Senin, 18 Januari 2021

Renungan Misa Harian Senin 18 Januari 2021


 

 

 

Ibr.5:1-10

Mzm.110:1.2.3.4, R:4bc

Mrk.2:18-22

 

 

ANGGUR BARU  DISIMPAN DALAM KANTONG BARU

 

 

*P.Benediktus Bere Mali, SVD*

 

 

 

Orang yang tepat ditempatkan pada tempat dan waktu yang tepat juga, adalah harapan setiap orang di dalam sebuah organisasi yang baik untuk kehidupan kepentingan bersama. Hal ini dimiliki oleh pemimpin yang mengutamakan kualitas organisasi di mata public, baik pada level mikro maupun makro. Dengan demikian kehidupan organisasi dapat berjalan dengan baik secara ke dalam maupun secara ke luar. Tetapi seringkali Kita menemukan pemimpin yang menempatkan orang bukan berdasarkan kualitas tetapi berdasarkan suka dan tidak suka yang mengakibatkan organisasi yang dipimpinnya mengalami keropos mulai dari dalam di mata orang luar yang mengobservasinya secara Kristus.

 

Injil hari ini tentang cara berpikir yang tepat lahir dalam aksi yang yang tepat sesuai tempat dan waktu yang tepat, konteks beriman kepada Tuhan Yesus. Para murid Yohanes dan orang Farisi berpikir keliru tentang arti dan tujuan puasa sehingga aksi atau tindakan puasa pada tempat dan waktu yang salah. Sebaliknya para murid Yesus mengerti dan memahami arti dan tujuan puasa sehingga mereka tidak puasa pada saat dan tempat yang tepat. 

 

Puasa adalah pengosongan diri untuk memberi tempat bagi Allah di dalam diri sebagai tempat yang layak bagi penyambutan Allah yang telah menjadi manusia di dalam Yesus. Yesus ada bersama para murid-Nya maka komunitas mereka bersuka cita bersama-Nya. Tetapi para murid Yohanes Pembaptis dan orang Farisi berpuasa karena mereka tidak mengerti bahwa Yesus adalah Anak Allah yang dinantikan orang Israel sebagaimana nubuat para nabi dalam Perjanjian Lama dan Yohanes Pembaptis dalam Perjanjian Baru. 


Kemungkinan lain yang bisa terjadi bahwa mereka wajib berpuasa karena mereka belum menyiapkan hati dan budi yang paham akan Yesus. Mereka perlu berpuasa dan merenung tentang siapakah Yesus bagi mereka. Sebaliknya boleh jadi murid-murid Yesus sudah tahu bahwa Yesus adalah Mesias yang dinantikan oleh bangsa Israel. Yesus sudah ada dan bersama mereka. Hati dan budi para murid-Nya sudah siap lahir bathin hidup bersama Yesus. 

 

Maka bagi para murid, kata-kata ini tepat, “anggur baru disimpan di dalam kantong yang baru.” Anggur baru adalah Tuhan Yesus. Kantong baru adalah wadah hati dan budi yang baru dari para murid-Nya. Tetapi  bagi murid-murid Yohanes dan orang Farisi berlaku kata-kata ini, “ anggur baru belum siap disimpan di dalam kantong hati-budinya yang masih belum pantas. Mereka perlu berpuasa sampai memiliki hati dan budi yang baru untuk simpan anggur yang baru.

Pesan bagi kita untuk menyiapkan kantong hati dan budi yang layak bagi Yesus untuk tinggal di dalamnya. Untuk kita selalu rajin membaca SabdaNya dan melakukan kehendakNya dalam waktu hidup kita. Kita Ya pada Yesus dalam setiap waktu dan tempat kita hidup. Kita Tidak pada semua yang tidak sesuai kehendakNya. KehendakNya selalu menyelamatkan kita. Kehendak di luar Yesus menyesatkan kita. “Kantong Hati dan Budi yang Baru tempat yang pantas untuk menyimpan  Anggur Baru.” 

Sabtu, 16 Januari 2021

Renungan Misa Hari Minggu 17 Januari 2021

                                             YESUS ADALAH GURU KITA

 

*P.Benediktus Bere Mali, SVD*

 

1Sam 3:3b-10.19

Mzm 40:2.4ab.7-8a.8b-9.10, R:8a.9a.

1Kor 6:13c-15a.17-20

Yoh 35:42

 

 

Kita tahu membaca dan menulis karena jasa besar para guru kita. Kata pertama yang saya tahu tulis dan baca adalah kata Ibu. Kata kedua adalah Ayah. Guru mengajar dan murid belajar. Guru mengajar murid yang belum mengerti menjadi mengerti. Pengertian yang tepat memandu perilaku yang akurat dan hal itu memberikan rasa puas yang sangat mendalam. 

 

 

Yohanes pembaptis adalah guru yang baik. Seorang guru yang baik mengajar muridnya memiliki pengertian yang baik tentang bahan pengajarannya. Yohanes Pembaptis adalah guru yang mengajar tentang semua persiapan bagi kedatangan Yesus sebagai Mesias, Anak Domba Allah Yang Menghapus Dosa Dunia. Para muridnya mengerti akan proses pengajaran Yohanes Pembaptis untuk kedatangan Yesus. Para muridnya menyaksikan sendiri Yohanes membaptis Yesus di sungai Yordan. Yohanes Pembaptis ketika  melihat Yesus datang, kepada para muridnya ia menunjuk Yesus adalah Anak Domba Allah yang menghapus dosa dunia. Setelah Yohanes Pembaptis mengatakan bahwa Yesus adalah Anak Domba Allah yang menghapus dosa dunia, dua muridnya yaitu Andreas dan Yohanes langsung mengikuti Yesus. Menurut hemat saya, para murid Yohanes Pembaptis melakukan hal ini karena mereka sudah mendapat pengajaran Yohanes Pembaptis selama berada bersama dengan gurunya. 

