yang jelas dan pasti tidak meragukan.Bacaan pertama Wahyu 20 : 11 - 15 menampilkan  syarat kita kelak menjadi warga Surga. Persyaratan itu adalah nama harus tercatat di dalam Kitab Kehidupan. Mazmur 69 : 29 berkata orang benar namanya tercatat di dalam Kitab Kehidupan. Sebaliknya nama orang jahat tidak tercatat atau terhapus dari Kitab Kehidupan. Ktab Keluaran 32 : 32 - 33 berkata bahwa nama orang berdosa terhapus dari dalam Kitab Kehidupan. Orang yang setia pada Yahwe namanya tercatat rapi di dalam Kitab Kehidupan.  
Dasar Biblis tersebut menyampaikan pesan pasti bagi kita di dalam perjalanan hidup di dunia ini menuju kebahagiaan abadi di Surga. Kita masih diberikan peluang untuk hidup di dunia ini. Selama hidup di dunia ini kita senantiasa berlomba-lomba melakukan yang baik dan benar yang didasarkan Sabda Yesus yang menyelamatkan semua orang lintas batas. Mengapa Yesus? Karena Yesus adalah jalan kebenaran dan kehidupan. Hanya melalui Yesus semua orang yang beriman kepadaNya tiba di dalam rumah Bapa ( Yohanes 14 : 6). Hanya di dalam nama Yesus ada keselamatan (Kis 4 : 12). Kepastian-kepastian biblis yang menegaskan bahwa Yesus adalah jalan kepada kehidupan kekal  ini memimpin kita berjalan di atas jalan - jalan keselamatan dan kebenaran serta kebaikan universal lintas kultur, yang dirancang Tuhan Yesus selama perjalanan kita di atas bumi ini. JalanNya menyelamatkan. Jalan dosa setan atau iblis menghancurkan. Dengan kata lain dasar kitab Suci ini memperkokoh iman kita bertumbuh dan berkembang.  
Kita beriman kepada Tuhan Yesus sang penyelamat kita agar kita menerima keselamatanNya sebagai benteng dan perisai bagi kita. Kita berdoa untuk keselamatan diri. Tetapi kita juga berdoa untuk keselamatan banyak orang lain yang ada di sekitar kita. Dengan kata lain doa kita memiliki aspek personal dan aspek sosial. Atau dengan kata lain Iman kita menuntun kita berjalan di atas jalan kesalehan pribadi dan kesalehan sosial. Kita beriman dan berdoa untuk  membersihkan diri dari segala noda lumpur dosa kita. Kita juga berdoa dan beriman kepada Kristus yang telah bangkit untuk membersihkan noda lumpur dosa sesama di sekitar kita. Tujuannya adalah kebersihan diri dan kebersihan sosial dalam arti fisik dan spiritual berjalan secara merata dan seimbang.
Aspek sosial iman sesorang yang menyelamatkan sesama ditampilkan dalam Yoh 11 : 25 - 27. Iman Marta kepada Yesus adalah Mesias, membangkitkan Lazarus yang telah meninggal. Dasar aspek sosial iman pribadi Marta yang menyelamatkan Lazarus yang telah meninggal, menjadi dasar bagi kita pada malam hari ini berdoa bagi keselamatan kekal Bapak Simon Gunawan Tirtapraja yang dipanggil oleh Tuhan dari antara kita yang masih hidup di dunia ini.
Mendokan sesama adalah bukti cinta dan perhatian kita kepada sesama. Secara psiokologis, kita diperhatikan dan dipedulikan serta dihargai oleh sesama membangkitkan kebahagiaan sendiri di dalam diri dan hati kita. Kita  secara spritual membutuhkan dukungan doa-doa dari sesama kita. Kita bersyukur kepada Tuhan yang mengutus utusanNya  yang menjadi nyata di dalam diri sesama yang menjadi donatur spiritual di samping dukungan material lainnya. Perasaan psikologis dan spiritual dari orang yang mengalami perhatian sesama, sungguh membangkitkan rasa percaya diri dan bahagia karena sesama sekitar secara tulus memberikan cinta, perhatian bagi kita. Senyum dan gembira bahagia pun lahir dari dalam ketulusan Hati Bapak Simon Gunawan Tirtapraja manakala kita semua secara tulus dalam iman memberikan sentuhan spiritual yang menyelamatkannya yang diungkapkan di dalam doa-doa kita, yang puncaknya adalah EKaristi Kudus. Kita senantiasa berdoa bagi Bapak Simon karena doa-doa kita menyelamatkan Bapak Simon.