Kamis, 04 Februari 2021

Renungan Harian Kamis 4 Februari 2021


Sumber Refleksi 

Ibr.12:18-19.21-24

Mrk. 6:7-13




*P.Benediktus Bere Mali, SVD*


Sharing pengalaman dengan sesama, antara dua orang atau lebih  itu sangat penting. Sharing pengalaman sangat membantu membuka peluang untuk menolong dan ditolong berdasarkan rencana strategi dan tujuan bersama, untuk menuntun dan dituntun pada arah yang tepat dan benar, untuk mengingatkan dan diingatkan, untuk menegur dan ditegur, untuk mengkritisi dan dikritisi sesuai arahan awal, strategi awal, untuk tujuan awal Sang Guru.   Singkatnya, sharing pengalaman itu menyehatkan, menyelamatkan, menyembuhkan, mengurangi sakit penyakit, mengurangi kesulitan dan persoalan, mengurangi dan meminimalkan kesalahan, mengutamakan kebijaksanaan dalam situasi dan kondisi yang  tepat dan baik serta benar. Letak pentingnya sharing itu disadari Tuhan Yesus Sang Guru 12 murid. 


Yesus memanggil keduabelas murid dan membagi mereka berdua-dua  lalu memberi kuasa atas roh-roh jahat. Artinya kuasa yang Tuhan beri kepada 12 murid yang dibagi dalam 6 Kelompok, dan setiap kelompok 2 orang, diberi kuasa Roh Kebaikan yang berasal dari Allah untuk mengantar semua orang yang mereka akan layani  kepada Tuhan Yesus. Enam Kelompok itu diutus ke tempat yang ditentukan oleh Sang Guru, Tuhan Yesus.  Yesus sesungguhnya memiliki rencana yang matang, strategi yang baik dengan kerja team yang solid, dan tujuan yang tegas dan jelas yaitu Roh Kebaikan adalah penuntun utama dalam situasi dan kondisi apapun. Artinya semua itu berjalan di dalam Group Proses yang baik. Pertama dan utama group proses itu untuk menyembuhkan dan menyelamatkan komunitas intern, ad intra yang menjadi dasar yang kuat dalam menjalankan tugas perutusan ke luar, ad extra, untuk menyembuhkan, menyelamatkan semua orang lintas batas.


Group proses kita perlu di dalam komunitas karya dan komunitas pembentukan. Group proses Yesus dan para murid adalah model group proses dalam keluarga kita sebagai Gereja pertama dan utama. Lewat group proses bermodelkan group proses dalam Injil hari ini, kita tegas untuk hidup dalam kuasa Roh Kebaikan yang menyelamatkan, menyehatkan, menyembuhkan Kita. ***

Rabu, 03 Februari 2021

Renungan Misa Harian Rabu 3 Februari 2021

  Renungan Misa Harian

Rabu, 3 Februari 2021

Ibr.12:4-7.11-15

Mrk.6:1-6


*P.Benediktus Bere Mali, SVD*



Ada teka teki besar dari bacaan Injil Hari ini. Teka-teki itu dapat diformulasikan di dalam persoalan atau dengan kata lain saya merumuskan persoalan ini dalam bentuk pertanyaan seperti ini.   Apakah ada sesuatu yang sangat aneh saat Yesus mengajar orang banyak seasal-Nya  yang mendengar-Nya merasa sangat heran dan takhjub, lalu kemudian menolak Yesus? Ya ada sesuatu yang sangat ganjil. Yesus mengajar begitu bagus tetapi kemudian mereka yang mendengar-Nya menolak Yesus. Keanehan itu muncul saat mereka mendengar-Nya lalu mengajukan aneka pertanyaan bukan tentang isi atau berbobot tentang apa yang dikatakan dalam pengajaran tetapi mempersoalkan kulit luarnya  yaitu tentang siapa yang mengatakan atau berbicara. Yesus adalah orang sederhana, berasal dari keluarga yang sederhana, lahir dalam kesederhanaan di kandang Betlehem, orang tua-Nya membawa 2 ekor burung merpati ke Bait Allah saat Yesus dipersembahkan di Bait Allah. Hanya orang miskin sederhana yang mempersembahkan 2 ekor burung merpati atau dua ekor burung tekukur. Sedang orang yang kaya mempersembahkan domba atau kambing menurut Hukum Musa. Kesederhanaan Yesus itu menjadi fokus orang orang yang menolak-Nya  dan hal itu menutup semua apa yang bermutu yang disampaikan di dalam pengajaran-Nya kepada mereka. 


