Jumat, 29 Januari 2021

Renungan Misa Pesta St. Yosef Freinademetz Jumat 29 Januari 2021

  Proses versus instant


*P.Benediktus Bere Mali,SVD*



Refleksi Pribadi 

Jumat 29 Januari 2021

Mrk.4:26-34

Ibr.10:32-39


Di sebuah Universitas terbaik dalam jurusan konseling, seorang mahasiswa akan disebut sebagai seorang konselor professional setelah melewati proses belajar tatap muka, lulus ujian lisan, lulus ujian tulis, presentasi contoh kasus klien dari setiap matakuliah di klas dan Juga di  tempat praktek, lulus praktek konseling terbimbing di kampus, lulus praktek konseling terbimbing oleh supervisor berlisensi internasional di pusat praktek konseling  dan harus lulus ujian komprehensif dimana hasil lulus ujian itu berdasarkan evaluasi semua dosen konseling di kampus tersebut. Proses itulah akan menciptakan seorang Konselor professional. Artinya bahwa dengan Proses yang demikian mantap mengantar seorang Konselor professional pasti untuk menjadi pendamping dan penuntun konseli di ruang konseling secara baik dan benar untuk menyembuhkan konseli, berkat semua tahap konseling yang telah diperoleh Selama masa pendidikannya sebagai pembentukan seorang Konselor professional. Sebaliknya Konselor yang bawah ijazah Karena belaskasihan akan meleset pada waktu pelaksanaan konseling di ruang konseling. Mental instant baik dari institusi maupun dari pribadi yang hanya berorientasi mendapat  ijazah tetapi abaikan proses praktek konseling, pasti akan terjadi error di ruang konseling  maupun di luar ruang konseling, khusus yang berkaitan dengan bidang dan ijazahnya atau sertifikatnya. Intinya bahwa mencintai  proses itu pasti menyelamatkan. Sedangkan yang bermental instant itu lebih banyak membuat orangnya sesat menyesatkan. 


Kebenaran Proses berakar dari Kerajaan Allah dalam Injil Hari ini disampaikan dalam bentuk perumpamaan tentang Benih  kecil yang ditanam, bertunas bertumbuh, berkembang, bertumbuh Subur, berbunga, berbuah, masak dan kemudian dipanen karena telah tiba musim panen. Demikianlah Kerajaan Allah itu bertumbuh dan berkembang di dalam lahan hati dan budi manusia melalui proses bukan instant bertumbuh dan berkembang serta berbuah.

Di dalam Proses itu seorang penyebar Kerajaan Allah butuh ketekunan, kesadaran, kesetiaan, di samping stress, tekanan, Sakit, pusing dan bahkan nyaris putus asa dan menyerah. Dalam Proses demikian kekuatan utama setiap orang yang jatuh dan melewati Proses itu adalah "sengsara membawa nikmat"  sebagai spirit yang berperan sebagai pemandu. 


Santo Yosef Freinademetz yang pestanya diperingati hari ini, seorang misionaris pertama SVD di China. Sejak meninggalkan tanah kelahirannya menuju China, hingga meninggal di China ia tidak pernah kembali berlibur ke Negeri kelahirannya. "Spirit Cinta pada China begitu mendalam sehingga ia menjadi orang China dalam budaya China dan bahkan ia berkata sampai di Surga pun ia ingin tetap  menjadi orang China." Hal ini dimiliki Santo Josef Freinademetz karena ketekunan dan kesabarannya serta kesetiaannya menjadi seorang misionaris China. Meskipun ada banyak tantangan dan halangan, ia tetap setia menyebarkan Kerajaan Allah di Negeri China sampai ia mati di China. 

Bagi St. Josef Freinademetz Kerajaan Allah di Negeri China itu seumpana seorang yang menanam benih, kemudian ia bertunas, bertumbuh dan berkembang, sampai berbuah dan pada saatnya yang tepat dipanen karena musim panen telah tiba. 

