Rabu, 20 Januari 2021

Renungan Misa Harian Kamis 21 Januari 2021

 SENTUHAN FISIK, PSIKOLOGIS, SOSIAL  SERTA SPIRITUAL YANG MENYEMBUHKAN

 

Renungan Misa Harian Kamis 21 Januari 2021

Ibr. 7:25-8:6

Mrk. 3:7-12

 

 

*P. Benediktus Bere Mali, SVD *

 

 

Masa pandemi covid 19 seperti ini setiap orang mencintai diri dengan melakukan yang terbaik untuk diri agar diri sehat. Hanya orang yang sehat dapat melayani sesama yang sakit Covid 19 dengan melindungi diri dengan peralatan kesehatan yang telah ditentukan. Petugas kesehatan pertama-pertama merasa aman dengan dirinya sendiri sebelum melayani sesama terutama mereka yang sakit Covid 19. 

 

Yesus melayani lautan manusia yang datang berdesak-desakan kepadaNya. Yesus mencintai mereka dengan cara melayani mereka dengan baik dan tulus. Yesus satu orang dapat melayani kebutuhan lautan manusia yang ada dan datang kepadaNya agar kebutuhan mereka Yesus penuhi. Pada titik tertentu Yesus menyadari diri bahwa dirinya membutuhkan perlindungan di antara himpitan dan desakan banyak orang. Karena itu ketika di dalam sebuah pelayaran, Yesus meminta sebuah perahu khusus agar tidak dihimpit oleh begitu banyak orang berlayar bersama. Orang-orang sakit berdesak-desakan datang kepada Yesus untuk menjamah Yesus karena lewat jamahan itu mereka disembuhkan. 

 

Kita seringkali melayani umat di zaman kita dengan agenda yang begitu padat sampai kita melupakan agenda untuk diri sendiri. Kadang-kadang kita menemukan para imam yang jatuh sakit setelah melayani kebutuhan umat dengan jadwal yang padat dan lupa jadwal untuk diri sendiri sehingga pada akhirnya jatuh sakit bahkan ada yang sakit berat dan langsung meninggal. Ini tandanya seorang pelayan mencintai sesama tetapi lupa mencintai dirinya sendiri. Seorang imam menyelamatkan orang lain tetapi lupa menyelamatkan dirinya sendiri. Seorang imam dapat mengatur orang lain tetapi lupa mengatur dirinya sendiri.

 

Yesus melayani begitu banyak orang yang datang kepadaNya tetapi Yesus tetap melayani kebutuhan diriNya sendiri agar diriNya sehat dan kuat. Pengalaman Yesus ini memberi inspirasi kepada kita bahwa kita pun semestinya melayani sesama tetapi jangan lupa melayani kebutuhan kesehatan diri kita sendiri. Hal ini penting karena dengan kesehatan yang baik kita dapat melayani dengan baik pula. 

 

Pada masa pandemic covid 19 ini kesehatan adalah segalanya bagi kita. Utamakan kesehatan dan jangan terpapar covid 19. Untuk itu kita hidup disiplin diri agar kita sehat dengan demikian kita juga tidak menjadi sumber penyebar covid kepada sesama yang kita jumpai. Ini adalah tanda kita mencintai sesama dan mencintai diri sendiri. Ini adalah kita bertanggungjawab untuk diri sendiri dan orang lain. Kelalaian kita sehingga terpapar covid 19 adalah kehilangan tanggungjawab kita terhadap diri sendiri dan sesama dalam kehidupan kita yang berbasis hidup berkomunitas. 

 

Dalam Injil Hari ini , lewat jamahan Yesus orang sakit disembuhkan. Tetapi pada zaman pandemic covid 19 ini lewat jamahan doa dan spiritual orang dapat disembuhkan Tuhan. Bagi kita saat ini jamahan fisik dihindari karena itu dapat menjadi sumber penyebaran virus kepada sesama. Dalam masa pandemic covid 19 ini pertemuan langsung dan sentuhan fisik misalnya berjabatan tangan dan cipika dan cipiki adalah sebuah kerinduan semua orang yang belum dapat terlayani. 

 

Menarik kita renungkan antara jamahan fisik dan pelayanan online di masa pandemic covid 19 ini. Semua pelayanan dapat dilayani secara online tetapi soal makan minum pakaian kita dapatkan lewat sentuhan langsung. Semua yang berhubungan dengan hidup tubuh fisik kita selalu dipenuhi dengan sentuhan fisik. Tidak ada dan belum pernah ada orang makan dan minum secara online. Hanya soal-soal administrasi dapat dikerjakan secara online. Pihak medis pun tidak dapat menyembuhkan orang sakit fisik secara online. Sentuhan pihak medis pada fisik pasien entah itu pengambilan darah dan assessment fisik lainnya yang bergandengan secara langsung dengan sumber sakit penyakit fisik, sentuhan fisik tetap menjadi hal primer. Penyembuhan membutuhkan sentuhan fisik. 



Pertanyaan terbuka bagi kita tentang sentuhan. Kita membutuhkan sentuhan fisik, psikologis, sosial dan spiritual dari orang lain bagi  hidup kita. Orang lian juga membutuhkan sentuhan fisik, psikologis, sosial, dan spiritual dari kita. Apakah Sentuhan kita yaitu sentuhan Fisik, Psikologis, Sosial dan Spiritual pada sesama senantiasa menyembuhkan?  Apakah kita menerima sentuhan fisik, psikologis, sosial, dan spiritual dari orang lain senantiasa menyembuhkan diri kita?. ***

 

 

 

 

 

Selasa, 19 Januari 2021

Renungan Misa Harian Rabu 20 Januari 2021

MEMANFAATKAN KEKUATAN POSITIF DALAM DIRI KITA UNTUK MENYEMBUHKAN &  DISEMBUHKAN

 

 

Renungan Misa Harian 

Rabu 20 Januari 2021

Ibr.7:1-3.15-17

Mrk.3:1-6

 

*P.Benediktus Bere Mali, SVD*

 

 

Introduksi

 

Setiap saat kita memiliki kebebasan untuk memilih antara yang baik atau yang jahat dan yang menghidupkan atau yang mematikan. Pilihan kita itu baik dalam kata yang kita ucapkan sebagai kata yang mematikan atau menghidupkan dan kata yang lahir dari pikiran dan kemauan jahat atau kata yang lahir dari pikiran dan kemauan baik bagi diri, sesama dan alam sekitar. Kata yang kita ucapakan itu dapat pula memandu kita berperilaku berdasarkan apa yang kita katakan. 

 

Dua kekuatan yang ada di dalam diri kita itu disebut oleh Psikolog Freud dalam dua kata yaitu eros yang membawa kehidupan sedangkan Thanatos yang mematikan. Bagi Freud, kejahatan dan kebaikan yang sering dipersonifikasikan sebagai dewa kehidupan dan dewa kematian itu ada di dalam pribadi manusia. Simbol budaya dan agama tentang kebaikan dan kejahatan, bagi Freud lahir dari eros dan Thanatos yang ada di dalam diri setiap pribadi manusia. 