 

 

Saat mereka mulai meninggalkan Yohanes Pembaptis sebagai gurunya, mereka melihat Yesus sebagai seorang guru yang mengajar dan mereka menempatkan diri sebagai murid yang mau belajar pada sang guru. Mereka bertanya kepada Yesus: “ Rabi artinya guru, dimanakah Guru tinggal?”  Pertanyaan murid ini tentu membutuhkan jawaban yang diharapkan. Tetapi Yesus mengatakan kepada mereka bukan inti pertanyaan tentang tempat tinggal tetapi Yesus justru bertanya balik kepada dua murid itu, “Apakah yang kamu cari?” Pertanyaan Yesus ini memiliki beraneka jawaban yang ada di dalam pikiran dan hati dua murid yang telah memutuskan mengikuti Yesus sebagai sang guru. Para murid barangkali mencari Yesus sebagai seorang Guru yang baik yang menjadi tempat belajar mereka sebagai para muridNya. Para murid bisa saja mencari Yesus sebagai seorang  guru sekaligus sebagai penyembuh orang sakit, dan melakukan mujizat yang mengundang banyak orang datang kepadaNya termasuk para murid yang selalu berada Bersama Yesus dalam doa, kerja, karya pelayanan. Mereka bisa saja mengikuti Yesus untuk mencari sebuah  status yang tinggi di depan publik berkat keunggulan Yesus yang menarik banyak orang. Mereka bisa saja mengikuti Yesus untuk mencari harta yang banyak lewat keunggulan Yesus yang melakukan mujizat di samping pengajaranNya yang penuh kuasa dan berwibawa. Misalnya Yudas Iskariot yang menjual Yesus untuk mendapatkan harta bagi dirinya sendiri. Mereka bisa saja mengikuti Yesus untuk mencari dan menemukan berbagai kemudahan pemenuhan kebutuhan karena Yesus dapat melakukan mujizat. Mereka juga bisa jadi mengikuti Yesus sebagai Guru yang dapat mengajar mereka dalam kata dan teladan hidupNya tentang diriNya adalah Mesias, dan Anak Domba Allah yang menghapus dosa dunia agar mereka dapat mengerti. Pengertian yang tepat tentang Yesus Sang Guru mereka, memandu mereka lebih kokoh mencintai Yesus selama hidup Bersama sang guru. 

 

Yesus adalah Guru mereka secara fisik dalam hidup bersama dalam karya dan pengajaran selama kurang lebih tiga tahun. Singkat kata, pertanyaan Yesus, apa yang kamu cari adalah sebuah pertanyaan mendasar untuk memurnikan motivasi para murid yang telah meninggalkan Yohanes Pembaptis dan menjadi murid Yesus. 

 

Yesus adalah Guru yang mengajar dan para murid adalah murid yang mendengar pengajaran dan perbuatan Yesus dan belajar dari Sang Guru yang mengajarkan apa yang dilakukanNya dan melaksanakan apa yang diajarkanNya. Hasil akhirnya ada dua yaitu ada yang berhasil misalnya Petrus menjadi pemimpin Gereja Katolik Pertama dan kepemimpinannya itu berlanjut sampai hari ini dalam diri Paus pengganti Petrus. Demikian juga sepuluh murid yang lain berhasil dalam tangan Yesus sebagai Guru Sang Pendidik. Sedangkan hanya satu yang mengkhianati Yesus sang guru karena dia gila harta/ekonom yang pada akhirnya menjual Yesus untuk memperkaya dirinya, lupa doa-sibuk urus uang-dan mencari uang, sampai tidak menemukan cara lain lagi sehingga dia menjual Yesus kepada musuh-musuh Yesus. 

 

Hasil akhir menjadi murid yang dididik Yesus sebagai Guru adalah ada yang baik tetapi ada yang jahat. Awalnya ada ekspektasi yang begitu tinggi untuk mendidik semua jadi sempurna. Tetapi pada akhirnya harus realistis bahwa manusia bukan robot yang dapat dikontrol dengan remote control oleh pemegang remote control. Antara Ekspektasi dan realitas masih ada kebebasan para murid untuk menentukan pilihan tersendiri mengatakan ya pada Yesus dan tidak pada iblis atau mengatakan tidak pada Yesus dan ya pada setan. Kebebasan itulah yang kita temukan di dalam diri Yudas dan 11 murid lainnya. 