Buah-buah dari misionaris St Josef Freinademetz pada hari ini adalah ada orang China baik dari Negara China maupun di luar Negara China  yang telah menjadi Bruder SVD dan Imam SVD.  Cinta St. Josef Freinademetz kepada orang China dan menjadi orang China bahkan sampai di Surga pun tetap menjadi orang China telah ditanggapi secara positif oleh orang China dengan menjadi Imam dan Bruder SVD. Santo Josef Freinademetz doakanlah kami dari dalam Surga. Secara khusus mohon doa Bapa Santo Josef Freinademetz untuk panggilan pemuda dan pemudi Tionghoa untuk menjadi imam, Bruder dan Suster. ***


Kamis, 28 Januari 2021

Renungan Harian Kamis 28 Januari 2021

   Menjadi Pelita Bagi Dunia


*P.Benediktus Bere Mali, SVD*


Refleksi Pribadi 

Kamis, 28 Januari 2021

Ibr. 10:19-25

Mrk.4:22-25


Waktu Tahun pastoral di sebuah paroki di Kalimantan ada banyak pengalaman Menarik. Salah satunya adalah pengalaman tentang Pelita di Rumah panjang stasi. Saat saya melayani umat di stasi yang jauh dari pusat paroki,  saya biasanya melayani umat dari satu stasi ke stasi yang lain Selama 1 sampai 2 bulan. Setelah itu saya kembali ke pusat paroki. Ada Pengalaman menarik saat tidur di Malam Hari  di Rumah ketua lingkungan atau ketua stasi. Rumahnya dikenal sebagai Rumah panjang tanpa sekat atau pembatas dengan kayu atau tembok  atau kain. Ada sejumlah tiang di tengah Rumah Panjang.  Model Rumah Panjang itu seperti Aula dengan beberapa tiang di tengah. Listrik belum ada. Pelita sebagai alat penerang utama di Malam gelap. Biasanya Pelita di letakan di tengah tengah Rumah panjang di atas sebuah tiang yang cukup Tinggi atau di atas Kursi untuk  Menerangi Seluruh ruangan agar di tengah Malam ada yang bangun hendak ke kamar mandi atau urusan kebutuhan lain  tidak salah arah atau tidak menginjak anggota lain termasuk tamu yang sedang tidur.   Tetapi pada suatu Malam tiba di tempat stasi Baru sudah berbeda tempat dengan lain ceritanya. Pada Tengah Malam hendak ke kamar mandi, Pelita telah padam Karena minyaknya kering. Saat saya cari pintu untuk keluar kencing, saya tabrak sebuah tiang Rumah. Adu Rasa sakitnya itu di sini di dahi, yang diikuti benjol besar setelah tabrak tiang hasil dari kering minyak Pelita.


Injil Hari ini menampilkan tentang Pelita diletakkan di atas kaki dian untuk Menerangi Seluruh ruangan. Pelita menerangi jalan bagi mata untuk melihat Membaca dengan mata dan mendengar sumber suara atau bunyi dan menuntun kaki menuju arah jalan yang tepat.  Pelita, listrik, bateri smartphone membantu orang mencari menemukan dan mengerti semua Berita yang membangun dan mendewasan maupun mengandung Berita yang Negatif. Listrik, bateri smartphone, Pelita membuka semua Berita Positif dan Negatif bagi manusia. Sungguh sangat tepat kalimat Injil hari ini:  "Pelita ditaruh di atas kaki dian Menerangi segala sesuatu. Sebab itulah tidak ada sesuatu yang tersembunyi dan tidak ada suatu yang rahasia yang tidak akan tersingkap.Barangsiapa mempunyai telinga untuk mendengar, hendaklah ia mendengar!"


Bateri smartphone yang Kita Miliki menyampaikan berita postif dan Negatif melalui smartphone kita. Barangkali kita lebih memilih yang Positif di smartphone kita yang ada di tangan dan saku kita. Pencipta smartphone memberikan dua informasi baik yang Positif dan tidak baik kepada Kita dan itu di saku dan tangan kita. Pelita kebebasan Kita semestinnya berfungsi secara baik untuk memilih yang baik dalam situasi dan kondisi sebagai orang Katolik. Pilihan pada berita Positif dalam kacamata beriman Katolik pasti menyehatkan dan menyelamatkan bukan menyakiti dan menyesatkan. Tetapi Pelita kebebasan Kita untuk memilih yang Negatif dalam kacamata Gereja Katolik maka itu cepat atau lambat akan menyakiti dan menyesatkan.***

Rabu, 27 Januari 2021

Renungan Misa Harian Rabu 27 Januari 2021

Sumber Refleksi

Ibr.10:11-18

Mrk.4:1-20



Menyiapkan Lahan Hati Yang Subur bagi tumbuhnya Sang Sabda Allah


*P.Benediktus Bere Mali, SVD*


Menyiapkan Lahan Hati Yang Subur bagi bertumbuh dan berkembangnya Benih Sabda Allah terbagi ke dalam dua Sisi penting yaitu Lahan Hati pewarta Injil dan Lahan Hati penerima Injil.