 

Setiap manusia yang normal tidak pernah melihat secara fisik yang jahat dan yang baik. Kita dapat mengukur dan melihat yang jahat dan yang baik secara real di dalam diri orang yang yang berbuat baik dan atau orang yang berbuat jahat. Bagi Freud simbol agama dan budaya tentang kejahatan dan kebaikan, entah simbol itu dalam bentuk materi/patung dewa kejahatan/dewa kebaikan, kata/doa/Bahasa jahat atau baik,  dan secara real dapat dilihat dan diukur dalam tindakan kejahatan atau kebaikan itu merupakan ekspresi kekuatan positif dan negative yang ada di dalam diri manusia, bukan berasal dari luar diri manusia.

 

Selain simbol kejatan dan kebaikan dalam bentuk material dan kata atau doa, simbol itu juga tampil dalam bentuk non-verbal  atau Bahasa tubuh yang mencakup tindakan kejahatan atau kebaikan. Contoh, gerakan tubuh yang mewakili kejahatan atau kebaikan itu misalnya terdapat pada gerakan tubuh mengutuk orang atau gerakan tubuh yang memberkati orang yang selalu disertai kata/doa/mantra dan materi tertentu (misalnya air berkat, Darah bintang, dll) yang digunakan untuk mengutuk atau memberkati orang. 

 

Dalam pendangan Freud, seorang yang beragama berdiri di mimbar rumah ibadat agama lalu  berkotbah menjelekan atau bahkan berdoa mengutuk orang lain, itu merupakan sebuah contoh real bahwa hal itu terjadi bukan karena kesalahan atau kelalain dari luar diri, tetapi akarnya berasal dari dalam dirinya sendiri. Hal itu merupakan sebuah ekspresi nyata dari sisi Thanatos yang ada di dalam struktur kepribadiannya. Mahkluk yang mematikan yang sedang tidur nyenyak di dalam rumah dirinya yaitu thanatos telah dibangkitkan dan mencari mangsanya. Sebaliknya seorang Mother Theresia yang melayani semua orang kecil dengan penuh cinta kasih adalah aktualisasi dari eros yang ada di dalam dirinya. Mother Theresia menyadari penuh mengaktifkan signal eros di dalam dirinya.  Dalam pandangan Freud,  Mother Thresia dari Kalkuta mengaktifkan signal cinta kasih yang menghidupkan sesama yang dilayani, tetapi pada saat yang sama juga secara sadar Ibu Theresia menghentikan aktivitas Thanatos yang sedang ada di dalam dirinya atau dengan kata lain makhluk Thanatos sedang ditidur-nyenyak-an di dalam dirinya. Dalam pandangan Freud, Ibu Theresia adalah pribadi yang tegas mengaktifkan erosnya yang dikehendaki oleh semua manusia sedangkan kekuatan Thanatos yang membawa efek negatif bagi banyak orang dihentikan atau ditidurkan sementara hingga akhir hidupnya. 


Material, doa/kata/Bahasa dan gerakan tubuh atau Bahasa non-verbal dari Ibu Theresia senantiasa menyembuhkan semua yang dijumpai karena kemampuannya dan kehebatannya menidurkan materi, kata/doa/Bahasa serta bahasa non-verbal yang menyakiti sesama yang dijumpai dan dilayaninya. Dua sisi yaitu kekuatan positif dan kekuatan negative dalam diri itu juga ditemukan di dalam bacan Injil hari ini. 

 

Loci Theologicus

 

Teks Kitab Suci hari ini menampilkan dua kelompok yang bagi saya dan bagi Freud menampilkan Thanatos dan eros bagi kita para pembaca. Orang-orang Farisi yang senantiasa menggunakan aturan menghalangi orang lain berbuat baik merupakan roh Thanatos yang bertumbuh dan berkembang di dalam diri mereka. Sedangkan Yesus dan para pengikut-Nya meskipun terus dihalang-halangi, terus melakukan kebaikan kepada sesama. Hal ini merupakan bukti bahwa Yesus dan para pengikut-Nya mengaktifkan eros secara penuh dalam karya pelayanan mereka. 

 

Sementara orang-orang Farisi menggunakan aturan hari Sabat untuk mencari-mencari kesalahan Yesus. Tepat pada waktu Yesus menyembuhkan orang pada hari Sabat, itulah momentum bagi orang Farisi menjatuhkan Yesus dengan larangan aturan sabat.  Orang-orang Farisi melihat aturan Sabat secara kaku bahwa pada hari Sabat orang tinggal di Rumah atau libur atau tidak melakukan pekerjaan termasuk penyembuhan orang sakit yang sangat membutuhkan sang penyembuh.  Maka ketika Yesus menantang orang-orang Farisi dengan mengajukan pertanyaan kepada mereka: “Manakah yang diperbolehkan pada hari sabat, berbuat baik atau berbuat jahat? Menyelamatkan nyawa orang atau membunuh orang?” Orang-orang Farisi mendengar pertanyaan ini tetapi tidak memberi jawaban. Mereka diam saja. 


Diam ini punya banyak arti. Bisa jadi mereka jengkel pada Yesus yang memberi pertanyaan yang sangat menyentuh dalamnya nurani mereka, membongkar dan memaksa mereka untuk secara jujur menjawabNya. Tetapi mereka diam, didiamkan oleh thanatosnya walau erosnya terus mengiris nuraninya untuk segera menjawabNya secara jujur.  Orang-orang Farisi mencari kesalahan Yesus berdasarkan aturan Sabat untuk kepentingan diri sendiri, tetapi sayang pertanyaan Yesus kepada mereka memandu mereka secara diam tapi terpaksa menunda menemukan kesalahan Yesus untuk mencari keuntungan bagi dirinya sendiri.

 

 

Locus Theologicus

 

Kita merenungkan tokoh Yesus dan pengikut-Nya dan Orang-orang Farisi  dari bacaan Injil hari ini dalam konteks kita tempat dan waktu kita tinggal. Kita dapat menempatkan diri dalam  situasi dan kondisi kita hidup dalam teks Kitab Suci hari ini yang memberikan kita dua kelompok tokoh dalam perspektif psikologis, secara khusus dalam pandangan Freud tentang kekuatan positif dan negatif yang ada di dalam setiap pribadi manusia.  Dari pandangan personal itu kemudian diterapkan dalam kelompok manusia yang dibagi dalam dua kelompok berdasarkan kekuatan negatif dan positif yang ada di dalam pribadi-pribadi dalam kelompoknya masing-masing. Saya dibantu oleh teorinya Freud tentang eros dan Thanatos dalam diri setiap pribadi, kemudian pribadi-pribadi itu dikelompokan berdasarkan eros dan Thanatos juga. Pendapat saya bahwa teks Injil hari ini memberikan kelompk orang-orang Farisi sebagai kelompok yang cukup dicirikan oleh Thanatos karena mereka menghalang-halangi orang untuk melakukan penyembuhan kepada orang yang sakit. Sedangkan Yesus dan pengikut-Nya adalah kelompok yang lebih didominasi oleh ciri eros karena memberikan penyembuhan kepada orang sakit. 

 

Aplikasi                  

 

Kita lihat kedua kelompok ini dalam merefleksikan pengalaman hidup iman kita. Kita dapat menggolongkan diri sebagai kelompok Yesus yang mengutamakan budaya kehidupan kepada diri sendiri, sesama dan alam lingkungan sekitar kita. Atau kita juga dalam refleksi kita menempatkan diri sebagai orang-orang Farisi yang menghalang-halangi orang lain yang setia melakukan budaya cinta kehidupan. Barangkali penghalang-penghalang kecil yang kita lakukan adalah penghalang-penghalang kecil terhadap sesama yang selalu setia pada cinta kehidupan, lewat kata-kata, atau material maupun lewat tindakan kita. 