 

Pesan bagi kita sebagai murid Yesus pada zaman pandemic covid-19 ini adalah, kita mendengar pengajaran Yesus   dengan berpegang pada Mat 5:37, “Senantiasa Ya pada Tuhan Yesus Sang Guru Sejati kita, Selalu tidak pada kuasa setan-iblis.” Ini adalah prinsip kita sebagai murid Yesus Sang Guru Sejati, Mesias, Anak Domba Allah Yang Menghapus Dosa Dunia. Kita tidak kenal hidup abu-abu seperti yang kita dengar dalam dunia politik dengan prinsip, orang bisa hidup abu-abu berdasarkan kepentingan, bukan berdasarkan hal-hal prinsipil. ***

 

Jumat, 15 Januari 2021

Renungan Misa Harian Sabtu 16 Januari 2021


*P. Benediktus Bere Mali, SVD* 


Yesus Melayani Orang Yang Tidak Dilayani Ahli Taurat dan para imam Yahudi


Ibr. 4:12-16

Mrk. 2:13-17


Yesus setelah dibaptis untuk pelayanan di depan publik, mengalami ujian di padang gurun Selama 40 Hari dan 40 Malam. Yesus lulus ujian dalam pencobaan di Padang gurun. Hasil ujian lulus itu berisi tidak bermental instant, tidak gila kuasa, tidak gila harta, tidak gila wanita. Dengan kelulusan ini Yesus sudah selesaikan semua masalah dengan diri-Nya sendiri. Yesus fokus pada masalah-masalah yang ada di luar dirinya dalam tugas pelayanan kepada umat. 


Pelayanan-Nya pasti unik. Keunikan itu terletak di sini. Orang yang Tidak diperhatikan imam- imam dan ahli ahli Taurat, justru Yesus melayani-nya. Contoh dalam Injil, Kita mendengar dan melihat orang yang berdosa dan pemungut cukai tidak dilayani atau dijauhkan atau disingkirkan oleh institusi Agama Yahudi. Karena bagi mereka pemungut cukai adalah kaki- tangan Kaisar Romawi yang memungut pajak dari rakyat. Seorang pemungut cukai tentu sering memungut pajak  lalu tidak jujur dengan keuangan yang ada atau korupsi. Di mata ahli-ahli Taurat dari golongan Farisi ini, seorang pemungut pajak adalah orang berdosa. Tetapi di mata ahli ahli Taurat dari golongan Farisi ini, Yesus adalah orang bersih, tidak berdosa. Maka di mata Ahli Taurat dan para imam, Yesus semestinnya menjauhi orang berdosa seperti Lewi. 


Tetapi Yesus bertolak belakang dari pandangan Ahli Taurat dan Imam-Imam itu. Mereka yang tidak dilayani, justru Yesus melayani mereka. Bagi Ahli Taurat dari golongan Farisi, orang berdosa harus dijauhkan dan diasingkan karena mereka najis. Tetapi Yesus  melayani mereka yang berdosa agar mereka kembali ke jalan yang benar yaitu jalan keselamatan. Yesus berkata kepada mereka yang menghalangi-Nya, " Bukan orang Sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit! Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdosa!"


Kita dapat menerima inspirasi dari Kitab Suci Hari ini, khususnya Yesus yang bermisi kepada orang-orang yang tidak diperhatikan oleh institusi  Agama Yahudi.   Kalau para pemimpin Agama Yahudi lebih fokus melayani orang yang Tidak Berdosa, dalam hal ini mereka yang memiliki kuasa dan harta sedangkan Yesus melayani orang-orang kecil  termasuk orang berdosa yang disingkirkan dalam kehidupan bersama. Hal ini terjadi karena Yesus sudah manata dirinya dan sudah tidak ada soal mendasar yang menjadi pengahalang bagi-Nya untuk melayani orang kecil dan sederhana serta miskin dan papa. Misi Yesus seperti ini lahir dari keberakaran-Nya pada Sabda Allah, Roh Kudus dan Allah Tritunggal yang Maha Kudus.***

Pesta Santo Arnoldus Jumat 15 Januari 2021

*P. Benediktus Bere Mali, SVD*


Pada Hari ini Pater Superior General SVD Dunia, P. Paulus Budi Kleden SVD menyampaikan  3  pokok menarik sebagai pesan mendalam kepada SVD, SVD Awam, SSpS, SSpS AP serta umat Katolik sedunia.  Tiga hal itu adalah Komunikasi yang benar dalam dunia yang semakin menyebarkan berita hoaks; komunikasi yang benar secara ilmiah; dan keluarga dan kaum Muda adalah pelaku komunikasi yang benar.  Saya menulis refleksi pribadi atas pesan mendalam Pater Paulus Budi Kleden SVD, Superior General SVD Dunia.



1. Komunikasi. Media Sosial dan media cetak dan alat komunikasi bahkan komunikator/manusia sendiri seringkali menyebarkan berita-berita yang salah dan menyesatkan orang lain di dalam kehidupan bersama. Dewasa ini berita hoaks semakin cepat sampai pikiran dan hati melalui smartphone pribadi.  Ternyata Berita hoaks bukan hal baru saat ini tetapi sudah terjadi sejak dulu kala. Salah satu Contoh Berita hoaks tertulis di dalam Kitab Suci.


Kitab Suci memuat berita tentang Mahkamah Agama yang membuat hoaks atau berita bohong bahwa Yesus tidak bangkit. Imam-imam Kepala dan tua-tua memberikan sejumlah uang kepada serdadu-serdadu yang menjaga kubur. Mereka berpesan kepada Serdadu-serdadu itu, "Kamu harus mengatakan, bahwa murid-murid-Nya datang malam-malam dan mencuri-Nya  ketika kami sedang tidur. Dan apabila hal ini kedengaran oleh wali negeri, kami akan berbicara dengan dia, sehingga kamu tidak beroleh kesulitan apa-apa (bdk. Mat.28:11-14)." Hoaks itu pun tersiar di antara orang Yahudi sampai sekarang ( bdk.Mat.28:15). 


Berita hoaks ini tetap tertulis dalam Kitab Suci sehingga setiap orang yang membaca Kitab Suci pasti menemukan Berita hoaks ini di dalam Alkitab. 


