Selasa, 02 Februari 2021

Renungan Pesta Yesus dipersembahkan di Bait Allah Selasa 2 Februari 2021


 MENGUBAH DUNIA MULAI DARI HAL SEDERHANA



Mal. 3:1-4

Ibr.2:14-18

Luk.2:22-40

 

 

*P. Benediktus Bere Mali, SVD*

 

 

Manusia hidup dan beraktivitas dari lahir sampai mati bahkan keadaan setelah kematian pun berada di dalam aturan agama dan aturan sipil. Salah satu aturan sipil adalah keluarga Yusuf dan Maria ikut sensus jiwa saat menjelang kelahiran Yesus di Betlehem. Yesus hidup sebagai orang yang beragama Yahudi mentaati aturan agama Yahudi. Orang tua Yesus mempersembahkan Yesus setelah 40 hari kelahiran-Nya sesuai hukum Taurat.

 

Penyambut Yesus adalah Simeon dan Hana. Keunggulan Hana dan Simeon adalah senantiasa dekat dengan Allah. Mereka adalah orang yang suci, kudus di mata orang-orang yang mengobservasinya. Hana dan Simeon utamanya suci dan kudus di depan mata Allah. Mereka berdoa, berpuasa di Bait Allah dalam usia senja hidupnya. Mereka menjumpai Allah di Bait Allah yang telah menjadi manusia di dalam diri Tuhan Yesus sendiri. Roh Kudus membimbing Simeon dan Hana datang ke Bait Allah pada waktu yang tepat untuk menyambut Tuhan Yesus yang dipersembahkan oleh kedua orang tua-Nya di Bait Allah.

 

Di Bait Allah manusia bertemu dengan Tuhan Yesus secara langsung dan dalam Simbol yang digunakan yaitu melalui kata-kata/doa, materi (tubuh-fisik, alat pemberkatan), dan tindakan yaitu Gerakan tubuh saat melakukan ritus pemberkatan. Semua gerakan ritus penyambutan Yesus di Bait Allah, kata-kata atau doa, tentang Yesus dan masa lalu Yesus dan masa depan Yesus dan semua materi termasuk tubuh fisik dan material lain yang disebutkan di dalam penyambutan. Ketiganya menjadi satu kesatuan yang utuh dan lengkap mewarnai perjumpaan Tuhan di Bait Allah. 

 

Perjumpaan dengan Yesus terungkap di dalam bacaan pertama. Nubuat Nabi Maleaki tentang utusan yang menyiapkan jalan bagi Tuhan terpenuhi di dalam diri Yesus yang pestanya dirayakan pada hari ini. Pada waktu orang tua, Yesus dan Maria mempersembahkan Yesus kepada Tuhan di Bait Alllah, Simeon yang diutus Roh Kudus menyambutNya dan menatangNya di Bait Allah. 

 

Terpenuhilah janji Roh Kudus kepada Simeon bahwa ia tidak akan meninggal sebelum melihat Mesias yang diurapi. Hal ini termuat di dalam doa Simeon saat sedang menatang Yesus, “Sekarang Tuhan, biarkanlah hamba-Mu ini pergi dalam damai sejahtera, sesuai dengan firman-Mu, sebab mataku telah melihat keselamatan yang dari pada-Mu, yang telah Engkau sediakan di hadapan segala bangsa, yaitu terang yang menjadi penyataan bagi bangsa-bangsa lain dan menjadi kemuliaan bagi umat-Mu, Israel.”

 

Betapa bahagianya Simeon yang telah melihat Mesias yang dijanjikan Roh Kudus kepadanya. Betapa sukacitanya Yusuf dan Maria dibalik ungkapan keheranan atas semua yang dialami, dilakukan dan dikatakan oleh Simeon yang sedang menatang Yesus. 

 

Simeon utusan Allah itu lalu memberkati (Gerakan ritus berkat dan materi yang yang digunakan untuk memberkati) mereka, dan berkata kepada Maria ibu Anak itu, “Sesungguhnya Anak ini ditentukan untuk menjadi suatu tanda yang menimbulkan perbantahan dan suatu pedang akan menembus jiwamu sendiri supaya menjadi nyata pikiran hati banyak orang.”  