 

Barangkali kita sambil menghalangi orang lain berbuat baik bagi sesama, kita sendiri kehilangan inisiatif untuk melakukan yang baik bagi sesama, tetapi kita hanya berbuat baik untuk kepentingan diri kita sendiri. Dalam hal ini kita memberikan kesempatan kepada Thanatos di dalam diri kita bekerja dalam tindakan kita menghalang-halangi orang lain yang berbuat baik lewat kata, materi, dan bahasa non-verbal kita.

 

Kita disadarkan kembali oleh bacaan Injil hari ini bahwa Yesus adalah tokoh iman kita. Yesus mencintai hidup manusia khususnya orang sakit dengan menyembuhkannya. Yesus memberikan teladan bagi kita bahwa cinta akan hidup dan kehidupan adalah di atas segala aturan yang menghalangi dalam hal ini aturan hari Sabat. Yesus marah orang-orang Farisi yang menghalang-halangi Yesus dengan kata-kata verbal dan Bahasa non-verbal yang lahir dari kekuatan Thanatos yang ada di dalam diri mereka. Kemarahan ini adalah karena cinta kehidupan pada orang yang sedang sakit. Begitu teganya orang-orang Farisi tidak memiliki kepedulian pada orang yang sakit untuk disembuhkan Tuhan Yesus. Yesus marah mereka dengan maksud agar mereka sadar akan kekurangan mereka dalam melihat peraturan hari sabat dan kekurangan mereka dalam melihat orang sakit yang merindukan kesembuhan dari sang penyembuh. Yesus memenuhi harapan orang sakit yang kemudian disembuhkan oleh-Nya. 


Kita dapat membayangkan, ketika salah seorang dari orang-orang Farisi yang sakit, saya yakin mereka memiliki kepedulian yang sangat mendalam akan anggotanya yang sakit yang sangat merindukan sebuah kesembuhan. Seringkali dalam keadaan sehat kita menghalangi orang lain berbuat baik bagi orang sakit misalnya. Tetapi ketika kita sendiri atau salah seorang dari keluarga atau anggota kelompok kita sakit, maka kita mulai sadar betapa pentingnya kita membutuhkan orang lain untuk membantu dan menyembuhkan kita. Maka tepat sekali kata-kata ini bahwa benar yang terluka yang menyembuhkan. Kalau dulu kita tidak mengalami masalah dan orang lain yang mengalami masalah, lantas kita bicarakan orang yang bermasalah. Baru kemudian mata kita terbuka, setelah kita sendiri mengalami masalah serupa yang telah lebih dahulu dialami orang lain yang kita bicarakan. Maka sekali lagi, kata Henri JM Nouwen: “ yang terluka yang menyembuhkan.” 

 

 

Transformasi diri dan kelompok

 

 

Kita secara pribadi dan kelompok sadar bahwa kita memiliki kekuatan yang mematikan dan juga kekuatan yang menghidupkan. Kita sadar akan hal itu sebagai orang yang memiliki dua sisi psikologis itu menurut Freud. 


Tetapi kita lebih lanjut sadar betul bahwa kita adalah orang beriman Katolik. Teologi Katolik kita berprinsip bahwa kekuatan positif untuk keselamatan universal diaktifkan dalam rasa-akal-aksi kita di mana saja kita berada dalam waktu hidup kita. Sebaliknya Teologi katolik menutup bahkan mengunci signal bagi aktifnya kekuatan negatif yang menghancurkan diri, sesama dan dunia.


Kekuatan negatif dalam diri dan kelompok itu tampak dalam rasa, budi dan aksi kita yang menyakiti bukan menyembuhkan.  Kita ya pada kebaikan. Kita tidak pada kejahatan. Teologi Katolik terangkum di dalam Injil Mat 5:37 yang mengatakan, “Jika Ya katakan Ya dan Jika tidak katakan tidak.” Ya pada Yesus. Tidak pada kaum Farisi. Tidak ada abu-abu dalam Teologi Katolik.***

 

 


Senin, 18 Januari 2021

Renungan Misa Harian Selasa 19 Januari 2021

 SUNGKAN BERBUAT BAIK

Ibr.6:10-20

Mrk.2:23-28

Renungan Misa Harian 

Selasa 19 Januari 2021

 

*P.Benediktus Bere Mali, SVD*

 

 

Seseorang dapat menjadi pribadi yang Sungkan untuk berbuat baik ketika ia berada di dalam sebuah lingkungan yang dibangun dengan aturan setempat yang sangat ketat. Orang juga dapat menjadi sungkan untuk berbuat baik oleh karena kekuasaan setempat yang sangat dominan atau otoriter menguasai, tertutup terhadap kritikan yang membangun atau kritikan yang memberi solusi. Misalnya, di sebuah negara orang asing tidak boleh mengeritik pimpinan setempat baik dalam tulisan maupun dalam gerakan sosial, demosntrasi misalnya. Misalnya di sebuah negara yang otoriter kekuasaan tunggal, seorang yang dipimpin menjadi sungkan untuk berbuat baik demi sebuah mentransformasi gaya kepemimpinan lama, menuju gaya kepemimpinan yang inovatif, karena kritikan yang membangun sekalipun, kalau tidak diterima, nyawa akan menjadi taruhannya. 

 

 

Kehidupan sosial masyarakat zaman Yesus tidak segalak negara otoriter dengan kekuasaan tunggal yang mendukung orang sungkan  untuk berbuat baik. Keadaan sosial zaman Yesus dalam Injil hari ini cukup moderat yang memberi cukup peluang kepada Yesus dan murid-murid Yesus untuk tidak sungkan berbuat baik bagi sesama dan dalam konteks Injil hari ini berbuat baik untuk hidup mereka sendiri. Meskipun aturan sabat ketat dimata orang Farisi untuk tidak boleh bekerja pada hari Sabat, Yesus memberikan peluang kepada para muridNya bekerja pada hari Sabat untuk kebaikan dan hidup itu sendiri. 

 

Berbuat baik untuk hidup lebih utama daripada taat aturan pada hari sabat yang mematikan hidup manusia. Saya yakin, semua orang bersepakat, aturan harus dinomorduakan, dan hidup diutamakan dalam situasi dan kondisi tempat dan waktu yang tepat. Contoh semua roti sajian di Rumah Allah pada zaman Imam Agung Abyatar hanya dimakan oleh imam-imam. Tetapi Daud dan pengikutnya lapar, mereka masuk ambil roti sajian dan memakannya untuk hidup mereka. Imam Agung Abyatar mengijinkan mereka karena imam Agung Abyatar mengutamakan hidup Daud dan pengikutnya. Daud dan pengikutnya tidak sungkan melakukan yang terbaik pada saat dan tempat yang tepat. 

 

Kalau Imam Abyatar tidak mengijinkan pasti Daud dan Pengiringnya akan mati kelaparan atau setidaknya sakit dan mengganggu perjalanan Daud menuju tempat tujuannya. Imam Abyatar juga tidak sungkan berbuat baik kepada Daud dan para pengikutnya. Barangkali dalam benak Imam Abyatar demikian, Toh bahan persembahan berupa roti sajian di Rumah Allah berlimpah. Para imam makan sesuai kebutuhannya saja. Selebihnya disimpan dan barangkali ada yang rusak karena tidak dimakan. Lebih baik diberikan kepada sesame untuk dimakan. Makanan yang disimpam sampai rusak, pasti Tuhan marah. Tetapi dibagikan kepada sesame yang membutuhkan pasti disayang Tuhan.

