Senin, 11 Januari 2021

Renungan Misa Harian Selasa 12 Januari 2021


*P. Benediktus Bere Mali, SVD*


Ibr. 2: 5-12

Mrk. 1:21b-28


 *Apa perbedaan antara  Yesus dengan Ahli Taurat dalam berbicara  dan mengajar?* 


Bicara berdasarkan pikiran orang lain rasanya kurang memberi kepuasan Psikologis pembicara. Tetapi berpikir dan berbicara lahir dari dalam pembicara itu sendiri, pasti akan memberi kepuasan tersendiri.  Contoh beberapa pengkotbah mensharingkan bahwa pengalaman membawa renungan atau kotbah yang lahir dari refleksi yang mendalam pasti memberi kepuasan Psikologis dan spiritual yang sangat luarbiasa. Tetapi pengkotbah yang hanya membawakan kotbah orang lain, bukan hasil refleksi pengkotbah, rasanya sesuatu yang bilang yaitu kepuasan Psikologis dan spiritual serta Sosial.



perkataan dan ajaran Yesus lahir dari diriNya sendiri. Artinya pembicaraanNya di depan publik keluar dari sebuah refleksi dan penghayatan yang mendalam. Semua yang dikatakan-Nya, dilakukan-Nya dan semua yang dilakukan-Nya, diwartakan-Nya. Pengajaran Yesus yang lahir  dari refleksi yang mendalam dan lahir dari meditasi yang mendalam dapat  membuat pendengar tahkjub. Sedangkan Ahli- Ahli Taurat  dapat bicara dan mengajar tetapi mereka sendiri tidak melakukan apa yang mereka ajarkan, dapat menciptakan kehilangan Rasa takhjub publik sebagai observer dan audience. 


Ajarkanlah apa yang dilakukan. Laksanakanlah apa yang dikatakan. Ajaranmu keluar dari teladanmu. Semua yang mendengarmu pasti takhjub penasaran untuk seperti Anda.***

Minggu, 10 Januari 2021

Renungan Misa Harian Senin 11 Januari 2021


 

Bacaan 

Ibr.1:1-6

Mrk. 1-14-20.

 

*P.Benediktus Bere Mali, SVD*

 

 *Mengapa setelah Yohanes Pembaptis ditangkap, Yesus meneruskan tugas perutusan-Nya dengan memilih para murid?*

 

 

Sudah banyak orang yang dibaptis oleh Yohanes Pembaptis. Yesus melanjutkan apa yang sudah dimulai Yohanes Pembaptis. Pembinaan iman bagi mereka yang telah dibaptis sebaiknya Yesus lakukan agar dengan demikian mereka Percaya kepada Sang Mesias yaitu Yesus sendiri semakin kokoh. Pembinaan iman bagi yang telah dibaptis  Perlu diberi porsi yang memadai agar rasa Percaya kepada Sang Mesias semakin Hari semakin mantap. 

Selain itu masih banyak juga yang belum dibaptis dan untuk mereka Yesus diutus agar mereka bertobat dan Percaya kepada -Nya. Kebutuhan misi begitu kompleks tetapi tenaga terbatas. Satu orang saja yang membina umat dan membaptis orang rupanya sangat lamban untuk secara cepat menyebarkan Khabar Gembira yang menarik lebih banyak orang Percaya kepada Sang Mesias.

Dibutuhkan team kerja yang solid dan memiliki semangat pelayanan yang terkoordinasi , terkontrol, dievaluasi secara rutin,dan jika dalam evaluasi ada yang Perlu direvisi maka segera revisi untuk mencapai Tujuan tugas pelayanan dan perutusan yaitu mempertobatkan, membaptis, Percaya kepada Tuhan dan menjadi anak-anak Allah. Yesus memiliki kesadaran yang Tinggi tentang Misi dan bermisi dalam team dengan program yang jelas, pelaksanaannya melibatkan team kerja, dan ada proses monitoring dan evaluasi dalam agenda yang rapi, serta bila ada yang Perlu direvisi setelah evaluasi maka sesegera mungkin direvisi dan lalu dikonseptualisasi secara mantap lalu diterapkan sampai tujuan Misi tercapai yaitu mempertobatkan banyak orang secara terukur yaitu berapa banyak orang yang dibaptis, dan berapa banyak yang dibina setelah dibaptis dapat terlihat di dalam tugas perutusan yang sedang dan terus dilakukan sesuai konteks tuntutan zaman.