 

Perkataan Simeon ini tentang masa depan Yesus. Bahwa Yesus yang dipersembahkan di Bait Allah ini adalah Bait Allah yang hidup itu sendiri. Kehadiran-Nya akan menjadi pertentangan bagi banyak orang. Kehadiran-Nya sebagai Bait Allah yang hidup dan akan menjadi pertentangan bagi orang-orang yang tidak menyetujui kejujuran, kebenaran, keadilan, dan kedamaian yang dihadirkanNya. Puncak penolakan itu adalah penderitaan dan kematian-Nya di Salib. Penderitaan dan kematian-Nya di Salib itulah yang menjadi pedang yang akan menembus jiwa Maria Ibu Gereja dan Ibu Tuhan Yesus sendiri. 

 

Di situ ada juga nabiah Hana yang selalu setia berdoa dan berpuasa di Bait Allah dalam mengasah kesalehannya. Karena kesalehannya itu, maka Roh Kudus mengutus Hana menyambut Yesus dan berbicara tentang Yesus kepada semua orang yang menantikan kelepasan untuk Yerusalem. Kelepasan untuk Yerusalem ini bukan secara politis tetapi secara spiritual. Yesus membebaskan Yerusalem dengan melayani Yerusalem sampai menderita dan wafat di salib dan berpuncak pada kebangkitan-Nya sebagai kemenangan atas kematian dan maut. Itulah kelepasan untuk Yerusalem dan di luar Yerusalem dalam arti spiritual.

 

Kita mempersembahkan diri sebagai persembahkan kepada Tuhan yang paling istimewa. Teladan Hana dan Simeon mempersembahkan dirinya siang dan malam di Bait Allah dalam mengasah kesalehan mereka lewat berdoa, berpuasa dan bersedeka. Bersedeka atau berderma atau berbuat amal tidak ditampilkan secara pasti dalam diri Simeon dan Hana karena mereka telah usia lanjut.  Hal ini menunjukan bahwa mereka adalah orang sederhana, tidak memiliki uang atau materi yang cukup untuk melakukan amal. 

 

Maria dan Yusuf pun adalah orang saleh yang sederhana dan telah dipilih menjadi ayah dan ibu Tuhan Yesus. Kesederhanaan mereka tampak dalam mereka membawa dua ekor tekukur atau dua ekor merpati sebagai bahan persembahan di Bait Allah pada pesta Yesus dipersembahkan kepada Tuhan di Bait Allah. Sedangkan biasanya orang yang kaya pada dasarnya membawa kambing atau domba yang sudah berumur satu tahun sebagai bahan persembahan di Bait Allah sesuai hukum Taurat. 

 

Tuhan Yesus lahir sederhana, dipersembahkan di Bait Allah dalam kesederhanaan, berkarya secara sederhana dan matipun dalam sebuah kesederhanaan. Tuhan kita itu sederhana. Pasti  kederhanaan kita Tuhan perhatikan. Tuhan memberkati kita semua.***

 

 

 

 

 

 

  

Minggu, 31 Januari 2021

Renungan Harian Senin 1 Februari 2021

  Refleksi Pribadi 

Senin 1 Februari 2021

Ibr.11:32-40

Mrk. 5:1-20


*P.BENEDIKTUS BERE MALI, SVD*


Di antara sekian banyak hal yang menarik dari bacaan Injil hari ini,  hanya satu hal yang spesial bagi saya pribadi dan diharapkan juga bagi semua orang yang mendengar dan membaca bacaan ini,  yaitu merasa heran bahwa 2000 ekor babi yang mati tidak menjadi sumber kemarahan para penjaga babi tetapi justru mereka sukacita mewartakan mujizat Yesus mengusir 2000 Roh Jahat /legion yang merasuki dan mengganggu pribadi yang bersangkutan, sehingga roh jahat itu menyakiti diri dan melukai diri sendiri. Pemilik babi dan penjaga babi justru tidak marah pada Yesus dengan atau lewat perintah-Nya, legion yang merasuki orang sakit itu dapat dipindahkan ke dalam babi yang berjumlah kurang lebih 2000 ekor itu. Sesudah itu babi babi itu terjun ke dalam jurang dan mati semuanya. Tetapi justru bukan binatang babi yang diutamakan melainkan yang paling utama adalah keselamatan manusia paling tinggi di atas segalannya. 


Hal ini bagi banyak orang memang luarbiasa aneh dalam dunia zaman ini yang berpegang pada pepata lama yang sealalu baru di telinga kita:  "ada uang ada cinta, tidak ada uang tidak ada cinta." Artinya uang dapat membeli segalannya. Artinya dalam dunia yang sangat mengutamakan materi/uang, adalah aneh jika mereka membiarkan 2000 ekor babi mati setelah Yesus perintahkan legion dari orang kerasukan itu berpindah ke dalam babi-babi. Penjaga dan pemilik 2000 babi itu telah siap mengorbankan babi-babi yang berjumlah sebesar 2000 ekor tetapi mereka lebih mengutamakan keselamatan orang yang baru saja disembuhkan oleh Yesus.