Menyuburkan Lahan Hati pewarta Sabda Allah meliputi semua bidang yang melingkupi hidup dan karya pewarta. Secara Psikologis seorang pewarta lalui lulus ujian karena Dewasa secara Psikologis. Secara sosial, pewarta Sabda Allah memiliki kecerdasan Sosial yang normal. Secara fisik-biologis seorang pewarta Sabda Allah memiliki kesehatan yang baik. Secara Spiritual, seorang pewarta Sabda memiliki keberakaran kehidupan religius yang berpusat pada Tritunggal Maha Kudus yang tampak dalam kegiatan doa secara sadar dan disiplin. Secara hukum, pewarta Sabda dibentuk oleh hukum sipil maupun hukum Gereja. Lahan Hati Subur Pewarta Sabda Allah, dengan berbagai bidang yang ada ini ketika dalam proses pembentukan, seorang formator Perlu mengadakan konsultasi dengan pihak-pihak yang professional dalam bidangnya supaya proses persiapan Lahan Hati pewarta dapat terlaksana secara lebih pantas.


Seorang pewarta dibentuk untuk memiliki integritas yang baik. Artinya seorang pewarta semestinnya menjaga kesesuaian antara apa yang diwartakan dengan apa yang dilakukan. Seorang pewarta Sabda Juga penting memiliki kebijaksanaan dalam menjalankan tugasnya. Pewartaan Sabda Allah dari mimbar agama senantiasa menyampaikan kata, kalimat, Bahasa yang menyembuhkan Hati bukan menyakiti Hati pendengar intern maupun ekstern.  Pewarta Sabda Allah di mimbar publik dalam aturan Yahudi adalah berusia biologis 30 Tahun. Dalam hukum Yahudi usia ini adalah usia yang secara fisik, Psikologis, usia sosiologis, dan usia spiritual serta usia kebijaksanaan sudah cukup Sempurna. Oleh karena itulah Yesus dibaptis pada usia 30 Tahun untuk mewartakan Sabda Allah di depan publik (bdk.Luk.3:23).


Hati pewarta Pertama dan utama menjadi sebuah Hati yang Subur bagi tumbuh kembangnya Benih Sabda Allah.Artinya seorang pewarta Sabda Allah sudah mantap dengan olah Lahan Hati Subur bagi tumbuhnya Benih Sabda Allah. Lahan hatiNya yang Subur menjadi basis yang kuat baginya dalam menyuburkan Lahan Hati penerima Benih Sabda Allah yang diwartakannya. 


Artinya bahwa pewarta dapat menyuburkan Lahan Hati pendengar Sabda Allah berdasarkan pengalaman pewarta menyiapkan hatinya Subur bagi bertumbuhnya Benih Sang Sabda dalam dirinya menjadi Contoh atau Teladan bagi penerima warta Injil. Pewarta Sabda Allah menyiapkan Lahan Hati Subur dengan Contoh Lahan hatinya yang Subur Untuk bertumbuh Benih Sabda Allah. Teladan lebih berkuasa daripada kata-kata yang indah.***

Selasa, 26 Januari 2021

Renungan Misa Harian Selasa 26 Januari 2021

  Sumber Refleksi

2Tim 1:1-18

Luk 10:1-9



Teladan Hidup Beriman Keluarga Menyehatkan Iman Putra dan Putrinya 


*P. Benediktus Bere Mali,SVD*



Apa Persamaan antara St. Timotius dan St Arnoldus?  Dua tokoh iman yang terkenal hidup di dalam zaman yang berbeda, tetapi memiliki sumber kekuatan iman yang hampir sama. Orang tua dalam Keluarga mereka masing-masing memiliki iman yang tulus. Nenek dan ibunya Timotius memiliki iman yang tulus jatuh dan bertumbuh di dalam Hati Timotius yang Kita rayakan pestanya Hari ini Juga memiliki iman yang tulus. Demikian Juga Santo Arnoldus pendiri Serikat Sabda Allah dan Suster SSpS dan SSpSAP memiliki iman yang kokoh lahir dari dalam keluarga. Setiap Hari keluarga Membaca Prolog Injil Yohanes di dalam keluarga sesudah makan Malam. Selalu aktif Adorasi di depan Hati Kudus Yesus. Selalu berdevosi kepada Roh Kudus. Keluarga St. Arnoldus berakar di dalam Kehidupan religius yang berpusat di dalam Tritunggal Maha Kudus. Moto keluarga adalah Semoga Hiduplah Allah Tritunggal Maha Kudus di dalam Hati Semua Manusia. 