 

Yesus sebagai pemimpin para murid mengijinkan para muridNya untuk tidak sungkan berbuat baik apalagi perbuatan mereka berkaitan langsung dengan soal makan untuk hidup agar tetap kuat dan sehat dalam melanjutkan karya pelayanan kepada umat. Aturan Sabat melarang bekerja/memetik gandum pada hari sabat. Orang Farisi menegur Yesus dan para murid berdasarkan aturan sabat secara ketat. Tetapi Yesus dan murid memetik gandum untuk mengusir kelaparan mereka agar tetap kuat dan sehat sebagai misionaris. Orang Farisi Sungkan Berbuat Baik karena aturan Sabat mendukung kesungkanan mereka berbuat baik. Tetapi Yesus dan murid-muridNya, juga Daud dan para pengikutnya Tidak Sungkan Berbuat Baik apalagi tujuan perbuatan baik mereka untuk memelihara hidup yang Tuhan berikan. Tuhan selalu memberkati orang yang tidak sungkan berbuat baik.

 

Kita sungkan untuk berbuat baik di tempat kita misalnya, karena pimpinan kita lebih senior. Kita sungkan berbuat baik karena sebelum kita berbuat baik kita sudah terlebih dahulu berasumsi bahwa pimpinan akan tersinggung kalau kita melakukan ini dan itu. Kita juga akhirnya bukan hanya sungkan untuk berbuat baik, tetapi akhirnya kita cuek saja, entah keadaan hidup bersama mau baik atau tidak itu adalah bukan urusan kita. Saya berpendapat, sikap apatis, janganlah ada dalam kebersamaan hidup kita. Alangkah indahnya, kita menemukan cara-cara yang cantik mengambil inisiatif untuk melakukan sesuatu yang menarik mata bersama demi kebaikan kita bersama. Saya rasa, keadaan kita kini, lebih mendukung untuk semangat berbuat baik dalam situasi dan kondisi sesulit apapun, apalagi kita hidup dalam zaman yang serba gampang yang sangat mendukung kita untuk Tidak sungkan berbuat baik.***

 

 

 

 

Renungan Misa Harian Senin 18 Januari 2021


 

 

 

Ibr.5:1-10

Mzm.110:1.2.3.4, R:4bc

Mrk.2:18-22

 

 

ANGGUR BARU  DISIMPAN DALAM KANTONG BARU

 

 

*P.Benediktus Bere Mali, SVD*

 

 

 

Orang yang tepat ditempatkan pada tempat dan waktu yang tepat juga, adalah harapan setiap orang di dalam sebuah organisasi yang baik untuk kehidupan kepentingan bersama. Hal ini dimiliki oleh pemimpin yang mengutamakan kualitas organisasi di mata public, baik pada level mikro maupun makro. Dengan demikian kehidupan organisasi dapat berjalan dengan baik secara ke dalam maupun secara ke luar. Tetapi seringkali Kita menemukan pemimpin yang menempatkan orang bukan berdasarkan kualitas tetapi berdasarkan suka dan tidak suka yang mengakibatkan organisasi yang dipimpinnya mengalami keropos mulai dari dalam di mata orang luar yang mengobservasinya secara Kristus.

 

Injil hari ini tentang cara berpikir yang tepat lahir dalam aksi yang yang tepat sesuai tempat dan waktu yang tepat, konteks beriman kepada Tuhan Yesus. Para murid Yohanes dan orang Farisi berpikir keliru tentang arti dan tujuan puasa sehingga aksi atau tindakan puasa pada tempat dan waktu yang salah. Sebaliknya para murid Yesus mengerti dan memahami arti dan tujuan puasa sehingga mereka tidak puasa pada saat dan tempat yang tepat. 

 

Puasa adalah pengosongan diri untuk memberi tempat bagi Allah di dalam diri sebagai tempat yang layak bagi penyambutan Allah yang telah menjadi manusia di dalam Yesus. Yesus ada bersama para murid-Nya maka komunitas mereka bersuka cita bersama-Nya. Tetapi para murid Yohanes Pembaptis dan orang Farisi berpuasa karena mereka tidak mengerti bahwa Yesus adalah Anak Allah yang dinantikan orang Israel sebagaimana nubuat para nabi dalam Perjanjian Lama dan Yohanes Pembaptis dalam Perjanjian Baru. 


Kemungkinan lain yang bisa terjadi bahwa mereka wajib berpuasa karena mereka belum menyiapkan hati dan budi yang paham akan Yesus. Mereka perlu berpuasa dan merenung tentang siapakah Yesus bagi mereka. Sebaliknya boleh jadi murid-murid Yesus sudah tahu bahwa Yesus adalah Mesias yang dinantikan oleh bangsa Israel. Yesus sudah ada dan bersama mereka. Hati dan budi para murid-Nya sudah siap lahir bathin hidup bersama Yesus. 

 

Maka bagi para murid, kata-kata ini tepat, “anggur baru disimpan di dalam kantong yang baru.” Anggur baru adalah Tuhan Yesus. Kantong baru adalah wadah hati dan budi yang baru dari para murid-Nya. Tetapi  bagi murid-murid Yohanes dan orang Farisi berlaku kata-kata ini, “ anggur baru belum siap disimpan di dalam kantong hati-budinya yang masih belum pantas. Mereka perlu berpuasa sampai memiliki hati dan budi yang baru untuk simpan anggur yang baru.

Pesan bagi kita untuk menyiapkan kantong hati dan budi yang layak bagi Yesus untuk tinggal di dalamnya. Untuk kita selalu rajin membaca SabdaNya dan melakukan kehendakNya dalam waktu hidup kita. Kita Ya pada Yesus dalam setiap waktu dan tempat kita hidup. Kita Tidak pada semua yang tidak sesuai kehendakNya. KehendakNya selalu menyelamatkan kita. Kehendak di luar Yesus menyesatkan kita. “Kantong Hati dan Budi yang Baru tempat yang pantas untuk menyimpan  Anggur Baru.” 

Sabtu, 16 Januari 2021

Renungan Misa Hari Minggu 17 Januari 2021

                                             YESUS ADALAH GURU KITA

 

*P.Benediktus Bere Mali, SVD*

 

1Sam 3:3b-10.19

Mzm 40:2.4ab.7-8a.8b-9.10, R:8a.9a.

1Kor 6:13c-15a.17-20

Yoh 35:42

 

 

Kita tahu membaca dan menulis karena jasa besar para guru kita. Kata pertama yang saya tahu tulis dan baca adalah kata Ibu. Kata kedua adalah Ayah. Guru mengajar dan murid belajar. Guru mengajar murid yang belum mengerti menjadi mengerti. Pengertian yang tepat memandu perilaku yang akurat dan hal itu memberikan rasa puas yang sangat mendalam. 