Kita sedang mendapat sapaan Sabda Allah hari ini  untuk kita mengutamakan kemanusiaan atau harta dunia. Kalau kita diberi kesempatan tampil untuk memilih maka saya pilih baik material maupun kemanusiaan sama-sama diutamakan. Bagi saya keduanya saling melengkapi. Memilih selamatkan material tapi bukan materialis. Memilih kemanusiaan bukan berarti menolak materi. Semoga  Kita diinspirasi dengan renungan kecil tulisan kecil ini. Semoga renungan ini menjadi sumber inspirasi  bagi Kita semua. ***

Renungan Hari Minggu 31 Januari 2021

  Bahan Refleksi Minggu 31 Januari 2021

Ul.18:15-20

1Kor.7:32-35

Mrk.1:21-28


*P.Benediktus Bere Mali, SVD* 


Bukan Membunuh Setan Tetapi Mengusir Setan


Ada begitu banyak orang  berpendapat tentang Tuhan Raja Semesta Alam. Secara istimewa Injil Hari ini tentang  Tuhan Yesus mengusir Setan atau Roh jahat yang kerja utamanya menyakiti, melukai, bahkan mematikan. Pertanyaan yang Menarik dan menantang kenapa Setan atau makluk jahat itu tidak bunuh hanya diusir?   Setan atau Roh Jahat Perlu ada di samping Roh kebaikan dalam dunia seni, harmonis. Harmonis itu seimbang antara Hitam dan putih. Berjalan tepat persis di garis keseimbangan itulah seseorang diposisikan sebagai orang yang memiliki harmonis. Seorang psikolog, Freud berkata bahwa kekuatan jahat dan kekuatan baik itu bukan di luar diri manusia tetapi berada di dalam diri manusia. Kekuatan jahat dan kekuatan baik itu terungkap dalam aksi yang baik dan jahat yang tampak terukur oleh indera observer. Simbol kebaikan dan kejahatan yang tertulis atau berbentuk fisik misalnya patung dll, cerita dogeng dll dalam agama-agama dan dalam kebudayaan adalah hasil cetusan kekuatan kejahatan kejahatan dan kebaikan dari dalam diri pencipta atau penulis atau pencerita atau pemimpin atau seniman atau wartawan dll. Freud menyebut dua makluk raksasa yang ada di dalam ruang hati-rasa-budi manusia itu adalah "eros & thanatos." Eros menciptakan kebaikan dalam semua segi kehidupan, mengkritisi/AGRESI/oposisi dengan data ilmiah untuk membangun, Kecemasan yang menciptakan motivasi untuk bekerja secara Positif dan bertanggungjawab. Sebaliknya thanatos tampil dalam Perilaku aneh Menonjolkan Diri dalam semua tempat dan waktu/narsis sebagai cara capai kepuasan Diri,  mencari kepuasan  indera rasa dengan menyakiti dan melukai diri sendiri/masokis, mencari kepuasan dengan menyakiti orang lain/sadis,  AGRESI dalam Bahasa verbal  dan non-verbal yang melukai, menyakiti Sesama dan Diri tanpa solusi, Kecemasan terlalu rendah menurunkan bahkan menghilangkan semangat kerja, atau Kecemasan terlalu Tinggi sampai Sakit bahkan lumpuh tidak berdaya sama sekali. Ekspresi eros dan thanatos dalam sex, AGRESI, dan Kecemasan tersebut adalah dua makhluk raksasa yang ada di dalam diri setiap manusia secara pribadi maupun secara sosial religius. Bagaikan bateri smartphone yang memiliki Arus Positif dan negatif yang membuat Sinar Menerangi Wajah hp mempersembahkan berita informasi Positif dan negatif dari pencipta smartphone kepada pemilik smartphone.