Keluarga adalah sumber keselamatan Dunia. Yesus lahir dari keluarga Kudus dari Nazareth yang memiliki iman yang tulus.  St. Timotius lahir dari keluarga yang memiliki iman yang kokoh dan tulus. Santo Arnoldus lahir dari keluarga yang terikat dan berakar di dalam Tritunggal Maha Kudus. 


Keluarga adalah Gereja Katolik Paling Kecil. Keluarga beriman tulus Gereja beriman Tulus. Keluarga menyelamatkan Dunia Gereja  Katolik menyelamatkan Dunia. Keluarga hadir menyembuhkan Sesama. Gereja Katolik hadir menyembuhkan Sesama bukan menyakiti orang lain. 


Kita secara pribadi dan bersama ada bersama untuk menyembuhkan Sesama bukan menyakiti Sesama baik secara fisik, Bahasa verbal maupun Bahasa non-verbal, baik dalam Dunia nyata maupun dalam dunia maya. Selamat merayakan pesta St. TIMOTIUS DAN TITUS, Uskup.***

Minggu, 24 Januari 2021

Renungan Pesta Bertobatnya St. Paulus Rasul, Senin 25 Januari 2021

  Kehadiranku  Menyembuhkan atau Menyakiti Orang Lain

 

 *P.Benediktus Bere Mali, SVD*

 




Pesta Bertobatnya St. Paulus, Rasul

Senin 25 Januari 2021

Bahan Refleksi

Kis.22:3-16

Atau Kis.9:1-22

Mzm. 117:1.2, R: Mrk.1:16-15

Mrk. 16: 15-18

 

 

 

 

Kehadiran Ananias bersama para murid pada bacaan-bacaan suci pada hari ini menyembuhkan sesama bukan menyakiti sesama. Kehadiran seperti ini dapat diterima oleh semua orang termasuk musuh yang tidak berdaya dan sakit. Ketika Ananias bersama murid Yesus hadir di samping musuh yang sakit dengan niat baik hadir disampingnya untuk menyembuhkan maka musuh yang sebelum sakit menjadi penganiayah pengikut Yesus itu membuka diri dan pasrah untuk disembuhkan. 

 

Saulus adalah penganiaya pengikut Yesus. Tetapi ketika jatuh sakit dan buta, Ananias murid Tuhan yang menyembuhkan dia. Pengalaman Ananias menyembuhkan Saulus ini membuat Saulus sadar dan kesadarannya itu mengubah kemauan yang dulunya hanya mau menganiaya murid-murid Tuhan kini murid Tuhan yang menyembuhkan dia, membuat dia kenal Yesus, dan mau mewartakan Yesus, dan berpuncak  berkarya mewartakan Yesus kepada semua orang mulai dari Damsyik. 

 

Saulus adalah penganiaya murid Tuhan. Tetapi Paulus adalah pencinta dan pewarta Yesus bersama murid-murid Tuhan Yesus. Perubahan nama dari Saulus menjadi Paulus adalah tanda pertobatan. Dulu bernama Saulus adalah musuh Tuhan. Kini bernama Paulus adalah pencinta dan pewarta Yesus kepada banyak orang. 

 

Paulus mewartakan Yesus setelah dia percaya bahwa Yesus yang menyembuhkannya melalui Ananias murid-Nya. Dulu Paulus hadir di sekitar para pengikut Yesus untuk menyakiti dan bahkan membunuh para pengikut Yesus. Tetapi kini Paulus hadir bukan untuk menyakiti tetapi menyembuhkan sesama. Paulus disembuhkan, dibaptis, percaya pada Yesus dan menjadi orang yang hadir menyembuhkan sesama dalam berbicara dan melayani sesama. 