 

Memonitor program Misi yang sedang dilaksanakan, jadwal evaluasi dan revisi yang jelas, dapat dengan mudah  untuk mencapai Tujuan Misi yaitu anggota yang dibaptis meningkat, Percaya kepada Yesus semakin kokoh lewat pembinaan iman, dan banyak yang terlibat ambil bagian di dalam Misi Yesus. Di dalam Misi Yesus ini ada aspek animator, koordinator dan administrator. Yesus sudah mulai di Awal misiNya yang dimulai di Galilea. Kita tinggal melanjutkannya sesuai situasi dan kondisi zaman Misi Kita Hari ini. Kerja team dan team kerja merupakan sebuah opsi penting untuk Misi Dewasa ini secara lebih cepat dan Meluas.***

Pesta Pembaptisan Tuhan Minggu 10 Januari 2021

Pesta Pembaptisan Tuhan

Bacaan

Yes 55:1-11

1Yoh 5:1-9

Mrk 1: 7-11

Rendah Hati Membuka Diri Terhadap Tuhan dan Sesama serta alam lingkungan.

·        P. Benediktus Bere Mali, SVD*

 

Mengapa Yesus dibaptis pada usia yang ke -30 di Sungai Yordan?

 Menurut hukum Yahudi seseorang yang layak berbicara tentang hukum Taurat di depan publik    adalah orang yang telah berusia 30 Tahun (Luk 3:23) dengan pengetahuan yang memadai dan pribadi yang Dewasa secara Sosial, emosional dan  kesalehan yang mendalam serta hidup bijaksana. Dengan demikian Pembaptisan Yesus untuk sebuah tugas perutusan menghadirkan Khabar keselamatan kepada segala bangsa di bumi, sudah memenuhi persyaratan dalam konteks setempat.

 Pembaptisan ini berlangsung di Sungai Yordan. Mengapa di antara sekian banyak air, hanya Air Yordan yang dipilih oleh Yesus menjadi tempat Pembaptisan bagi-Nya?

Pilihan air Sungai Yordan memiliki kepantasan seturut rencana Allah menyelamatkan manusia.  Sungai Yordan memotong Padang gurun dan panjangnya kurang lebih 200 km dari hulu sampai ke hilir, sebagai tempat dimana Yohanes berseru-seru, "siapkanlah jalan bagi Tuhan." Siapkanlah jalan bagi Tuhan ini  dijawab atau terpenuhi oleh Yang dibaptis di Sungai Yordan pada Hari ini. Sungai Yordan adalah tempat terjadinya peristiwa-peristiwa penting dalam sejarah keselamatan. Musa menyerahkan tongkat kepemimpinan kepada Yosua sebelum bangsa Israel menyeberangi Sungai Yordan ke tanah terjanji- tanah Kanaan. Di Sungai Yordan yang memotong padang gurun inilah tempat Yesaya dan Yohanes mewartakan pertobatan kepada bangsa-bangsa sebagai persiapan penyambutan Sang Mesias yang Hari ini dibaptis oleh Yohanes.

Peristiwa Mujizat pembelahan Sungai Yordan oleh Tuhan untuk penyeberangan Israel Kita temukan dalam Kitab Yosua (Yos.3:14-17). Dan sebagai peringatan abadi akan mujizat Sungai Yordan yang meluap pada musim panen, tetapi Allah mengeringkannya sehingga bangsa Israel boleh menyeberangi Sungai Yordan memasuki tanah terjanji, tanah Kanaan maka Yosua memilih wakil 12 Suku Israel yang berjumlah 12 orang dan mereka mengangkat batu dari dalam Sungai Yordan yang kering itu lalu dengan 12 Batu yang dibawah oleh 12 wakil Suku Israel, didirikanlah mezbah di Gilgal yang ada sampai Hari ini. Setiap kali ditanya oleh anak Cucu tentang susunan Batu yang membentuk mezbah ini, orang-orang tua menjawabnya bahwa inilah kenangan sejarah mujizat Allah mengeringkan Sungai Yordan di depan Tabut Perjanjian Tuhan di Masa kepemimpinan Yosua yang mengantar masuk Bangsa Israel ke dalam Tanah Kanan yaitu tanah yang Tuhan janjikan (Yos. Bab 3 dan Bab 4).

Dari segi geografis, Sungai Yordan adalah Sungai yang letaknya paling rendah di kedalaman  393 meter di bawah permukaan Laut. Dengan demikian Sungai Yordan adalah Sungai yang paling besar dan meluap pada musim panen karena Sungai Yordan menerima semua Sungai kecil yang ada di sekitarnya. Yesus Pilih dibaptis di tempat yang paling rendah ini dengan sebuah makna terdalan tentang kerendahan HatiNya di hadapan Tuhan dan Sesama khususnya dibaptis oleh orang yg tidak pantas untuk tunduk dan membuka tali kasutNya yaitu Yohanes yang merendahkan diri serendah-rendahnya di bawah hamba di hadapan Yesus. Tetapi Yesus Pilih dibaptis oleh Yohanes.