Dalam Injil Hari ini Yesus mengeluarkan Roh Jahat dari orang yang Sakit dan disakiti Roh Jahat itu. Yesus tidak membunuh Roh Jahat itu. Yesus mengusir dan Memindahkan Roh Jahat itu dari dalam diri orang sakit ke tempatnya yaitu di luar diri manusia. Awalnya Roh Jahat itu bersoal jawab dengan Yesus yang datang hendak mengusirnya dari pekerjaannya yang menyakiti orang yang disakitinya. Pada akhirnya roh Jahat itu Taat pada Yesus, keluar dari orang sakit sehingga Setan atau Roh Jahat pergi ke tempatnya dan orang yang sebelumnya Sakit tiba pada kesembuhan berkat Sang Penyembuh yaitu Tuhan Yesus Raja Semesta Alam. 


Bagaimana supaya Setan itu tidak kembali lagi ke dalam diri manusia?  Pertama dan utama adalah bahwa manusia Perlu mengatur signal eros dan thanatos dalam dirinya dari segi manusiawi sebelum cepat cepat gegabah lari kepada jalur instant spiritual. Setiap pribadi termasuk yang Sakit dengan bantuan pendapat Freud, dapat meng-on-kan signal eros Positif dalam freim teologi Katolik dan pada saat yang sama dalam kesadaran lengkap meng-off-kan    thanatos negatif sehingga apa yng terungkap di publik yang positif dalam Teologi Katolik yang pro "putih" tolak  yang "Hitam". Tidak ada "abu-abu" bertindak dan berbicara di dalam Bahasa Teologi Katolik. Tepat Kotbah Yesus di Bukit, "Jika Ya katakan ya. Jika tidak katakan tidak."  Ya pada sumber kebaikan kebenaran dan keadilan dan kesamaian berpusat pada Tuhan Yesus Kristus. Bahasa Dalam bacaan Pertama, berbicara menurut kehendak Tuhan dalam berperan sebagai nabi. Bahasa bacaan kedua, bertindak fokus pada kehendak Tuhan. Tidak pada Roh Jahat dalam semua tempat dan segala waktu.***

Sabtu, 30 Januari 2021

Renungan Harian Sabtu 30 Januari 2021

  Sumber Refleksi Pribadi

Ibr. 11:1-2.8-19

Mark.4:35-41


*P.Benediktus Bere Mali, SVD*  


Dalam dunia psikologi konseling dikenal  "4P" dari setiap kasus yang muncul yang disampaikan konseli kepada konselor di ruang konseling. Konselor dan konseli berjalan bersama berziarah ke dalam ruang kasus konseli dengan tujuan untuk sembuh dari sakit psikologis konseli.  


P yang pertama adalah predisposisi konseli baik yang positif maupun negatif yang dari luar diri maupun di dalam diri konseli. Konseli dan konselor  berjalan bersama mengelaborasinya untuk menemukan yang menjadi pemicu utama kasus psikologis konseli. Konselor dan konseli setuju untuk elaborasi ini sesuai surat persetujuan konseli di tahap awal konseling di ruang konseling. 


Setelah cukup mendalam berjalan bersama dalam tahap elaborasi predisposisi  dan sudah cukup alasan memahami dan mengerti predisposisi kasus  maka atas persetujuan konseli, konselor mendampingi konseli ke P yang kedua yaitu precipitating atau pemicu yang memuntahkan kasus konseli yang sebelumnya masih tertidur sembunyi di dalam ruang hati rasa dan pemikiran konseli ke permukaan publik baik di level keluarga, komunitas maupun masyarakat, sampai konseli kewalahan untuk mengaturnya dalam menurunkan level atau derajat kasusnya dari ruang publik kembali ke ruang privacy. Pemicu atau precipitating ini ditemukan Konselor berdasarkan persetujuan konseli dalam mengelaborasinya sedalam-dalamnya untuk menemukan akar penyebab utama yang melindungi kasus konseli terus berkembang dalam ruang aksi, rasa dan akal konseli. Setelah konselor dan konseli mengerti betul pemicu dan dengan alasan yang memadai, berdasarkan persetujuan konseli, konselor memandu konseli ke tahap berikut dalam ruang konseling. 


P yang berikut yaitu p yang ketiga yaitu perpetuating atau mengabadikan kasus terus hidup dalam diri konseli lewat ekspresi aksi yang tidak biasa yang dapat diukur, rasa yang tidak biasa, dan pikiran yang agak lain yang mengganggu dirinya. Pada dasarnya hal utama yang menjadi perpetuating kasus adalah pikirannya yang tidak biasa, yang tersembunyi tetapi dapat diukur dari ekspresi tindakan dalam kata dan tampilan tubuh fisik konseli yang terkoneksi langsung dengan rasa emosi tidak biasa konseli di depan publik maupun di ruang privacy. 