Tetapi Alkitab tidak berhenti pada berita hoaks. Justru setelah beberapa kali Yesus yang telah bangkit menampakan diri kepada para murid dan mereka mengerti bahwa Yesus telah menubuatkan bahwa ia akan sengsara, wafat dan bangkit (bdk. Mat.16:21.20:18-19, Mrk.9:9-32, Yoh.2:18-22). 

Empat Puluh Hari setelah kebangkitan-Nya, Yesus naik ke Surga disaksikan oleh para murid. Dalam hukum Yahudi, sebuah peristiwa yang memiliki saksi dua orang adalah sah. Dengan demikian peristiwa kebangkitan dan kenaikan Tuhan Yesus ke Surga adalah sah.

Sebelum Naik ke Surga Yesus meminta para murid untuk menjadi saksi-Nya sampai ke ujung bumi (bdk.Kis.1:8-11). Sengsara, wafat, kebangkitan dan kenaikan Yesus ke Surga merupakan fakta sejarah. Oleh sebab itu mampu mengalahkan hoaks yang dibuat oleh imam-imam Kepala dan tua-tua. Bahkan hingga Abad ini, berita tentang sengsara, wafat, kebangkitan dan kebaikan Yesus ke Surga tetap dirayakan oleh para murid-Nya. Hidup, sengsara, wafat dan kebangkitan Yesus dalam menyelamatkan dunia adalah intisari kebenaran iman Kita, yang setiap Hari Kita rayakan di dalam Perayaan Ekaristi Kudus. 

Komunikasi Kita orang Katolik adalah komunikasi yang baik, benar, Adil, damai bagi semua orang. Semua media cetak dan elektronik, kita gunakan untuk hal-hal Positif bagi semua orang di seluruh dunia. Paling utama dan pertama adalah kita sebagai komunikator menjadikan diri kita sebagai pembicara dan pelaksana kebenaran, kebaikan keadilan dan kedamaian bagi semua orang di bumi. Kita sebagai orang beriman, sumber kebaikan, kebenaran, keadilan dan kedamaian itu berpusat pada Yesus Kristus Sang Penyelamat Dunia. 


Kita sebagai orang Katolik memiliki prinsip kokoh, Ya pada Yesus Kristus dan Tidak pada semua cara komunikasi yang bertentangan dengan Teladan Yesus sendiri sebagai sumber iman dan keselamatan Kita. Bagi Kita Tidak ada jalan abu-abu seperti di dalam Dunia politik. Tepat bagi Kita orang Katolik Sabda Allah dalam Injil Mat 5:37, "Jika ya katakan ya, Jika tidak katakan tidak." Selalu Ya pada Yesus. Senantiasa tidak pada setan-iblis. 


2. Ilmu Pengetahuan.  Santo Arnoldus adalah seorang yang unggul di bidang Matematika. Ilmu pasti ini membantu Santo Arnoldus mengukur semua rencana pembangunan Fisik dan non-fisik secara mantap meyakinkan. Tempat strategis untuk Rumah dan Misi SVD direncanakan secara matang.  Buahnya SVD selalu berkembang pesat sampai Hari ini. Imannya diukur secara pasti. iman tumbuh dalam keluarga orang Tua. Setiap Malam usai makan Malam Membaca bersama Prolog Injil Yohanes. Devosi kepada Hati Kudus Sakramen Maha Kudus setiap Jumat Pertama. Devosi kepada Roh Kudus setiap Hari Senin.  Kehidupan iman berakar pada Sabda Allah, Yesus Kristus dan Roh Kudus. 

 

Selain itu SVD memiliki Antropos yang menulis secara ilmiah hubungan antara Misi dan kebudayaan bangsa-bangsa di dunia. Iman bertumbuh dan berkembang di dalam Budaya setempat. Yesus sudah ada dalam setiap Budaya dan tempat  para misionaris utusan Allah. Para pastor dan Bruder pergi bermisi ke segala negara di dunia, untuk menemukan Yesus yang sudah ada di dalam setiap Budaya tempat misionaris SVD bekerja. Seorang SVD adalah Seorang pencinta Budaya setempat. Sabda Allah hidup dan bertumbuh serta berbuah dalam Budaya setempat sehingga Sang Sabda berakar dalam karena bertumbuh dan berkembang pada dasar di atas wadas budaya yang kokoh dan kuat.


Pater Superior General secara spesifik menyampaikan bahwa betapa pentingnya psikologi konseling dalam karya para misionaris yang menjumpai aneka persoalan Psikologis mereka yang dilayani.

Persoalan majemuk  dari Umat di Masa pandemik covid  adalah sangat kompleks. Persoalan Psikologis yang kompleks ada juga dalam keluarga-keluarga. Persoalan Psikologis juga ada dalam komunitas SVD.  Di antara sekian banyak solusi, salah satunya adalah melalui psikologi konseling.  

Kalau permasalahan Sosial itu disederhanakan ke individu, maka setiap individu dalam keluarga maupaun komunitas memiliki peluang membuat masalah yang bermula dari segi psikologis dan juga memiliki peluang menyelesaikan persoalan yang berasal dari segi Psikologis. 


Setiap Proses penyembuhan individu yang memiliki persoalan Psikologis dalam hidup keluarga awam maupun komunitas imam, suster, bruder dan frater, bisa saja dapat terjadi di dalam Ruang konseling. Jika ada keterbukaan dan komunikasi yang jujur dari klien kepada  konselor yang membantu dan mendampingi klien maka  ada harapan klien sembuh dari abnormal  Psikologis menuju menjadi normal secara Psikologis. Ada tahap-tahap konseling.