 Makna kerendahan Hati di balik alam Sungai Yordan yang menerima semua Sungai kecil di sekitarnya, dan Yohanes yang merendahkan diri serendah-rendahnya di bawah seorang hamba, dan Yesus yang rendah Hati ingin dibaptis di Sungai Yordan adalah sebuah situasi dan kondisi lahir dan bathin yang sangat layak dan pantas untuk mendengar suara dari dalam Surga: “ Engkaulah Anak-Ku yang Ku-kasihi, kepada-Mulah Aku berkenan.”

 

Mereka yang rendah hati yang layak mendengar suaraku: " Engkaulah Anak-anak-Ku yang Ku-kasihi, kepadaMulah aku berkenan." Orang yang rendah hati senantiasa membuka Diri untuk Tuhan dan Sesama bagi kemajuan Diri dan kebaikan bersama. Sebaliknya orang yang sombong utamakan Diri sendiri dan menganggap Diri sempurna dan dengan demikian orang sombong menutup Diri terhadap Masukan dari luar sekalipun Masukan itu untuk kebaikan Diri dan Sesama. Orang sombong sering secara halus tapi agresif memperalat yang lain untuk Menonjolkan dirinya sendiri, termasuk memperalat agamanya untuk mencari pujian dirinya sendiri.

 

 

Pertanyaan kedua yang mempertajam renungan ini adalah: Mengapa sebelum Suara dari   Surga terdengar " Engkaulah anak-Ku yang Ku-kasihi, kepada-Mulah Aku berkenan" terjadi peristiwa Yesus keluar dari dalam Air Sungai Yordan, langit terkoyak, Roh seperti burung merpati turun ke atas-Nya?

 

Keluar dari air Sungai Yordan yang dipilih oleh Yesus dibaptis karena Air Sungai Yordan yang memotong padang gurun tempat dimana Yohanes berseru-seru "Siapkanlah jalan bagi Tuhan." Yesus ingin dibaptis Yohanes untuk menjawab Karya Yohanes dan Nabi Yesaya dan seluruh sejarah keselatan yang terjadi di Sungai Yordan. Yesus memenuhi Nubuat Yesaya dan Yohanes dan seluruhPerjanjian Lama.

 

Keluar dari air Sungai Yordan menunjukan orang yang telah bersih secara fisik.Tentu ada perbedaan tajam sebelum turun- masuk -cemplung ke dalam Air Sungai Yordan. Air merupakan  simbol yang membersihkan semua non-fisik yang masih kotor. Setelah bersih lahir dan bathin maka langit pun terkoyak dan Roh Kudus Turun dan Sabda Allah terdengar dari dalam Surga " Engkaulah Anak-Ku yang Ku-kasihi, kepada-Mulah Aku berkenan."

 

Peristiwa Sungai Yordan dalam Pembaptisan ini adalah Sebuah Perjumpaan antara Sesama yang terjadi ketika semua pihak yang terlibat di dalamnya  memiliki kesamaan yang disatukan dalam sebuah kata Terbuka. Bukan tertutup.  Masing-masing orang membuka Diri dan keluar dari  ketertutupannya dengan satu arah yaitu untuk berjumpa dengan Sesama. Untuk itu orang yang mau bertemu dengan yang lain sebaiknya pertama-tama tampil layak agar pertemuan yang akan berlangsung dalam situasi yang nyaman/pantas/layak/bersih/tidak kotor.

Satu hal utama untuk berjumpa adalah bersih lahir dan bathin. Yesus membuka Diri lewat "keluar" dari dalam Air, setelah bersih, Suci, Kudus. Roh Kudus Turun dari Surga setelah langit terkoyak. Jalan dari Surga ke Bumi sudah terbuka. Suara Sabda Allah mengalir dari dalam Surga. Perjumpaan Allah Tritunggal membuka pintu Surga dari Bumi ke Surga dan dari Surga ke  Bumi.