Setelah konseli paham perpetuating kasusnya berkat penjelasan konselor, atas persetujuan konseli, konseling menuju ke tahap berikut.


P berikut atau p yang keempat adalah protecting atau pelindung yang membungkus dan melindungi secara rapi kasus konseli dan  dengan persetujuan konseli, konselor buka agar pelindung kasus menjadi jelas di depan indera mata budi konseli dan Konselor. Pelindung itu bisa positif dan negatif  yang ditampilkan di publik lewat aksi-rasa-akal dari konseli. 


Dengan tahap ini konseli dan konselor semakin menemukan jalan terang menemukan akar penyebab utama kasus konseli dan dengan demikian  arah proses penyembuhan semakin jelas bagi konseli maupun konselor. Pemahaman ini membantu Konselor menemukan treatment effektif pada konseli untuk mengadres soal konseli. Untuk treatment  ini pun perlu ada persetujuan konseli setelah konseli mengerti karena konselor memberi penjelasan yang sangat baik kepada konseli. 

Pelindung Positif menjadi kekuatan positif konseli untuk menolong diri sendiri untuk sembuh dari sakit psikologisnya. Sedangkan pelindung negatif adalah kekuatan negatif di dalam diri yang terus menerus menumbuhkan dan mendukung berkembangnya kasus konseli baik di level rasa-akal-aksi yang ketiganya saling berhubungan. 


Konselor dan konseli memanfaatkan kekuatan Positif di dalam diri konseli untuk menolong dirinya sendiri agar sembuh dari sakit. Kekuatan Positif konseli ini menjadi titik Awal proses treatment yang diawali dengan daftar soal utama konseli yang mau disembuhkan dalam ruang konseling. Kekuatan positif konseli ini ditemukan oleh konseli yang didampingi konselor. Konseli sadar bahwa dia dapat menolong dirinya sendiri atau dia dapat menyembuhkan dirinya sendiri dengan pendampingan konselor di ruang konselor. 

Dengan kekuatan positif konseli ini proses penyembuhan di ruang konseling dapat berjalan dengan baik. Selama konseli belum tahu kekuatan positif di dalam dirinya, konselor memandu konseli untuk menemukannya karena dengan itulah konseli dapat menyembuhkan dirinya sendiri. Konselor elaborasi literature terkini tentang intervensi effektif untuk menyembuhkan konseli atas persetujuan konseli dan konseli sendiri melaksanakan intervensi effektif itu. 


Ada berbagai kasus yang kita baca dalam diri para murid Yesus dalam Injil. Kasus-kasus itu dapat dilihat dari berbagai sisi dan menggunakan berbagai pendekatan untuk mengurangi kasus itu atau bahkan sampai menyembuhkannya. Salah satu pendekatan untuk melihat kasus-kasus itu adalah melihat kasus dari segi psikologis konseling. 


Salah satu kasus dalam bacaan Injil hari ini adalah ketakutan dan kepanikan para murid Yesus di tengah mengamuknya taufan, air sedang memenuhi perahu yang mereka tumpangi, sehingga jalan menuju tenggelamnya perahu semakin mendekati pintu maut, sementara Sang Guru mereka, Yesus tidur tenang. Aneh bukan? Ya jelas..... anehlah. 

Di tengah ketakutan dan kepanikan para murid ko.... Sang Guru tidur tenang di tengah  mengamuknya taufan, air penuh, nyaris tenggelam, sementara para murid berjuang mengendalikan perahu tidak tenggelam. Para murid tidak mau bersama Sang Guru mereka mati di tengah pelayaran untuk tujuan mulia melayani umat dan mewartakan Injil kepada manusia. Para murid bersama Sang Guru mau menyelamatkan diri dan menyelamatkan orang yang mereka layani. Mengamuknya taufan yang mendorong air memenuhi perahu menciptakan ketakutan dan kepanikan rasa dan budi berdampak aksi selamatkan diri dari amukan alam, membuat mereka berani menegur Sang Guru untuk tidak tidur. Guru harus dibagunkan agar buat sesuatu, katakan sesuatu, agar bisa selamat bersama. Kekuatan para murid sudah habis. Protecting satu-satunya adalah Yesus Sang Guru. Kekuatan team satu-satunya ada di tangan Pemimpin mereka. Kekuatan itulah akhirnya menyelamatkan mereka. Yesus bangun ikut arahan para murid. Yesus bersabda kepada amukan alam itu, "DIAM!TENANGLAH!" Alam Taat pada Tuhan Yesus Raja Semesta Alam. Alam tenang. Para murid Tenang dalam Tuhan Yesus. 