 

Setiap orang yang hadir dan dibaptis lalu percaya kepada Yesus selalu untuk menyembuhkan sesama, akan diselamatkan Tuhan. Tetapi setiap orang yang hadir untuk menyakiti sesama akan dihukum Tuhan. Paulus bersama para murid Yesus membawa khabar Gembira Yesus ke seluruh dunia untuk menyembuhkan bukan untuk menyakiti. Maka tepat bacaan Injil hari ini, “Pergilah ke seluruh dunia dan wartakanlah Injil. Siapa yang percaya dan dibaptis akan diselamatkan, tetapi siapa yang tidak percaya akan dihukum.”

 

Kita telah percaya dan dibaptis. Kita bersama Paulus dan Ananias bersama para pengikut Yesus berjalan di jalan Sang Sabda Allah untuk menyembuhkan sesama termasuk musuh-musuh kita. Niat dan kemauan baik kita, kata verbal dan non-verbal kita, dan cara bertindak kita yang tulus menyembuhkan sesama pasti diberkati Tuhan.  Marilah kita hadir di tengah dunia dan di antara sesama untuk menyembuhkan dunia dan sesama, bukan merusak dunia dan menyakiti sesama. Selamat merayakan Pesta Bertobatnya Santo Paulus, Rasul. Selamat merayakan pesta pertobatan kita semua. ***

Sabtu, 23 Januari 2021

Renungan Hari Minggu 24 Januari 2021

 BEKERJA UNTUK YANG ABADI YANG MENYEMBUHKAN 


 *P.Benediktus Bere Mali, SVD*

Refleksi Hari Minggu 24 Januari 2021

 

 

Yun.3:1-5.10: Meninggalkan yang temporal Menuju yang Perpetual.

 

Orang Niniwe berdosa di hadapan Tuhan. Dosa mereka karena terikat pada hal-hal duniawi yang meliputi harta, wanita dan kuasa. Yunus diutus Tuhan mewartakan pertobatan kepada penduduk Niniwe. Warta pertobatan Yunus didengarkan dengan telinga mereka, dan dipahami dengan pikiran mereka, dan kemudian tindakan mereka meninggalkan cara hidup lama kepada cara hidup baru dalam naungan dan bimbingan Tuhan. Perilaku konkrit orang-orang Ninive bertobat dari masa lalu yang penuh dosa. Tuhan mendengar pertobatan mereka dan Tuhan menyesal atas rencana-Nya untuk menunggangbalikkan kota Ninive. Tuhan mendengarkan doa dan pertobatan mereka yang hidup menurut yang abadi yang menyelamatkan. Mereka meninggalkan yang sementara yang menyesatkan.

 

1Kor.7:29-31: Melepaskan yang sementara dan memegangerat yang abadi

 

Segala sesuatu yang di dunia ini pasti berlalu oleh karena itu bekerjalah untuk yang abadi yang setia menyelamatkan dunia dan kita umat manusia. Yang Abadi Yang menyelamatkan. Yang Abadi yang menyembuhkan. Yang duniawi yang menyesatkan tetapi yang abadi di Surga yang menyembuhkan kita bersama.  Berpeganglah pada yang di Surga yang setia selalu menyembuhkan.

 

 

Mrk. 1:14-20: Meninggalkan Pekerjaan Yang Sementara dan Bekerjalah selalu untuk yang abadi

 

Para murid sudah kerja mapan sebagai nelayan. Tetapi mereka meninggalkan itu dan mengikuti Yesus untuk bekerja untuk yang hidup abadi di Surga. Mereka meninggalkan semua yang sementara menuju Yang abadi di Surga. Mereka bekerja di Kebun Anggur Tuhan, tidak ada sekolah yang paling istimewa selain kerja praktek di kebun Anggur menjadi seorang pekerja di kebun anggur Tuhan yang professional bukan dari buku tetapi dari pengalaman hidup di lapangan. Para murid beralih dari seorang nelayan ikan menjadi nelayan manusia. Sebuah peralihan kerja tanpa sebuah Pendidikan Formal karena bagi Yesus praktek kerja menjadi nelayan manusia di lapangan adalah paling penting dari sekolah formal di bangku kuliah. Mereka belajar melalui melihat dengan mata mereka, mendengar dengan telinga mereka, menyentuh dengan tangan kerja mereka. Mereka belajar pada sang guru dengan mengimitasi Sang Guru-Nya sebagai misionaris yang memiliki integritas. Menjadi murid bukan hanya belajar dari buku atau literature, tetapi menjadi murid yang mau belajar dari setiap pengalaman hidup bekerja praktek di lapangan. Belajar dari praktek harian itu yang menyempurnakan kekurangan dari hari-hari kemarin. Kerja praktek yang lebih lama bahkan sepanjang hayat di kandung badan itulah yang sungguh menyembuhkan. Tidak ada sekolah formasi panggilan secara khusus, tetapi pengalaman praktek di lapangan itulah guru kehidupan yang setia mengajari kita. 