Pertama. Setiap klien yang datang kepada konselor di ruang konseling adalah sebuah niat Positif klien untuk Sembuh. Ruang konseling  Perlu  memenuhi persyaratan yaitu ruangan konseling berkaca transparan baik dari luar maupun dari dalam agar keamanan konselor maupun konseli terjaga dan terpelihara secara baik. Konselor dan konseli sama sama satu kata bahwa ruangan konseling untuk menyelamatkan baik konselor maupun konseli. Semua tata aturan dan etika konseling tertulis dalam Surat Persetujuan klien untuk aktif dalam konseling. Dalam Surat perstujuan klien untuk aktif dalam konseling itu memuat tentang manfaat konseling, etika, waktu setiap session dan biaya per session yang Perlu dibayar klien. Tetapi biaya bukan hal yang utama yang penting adalah klien Perlu Sembuh dari Sakit Psikologisnya.  Biasanya seorang klien melewati atau melalui sesi konseling dari awal sampai Sembuh terdiri dari 7 sampai 15 sesi konseling dan setiap sesi waktunya maksimal 50 menit dan sekali seminggu. Artinya seorang konseli dapat membutuhkan 7 sampai 15 Minggu untuk Sembuh dari Sakit Psikologisnya. Meskipun demikian setiap klien bisa lebih dari itu atau kurang dari waktu tersebut tergantung kebutuhannya. Ada yang lebih cepat Sembuh tetapi ada juga yang butuh waktu yang lebih lama. 


Setiap sesion dilaksanakan bukan konselor yang tentukan tetapi konselor selalu memulai dan mengakhiri sesuai Persetujuan konseli dalam konseling. Setiap daftar soal yang disampaikan klien Perlu tuntunan konselor sampai konseli mengerti hal pokok yang menjadi sebab yang memelihara persoalan Psikologisnya. 

Kedua. Ketika klien datang ke ruang konseling, klien  tidak tahu akar persoalannya. Konselor pun tidak tahu Penyebab yang memelihara tumbuhnya persoalan Psikologis klien. 

Langkah awal atau sesion pertama adalah konselor dengan Persetujuan konseli mengadakan assessmen atas semua daftar soal yang disampaikan konseli di awal sesi. Dari daftar soal itu, konselor meminta konseli untuk Klarifikasi sehingga tiba sampai pada daftar soal yang betul betul  dialami konseli. 

Assessment terhadap setiap soal klien meliputi wawancara, observasi, alat tes psikologi yang paling tepat berdasarkan problem yang disampaikan di awal sesi. Pemberian tes Psikologi sebaiknya selalu atas Persetujuan konseli. Untuk sampai pada Persetujuan konseli, konselor memberikan penjelasan kepada konseli tentang alat tes psikologi itu sampai konseli mengerti dan aktif mengikuti tes dengan tujuan untuk dapat informasi yang tepat tentang masalah Psikologisnya sehingga bisa sembuh. Jangan sekali-kali beri tes psikologi tanpa persetujuan klien. Semua hasil asesmen baik itu wawancara dan observasi maupun hasil test psikologi, konselor selalu sampaikan kepada konseli dan meminta konseli memberi klarifikasi atas setiap pokok yang berkaitan dengan soalnya sehingga konseli benar-benar mengerti soalnya. 

Di sini Proses psiko-edukasi menjadi hal yang utama. Prinsipnya konselor mendampingi konseli agar klien mengerti akar soalnya melalui asesmen yang telah terlaksana. Jika klien mengerti soalnya maka solusinya juga bisa ditemukan oleh konseli didampingi konselor. Setiap titik sesi konseling, konselor selalu meminta konseli klarifikasi sehingga konseli dan konselor memiliki pengertian yang sama tentang persoalan Psikologis konseli. Bedanya, konseli mengalami langsung soalnya sedangkan konselor mengalami soalnya dari luar diri konseli. 


Ketiga. Setelah mendapat klarikasi klien atas hasil asesmen dan gejala Sakit Psikologis minimal 4 gejala maka konselor dapat menentukan bahwa klien ini Sakit Psikologisnya jenis  A atau B atau C berdasarkan gejala gejala tampak dari tampilan Fisik-lahiriah dari klien,  yang dapat dilihat dan diukur. Gejala gejala dan jenis Sakit yang ditentukan itu, konselor sampaikan kepada klien dalam sesi konseling. Kalau konseli setuju, dalam arti mengerti maka konselor menentukan bahwa klien Sakit A misalnya. 

Sakit A berdasarkan gejala ini berbasis pada Buku daftar Sakit Psikologis dengan semua gejalanya yaitu DSM-5,  yang menjadi "kitabsucinya" konselor. Maka konselor pertama dan utama familiar dengan DSM-5 (pdf di google). 

Selain DSM- 5 sebagai Buku utama, konselor baca Buku dan artikel yang terbaru yang berhubungan langsung dengan Sakit klien. Karena itulah sesi konseling sekali seminggu bagi setiap konseli. Konseli olah Diri. Konselor punya waktu untuk olah literature terkini yang berhubungan langsung dengan soal yang sedang disampaikan konseli. Tujuannya demi konseling secara professional untuk kebaikan konseli yaitu Sembuh.  