Bagi orang-orang sekampung yang menolak-Nya, orang yang memiliki status sosial yang tinggi warisan tradisi  adalah orang -orang yang dapat didengarkan. Tetapi bagi Yesus kualitas pengajaran terletak pada siapa saja termasuk orang yang  sederhana sekalipun. 


Perbedaan kacamata yang digunakan dalam melihat apa yang dikatakan dengan siapa yang mengatakan dari Yesus dan orang-seasal-Nya dapat menimbulkan hal aneh dalam Injil Hari ini.


Pada masa ini dengan 4G dan 5G yang merata di seluruh pelosok dunia, takaran apa yang dibicarakan dan siapa yang berbicara, jurangnya telah diruntuhkan. Hanya orang yang berlari cepat mencari dan menemukan yang berkualitas dan mengatakan yang berkualitas lah yang akan menempati urutan terbaik. Bagi saya dalam Injil hari ini, Yesus berlari lebih cepat mencari dan menemukan yang berkualitas dan datang ke kampung tempat kelahiran -Nya mengatakan yang bermutu kepada orang-orang seasal-Nya. Kita semua, yang Jaya maupun yang sederhana saja, mempunyai peluang yang sama 24 jam sehari, kalau kita berlari lebih cepat mencari dan menemukan yang berkualitas maka kita pun memiliki kesempatan menyatakan yang berkualitas kepada orang lain termasuk orang yang seasal tempat kelahiran dengan kita. Memang kita juga tetap memiliki peluang untuk diterima dan ditolak tentang apa yang terbaik yang disampaikan atau dilakukan. Tetapi seperti  Yesus, teruslah kita melakukan kebaikan kepada sesama  lintas batas. Di antara satu kampung yang menolak masih ada kampung-kampung lain yang menerima apa yang terbaik yang akan kita sampaikan kepada mereka. ***

Selasa, 02 Februari 2021

Renungan Pesta Yesus dipersembahkan di Bait Allah Selasa 2 Februari 2021


 MENGUBAH DUNIA MULAI DARI HAL SEDERHANA



Mal. 3:1-4

Ibr.2:14-18

Luk.2:22-40

 

 

*P. Benediktus Bere Mali, SVD*

 

 

Manusia hidup dan beraktivitas dari lahir sampai mati bahkan keadaan setelah kematian pun berada di dalam aturan agama dan aturan sipil. Salah satu aturan sipil adalah keluarga Yusuf dan Maria ikut sensus jiwa saat menjelang kelahiran Yesus di Betlehem. Yesus hidup sebagai orang yang beragama Yahudi mentaati aturan agama Yahudi. Orang tua Yesus mempersembahkan Yesus setelah 40 hari kelahiran-Nya sesuai hukum Taurat.

 

Penyambut Yesus adalah Simeon dan Hana. Keunggulan Hana dan Simeon adalah senantiasa dekat dengan Allah. Mereka adalah orang yang suci, kudus di mata orang-orang yang mengobservasinya. Hana dan Simeon utamanya suci dan kudus di depan mata Allah. Mereka berdoa, berpuasa di Bait Allah dalam usia senja hidupnya. Mereka menjumpai Allah di Bait Allah yang telah menjadi manusia di dalam diri Tuhan Yesus sendiri. Roh Kudus membimbing Simeon dan Hana datang ke Bait Allah pada waktu yang tepat untuk menyambut Tuhan Yesus yang dipersembahkan oleh kedua orang tua-Nya di Bait Allah.

 

Di Bait Allah manusia bertemu dengan Tuhan Yesus secara langsung dan dalam Simbol yang digunakan yaitu melalui kata-kata/doa, materi (tubuh-fisik, alat pemberkatan), dan tindakan yaitu Gerakan tubuh saat melakukan ritus pemberkatan. Semua gerakan ritus penyambutan Yesus di Bait Allah, kata-kata atau doa, tentang Yesus dan masa lalu Yesus dan masa depan Yesus dan semua materi termasuk tubuh fisik dan material lain yang disebutkan di dalam penyambutan. Ketiganya menjadi satu kesatuan yang utuh dan lengkap mewarnai perjumpaan Tuhan di Bait Allah. 

 

Perjumpaan dengan Yesus terungkap di dalam bacaan pertama. Nubuat Nabi Maleaki tentang utusan yang menyiapkan jalan bagi Tuhan terpenuhi di dalam diri Yesus yang pestanya dirayakan pada hari ini. Pada waktu orang tua, Yesus dan Maria mempersembahkan Yesus kepada Tuhan di Bait Alllah, Simeon yang diutus Roh Kudus menyambutNya dan menatangNya di Bait Allah. 