 

 *Membuka Pintu dari Surga ke  bumi dan dari Bumi ke Surga*

 

Yesus dari Surga. Malaikat Gabriel membawa Sabda Allah kepada Santa Maria. Sabda itu dikandung Maria dari Roh Kudus berkat persetujuan Maria, "Aku ini hamba Tuhan, terjadilah padaku menurut kehendak-Mu.” Santa Maria dan Santo Yusuf menjadi orang tua Yesus sampai usia 30 Tahun (Luk 3:23) dibaptis di Sungai Yordan. Pembaptisan Yesus adalah perutusan Yesus untuk mulai berkarya  di publik. Yesus melayani semua orang untuk mengantar semua berjalan bersama Sang Sabda menuju Bapa di Surga dalam bimbingan Roh Kudus. Yesus adalah jalan kebenaran kehidupan (Yoh 14:6). Yesus adalah satu-satunya "guide" semua orang masuk ke pangkuan Allah Bapa di Surga.

Inilah Kerja sama Allah Putera, Allah Roh Kudus dan Allah Bapa dalam menyelamatkan semua Bangsa di bumi. Pesta Pembaptisan Tuhan adalah sebuah titik Awal tugas perutusan dengan kerja sama team yang kokoh dalam melaksanakan program besar untuk menyelamatkan umat manusia di bumi agar semua orang berjalan bersama dalam bimbingan Roh Kudus menuju Bapa di Surga.

Kita semua ingin maju baik secara personal maupun secara sosial serta dan dalam kehidupan religius. Untuk maju bersama bagi kebaikan bersama komunitas, penting semua Kita terbuka. Membuka Diri untuk majukan hidup Bersama dan pada saat yang bersamaan membuka Diri untuk orang lain memberi Masukan bagi kemajuan Diri. Terbuka awal kemajuan. Tertutup Awal keterbelakangan atau kemunduran. Terbuka, untuk  memajukan dan dimajukan adalah orang yang layak mendengar Suara dari atas, dari Surga untuk kemajuan di bawah di bumi: “Engkaulah Anak-anak-Ku yang Ku-Kasihi, kepada-Mulah Aku berkenan." Orang yang rendah hati dapat membuka Diri bagi yang lain yaitu Tuhan dan Sesama serta alam lingkungan untuk memajukan Diri dan Sesama. “Engkaulah Anak-anak-Ku yang Ku-Kasihi, kepada-Mulah Aku berkenan." ***

Sabtu, 09 Januari 2021

Homili HR Pembaptisan Tuhan, CKMS Manila 10 Januari 2016 Pada Natal dan Tahun Baru Bersama Flobamora Global Fhilipine

  KEMAUAN YESUS DIBAPTIS DI AIR YORDAN

*P. Benediktus Bere Mali, SVD*

Homili HR Pembaptisan Tuhan, CKMS Manila  10 Januari 2016 Pada Natal dan Tahun Baru Bersama Flobamora Global Fhilipine

Thn.c. Yes 40 :1-5.9-11. Tit 2 : 11 -14; 3 : 4 – 7; Luk 3:15-16.21-22

Yohanes memilih  Sungai Yordan sebagai tempat pembaptisan. Pemilihan ini melahirkan  di dalam diri kita masing-masing sebuah pertanyaan ini: Mengapa di antara sekian banyak air yang ada, hanya air Yordan yang jadi tempat baptis banyak orang dan Tuhan Yesus? Alasan mendasar yang membuat air Yordan paling unik bila dibanding dengan air yang lain adalah karena Sungai Yordan memotong padang gurun, tempat dimana Yohanes berseru-seru  dengan suara yang sangat lantang tentang : siapkanlah jalan bagi Tuhan.

Seruan Yohanes ini sesungguhnya  menegaskan kembali apa yang dinubuatkan nabi Yesaya kepada bangsa Israel: “Siapkanlah di padang gurun jalan bagi Tuhan”.  Banyak orang yang menanggapi seruan penegasan itu dengan sebuah hati yang terbuka lebar. Tanggapan baik itu tampak melalui begitu banyak jumlah orang yang pergi ke Sungai Yordan untuk berjumpa dengan Yohanes dan dibaptis di dalam air Yordan. Kalau kita mengikuti betul proses orang banyak yang datang ke air Yordan itu, kita dapat menemukan bahwa dari antara sekian banyak orang yang turun ke dalam air Yordan dan dibaptis itu, memiliki motivasi yang berbeda-beda antara satu orang dengan yang lainnya. Ada yang datang ke Sungai Yordan dan bersedia dibaptis karena hanya sekedar rame-rame mengikuti teman-temannya yang juga mau dibaptis. Ada yang datang ke sungai Yordan karena hanya sekedar ingin mengetahui, seperti siapakah Mesias yang diwartakan Yohanes. Ada yang datang ke Sungai Yordan memang didasari oleh pertanyaan dalam hati apakah Mesias yang dinantikan itu adalah Yohanes yang membaptis mereka atau kah orang lain. Dengan kata lain, menerima baptisan di Sungai Yordan tidak selamanya memberikan jaminan atau jawaban yang memuaskan atas semua keraguan dan pertanyaan iman tentang siapakah Mesias yang sesungguhnya yang mereka dengar dan baca dalam Kitab Suci.