 

Pertanyaan teka-teki yang menarik dari bacaan liturgis hari ini adalah mengapa sesudah Yohanes ditangkap Yesus langsung memilih 12 murid-Nya dalam melanjutkan misi pertobatan Yohanes Pembaptis? Mengapa Yohanes Pembaptis ditangkap?. Silahkan pembaca Injil liturgis hari ini untuk mendalaminya. ***


Jumat, 22 Januari 2021

Renungan Harian Sabtu 23 Januari 2021

 “Ia tidak sadar lagi”

Mrk.3:21-21

*P.Benediktus Bere Mali, SVD* 

 

 

 

 

 

Setiap teks kitab suci liturgis yang disusun gereja berdasarkan kalender liturgi selalu mengandung teka-teki tersendiri. Teka-teki teks itu dalam berbagai bentuk. Dari teks Injil hari ini teka-teki yang hendak dicari itu saya mencoba mencari dan menemukan jawabannya dimulai dengan atau dibuka dengan satu pertanyaan serius setidak-tidaknya bagi saya dan diharapkan bagi kita semua yang bergulat dengan teks ini.  Saya menemukan rumusan pertanyaannya seperti ini:  Mengapa orang lain begitu gampang menyebut seseorang tidak sadar lagi atau sinting atau gila atau abnormal atau disorder, sedangkan orang yang bersangkutan merasa normal, sadar, tidak gila? Atau dengan format lain dapat disusun pertanyaan ini sebagai berikut: Mengapa orang begitu cepat memberi cap kepada seseorang sebagai orang tidak sadar lagi tanpa meminta kepadanya untuk klarifikasi bahwa dirinya memang gila atau tidak sadar? 

 

Kita sering gampang menilai orang lain sebagai orang yang tidar sadar lagi dengan alasannya masing-masing. Untuk menilai orang lain berdasarkan data yang akurat menurut penilai maupun orang yang dinilai agar tidak bias tetapi obyektif. Penilaian seseorang berdasarkan data penilai dan yang dinilai untuk itu minimal melalui dua tahap sebagi berikut. 

 

Pertama. Seorang dokter mengatakan seseorang tidak sadar lagi dari segi medis, ketika organ yang berkaitan dengan urusan kesadaran sudah tidak dapat berfungsi secara baik. Dokter yang menentukan orang tidak sadar lagi berdasarkan asessemnt ilmiah dapat terukur secara ilmiah seperti yang terbaca pada alat ukur fungsi organ tubuh tentang kesadaran. 

 

Kedua. Seorang konselor akan membantu konseli yang berniat baik dengan akar sebab persoalan yang memelihara persoalannya. Misalnya kasusnya yang disampaikan kepada konselor di ruang konseli adalah tidak sadar atau abnormal. Konselor mendengar semua persoalan konseli yang disampaikan di awal pertemuan. Konselor mendampingi konseli menklarifikasikan soalnya secara terukur, teramati, dengan segala durasi dan frekuensinya pada awal pertemuan.  

 