 

 

Yohanes pembaptis adalah guru yang baik. Seorang guru yang baik mengajar muridnya memiliki pengertian yang baik tentang bahan pengajarannya. Yohanes Pembaptis adalah guru yang mengajar tentang semua persiapan bagi kedatangan Yesus sebagai Mesias, Anak Domba Allah Yang Menghapus Dosa Dunia. Para muridnya mengerti akan proses pengajaran Yohanes Pembaptis untuk kedatangan Yesus. Para muridnya menyaksikan sendiri Yohanes membaptis Yesus di sungai Yordan. Yohanes Pembaptis ketika  melihat Yesus datang, kepada para muridnya ia menunjuk Yesus adalah Anak Domba Allah yang menghapus dosa dunia. Setelah Yohanes Pembaptis mengatakan bahwa Yesus adalah Anak Domba Allah yang menghapus dosa dunia, dua muridnya yaitu Andreas dan Yohanes langsung mengikuti Yesus. Menurut hemat saya, para murid Yohanes Pembaptis melakukan hal ini karena mereka sudah mendapat pengajaran Yohanes Pembaptis selama berada bersama dengan gurunya. 

 

 

Saat mereka mulai meninggalkan Yohanes Pembaptis sebagai gurunya, mereka melihat Yesus sebagai seorang guru yang mengajar dan mereka menempatkan diri sebagai murid yang mau belajar pada sang guru. Mereka bertanya kepada Yesus: “ Rabi artinya guru, dimanakah Guru tinggal?”  Pertanyaan murid ini tentu membutuhkan jawaban yang diharapkan. Tetapi Yesus mengatakan kepada mereka bukan inti pertanyaan tentang tempat tinggal tetapi Yesus justru bertanya balik kepada dua murid itu, “Apakah yang kamu cari?” Pertanyaan Yesus ini memiliki beraneka jawaban yang ada di dalam pikiran dan hati dua murid yang telah memutuskan mengikuti Yesus sebagai sang guru. Para murid barangkali mencari Yesus sebagai seorang Guru yang baik yang menjadi tempat belajar mereka sebagai para muridNya. Para murid bisa saja mencari Yesus sebagai seorang  guru sekaligus sebagai penyembuh orang sakit, dan melakukan mujizat yang mengundang banyak orang datang kepadaNya termasuk para murid yang selalu berada Bersama Yesus dalam doa, kerja, karya pelayanan. Mereka bisa saja mengikuti Yesus untuk mencari sebuah  status yang tinggi di depan publik berkat keunggulan Yesus yang menarik banyak orang. Mereka bisa saja mengikuti Yesus untuk mencari harta yang banyak lewat keunggulan Yesus yang melakukan mujizat di samping pengajaranNya yang penuh kuasa dan berwibawa. Misalnya Yudas Iskariot yang menjual Yesus untuk mendapatkan harta bagi dirinya sendiri. Mereka bisa saja mengikuti Yesus untuk mencari dan menemukan berbagai kemudahan pemenuhan kebutuhan karena Yesus dapat melakukan mujizat. Mereka juga bisa jadi mengikuti Yesus sebagai Guru yang dapat mengajar mereka dalam kata dan teladan hidupNya tentang diriNya adalah Mesias, dan Anak Domba Allah yang menghapus dosa dunia agar mereka dapat mengerti. Pengertian yang tepat tentang Yesus Sang Guru mereka, memandu mereka lebih kokoh mencintai Yesus selama hidup Bersama sang guru. 

 

Yesus adalah Guru mereka secara fisik dalam hidup bersama dalam karya dan pengajaran selama kurang lebih tiga tahun. Singkat kata, pertanyaan Yesus, apa yang kamu cari adalah sebuah pertanyaan mendasar untuk memurnikan motivasi para murid yang telah meninggalkan Yohanes Pembaptis dan menjadi murid Yesus. 

 

Yesus adalah Guru yang mengajar dan para murid adalah murid yang mendengar pengajaran dan perbuatan Yesus dan belajar dari Sang Guru yang mengajarkan apa yang dilakukanNya dan melaksanakan apa yang diajarkanNya. Hasil akhirnya ada dua yaitu ada yang berhasil misalnya Petrus menjadi pemimpin Gereja Katolik Pertama dan kepemimpinannya itu berlanjut sampai hari ini dalam diri Paus pengganti Petrus. Demikian juga sepuluh murid yang lain berhasil dalam tangan Yesus sebagai Guru Sang Pendidik. Sedangkan hanya satu yang mengkhianati Yesus sang guru karena dia gila harta/ekonom yang pada akhirnya menjual Yesus untuk memperkaya dirinya, lupa doa-sibuk urus uang-dan mencari uang, sampai tidak menemukan cara lain lagi sehingga dia menjual Yesus kepada musuh-musuh Yesus. 

 

Hasil akhir menjadi murid yang dididik Yesus sebagai Guru adalah ada yang baik tetapi ada yang jahat. Awalnya ada ekspektasi yang begitu tinggi untuk mendidik semua jadi sempurna. Tetapi pada akhirnya harus realistis bahwa manusia bukan robot yang dapat dikontrol dengan remote control oleh pemegang remote control. Antara Ekspektasi dan realitas masih ada kebebasan para murid untuk menentukan pilihan tersendiri mengatakan ya pada Yesus dan tidak pada iblis atau mengatakan tidak pada Yesus dan ya pada setan. Kebebasan itulah yang kita temukan di dalam diri Yudas dan 11 murid lainnya. 

 

Pesan bagi kita sebagai murid Yesus pada zaman pandemic covid-19 ini adalah, kita mendengar pengajaran Yesus   dengan berpegang pada Mat 5:37, “Senantiasa Ya pada Tuhan Yesus Sang Guru Sejati kita, Selalu tidak pada kuasa setan-iblis.” Ini adalah prinsip kita sebagai murid Yesus Sang Guru Sejati, Mesias, Anak Domba Allah Yang Menghapus Dosa Dunia. Kita tidak kenal hidup abu-abu seperti yang kita dengar dalam dunia politik dengan prinsip, orang bisa hidup abu-abu berdasarkan kepentingan, bukan berdasarkan hal-hal prinsipil. ***

 

Jumat, 15 Januari 2021

Renungan Misa Harian Sabtu 16 Januari 2021


*P. Benediktus Bere Mali, SVD* 


Yesus Melayani Orang Yang Tidak Dilayani Ahli Taurat dan para imam Yahudi


Ibr. 4:12-16

Mrk. 2:13-17


Yesus setelah dibaptis untuk pelayanan di depan publik, mengalami ujian di padang gurun Selama 40 Hari dan 40 Malam. Yesus lulus ujian dalam pencobaan di Padang gurun. Hasil ujian lulus itu berisi tidak bermental instant, tidak gila kuasa, tidak gila harta, tidak gila wanita. Dengan kelulusan ini Yesus sudah selesaikan semua masalah dengan diri-Nya sendiri. Yesus fokus pada masalah-masalah yang ada di luar dirinya dalam tugas pelayanan kepada umat. 


Pelayanan-Nya pasti unik. Keunikan itu terletak di sini. Orang yang Tidak diperhatikan imam- imam dan ahli ahli Taurat, justru Yesus melayani-nya. Contoh dalam Injil, Kita mendengar dan melihat orang yang berdosa dan pemungut cukai tidak dilayani atau dijauhkan atau disingkirkan oleh institusi Agama Yahudi. Karena bagi mereka pemungut cukai adalah kaki- tangan Kaisar Romawi yang memungut pajak dari rakyat. Seorang pemungut cukai tentu sering memungut pajak  lalu tidak jujur dengan keuangan yang ada atau korupsi. Di mata ahli-ahli Taurat dari golongan Farisi ini, seorang pemungut pajak adalah orang berdosa. Tetapi di mata ahli ahli Taurat dari golongan Farisi ini, Yesus adalah orang bersih, tidak berdosa. Maka di mata Ahli Taurat dan para imam, Yesus semestinnya menjauhi orang berdosa seperti Lewi. 