Beraneka keraguan dan pertanyaan tentang siapakah Mesias yang dinanti-nantikan itu dapat ditemukan dalam persoalan pokok berikut, yang menurut hemat saya, barangkali  juga menjadi persoalan iman kita di dalam sepanjang sejarah ziarah hidup iman kita. Persoalan besar itu dapat dirumuskan dalam sebuah pertanyaan penting sekaligus menarik: Mengapa Yesus begitu kuat memiliki  kemauan untuk turun ke Sungai Yordan dan dibaptis, walaupun dengan sebuah awal yang menghalangi Yohanes untuk membaptis karena Yohanes benar-benar secara jujur menyatakan sebuah rasa tidak layak untuk membaptis Yesus yang diwartakanNya?

Yesus mau turun ke Sungai Yordan sebagai cara  buka Pintu Surga dan  Hati yang dahulu tertutup rapat

 Yesus memiliki kemauan yang begitu luarbiasa besar untuk turun ke dalam Sungai Yordan karena bagi Yesus, hanya dengan jalan itulah, semua orang yang telah turun ke dalam air Yordan, diperbolehkan atau diijinkan atau lebih tepatnya diperkenankan untuk mendengarkan Suara dari langit yang penuh berdaya revolusioner, : “Engkaulah AnakKu yang terkasih, kepada-Mulah Aku berkenan”.  Suara ini adalah kata-kata pengakuan dari Allah Bapa di Surga bahwa Yesus adalah Mesias yang dinanti-nantikan; Yesus adalah yang berkenan sebagai Mesias dan bukan orang yang lain. Suara itu juga menegaskan bahwa semua kehendak Tuhan tentang semua yang terbaik  bagi manusia telah diberikan kepada Yesus maka semua orang yang dibaptis menerima undangan dari Tuhan untuk mendengarkan Yesus dan melaksanakan semua yang diajarkan Yesus. Dengan demikian Suara itu mengubah yang ragu tentang Mesias menjadi percaya bahwa Yesus adalah Mesias yang utama dan dengan demikian mereka menjadi lebih yakin dan pasti mendengarkan Yesus dan melaksanakan semua yang diajarkan Yesus karena semua apa yang disampaikan Yesus senantiasa membuat hati sejuk para pendengarNya dan damai yang dialami itu senantiasa diharapkan semua mahkluk di muka bumi karena selalu menarik hati.  

Kesimpulan

Dengan demikian, ditemukan sebuah benang merah bahwa Siapkanlah jalan bagi Tuhan, dijawab oleh mereka yang dibaptis di Sungai  Yordan, karena hanya melalui cara itu, mereka yang dibaptis boleh mendengarkan suara Allah Bapa: “Engkaulah Putera dan Puteriku yang Terkasih”.  Kita semua yang telah dibaptis menjadi putera dan puteri yang dikasihi Tuhan, selalu dekat dengan Tuhan, bahkan bukan hanya itu melainkan kita juga selalu menjadi orang yang berkenan bagi Tuhan untuk tinggal bersamaNya sebagai orang yang selalu hidup di dalam Keluarga Allah (Kej 9:16/tema Natal 2015).  Dan satu contoh yang menjadi tanda nyata sebagai orang yang selalu hidup di dalam keluarga Allah adalah Senantiasa Rajin Berbuat Baik bagi semua orang tanpa syarat apapun. ***

Renungan Misa Harian Sabtu 9 Januari 2021



*P. Benediktus Bere Mali, SVD*


Bacaan Misa Harian 

1Yoh 5:14-21

Yoh 3:22-30


Rendah hati Memindahkan Kesombongan pada tempatnya 


Di antara sekian banyak kata kerja aktif yang paling penting dalam Kitab Suci, bagi saya hanya satu kata kerja yang paling penting yaitu bukan menyombongkan tetapi merendahkan diri sampai titik nol (zero) di hadapan Tuhan dan Sesama dalam kehidupan bersama. Kesadaran penuh menempatkan Diri di titik zero, kosong, nol, 0 adalah sebuah kesempatan emas untuk siap menerima semua dari luar Diri untuk diisi, dilengkapi, disempurnakan, diperkaya oleh yang dari luar Diri yaitu Tuhan dan Sesama yang menyelamatkan bukan dari Setan sombong yang menindas, menguasai, menghancurkan, melemahkan, memporakporandakan Diri. Kesadaran penuh dan kemauan yang kuat serta kejujuran membuka Diri yang  berada pada titik 0, kosong untuk siap diisi oleh kehendak Tuhan dan Masukan dari sesama yang Positif. Pada saat yang sama, kesadaran penuh menutup Diri yang berada posisi nol, 0, kosong, rendah hati terhadap hal-hal Negatif dari Setan sombong.