Semua kepanikan dan ketakutan hilang seketika. Soal fisik dan psikologis pun sembuh seketika. Suburlah sudah kehidupan spiritual para murid bersama Tuhan Yesus Sang Guru di dalam kebersamaan dan di dalam perahu kehidupan. 


Persoalan manusia dalam menghadapi mengamuknya taufan sudah selesai. Mereka tenang fokus pada kehidupan spiritual dengan segala segi atau bidang kehidupan lain yang menyertainya. Meskipun ada badai kehidupan yang akan menjadi pemicu persoalan psikologis para murid  pada masa yang akan datang, pasti pengalaman di atas perahu ini menjadi sebuah moment penting bagaimana mereka menghadapi dan mengalami persoalan- persoalan psikologis mereka bersama Sang Guru mereka maupun saat mereka melayani umat tanpa Sang Guru.  

 Tepat kata pepata, "pengalaman adalah Guru yang paling bijaksana." Untuk orang bijaksana perlu juga mengelaborasi literature   review tentang wisdom untuk asah akal-aksi-rasa bijaksana pribadi dalam hidup dan kehidupan.***

Jumat, 29 Januari 2021

Renungan Misa Pesta St. Yosef Freinademetz Jumat 29 Januari 2021

  Proses versus instant


*P.Benediktus Bere Mali,SVD*



Refleksi Pribadi 

Jumat 29 Januari 2021

Mrk.4:26-34

Ibr.10:32-39


Di sebuah Universitas terbaik dalam jurusan konseling, seorang mahasiswa akan disebut sebagai seorang konselor professional setelah melewati proses belajar tatap muka, lulus ujian lisan, lulus ujian tulis, presentasi contoh kasus klien dari setiap matakuliah di klas dan Juga di  tempat praktek, lulus praktek konseling terbimbing di kampus, lulus praktek konseling terbimbing oleh supervisor berlisensi internasional di pusat praktek konseling  dan harus lulus ujian komprehensif dimana hasil lulus ujian itu berdasarkan evaluasi semua dosen konseling di kampus tersebut. Proses itulah akan menciptakan seorang Konselor professional. Artinya bahwa dengan Proses yang demikian mantap mengantar seorang Konselor professional pasti untuk menjadi pendamping dan penuntun konseli di ruang konseling secara baik dan benar untuk menyembuhkan konseli, berkat semua tahap konseling yang telah diperoleh Selama masa pendidikannya sebagai pembentukan seorang Konselor professional. Sebaliknya Konselor yang bawah ijazah Karena belaskasihan akan meleset pada waktu pelaksanaan konseling di ruang konseling. Mental instant baik dari institusi maupun dari pribadi yang hanya berorientasi mendapat  ijazah tetapi abaikan proses praktek konseling, pasti akan terjadi error di ruang konseling  maupun di luar ruang konseling, khusus yang berkaitan dengan bidang dan ijazahnya atau sertifikatnya. Intinya bahwa mencintai  proses itu pasti menyelamatkan. Sedangkan yang bermental instant itu lebih banyak membuat orangnya sesat menyesatkan. 


Kebenaran Proses berakar dari Kerajaan Allah dalam Injil Hari ini disampaikan dalam bentuk perumpamaan tentang Benih  kecil yang ditanam, bertunas bertumbuh, berkembang, bertumbuh Subur, berbunga, berbuah, masak dan kemudian dipanen karena telah tiba musim panen. Demikianlah Kerajaan Allah itu bertumbuh dan berkembang di dalam lahan hati dan budi manusia melalui proses bukan instant bertumbuh dan berkembang serta berbuah.

Di dalam Proses itu seorang penyebar Kerajaan Allah butuh ketekunan, kesadaran, kesetiaan, di samping stress, tekanan, Sakit, pusing dan bahkan nyaris putus asa dan menyerah. Dalam Proses demikian kekuatan utama setiap orang yang jatuh dan melewati Proses itu adalah "sengsara membawa nikmat"  sebagai spirit yang berperan sebagai pemandu. 