 

Terpenuhilah janji Roh Kudus kepada Simeon bahwa ia tidak akan meninggal sebelum melihat Mesias yang diurapi. Hal ini termuat di dalam doa Simeon saat sedang menatang Yesus, “Sekarang Tuhan, biarkanlah hamba-Mu ini pergi dalam damai sejahtera, sesuai dengan firman-Mu, sebab mataku telah melihat keselamatan yang dari pada-Mu, yang telah Engkau sediakan di hadapan segala bangsa, yaitu terang yang menjadi penyataan bagi bangsa-bangsa lain dan menjadi kemuliaan bagi umat-Mu, Israel.”

 

Betapa bahagianya Simeon yang telah melihat Mesias yang dijanjikan Roh Kudus kepadanya. Betapa sukacitanya Yusuf dan Maria dibalik ungkapan keheranan atas semua yang dialami, dilakukan dan dikatakan oleh Simeon yang sedang menatang Yesus. 

 

Simeon utusan Allah itu lalu memberkati (Gerakan ritus berkat dan materi yang yang digunakan untuk memberkati) mereka, dan berkata kepada Maria ibu Anak itu, “Sesungguhnya Anak ini ditentukan untuk menjadi suatu tanda yang menimbulkan perbantahan dan suatu pedang akan menembus jiwamu sendiri supaya menjadi nyata pikiran hati banyak orang.”  

 

Perkataan Simeon ini tentang masa depan Yesus. Bahwa Yesus yang dipersembahkan di Bait Allah ini adalah Bait Allah yang hidup itu sendiri. Kehadiran-Nya akan menjadi pertentangan bagi banyak orang. Kehadiran-Nya sebagai Bait Allah yang hidup dan akan menjadi pertentangan bagi orang-orang yang tidak menyetujui kejujuran, kebenaran, keadilan, dan kedamaian yang dihadirkanNya. Puncak penolakan itu adalah penderitaan dan kematian-Nya di Salib. Penderitaan dan kematian-Nya di Salib itulah yang menjadi pedang yang akan menembus jiwa Maria Ibu Gereja dan Ibu Tuhan Yesus sendiri. 

 

Di situ ada juga nabiah Hana yang selalu setia berdoa dan berpuasa di Bait Allah dalam mengasah kesalehannya. Karena kesalehannya itu, maka Roh Kudus mengutus Hana menyambut Yesus dan berbicara tentang Yesus kepada semua orang yang menantikan kelepasan untuk Yerusalem. Kelepasan untuk Yerusalem ini bukan secara politis tetapi secara spiritual. Yesus membebaskan Yerusalem dengan melayani Yerusalem sampai menderita dan wafat di salib dan berpuncak pada kebangkitan-Nya sebagai kemenangan atas kematian dan maut. Itulah kelepasan untuk Yerusalem dan di luar Yerusalem dalam arti spiritual.

 

Kita mempersembahkan diri sebagai persembahkan kepada Tuhan yang paling istimewa. Teladan Hana dan Simeon mempersembahkan dirinya siang dan malam di Bait Allah dalam mengasah kesalehan mereka lewat berdoa, berpuasa dan bersedeka. Bersedeka atau berderma atau berbuat amal tidak ditampilkan secara pasti dalam diri Simeon dan Hana karena mereka telah usia lanjut.  Hal ini menunjukan bahwa mereka adalah orang sederhana, tidak memiliki uang atau materi yang cukup untuk melakukan amal. 

 

Maria dan Yusuf pun adalah orang saleh yang sederhana dan telah dipilih menjadi ayah dan ibu Tuhan Yesus. Kesederhanaan mereka tampak dalam mereka membawa dua ekor tekukur atau dua ekor merpati sebagai bahan persembahan di Bait Allah pada pesta Yesus dipersembahkan kepada Tuhan di Bait Allah. Sedangkan biasanya orang yang kaya pada dasarnya membawa kambing atau domba yang sudah berumur satu tahun sebagai bahan persembahan di Bait Allah sesuai hukum Taurat. 