Tetapi Yesus bertolak belakang dari pandangan Ahli Taurat dan Imam-Imam itu. Mereka yang tidak dilayani, justru Yesus melayani mereka. Bagi Ahli Taurat dari golongan Farisi, orang berdosa harus dijauhkan dan diasingkan karena mereka najis. Tetapi Yesus  melayani mereka yang berdosa agar mereka kembali ke jalan yang benar yaitu jalan keselamatan. Yesus berkata kepada mereka yang menghalangi-Nya, " Bukan orang Sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit! Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdosa!"


Kita dapat menerima inspirasi dari Kitab Suci Hari ini, khususnya Yesus yang bermisi kepada orang-orang yang tidak diperhatikan oleh institusi  Agama Yahudi.   Kalau para pemimpin Agama Yahudi lebih fokus melayani orang yang Tidak Berdosa, dalam hal ini mereka yang memiliki kuasa dan harta sedangkan Yesus melayani orang-orang kecil  termasuk orang berdosa yang disingkirkan dalam kehidupan bersama. Hal ini terjadi karena Yesus sudah manata dirinya dan sudah tidak ada soal mendasar yang menjadi pengahalang bagi-Nya untuk melayani orang kecil dan sederhana serta miskin dan papa. Misi Yesus seperti ini lahir dari keberakaran-Nya pada Sabda Allah, Roh Kudus dan Allah Tritunggal yang Maha Kudus.***

Pesta Santo Arnoldus Jumat 15 Januari 2021

*P. Benediktus Bere Mali, SVD*


Pada Hari ini Pater Superior General SVD Dunia, P. Paulus Budi Kleden SVD menyampaikan  3  pokok menarik sebagai pesan mendalam kepada SVD, SVD Awam, SSpS, SSpS AP serta umat Katolik sedunia.  Tiga hal itu adalah Komunikasi yang benar dalam dunia yang semakin menyebarkan berita hoaks; komunikasi yang benar secara ilmiah; dan keluarga dan kaum Muda adalah pelaku komunikasi yang benar.  Saya menulis refleksi pribadi atas pesan mendalam Pater Paulus Budi Kleden SVD, Superior General SVD Dunia.



1. Komunikasi. Media Sosial dan media cetak dan alat komunikasi bahkan komunikator/manusia sendiri seringkali menyebarkan berita-berita yang salah dan menyesatkan orang lain di dalam kehidupan bersama. Dewasa ini berita hoaks semakin cepat sampai pikiran dan hati melalui smartphone pribadi.  Ternyata Berita hoaks bukan hal baru saat ini tetapi sudah terjadi sejak dulu kala. Salah satu Contoh Berita hoaks tertulis di dalam Kitab Suci.


Kitab Suci memuat berita tentang Mahkamah Agama yang membuat hoaks atau berita bohong bahwa Yesus tidak bangkit. Imam-imam Kepala dan tua-tua memberikan sejumlah uang kepada serdadu-serdadu yang menjaga kubur. Mereka berpesan kepada Serdadu-serdadu itu, "Kamu harus mengatakan, bahwa murid-murid-Nya datang malam-malam dan mencuri-Nya  ketika kami sedang tidur. Dan apabila hal ini kedengaran oleh wali negeri, kami akan berbicara dengan dia, sehingga kamu tidak beroleh kesulitan apa-apa (bdk. Mat.28:11-14)." Hoaks itu pun tersiar di antara orang Yahudi sampai sekarang ( bdk.Mat.28:15). 


Berita hoaks ini tetap tertulis dalam Kitab Suci sehingga setiap orang yang membaca Kitab Suci pasti menemukan Berita hoaks ini di dalam Alkitab. 


Tetapi Alkitab tidak berhenti pada berita hoaks. Justru setelah beberapa kali Yesus yang telah bangkit menampakan diri kepada para murid dan mereka mengerti bahwa Yesus telah menubuatkan bahwa ia akan sengsara, wafat dan bangkit (bdk. Mat.16:21.20:18-19, Mrk.9:9-32, Yoh.2:18-22). 

Empat Puluh Hari setelah kebangkitan-Nya, Yesus naik ke Surga disaksikan oleh para murid. Dalam hukum Yahudi, sebuah peristiwa yang memiliki saksi dua orang adalah sah. Dengan demikian peristiwa kebangkitan dan kenaikan Tuhan Yesus ke Surga adalah sah.

Sebelum Naik ke Surga Yesus meminta para murid untuk menjadi saksi-Nya sampai ke ujung bumi (bdk.Kis.1:8-11). Sengsara, wafat, kebangkitan dan kenaikan Yesus ke Surga merupakan fakta sejarah. Oleh sebab itu mampu mengalahkan hoaks yang dibuat oleh imam-imam Kepala dan tua-tua. Bahkan hingga Abad ini, berita tentang sengsara, wafat, kebangkitan dan kebaikan Yesus ke Surga tetap dirayakan oleh para murid-Nya. Hidup, sengsara, wafat dan kebangkitan Yesus dalam menyelamatkan dunia adalah intisari kebenaran iman Kita, yang setiap Hari Kita rayakan di dalam Perayaan Ekaristi Kudus. 

Komunikasi Kita orang Katolik adalah komunikasi yang baik, benar, Adil, damai bagi semua orang. Semua media cetak dan elektronik, kita gunakan untuk hal-hal Positif bagi semua orang di seluruh dunia. Paling utama dan pertama adalah kita sebagai komunikator menjadikan diri kita sebagai pembicara dan pelaksana kebenaran, kebaikan keadilan dan kedamaian bagi semua orang di bumi. Kita sebagai orang beriman, sumber kebaikan, kebenaran, keadilan dan kedamaian itu berpusat pada Yesus Kristus Sang Penyelamat Dunia. 


Kita sebagai orang Katolik memiliki prinsip kokoh, Ya pada Yesus Kristus dan Tidak pada semua cara komunikasi yang bertentangan dengan Teladan Yesus sendiri sebagai sumber iman dan keselamatan Kita. Bagi Kita Tidak ada jalan abu-abu seperti di dalam Dunia politik. Tepat bagi Kita orang Katolik Sabda Allah dalam Injil Mat 5:37, "Jika ya katakan ya, Jika tidak katakan tidak." Selalu Ya pada Yesus. Senantiasa tidak pada setan-iblis. 


2. Ilmu Pengetahuan.  Santo Arnoldus adalah seorang yang unggul di bidang Matematika. Ilmu pasti ini membantu Santo Arnoldus mengukur semua rencana pembangunan Fisik dan non-fisik secara mantap meyakinkan. Tempat strategis untuk Rumah dan Misi SVD direncanakan secara matang.  Buahnya SVD selalu berkembang pesat sampai Hari ini. Imannya diukur secara pasti. iman tumbuh dalam keluarga orang Tua. Setiap Malam usai makan Malam Membaca bersama Prolog Injil Yohanes. Devosi kepada Hati Kudus Sakramen Maha Kudus setiap Jumat Pertama. Devosi kepada Roh Kudus setiap Hari Senin.  Kehidupan iman berakar pada Sabda Allah, Yesus Kristus dan Roh Kudus. 