Keempat. Konselor yang professional selalu fokus bahwa setiap gejala dari Sakitnya yang disampaikannya di dalam sesi konseling, selalu minta klarifikasi dari konseli dan konselor merumuskannya. Hasil rumusan soal konseli berdasarkan data dari klien lewat wawancara, observasi, test psikologi yang disempurnakan  dengan literature  terkini yang berkaitan secara langsung dengan soal klien itu. Rumusan itu kemudian disampaikan kepada klien, kemudian konselor meminta klarifikasi dari klien dan pada akhirnya Jika klien mengerti dan menyetujui maka rumusan itu sesuai dengan apa yang sedang dialami klien. Berbasis rumusan persoalan klien itu, atas persetujuan konseli, proses konseling maju ke tahap berikut.


Kelima. Setelah klien setuju dengan rumusan kasusnya maka sesi sesi selanjutnya adalah rencana treatment. 

Memasuki Sesi ini sebaiknya berdasarkan Persetujuan klien. Pada sesi rencana treatment ini, konselor menjelaskan setiap tahap treatment sampai klien mengerti. Prinsipnya klien mengerti maka Proses konseling munuju Sembuh dapat berjalan.  

Hal pertama dalam rencana treatment adalah daftar masalah klien berdasarkan persetujuan klien. Hal kedua dari rencana treatment ini adalah komunikasi dua arah dari konselor ke konseli dan dari konseli ke konselor tentang Tujuan yang mau di capai dari setiap daftar soal klien. Konselor menjelaskan Tujuan setiap daftar soal sampai klien mengerti Tujuan yang mau dicapai untuk Sembuh. Tujuan itu sebaiknya SMART: Spesifik/simpel, Measurable, attainable, realistic, timely statement. Setelah klien mengerti tentang Tujuan dari setiap daftar soalnya, atas Persetujuan klien, maka  maju ke bagian effektif intervention atas setiap daftar soalnya. Di sini konselor mulai mengelaborasi literatur terbaru tentang intervensi paling effektif terhadap setiap daftar soal klien.  Konselor jelaskan intervensi yang effektif itu kepada klien,  sampai klien mengerti sehingga saat implementasi effektif treatment klien dapat melibatkan diri secara aktif Menolong dirinya sendiri untuk Sembuh.


Setelah klien mengerti bagaimana effektif intervention atas daftar setiap soalnya, atas Persetujuan klien, implementasi effektif intervention itu kepada klien.  

Konselor membantu orang yang bisa membantu dirinya sendiri untuk Sembuh. Klien klinis dapat ditolong para psikolog klinis karena itu wilayah bidangnya. Klien klinis atau tidak, sejak sesion awal sudah diketahui. Maka konselor akan kerja sama dengan psikolog klinis yang dapat Menolong klien klinis. 

Kelima. Selama implementasi effektif intervention atas daftar kasus dari klien, klien dimonitor apakah implementasinya berjalan baik atau tidak. Konselor beri form- form yang penting diisi klien untuk kontrol Perkembangan tingkat soalnya, apakah soalnya semakin Tinggi atau rendah Selama implementasi effektif intervention. 

Selain itu monitor dari orang tua, guru, Teman dan semua yang terlibat langsung membantu klien mencapai goal yaitu Sembuh. 

Kemudian evaluasi tentang maju atau mundur atau mandeg atau tidak jalan interventionnya. Kalau effektif intervensinya  jalan maka Tujuan Sembuh semakin bersinar Terang. Kalau tidak jalan intervensinya, maka Perlu revisi. 

Revisi berarti Perlu asesmen Ulang. Untuk assessmen Ulang, konselor Perlu minta Persetujuan klien. Kalau dia setuju maka assessmen dilaksanakan. Sesudah itu konselor merumuskan kasusnya dan implementasi intervensi yang effektif atas Persetujuan klien. Setelan revisi ternyata klien merasa baik dan akhirnya Sembuh maka berdasarkan keputusan klien, proses konseling berakhir. Terjadi terminasi Proses konseling karena klien Sembuh. Sembuh klien itu menurut Rasa nyaman klien setelah melewati proses konseling, didukung data observasi dari Konselor, orang tua, Teman, guru dan tetangga yang membantu menyembuhkan klien. 

Sebaliknya kalau sesudah revisi, klien tidak Sembuh, maka klien sendiri dapat menentukan terminasi Proses konseling. Konselor mendampingi klien. 

Catatan penting, bahwa seorang konselor professional dalam menulis dan berbicara dalam bentuk apapun, menghindari kata disorder pada klien karena jika kata itu terucap pada klien, maka klien sudah merasa sudah dicap Negatif dan kalau Perasaan itu sudah ada berarti beban Psikologis klien semakin bertambah. Bahasa komunikasi konselor adalah Bahasa yang menyembuhkan. Demikian sedikit garis besar jalannya konseling professional. Semoga bermanfaat.


3. Pelayanan kepada keluarga dan kaum Muda. Keluarga adalah dasar keselamatan Dunia. Yesus lahir dari keluarga Nazareth. Dan dipelihara sampai usia 30 Tahun dibaptis untuk tugas perutusan mewartakan Injil ke Seluruh Dunia. Usia 30 Tahun, bagi orang Yahudi adalah usia matang Pengetahuan, Psikologis, spiritual, Fisik, Sosial dan bijaksana untuk tampil di depan publik. Yesus secara real berkarya Selama 3 Tahun di depan publik. 