Kerendahan Hati dan Kesombongan adalah dua kata yang tepat diangkat di dalam permenungan. Seorang misionaris yang sudah bekerja di sejumlah negara yang berbeda, melihat tema kerendahan Hati dan Kesombongan dari pengalaman melayani Tuhan dan Sesama. Beliau hidup dimana saja senantiasa merasa cocok tanpa soal dengan dirinya sendiri. Kuncinya satu rendah hati. Kerendahan Hati Memindahkan Kesombongan pada tempat dan waktunya. Baginya dirinya adalah tempat tinggal makhluk kerendahan Hati bukan makhluk Kesombongan. Makluk Kesombongan tempatnya pada orang lain. Bagi dirinya, waktu adalah waktu bagi bekerja makhluk kerendahan Hati bukan bagi kerja makhluk Kesombongan. Baginya, begitu banyak orang sangat dekat dengan orang yang rendah hati di hadapan Tuhan dan dalam berelasi dengan Sesama. Tetapi pengalaman membuktikan bahwa Kesombongan Diri mematahkan dan bahkan menghancurkan semua hal Positif bekerja dalam kehidupan bersama untuk kebaikan bersama. Kesombongan fokus pada Diri sendiri tetapi tidak fokus pada kebersamaan dalam komunitas atau organisasi besar. Persoalan hidup Bersama sentralnya pada salah seorang yang memenangkan Diri dengan mengalahkan kebersamaan hidup berkomunitas. Maka solusinya adalah semua anggota komunitas mengalahkan Diri dan harus memenangkan kebersamaan untuk kebaikan bersama. Kuncinya adalah kerendahan Hati bukan kesombongan. Kerendahan Hati selalu fokus untuk keselamatan bersama. 


Yohanes bekerja Keras Siang dan Malam untuk keselamatan Dunia yang pasti terpenuhi dalam Diri Yesus sang juru Selamat dunia. Yesus adalah Allah yang telah menjadi manusia untuk keselamatan umat manusia. Kuncinya adalah rendah hati. Lahir di Kandang Bethlehem bukan di istana atau Rumah Sakit Istimewa. Blusukan kepada orang miskin, tertindas, sembuhkan Sakit Fisik, Psikologis, Sosial,   dan membangun iman yang mendalam di dalam Diri domba-domba/umat yang dilayani. 


Yohanes bekerja basisnya rendah hati. Mayoritas tersentuh pelayan yang melayani dengan rendah hati. Tetapi banyak orang merasa tidak nyaman hidup Bersama orang yang bekerja dengan cara yang sombong. Kesombongan pada prinsipnya disukai oleh orang yang sombong tetapi tidak dibutuhkan Sesama di dalam kehidupan bersama, baik dalam komunitas mikro, maupun komunitas makro. Pengalaman misionaris telah tinggal dan bermisi di sejumlah negara, menemukan bahwa Kesombongan pada akhirnya bukan merusak atau menghancurkan orang lain saja tetapi pada akhirnya menghancurkan Diri sendiri. Sebaliknya kerendahan Hati pasti menyelamatkan Diri dan Sesama. ***

Jumat, 08 Januari 2021

Renungan Misa Harian Sabtu 9 Januari 2021

  

*P. Benediktus Bere Mali, SVD*


Bacaan Misa Harian 

1Yoh 5:14-21

Yoh 3:22-30


Pewarta Sabda Allah: Menonjolkan Diri atau Mengutamakan Tuhan dan orang lain


Di antara sekian banyak gaya pelayanan para misionaris, salah satu gaya Misi yang menciptakan anti-pati mayoritas umat yang menerima pelayanan-nya adalah pelayan lebih Menonjolkan Diri sendiri daripada Menonjolkan orang lain dan memuliakan Allah. Penonjolan Diri seorang gembala di segala lini, ber-dampak pada semakin menambah jumlah umat yang  antipati terhadap gembalanya. Seorang gembala yang sombong dalam melayani, sering menutupi pintu dirinya untuk menerima koreksi dan kritik membangun dari para domba. Para domba kalau terus menerus mengalami seorang gembala yang sombong, biasanya merasa rumput tetangga lebih Hijauh. Domba-domba akan pergi meninggalkan gembalanya dan pergi kepada gembala lain yang lebih bermutu dalam pelayanan berbasis managemen pelayanan secara lebih mantap  dan professional.  Domba- domba akan meninggalkan gembala yang sombong dan menuju dan bergabung dengan gembala di tempat lain,  yang tampil rendah hati terbuka pada Masukan Positif untuk kemajuan dan keselamatan bersama.