 

Selain itu SVD memiliki Antropos yang menulis secara ilmiah hubungan antara Misi dan kebudayaan bangsa-bangsa di dunia. Iman bertumbuh dan berkembang di dalam Budaya setempat. Yesus sudah ada dalam setiap Budaya dan tempat  para misionaris utusan Allah. Para pastor dan Bruder pergi bermisi ke segala negara di dunia, untuk menemukan Yesus yang sudah ada di dalam setiap Budaya tempat misionaris SVD bekerja. Seorang SVD adalah Seorang pencinta Budaya setempat. Sabda Allah hidup dan bertumbuh serta berbuah dalam Budaya setempat sehingga Sang Sabda berakar dalam karena bertumbuh dan berkembang pada dasar di atas wadas budaya yang kokoh dan kuat.


Pater Superior General secara spesifik menyampaikan bahwa betapa pentingnya psikologi konseling dalam karya para misionaris yang menjumpai aneka persoalan Psikologis mereka yang dilayani.

Persoalan majemuk  dari Umat di Masa pandemik covid  adalah sangat kompleks. Persoalan Psikologis yang kompleks ada juga dalam keluarga-keluarga. Persoalan Psikologis juga ada dalam komunitas SVD.  Di antara sekian banyak solusi, salah satunya adalah melalui psikologi konseling.  

Kalau permasalahan Sosial itu disederhanakan ke individu, maka setiap individu dalam keluarga maupaun komunitas memiliki peluang membuat masalah yang bermula dari segi psikologis dan juga memiliki peluang menyelesaikan persoalan yang berasal dari segi Psikologis. 


Setiap Proses penyembuhan individu yang memiliki persoalan Psikologis dalam hidup keluarga awam maupun komunitas imam, suster, bruder dan frater, bisa saja dapat terjadi di dalam Ruang konseling. Jika ada keterbukaan dan komunikasi yang jujur dari klien kepada  konselor yang membantu dan mendampingi klien maka  ada harapan klien sembuh dari abnormal  Psikologis menuju menjadi normal secara Psikologis. Ada tahap-tahap konseling.


Pertama. Setiap klien yang datang kepada konselor di ruang konseling adalah sebuah niat Positif klien untuk Sembuh. Ruang konseling  Perlu  memenuhi persyaratan yaitu ruangan konseling berkaca transparan baik dari luar maupun dari dalam agar keamanan konselor maupun konseli terjaga dan terpelihara secara baik. Konselor dan konseli sama sama satu kata bahwa ruangan konseling untuk menyelamatkan baik konselor maupun konseli. Semua tata aturan dan etika konseling tertulis dalam Surat Persetujuan klien untuk aktif dalam konseling. Dalam Surat perstujuan klien untuk aktif dalam konseling itu memuat tentang manfaat konseling, etika, waktu setiap session dan biaya per session yang Perlu dibayar klien. Tetapi biaya bukan hal yang utama yang penting adalah klien Perlu Sembuh dari Sakit Psikologisnya.  Biasanya seorang klien melewati atau melalui sesi konseling dari awal sampai Sembuh terdiri dari 7 sampai 15 sesi konseling dan setiap sesi waktunya maksimal 50 menit dan sekali seminggu. Artinya seorang konseli dapat membutuhkan 7 sampai 15 Minggu untuk Sembuh dari Sakit Psikologisnya. Meskipun demikian setiap klien bisa lebih dari itu atau kurang dari waktu tersebut tergantung kebutuhannya. Ada yang lebih cepat Sembuh tetapi ada juga yang butuh waktu yang lebih lama. 


Setiap sesion dilaksanakan bukan konselor yang tentukan tetapi konselor selalu memulai dan mengakhiri sesuai Persetujuan konseli dalam konseling. Setiap daftar soal yang disampaikan klien Perlu tuntunan konselor sampai konseli mengerti hal pokok yang menjadi sebab yang memelihara persoalan Psikologisnya. 

Kedua. Ketika klien datang ke ruang konseling, klien  tidak tahu akar persoalannya. Konselor pun tidak tahu Penyebab yang memelihara tumbuhnya persoalan Psikologis klien. 

Langkah awal atau sesion pertama adalah konselor dengan Persetujuan konseli mengadakan assessmen atas semua daftar soal yang disampaikan konseli di awal sesi. Dari daftar soal itu, konselor meminta konseli untuk Klarifikasi sehingga tiba sampai pada daftar soal yang betul betul  dialami konseli. 

Assessment terhadap setiap soal klien meliputi wawancara, observasi, alat tes psikologi yang paling tepat berdasarkan problem yang disampaikan di awal sesi. Pemberian tes Psikologi sebaiknya selalu atas Persetujuan konseli. Untuk sampai pada Persetujuan konseli, konselor memberikan penjelasan kepada konseli tentang alat tes psikologi itu sampai konseli mengerti dan aktif mengikuti tes dengan tujuan untuk dapat informasi yang tepat tentang masalah Psikologisnya sehingga bisa sembuh. Jangan sekali-kali beri tes psikologi tanpa persetujuan klien. Semua hasil asesmen baik itu wawancara dan observasi maupun hasil test psikologi, konselor selalu sampaikan kepada konseli dan meminta konseli memberi klarifikasi atas setiap pokok yang berkaitan dengan soalnya sehingga konseli benar-benar mengerti soalnya. 

Di sini Proses psiko-edukasi menjadi hal yang utama. Prinsipnya konselor mendampingi konseli agar klien mengerti akar soalnya melalui asesmen yang telah terlaksana. Jika klien mengerti soalnya maka solusinya juga bisa ditemukan oleh konseli didampingi konselor. Setiap titik sesi konseling, konselor selalu meminta konseli klarifikasi sehingga konseli dan konselor memiliki pengertian yang sama tentang persoalan Psikologis konseli. Bedanya, konseli mengalami langsung soalnya sedangkan konselor mengalami soalnya dari luar diri konseli. 


Ketiga. Setelah mendapat klarikasi klien atas hasil asesmen dan gejala Sakit Psikologis minimal 4 gejala maka konselor dapat menentukan bahwa klien ini Sakit Psikologisnya jenis  A atau B atau C berdasarkan gejala gejala tampak dari tampilan Fisik-lahiriah dari klien,  yang dapat dilihat dan diukur. Gejala gejala dan jenis Sakit yang ditentukan itu, konselor sampaikan kepada klien dalam sesi konseling. Kalau konseli setuju, dalam arti mengerti maka konselor menentukan bahwa klien Sakit A misalnya. 

Sakit A berdasarkan gejala ini berbasis pada Buku daftar Sakit Psikologis dengan semua gejalanya yaitu DSM-5,  yang menjadi "kitabsucinya" konselor. Maka konselor pertama dan utama familiar dengan DSM-5 (pdf di google). 

Selain DSM- 5 sebagai Buku utama, konselor baca Buku dan artikel yang terbaru yang berhubungan langsung dengan Sakit klien. Karena itulah sesi konseling sekali seminggu bagi setiap konseli. Konseli olah Diri. Konselor punya waktu untuk olah literature terkini yang berhubungan langsung dengan soal yang sedang disampaikan konseli. Tujuannya demi konseling secara professional untuk kebaikan konseli yaitu Sembuh.  