Santo Arnoldus pendiri SVD, SSpS dan SSpS AP juga lahir dari keluarga. Tiga kongregasi yang didirikan Santo Arnoldus ini lahir dari tiga kekuatan Santo Arnoldus. Pertama Kehidupan religius yang kokoh. Doa di depan Sakramen Maha Kudus, di depan Hati Kudus sumber kekuatan iman dan sumber inspirasi sebelum memutuskan sesuatu untuk perkembangan misi. Kedua, Perayaan Ekaristi adalah jantung dan Mata tugas perutusan bagi Santo Arnoldus. Membaca Sabda Allah, Prolog Injil Yohanes dalam keluarga setiap Malam sesudah makan. Jadi doa dan baca Kitab Suci sudah dimulai di dalam keluarga bukan Masuk Seminari Baru mulai. 

Santo Arnoldus selamatkan Dunia melalui keluarga intinya dan keluarga besar SVD, SSpS dan SSpS AP.  Tiga kekuatan Santo Arnoldus itu diwujudnyatakan di dalam SVD yang berakar pada Sabda Allah, SSpS berpusat pada Roh Kudus, dan SSpS AP dengan keberakaranya dalam Kehidupan religius yang mendalam yaitu Tritunggal Maha Kudus. 

Berdasarkan pengalaman Yesus dan Santo Arnoldus yang lahir besar, Muda, Dewasa berasal dari keluarga inilah, Kita sebagai  SVD pada Masa pandemi covid 19 ini mendoakan keluarga dan kaum Muda agar Tuhan selalu menguatkan dan memberkati keluarga di seluruh Dunia dan Tuhan memanggil kaum Muda untuk menjadi biarawan dan biarawati, untuk menjadi imam, Bruder, suster, frater dalam melanjutkan karya misi Allah Misi Gereja Katolik dan Misi SVD di seluruh Dunia.


Selamat Pesta Santo Arnoldus. Santo Arnoldus Jansen Doakan kami dari Surga.***

Kamis, 14 Januari 2021

Renungan Misa Harian Jumat 15 Januari 2021

*P.Benediktus Bere Mali, SVD*


Bacaan 


Ibr.4:1-5.11


Mrk. 2:1-12




Banyak orang yang datang kepada Yesus dalam Injil Hari ini  Karena Yesus berbicara penuh Kuasa. Pada zaman sebelum Yesus, para Nabi berbicara atas nama Allah tetapi Yesus ada dan berbicara sebagai Anak Allah sendiri. Kalau para Nabi berbicara untuk Kedatangan Mesias. Yesus bicara sebagai sebagai Mesias itu sendiri. Apakah semua orang yang datang kepada Yesus memiliki pemahaman yang sama bahwa Yesus adalah Anak Allah Sang Mesias yang dinanti-nantikan dalam Perjanjian Lama? Jawabannya Tidak. Ahli-ahli Taurat yang tampil menyaksikan Yesus menyembuhkan orang lumpuh dalam Injil pada Hari ini adalah orang yang memiliki pandangan yang masih dalam Perjanjian Lama. Ahli Taurat melihat Yesus yang mengampuni dosa orang lumpuh itu dilihat sebagai penghujat Allah. Bagi Ahli Taurat hanya Allah yang mengampuni dosa orang. Tetapi Yesus tegas berkata, Anak Manusia berkuasa  atas pengampunan dosa manusia. Yesus adalah Anak Allah. Tentu orang- orang yang datang itu memiliki iman kepada Yesus sebagai Mesias Anak Allah yang menyembuhkan dan mengampuni dosa manusia. Karena iman mereka kepada Yesus sebagai Anak Allah itulah mendorong banyak orang datang kepada-Nya. Orang Yang disembuhkan berkat imannya kepada Yesus Anak Allah.  




Pesan bagi Kita bahwa perbuatan baik yang lahir dari iman Kita kepada Yesus Anak Allah tetap memiliki peluang bagi Kita untuk terus berbuat baik, tetapi tidak menutup pintu jendela bagi orang lain menyangkal dan menolak Kita. Semua dukungan dan penerimaan tidak membuat Kita merasa sombong. Tetapi semua penolakan yang Kita terima juga tidak membuat Kita putus asa di dalam mengikuti Yesus dan mewartakan Yesus sang juru selamat dunia kepada segala Suku bangsa agar semua orang berjalan bersama Sang Sabda yang telah menjadi manusia di dalam Diri Yesus Anak Allah. ***

Rabu, 13 Januari 2021

Renungan Misa Harian Kamis 14 Januari 2021



*P.Benediktus Bere Mali,SVD*




Bacaan 

Ibr.3:7-14

Mrk.1:40-45


Yesus melakukan mujizat penyembuhan orang yang sakit kusta. Bagi saya, ada satu hal yang paling Menarik dalam Injil Hari ini.  Saya tertarik pada Yesus yang menegaskan bahwa Orang yang telah  Sembuh dari Kusta itu tidak boleh menyebarkannya kepada siapapun kecuali kepada imam. Hal ini bagi saya merupakan sesuatu yang sangat istimewa. Mengapa? Pada zaman ini, seorang yang mengalami Sakit Kusta, mendapat pengobatan dan hingga penyembuhan, sudah pasti berada di dalam tangan dingin para dokter dan perawat. Tetapi pada zaman Yesus, orang yang memiliki kuasa untuk menentukan seorang Sakit Kusta dan bagaimana aturan pengobatan dan penyembuhannya, ada di dalam tangan para imam (Kitab Imamat 13 dan 14). Yesus menegaskan bahwa orang yang telah mengalami kesembuhan dari Kusta itu penting pergi menjumpai imam dan membawa serta sejumlah persyaratan Syukuran atas Sembuh dari Sakit Kusta menurut Hukum Musa (Imamat 13 dan 14). Dalam Perjanjian Lama khususnya Kitab Taurat ditegaskan bahwa para imam yang menentukan apakah seseorang itu Sakit Kusta atau tidak, bagaimana pengobatan sampai Sembuh lalu kemudian syukur atas Sembuh. Tetapi dalam Perjanjian Baru, khususnya dalam Injil Hari ini Yesus adalah Sang Imam Agung penyembuh orang Kusta. Mujizat  Yesus menyembuhkan orang Kusta ini merupakan sebuah jawaban atas , siapa yang menentukan seseorang itu menderita Sakit Kusta, pengobatan, penyembuhan, syukur atas sembuh, seperti terdapat dalam Perjanjian Lama khususnya dalam Kitab Imamat 13 dan 14.  Yesus adalah Imam Agung, memiliki kuasa penuh atas orang yang Sakit Kusta sampai Sembuh. 