Kemudian atas persetujuan konseli, berdasarkan daftar soalnya yang disampaikan pada awal pertemuan di ruang konseling itu, konselor melakukan assessment atas soal konseli. Ada tiga pokok asessement untuk mendapat data yang penting dan holistik tentang penyebab utama yang memelihara persoalan konseli. Tiga tahap asesment itu dilakukan atas persetujuan konseli. Konselor professional tidak pernah secara gampang melakukan assessment tanpa persutujuan konseli. Mengapa perlu ada assessment? Pertanyaan harus dijawab dan dalam jawaban itu konselor memberikan penjelasan kepada konseli sebagai edukasi konseli untuk mengerti betapa pentingnya assessment dalam proses konseling. Konselor menyampaikan kepada konseli bahwa konseli datang ke konselor di ruang konseling, konseli tidak tahu akar soalnya sehingga meminta bimbingan dan pendampingan konselor. Sementara Konselor pun tidak tahu akar persoalan konseli. Penyampaian ini kiranya konseli dapat mengerti secara baik. Agar konseli dan konselor dapat mengetahui akar persoalan yang memeliahara bertumbuh dan berkembangnya soal konseli. Karena itulah sangat dibutuhkan asessement untuk mendapat data yang tepat tentang persoalan konseli. Asessment itu terdiri dari observasi konselor pada tindakan, kata, dan semua material yang digunakan konseli sejak awal telephone untuk datang ke kantor konseling dan sampai akhir seluruh proses konseling. Intisari observasi adalah untuk memperoleh data tentang konsistensi konseli antara kata-katanya dengan tindakannya sejak awal konseling sampai tahap terminasi konseling. 

 

Selain observasi, konselor mewawancarai konseli dari awal sampai terminasi proses konseling. Wawancara fokus pada sebab utama yang memelihara bertumbuh dan berkembangnya persoalan konseli. Setiap sesi konseling professional selama 50 menit. Selain data yang diperoleh dari observasi dan wawancara, konselor dapat memberikan tes psikologi kepada konseli atas persetujuan konseli. Untuk konseli setuju, konselor mengedukasi konseli tentang alat tes psikologi yang paling tepat sesuai soal psokologis konseli. Pada dasarnya tes psikologi untuk mendapat data yang tepat atas soal yang sedang dialami konseli. Pengertian dan persetujuan konseli, memandu konseli menerima tes dan menjawab soal tes psikologi secara jujur dan obyektif agar mendapat data yang tepat atas soal yang sedang dialami.  Hasil tes psikologi dapat diinterpretasi oleh psikometrik karena itu bidang profesinya. Konselor perlu kerja sama dengan psikometrik berkaitan dengan tes psikologi. Hasil interpretasi dan hasil observasi dan wawancara dirangkum berdasarkan fokus akar persoalan konseli. Hasil rangkuman tiga jenis assessment itu disampaikan kepada konseli secara baik menggunakan Bahasa yang menyembuhkan agar konseli dapat mengklarifikasikannya sehingga hasil data itu merupakan data yang dimengerti dan diterima konseli. Setelah konseli setuju dan menerimanya maka konseling menuju ke tahap atau sesi berikut. 

 

Tahap berikut yang dimaksud adalah berdasarkan data yang terkumpul, dan berdasarkan literature terkini yang berkaitan langsung dengan soal konseli, maka konselor dapat menentukan sakit A atau Sakit B Atau Sakit C, dengan minimal 4 gejala sakit A atau sakit psikologis B, Sakit Psikologis C. Untuk menentukan sakit psikologis, konselor membuka DSM-5 (file pdf di Google), dan literature terkini tentang sakit psikologis konseli. Hasil sementara gejala sakit psikologi A atau B atau C itu, konselor semestinya minta klarifikasi konseli. Setelah konseli klarifikasi dan konseli setuju, maka konselor dapat memandu konseli ke tahap konseling berikut.

 

 

Setelah konseli setuju bahwa sakit A atau Sakit B, kini sesinya konselor merumuskan persoalannya secara tepat. Rumusan soal itu terdiri dari missal Sakit A dengan penyebab utama yang memeliharanya berdasarkan data assesement dan literature terkini. Rumusan yang tepat dapat memudahkan untuk treatmen pada tahab konseling berikutnya. Rumusan soal itu konseli komukasikannya dengan konseli yang sedang mengalami soal itu, untuk mendapat klarifikasi dari klien. Klain setuju rumusan itu maka, proses konseling akan maju ke sesi berikut. 

 

Sesion berikutnya adalah rencana treatmen. Proses pertama adalah konseli dan konselor mendaftar soal yang mau diadress. Soal itu sudah ada di dalam rumusan pada sesi sebelumnya. Pada umumnya setiap rumusan soal itu terdiri dari tiga bagian soal konseli yang mau diaddress. Soal yang dimaksud biasa terdiri dari tiga bagian yaitu yang paling mudah untuk diadress adalah perilaku yang dapat dilihat, diukur. Selain itu soal emosi atau perasaan dan yang ketiga adalah soal pikiran. Soal pikiran, tindakan, dan emosi selalu bergandengan saling mempengaruhi satu sama yang lain. Hal ini pun semestinya konselor sampaikan kepada konseli untuk mendapat klarifikasi dari konseli. Setelah konseli mengerti maka atas persetujuan konseli, proses konseling dapat maju ke tahap sesi berikut. 