Ia harus makin besar, tetapi aku harus makin kecil. Kata-kata ini adalah prinsip dasar Yohanes dalam  melayani. Pelayanannya berbasis kerendahan Hati bukan kesombongan. Fokus Yohanes dalam melayani adalah untuk membesarkan nama Yesus bukan untuk membesarkan nama dirinya sendiri. Yohanes secara jujur berkata rendah hati kepada setiap orang yang bertanya kepadanya. 


Tuhan nomor 1 sedangkan dia adalah 0. Sehingga Jika Tuhan dan dirinya disatukan maka akan menjadi Angka 10. Angka ini Sempurna. 


Kita dapat membayangkan betapa luar-biasa-nya kalau Kita semua menomorsatukan Tuhan   dan Kita me-nol-kan Diri atau rendah hati, maka betapa besarnya nilai  satu dan nol disatukan. 


Mari Kita menjadikan Diri Kita pada status nol dengan Tuhan Yesus mendapat posisi pada Angka satu. Artinya bahwa semakin banyak  Angka nol di depan Angka satu, maka semakin besar nilai gabungan Angka 1 dengan Angka nol.  Maka ini menjadi sebuah kekaya-an spiritual yang sangat luar-biasa. Ke-rendahan Hati sang gembala pasti Menarik mayoritas Hati umat yang menerima pelayanan-nya.***

Renungan Berkat Rumah Jumat 8 Januari 2021



*P. Benediktus Bere Mali, SVD*


Bacaan 

1 Raj 8:22-23.27-30 : Fokus pada kata Pentahbisan

 Mat 7: 21-27 : Fokus pada kata Setan


Pentahbisan Rumah dapat Memindahkan Setan ke tempatnya



Setiap orang memiliki saat Istimewa di dalam hidupnya yang menjadi titik pemicu kesadaran pribadi untuk berkembang maju dalam cara berpikir Positif, berkemauan Positif dan selalu bertindak Positif. Misalnya peristiwa Istimewa si B ditahbiskan sebagai imam, dikuduskan sebagai imam untuk melayani Allah dan umat Allah, untuk Membaca dan merenungkan serta melaksanakan Sabda Allah dan berdasarkan basis baca Sabda Allah dan laksanakan Sabda Allah dalam hidup lalu kemudian mewartakan Sabda Allah kepada Sesama agar semakin banyak orang yang mengenal dan melaksanakan Sabda Allah di dalam hidup. 


Ditahbiskan, diberkati, diurapi  dengan Roh Kudus Allah berarti hidup dalam kekudusan Allah. Hidup di dalam bimbingan Roh Kudus dalam setiap waktu dan tempat. Sebagai orang beriman, kita dapat hidup setia kepada Tuhan dalam setiap waktu dan tempat Kudus. Waktu dan tempat adalah Kudus karena diciptakan dan diberikan Allah Maha Kudus kepada Kita manusia. Contoh bahwa waktu itu Kudus dan dikuduskan. Seluruh Dunia setiap jam mengadakan Perayaan Ekaristi dengan time zone yang berbeda-beda. Maka 24 jam sehari itu diisi dengan Ekaristi secara universal. Inilah Contoh kasih Tuhan artinya inilah Contoh Tuhan beri/kasih kepada Kita waktu dan tempat yang Kudus kepada Kita yang juga diciptakan oleh Allah yang Kudus. Maka Kita adalah bait Roh Kudus. Kita adalah tempat tinggal Roh Kudus. Dengan demikian Kita  hidup dan bertindak sesuai bimbingan Roh Kudus dalam mengisi waktu 24 jam sehari di mana pun Kita berada. 


Sebagai orang beriman kita selalu berpikir dan berperasaan serta bertindak sesuai kehendak Allah Roh Kudus. 


Di sisi lain, Tuhan yang Kudus menciptakan Kita bukan seperti robot yang remotenya kontrolnya dipegang oleh pencipta robot sehingga Semua gerak robot sesuai setingan pencipta robot. Kita dicipta dilengkapi dengan kebebasan. Tuhan memberi kebebasan kepada Kita untuk memilih sesuai yang Kita putuskan termasuk untuk berlaku Kudus atau berlaku yang tidak sesuai dengan kehendak sang pencipta yaitu Allah Maha Kudus. 