Di sini Kita menemukan bahwa Yesus melakukan mujizat penyembuhan orang Kusta ini, dalam koridor taat aturan setempat yang sedang berlaku. Yesus melakukan mujizat dalam rangka melengkapi apa yang sudah ada di waktu lalu. Dalam konteks ini waktu lalu yang dimaksud adalah Perjanjian Lama. Yesus melakukan mujizat bukan untuk melawan hukum Taurat tetapi untuk menyempurnakannya. 


Pesan bagi Kita khususnya para penyembuh dalam kelompok-kelompok Rohani yang ada adalah ini. Menjadi penyembuh bukan untuk melawan aturan atau hukum Gereja yang ada. Tetapi kelompok-kelompok doa penyembuhan atau penyembuh dalam Gereja Katolik semestinya Taat aturan Gereja Katolik dalam hal ini penting sekali penyembuh atau Kelompok penyembuhan senantiasa berdialog dengan pimpinan Gereja Katolik dari tingkat Komunitas Basis Gereja sampai pimpinan tertinggi menurut Hukum Gereja Katolik. Aturan yang ada disempurnakan dengan kegiatan-kegiatan penyembuhan yang ada dalam Gereja Katolik. ***

Selasa, 12 Januari 2021

Renungan Bacaan Misa Harian 13 Januari 2021


* Benediktus Bere Mali, SVD* 


Bacaan

Ibr. 2:14-18

Mrk.1:29-39


Banyak orang yang datang kepada Yesus untuk dilayani. Tetapi dari sekian banyak yang terus menerus datang kepadaNya itu, Mengapa Yesus tidak melayani sebagian yang datang meminta untuk dilayani? 

Atau lebih tepatnya pertanyaan ini sebaiknya berbunyi demikian, apakah Yesus yang datang untuk melayani bukan untuk dilayani, selalu melayani semua orang yang datang kepada-Nya? Jawabannya tidak. Mengapa? Yesus melayani setiap orang yang datang kepada-Nya senantiasa berdasarkan kebutuhan. Ibu Simon yang Sakit, Yesus layani.  Orang-orang Sakit yang datang kepada-Nya, disembuhkan. Tetapi Yesus mengabaikan orang-orang yang datang dan mencari-Nya itu, tidak dilayani karena tampaknya  mereka mencari Yesus berdasarkan keinginan bukan berdasarkan kebutuhan. Menurut   hemat saya, Yesus tidak melayani mereka karena agenda pelayanan telah tersusun rapi bagi Yesus untuk  melayani di tempat lain. Ada berbagai kemungkinan lain yang bisa saja ada di dalam benak Yesus sehingga tidak melayani banyak orang yang mencari-Nya seperti di dalam Injil hari ini. Bagi hemat saya,  orang banyak ini mencari Yesus bukan karena kebutuhan tetapi karena keinginan. Bagi Yesus melayani keinginan orang pasti tidak akan tuntas. Tetapi melayani berdasarkan kebutuhan itu sebagai sebuah prioritas. 


Yesus secara tegas meninggalkan orang banyak yang mencari-Nya berdasarkan keinginan dan kemudian Yesus bersama para murid-Nya pergi ke tempat-tempat lain yang sangat membutuhkan pelayanan dari Yesus. Tentu orang banyak yang mencari-Nya tetapi tidak dilayani itu memiliki tanggapan beraneka dan yang sangat dominan menurut saya bahwa pasti ada yang kecewa, ada yang marah serta ada yang merasa  dirinya tidak "diorangkan".  


Kita adalah pelayan-pelayan di zaman ini. Ketika Kita menghadapi orang-orang yang telah berjasa bagi Kita baik pribadi maupun komunitas Gereja dan Serikat, Kita seringkali berada pada situasi dan kondisi yang sulit, dan kemudian bertanya apakah pelayanan Kita ini berdasarkan kebutuhan atau keinginan. Kebutuhan dan keinginan dalam hal ini bisa datang dari pelayan maupun dari mereka yang menerima pelayanan.  Pengalaman Yesus secara tegas melayani berdasarkan kebutuhan bukan berdasarkan keinginan dalam Injil hari ini menginspirasi Kita untuk menata Ulang pelayanan Kita berdasarkan kebutuhan bukan hanya sekedar suka dan tidak suka. Pelayan yang  sedang melayani berdasarkan suka dan tidak suka adalah pelayan yang belum menyelesaikan persoalan dengan dirinya sendiri. Demikian juga pencari pelayan berdasarkan keinginan. Marilah Kita bersama mencari Yesus berbasis kebutuhan.***