Keempat. Konselor yang professional selalu fokus bahwa setiap gejala dari Sakitnya yang disampaikannya di dalam sesi konseling, selalu minta klarifikasi dari konseli dan konselor merumuskannya. Hasil rumusan soal konseli berdasarkan data dari klien lewat wawancara, observasi, test psikologi yang disempurnakan  dengan literature  terkini yang berkaitan secara langsung dengan soal klien itu. Rumusan itu kemudian disampaikan kepada klien, kemudian konselor meminta klarifikasi dari klien dan pada akhirnya Jika klien mengerti dan menyetujui maka rumusan itu sesuai dengan apa yang sedang dialami klien. Berbasis rumusan persoalan klien itu, atas persetujuan konseli, proses konseling maju ke tahap berikut.


Kelima. Setelah klien setuju dengan rumusan kasusnya maka sesi sesi selanjutnya adalah rencana treatment. 

Memasuki Sesi ini sebaiknya berdasarkan Persetujuan klien. Pada sesi rencana treatment ini, konselor menjelaskan setiap tahap treatment sampai klien mengerti. Prinsipnya klien mengerti maka Proses konseling munuju Sembuh dapat berjalan.  

Hal pertama dalam rencana treatment adalah daftar masalah klien berdasarkan persetujuan klien. Hal kedua dari rencana treatment ini adalah komunikasi dua arah dari konselor ke konseli dan dari konseli ke konselor tentang Tujuan yang mau di capai dari setiap daftar soal klien. Konselor menjelaskan Tujuan setiap daftar soal sampai klien mengerti Tujuan yang mau dicapai untuk Sembuh. Tujuan itu sebaiknya SMART: Spesifik/simpel, Measurable, attainable, realistic, timely statement. Setelah klien mengerti tentang Tujuan dari setiap daftar soalnya, atas Persetujuan klien, maka  maju ke bagian effektif intervention atas setiap daftar soalnya. Di sini konselor mulai mengelaborasi literatur terbaru tentang intervensi paling effektif terhadap setiap daftar soal klien.  Konselor jelaskan intervensi yang effektif itu kepada klien,  sampai klien mengerti sehingga saat implementasi effektif treatment klien dapat melibatkan diri secara aktif Menolong dirinya sendiri untuk Sembuh.


Setelah klien mengerti bagaimana effektif intervention atas daftar setiap soalnya, atas Persetujuan klien, implementasi effektif intervention itu kepada klien.  

Konselor membantu orang yang bisa membantu dirinya sendiri untuk Sembuh. Klien klinis dapat ditolong para psikolog klinis karena itu wilayah bidangnya. Klien klinis atau tidak, sejak sesion awal sudah diketahui. Maka konselor akan kerja sama dengan psikolog klinis yang dapat Menolong klien klinis. 

Kelima. Selama implementasi effektif intervention atas daftar kasus dari klien, klien dimonitor apakah implementasinya berjalan baik atau tidak. Konselor beri form- form yang penting diisi klien untuk kontrol Perkembangan tingkat soalnya, apakah soalnya semakin Tinggi atau rendah Selama implementasi effektif intervention. 

Selain itu monitor dari orang tua, guru, Teman dan semua yang terlibat langsung membantu klien mencapai goal yaitu Sembuh. 

Kemudian evaluasi tentang maju atau mundur atau mandeg atau tidak jalan interventionnya. Kalau effektif intervensinya  jalan maka Tujuan Sembuh semakin bersinar Terang. Kalau tidak jalan intervensinya, maka Perlu revisi. 

Revisi berarti Perlu asesmen Ulang. Untuk assessmen Ulang, konselor Perlu minta Persetujuan klien. Kalau dia setuju maka assessmen dilaksanakan. Sesudah itu konselor merumuskan kasusnya dan implementasi intervensi yang effektif atas Persetujuan klien. Setelan revisi ternyata klien merasa baik dan akhirnya Sembuh maka berdasarkan keputusan klien, proses konseling berakhir. Terjadi terminasi Proses konseling karena klien Sembuh. Sembuh klien itu menurut Rasa nyaman klien setelah melewati proses konseling, didukung data observasi dari Konselor, orang tua, Teman, guru dan tetangga yang membantu menyembuhkan klien. 

Sebaliknya kalau sesudah revisi, klien tidak Sembuh, maka klien sendiri dapat menentukan terminasi Proses konseling. Konselor mendampingi klien. 

Catatan penting, bahwa seorang konselor professional dalam menulis dan berbicara dalam bentuk apapun, menghindari kata disorder pada klien karena jika kata itu terucap pada klien, maka klien sudah merasa sudah dicap Negatif dan kalau Perasaan itu sudah ada berarti beban Psikologis klien semakin bertambah. Bahasa komunikasi konselor adalah Bahasa yang menyembuhkan. Demikian sedikit garis besar jalannya konseling professional. Semoga bermanfaat.


3. Pelayanan kepada keluarga dan kaum Muda. Keluarga adalah dasar keselamatan Dunia. Yesus lahir dari keluarga Nazareth. Dan dipelihara sampai usia 30 Tahun dibaptis untuk tugas perutusan mewartakan Injil ke Seluruh Dunia. Usia 30 Tahun, bagi orang Yahudi adalah usia matang Pengetahuan, Psikologis, spiritual, Fisik, Sosial dan bijaksana untuk tampil di depan publik. Yesus secara real berkarya Selama 3 Tahun di depan publik. 

Santo Arnoldus pendiri SVD, SSpS dan SSpS AP juga lahir dari keluarga. Tiga kongregasi yang didirikan Santo Arnoldus ini lahir dari tiga kekuatan Santo Arnoldus. Pertama Kehidupan religius yang kokoh. Doa di depan Sakramen Maha Kudus, di depan Hati Kudus sumber kekuatan iman dan sumber inspirasi sebelum memutuskan sesuatu untuk perkembangan misi. Kedua, Perayaan Ekaristi adalah jantung dan Mata tugas perutusan bagi Santo Arnoldus. Membaca Sabda Allah, Prolog Injil Yohanes dalam keluarga setiap Malam sesudah makan. Jadi doa dan baca Kitab Suci sudah dimulai di dalam keluarga bukan Masuk Seminari Baru mulai. 

Santo Arnoldus selamatkan Dunia melalui keluarga intinya dan keluarga besar SVD, SSpS dan SSpS AP.  Tiga kekuatan Santo Arnoldus itu diwujudnyatakan di dalam SVD yang berakar pada Sabda Allah, SSpS berpusat pada Roh Kudus, dan SSpS AP dengan keberakaranya dalam Kehidupan religius yang mendalam yaitu Tritunggal Maha Kudus. 

Berdasarkan pengalaman Yesus dan Santo Arnoldus yang lahir besar, Muda, Dewasa berasal dari keluarga inilah, Kita sebagai  SVD pada Masa pandemi covid 19 ini mendoakan keluarga dan kaum Muda agar Tuhan selalu menguatkan dan memberkati keluarga di seluruh Dunia dan Tuhan memanggil kaum Muda untuk menjadi biarawan dan biarawati, untuk menjadi imam, Bruder, suster, frater dalam melanjutkan karya misi Allah Misi Gereja Katolik dan Misi SVD di seluruh Dunia.


Selamat Pesta Santo Arnoldus. Santo Arnoldus Jansen Doakan kami dari Surga.***