 

Setelah daftar soal ditentukan bersama, konseli dan konselor bersama-sama menentukan tujuan dari setiap soal psikologis seperti terdapat pada daftar soal. Misalnya tujuan masalah A takut ular, maka tujuannya berani bertemu ular. Demikian juga tujuan soal yang lain sesuai daftar soal. Tujuan semestinya SMART: Simple/sederhama/Spesifik/particular, Measurable/terukur, Attainable/dapat dicapai, Realistik/konkret, Timely Statement/Dalam jangka waktu yang ditentukan. Tujuan in disampaikan kepada klien, agar klien paham dan setuju. Setelah setuju maka konseling berlanjut ke tahap berikut. 

 

Setelah tujuan dari setiap daftar soal ditentukan bersama konseli, konselor mengelaborasi literature intervensi yang efektif dalam mencapai tujuan dari setiap daftar soal yang ada. Intervensi yang efektif ini disampaikan kepada konseli agar konseli mengerti. Interveni efektif juga bisa dilatih. Konselor memberikan latihan atau praktek interfensi efektif ini entah itu latihan langsung maupun dari video-video yang ada di youtube dalam mengadress soal yang sedang dialami konseli. Setelah konseli mengerti dan setuju maka efektif intervensi itu diemplementasikan atau dilaksanakan oleh konseli. 

 

Implementasi intervensi efektif untuk sembuh dari sakit psikologis yang terdiri dari tindakan, perasaan, dan pikiran itu, konselor dapat memonitor perkembangan atau kemundurannya. Untuk itu konselor akan memberikan form-form yang perlu diisi konseli untuk membantu konseli memonitor mandiri perkembangan soalya, Form-form itu juga bisa diberikan kepada orang-orang terdekat yang membantu menyembuhkan konseli, yaitu orang tua, keluarga, teman sekolah, guru, dll. Kemudian ada evaluasi dan jika perlu revisi setelah evaluasi, maka perlu mendapat persetujuan konseli. Revisi berarti mulai assessment ulang dan tahap seterusnya seperti sudah diulas sebelumnya. Setelah revisi atas persetujuan konseli, dan kemudian konseli merasa sembuh, maka atas persetujuan dan kemauan konseli, terminasi konseling dapta dilaksanakan. Sebaliknya konseli tidak berhasil sembuh, konseli dapat melakukan terminasi dan konselor mendampinginya dalam mencari proses penyembuhan kepada yang lebih professional atas soal konseli.

 

 

Nah kalau, Ia mulai tidak Sadar lagi dalam Injil hari ini, adalah persoalan orang yang menilai bukan persoalan orang yang dinilai. Maka soalnya perlu diadress dalam group proses terhadap kelompok orang yang menilai Yesus adalah orang yang tidak sadar lagi, dalam bahasa konseling orang yang mengalami gangguan psikologis. Mereka yang menilai orang lain dalam hal ini menilai Yesus sebagai orang yang tidak sadar lagi  tanpa data holistik. Mereka menilai Yesus sebagai orang yang tidak sadder lagi hanya berdasarkan observasi sesaat saja secara spontan, tidak mandalam melewati proses sesi konseling sampai terminasi. Mereka dapat dididik dalam grup proses tentang menilai orang sampai orang itu sendiri menerima penilain atas dirinya adalah tepat sebagai orang yang sadar tau tidak sadar. Itu hanya terjadi di dalam ruang konseling baik konseling pribadi maupun konseling kelompok/keluarga atau komunitas. Yesus Sungguh Sadar Apa dipikirkan, dirasakan dan dilakukan di depan publik. Tetapi orang-orang yang menilai-Nya sebagai orang yang tidak sadar tulah yang sebetulnya tidak sadar. Mari kita menilai orang lain berdasarkan data sehingga penilaian kita sebagai input yang membangun orang yang dinilai dan kita yang menilai. Apakah penilaianku pada sesama berdasarkan data yang dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah? ***