Ketika Kita gunakan kebebasan Kita untuk memiliki dan melakukan yang bukan kehendak Allah maka  Kita mengikuti kehendak Setan. Dalam Bacaan Injil Hari ini satu kata yang Menarik adalah adalah kata Setan. Pertanyaan bagi Kita adalah: Apakah Kita pernah melihat Tuhan dan Setan secara fisik?  Tentu semua Kita akan setuju bahwa Kita belum pernah lihat Setan dan Setan secara fisik tetapi kita dapat  lihat orang yang  bertingkahlakunya senantiasa merusak Diri, alam dan Sesama. Orang yang demikian sering disebut orang yang hidup dalam kuasa kegelapan atau Setan atau Iblis. Tetapi orang yang selalu melakukan kebaikan, kebenaran dan keadilan kepada Sesama dan alam dunia dapat disebut sebagai orang yang hidup dalam bimbingan kuasa Allah Bapa, Allah Putera dan Allah Roh Kudus. 


Kita dapat mengukur apakah seseorang itu hidup sesuai kehendak Tuhan atau Kuasa Setan berdasarkan tindakan nyata yang dilakukannya yang dapat dilihat oleh indera mata Kita. Apakah pikiran dan Perasaannya dikuasai oleh Allah atau Setan, Kita sulit menentukan Karena dua hal itu tidak dapat dilihat indera mata Kita. Sebagai orang beriman kita hanya memilih Kehendak Allah yang selalu setia menyelamatkan Kita dalam setiap waktu dan tempat yang diciptakan oleh Allah Maha Kudus. Tidak ada kata dan tindakan abu-abu di dalam mengisi waktu dan tempat yang Kudus, bagi Kita orang beriman. Kebebasan Kita digunakan untuk berkata tidak dan bertindak tidak pada kuasa kegelapan Setan yang merusak Diri, Sesama dan alam sekitar. Maka tepat kata Injil Matius 5:37 " Jika Ya katakana Ya. Jika Tidak katakan tidak."  Selalu katakan Ya dan tindakan Ya pada Sabda Allah. Senantiasa katakan Tidak dan Aksi tidak pada kuasa kegelapan Setan. Di sini Kita sebagai orang yang beriman dan Percaya kepada Yesus sebagai satu-satunya jalan kebenaran kehidupan, pilihan Kita hanya satu Ya pada Yesus di setiap tempat dan waktu. Kita memilih tidak pada kuasa kegelapan Setan pada setiap waktu dan tempat. 


Hari ini pemberkatan Rumah. Hari ini Rumah ini dikuduskan Allah. Kita sebagai orang yang beriman melihat bahwa Rumah ini berasal dari Allah Maha Kudus dan Kita persembahkan kepada Allah Maha Kudus. Semua perabot dan seluruh bangunan ini diciptakan oleh Allah Maha Kudus. Semuanya ini berasal dari Allah. Semua ini kasih Allah yang nyata. Semua ini pemberian Allah lewat cara yang indah. Lewat hasil kerja dan usaha, lewat orang tua, lewat penderma, lewat cara- cara indah yang Tuhan gunakan sampai Rumah ini kokoh berdiri. Allah memberikan secara indah kepada pemilik Rumah ini. Segala sesuatu indah pada waktunya. Memiliki Rumah mewah seperti ini pasti lewat cucuran airmata dan keringat. Artinya

Memperoleh Rumah seperti ini melalui sebuah kerja Keras yang luarbiasa. Dan menurut pengalaman orang-orang tua bahwa sebuah Rumah yang dimiliki lewat usaha dan kerja Keras sendiri, sungguh-sungguh memberikan sebuah makna yang sangat mendalam bagi Diri sendiri bila dibanding dengan sebuah Rumah yang diberikan orang lain. 


Tentu pada zaman seperti ini Rumah semewah ini tidak mungkin diberikan secara gratis kecuali oleh kedua orang tua sebagai kehadiran Allah yang kelihatan atau Allah yang memberikan kasihNya kepada anak-anak melalui dan dalam Diri  kedua orang tuanya. 



Begitu besar Kasih Allah bagi Kita teristimewa kepada pemilik Rumah ini. Kita bersyukur bersama keluarga ini lewat setia mendengarkan Sabda Allah dan melaksanakan Sabda Allah dalam hidup Kita kapan dan dimana saja. 


Kita semua yang hadir menyatukan doa Kita bagi keluarga pemilik Rumah ini agar Kita berharap Tuhan memberikan berkat berlimpah ganda kepada keluarga ini dan rahmat itu pun terus dialirkan kepada Sesama dengan cara yang indah sesuai rencana indah dari Allah sendiri.***