Santo Yosef Freinademetz yang pestanya diperingati hari ini, seorang misionaris pertama SVD di China. Sejak meninggalkan tanah kelahirannya menuju China, hingga meninggal di China ia tidak pernah kembali berlibur ke Negeri kelahirannya. "Spirit Cinta pada China begitu mendalam sehingga ia menjadi orang China dalam budaya China dan bahkan ia berkata sampai di Surga pun ia ingin tetap  menjadi orang China." Hal ini dimiliki Santo Josef Freinademetz karena ketekunan dan kesabarannya serta kesetiaannya menjadi seorang misionaris China. Meskipun ada banyak tantangan dan halangan, ia tetap setia menyebarkan Kerajaan Allah di Negeri China sampai ia mati di China. 

Bagi St. Josef Freinademetz Kerajaan Allah di Negeri China itu seumpana seorang yang menanam benih, kemudian ia bertunas, bertumbuh dan berkembang, sampai berbuah dan pada saatnya yang tepat dipanen karena musim panen telah tiba. 

Buah-buah dari misionaris St Josef Freinademetz pada hari ini adalah ada orang China baik dari Negara China maupun di luar Negara China  yang telah menjadi Bruder SVD dan Imam SVD.  Cinta St. Josef Freinademetz kepada orang China dan menjadi orang China bahkan sampai di Surga pun tetap menjadi orang China telah ditanggapi secara positif oleh orang China dengan menjadi Imam dan Bruder SVD. Santo Josef Freinademetz doakanlah kami dari dalam Surga. Secara khusus mohon doa Bapa Santo Josef Freinademetz untuk panggilan pemuda dan pemudi Tionghoa untuk menjadi imam, Bruder dan Suster. ***


Kamis, 28 Januari 2021

Renungan Harian Kamis 28 Januari 2021

   Menjadi Pelita Bagi Dunia


*P.Benediktus Bere Mali, SVD*


Refleksi Pribadi 

Kamis, 28 Januari 2021

Ibr. 10:19-25

Mrk.4:22-25


Waktu Tahun pastoral di sebuah paroki di Kalimantan ada banyak pengalaman Menarik. Salah satunya adalah pengalaman tentang Pelita di Rumah panjang stasi. Saat saya melayani umat di stasi yang jauh dari pusat paroki,  saya biasanya melayani umat dari satu stasi ke stasi yang lain Selama 1 sampai 2 bulan. Setelah itu saya kembali ke pusat paroki. Ada Pengalaman menarik saat tidur di Malam Hari  di Rumah ketua lingkungan atau ketua stasi. Rumahnya dikenal sebagai Rumah panjang tanpa sekat atau pembatas dengan kayu atau tembok  atau kain. Ada sejumlah tiang di tengah Rumah Panjang.  Model Rumah Panjang itu seperti Aula dengan beberapa tiang di tengah. Listrik belum ada. Pelita sebagai alat penerang utama di Malam gelap. Biasanya Pelita di letakan di tengah tengah Rumah panjang di atas sebuah tiang yang cukup Tinggi atau di atas Kursi untuk  Menerangi Seluruh ruangan agar di tengah Malam ada yang bangun hendak ke kamar mandi atau urusan kebutuhan lain  tidak salah arah atau tidak menginjak anggota lain termasuk tamu yang sedang tidur.   Tetapi pada suatu Malam tiba di tempat stasi Baru sudah berbeda tempat dengan lain ceritanya. Pada Tengah Malam hendak ke kamar mandi, Pelita telah padam Karena minyaknya kering. Saat saya cari pintu untuk keluar kencing, saya tabrak sebuah tiang Rumah. Adu Rasa sakitnya itu di sini di dahi, yang diikuti benjol besar setelah tabrak tiang hasil dari kering minyak Pelita.


Injil Hari ini menampilkan tentang Pelita diletakkan di atas kaki dian untuk Menerangi Seluruh ruangan. Pelita menerangi jalan bagi mata untuk melihat Membaca dengan mata dan mendengar sumber suara atau bunyi dan menuntun kaki menuju arah jalan yang tepat.  Pelita, listrik, bateri smartphone membantu orang mencari menemukan dan mengerti semua Berita yang membangun dan mendewasan maupun mengandung Berita yang Negatif. Listrik, bateri smartphone, Pelita membuka semua Berita Positif dan Negatif bagi manusia. Sungguh sangat tepat kalimat Injil hari ini:  "Pelita ditaruh di atas kaki dian Menerangi segala sesuatu. Sebab itulah tidak ada sesuatu yang tersembunyi dan tidak ada suatu yang rahasia yang tidak akan tersingkap.Barangsiapa mempunyai telinga untuk mendengar, hendaklah ia mendengar!"


Bateri smartphone yang Kita Miliki menyampaikan berita postif dan Negatif melalui smartphone kita. Barangkali kita lebih memilih yang Positif di smartphone kita yang ada di tangan dan saku kita. Pencipta smartphone memberikan dua informasi baik yang Positif dan tidak baik kepada Kita dan itu di saku dan tangan kita. Pelita kebebasan Kita semestinnya berfungsi secara baik untuk memilih yang baik dalam situasi dan kondisi sebagai orang Katolik. Pilihan pada berita Positif dalam kacamata beriman Katolik pasti menyehatkan dan menyelamatkan bukan menyakiti dan menyesatkan. Tetapi Pelita kebebasan Kita untuk memilih yang Negatif dalam kacamata Gereja Katolik maka itu cepat atau lambat akan menyakiti dan menyesatkan.***

Rabu, 27 Januari 2021

Renungan Misa Harian Rabu 27 Januari 2021

Sumber Refleksi

Ibr.10:11-18

Mrk.4:1-20



Menyiapkan Lahan Hati Yang Subur bagi tumbuhnya Sang Sabda Allah


*P.Benediktus Bere Mali, SVD*


Menyiapkan Lahan Hati Yang Subur bagi bertumbuh dan berkembangnya Benih Sabda Allah terbagi ke dalam dua Sisi penting yaitu Lahan Hati pewarta Injil dan Lahan Hati penerima Injil.


Menyuburkan Lahan Hati pewarta Sabda Allah meliputi semua bidang yang melingkupi hidup dan karya pewarta. Secara Psikologis seorang pewarta lalui lulus ujian karena Dewasa secara Psikologis. Secara sosial, pewarta Sabda Allah memiliki kecerdasan Sosial yang normal. Secara fisik-biologis seorang pewarta Sabda Allah memiliki kesehatan yang baik. Secara Spiritual, seorang pewarta Sabda memiliki keberakaran kehidupan religius yang berpusat pada Tritunggal Maha Kudus yang tampak dalam kegiatan doa secara sadar dan disiplin. Secara hukum, pewarta Sabda dibentuk oleh hukum sipil maupun hukum Gereja. Lahan Hati Subur Pewarta Sabda Allah, dengan berbagai bidang yang ada ini ketika dalam proses pembentukan, seorang formator Perlu mengadakan konsultasi dengan pihak-pihak yang professional dalam bidangnya supaya proses persiapan Lahan Hati pewarta dapat terlaksana secara lebih pantas.


Seorang pewarta dibentuk untuk memiliki integritas yang baik. Artinya seorang pewarta semestinnya menjaga kesesuaian antara apa yang diwartakan dengan apa yang dilakukan. Seorang pewarta Sabda Juga penting memiliki kebijaksanaan dalam menjalankan tugasnya. Pewartaan Sabda Allah dari mimbar agama senantiasa menyampaikan kata, kalimat, Bahasa yang menyembuhkan Hati bukan menyakiti Hati pendengar intern maupun ekstern.  Pewarta Sabda Allah di mimbar publik dalam aturan Yahudi adalah berusia biologis 30 Tahun. Dalam hukum Yahudi usia ini adalah usia yang secara fisik, Psikologis, usia sosiologis, dan usia spiritual serta usia kebijaksanaan sudah cukup Sempurna. Oleh karena itulah Yesus dibaptis pada usia 30 Tahun untuk mewartakan Sabda Allah di depan publik (bdk.Luk.3:23).


Hati pewarta Pertama dan utama menjadi sebuah Hati yang Subur bagi tumbuh kembangnya Benih Sabda Allah.Artinya seorang pewarta Sabda Allah sudah mantap dengan olah Lahan Hati Subur bagi tumbuhnya Benih Sabda Allah. Lahan hatiNya yang Subur menjadi basis yang kuat baginya dalam menyuburkan Lahan Hati penerima Benih Sabda Allah yang diwartakannya. 


Artinya bahwa pewarta dapat menyuburkan Lahan Hati pendengar Sabda Allah berdasarkan pengalaman pewarta menyiapkan hatinya Subur bagi bertumbuhnya Benih Sang Sabda dalam dirinya menjadi Contoh atau Teladan bagi penerima warta Injil. Pewarta Sabda Allah menyiapkan Lahan Hati Subur dengan Contoh Lahan hatinya yang Subur Untuk bertumbuh Benih Sabda Allah. Teladan lebih berkuasa daripada kata-kata yang indah.***