 

Tuhan Yesus lahir sederhana, dipersembahkan di Bait Allah dalam kesederhanaan, berkarya secara sederhana dan matipun dalam sebuah kesederhanaan. Tuhan kita itu sederhana. Pasti  kederhanaan kita Tuhan perhatikan. Tuhan memberkati kita semua.***

 

 

 

 

 

 

  

Minggu, 31 Januari 2021

Renungan Harian Senin 1 Februari 2021

  Refleksi Pribadi 

Senin 1 Februari 2021

Ibr.11:32-40

Mrk. 5:1-20


*P.BENEDIKTUS BERE MALI, SVD*


Di antara sekian banyak hal yang menarik dari bacaan Injil hari ini,  hanya satu hal yang spesial bagi saya pribadi dan diharapkan juga bagi semua orang yang mendengar dan membaca bacaan ini,  yaitu merasa heran bahwa 2000 ekor babi yang mati tidak menjadi sumber kemarahan para penjaga babi tetapi justru mereka sukacita mewartakan mujizat Yesus mengusir 2000 Roh Jahat /legion yang merasuki dan mengganggu pribadi yang bersangkutan, sehingga roh jahat itu menyakiti diri dan melukai diri sendiri. Pemilik babi dan penjaga babi justru tidak marah pada Yesus dengan atau lewat perintah-Nya, legion yang merasuki orang sakit itu dapat dipindahkan ke dalam babi yang berjumlah kurang lebih 2000 ekor itu. Sesudah itu babi babi itu terjun ke dalam jurang dan mati semuanya. Tetapi justru bukan binatang babi yang diutamakan melainkan yang paling utama adalah keselamatan manusia paling tinggi di atas segalannya. 


Hal ini bagi banyak orang memang luarbiasa aneh dalam dunia zaman ini yang berpegang pada pepata lama yang sealalu baru di telinga kita:  "ada uang ada cinta, tidak ada uang tidak ada cinta." Artinya uang dapat membeli segalannya. Artinya dalam dunia yang sangat mengutamakan materi/uang, adalah aneh jika mereka membiarkan 2000 ekor babi mati setelah Yesus perintahkan legion dari orang kerasukan itu berpindah ke dalam babi-babi. Penjaga dan pemilik 2000 babi itu telah siap mengorbankan babi-babi yang berjumlah sebesar 2000 ekor tetapi mereka lebih mengutamakan keselamatan orang yang baru saja disembuhkan oleh Yesus.


Kita sedang mendapat sapaan Sabda Allah hari ini  untuk kita mengutamakan kemanusiaan atau harta dunia. Kalau kita diberi kesempatan tampil untuk memilih maka saya pilih baik material maupun kemanusiaan sama-sama diutamakan. Bagi saya keduanya saling melengkapi. Memilih selamatkan material tapi bukan materialis. Memilih kemanusiaan bukan berarti menolak materi. Semoga  Kita diinspirasi dengan renungan kecil tulisan kecil ini. Semoga renungan ini menjadi sumber inspirasi  bagi Kita semua. ***

Renungan Hari Minggu 31 Januari 2021

  Bahan Refleksi Minggu 31 Januari 2021

Ul.18:15-20

1Kor.7:32-35

Mrk.1:21-28


*P.Benediktus Bere Mali, SVD* 


Bukan Membunuh Setan Tetapi Mengusir Setan


Ada begitu banyak orang  berpendapat tentang Tuhan Raja Semesta Alam. Secara istimewa Injil Hari ini tentang  Tuhan Yesus mengusir Setan atau Roh jahat yang kerja utamanya menyakiti, melukai, bahkan mematikan. Pertanyaan yang Menarik dan menantang kenapa Setan atau makluk jahat itu tidak bunuh hanya diusir?   Setan atau Roh Jahat Perlu ada di samping Roh kebaikan dalam dunia seni, harmonis. Harmonis itu seimbang antara Hitam dan putih. Berjalan tepat persis di garis keseimbangan itulah seseorang diposisikan sebagai orang yang memiliki harmonis. Seorang psikolog, Freud berkata bahwa kekuatan jahat dan kekuatan baik itu bukan di luar diri manusia tetapi berada di dalam diri manusia. Kekuatan jahat dan kekuatan baik itu terungkap dalam aksi yang baik dan jahat yang tampak terukur oleh indera observer. Simbol kebaikan dan kejahatan yang tertulis atau berbentuk fisik misalnya patung dll, cerita dogeng dll dalam agama-agama dan dalam kebudayaan adalah hasil cetusan kekuatan kejahatan kejahatan dan kebaikan dari dalam diri pencipta atau penulis atau pencerita atau pemimpin atau seniman atau wartawan dll. Freud menyebut dua makluk raksasa yang ada di dalam ruang hati-rasa-budi manusia itu adalah "eros & thanatos." Eros menciptakan kebaikan dalam semua segi kehidupan, mengkritisi/AGRESI/oposisi dengan data ilmiah untuk membangun, Kecemasan yang menciptakan motivasi untuk bekerja secara Positif dan bertanggungjawab. Sebaliknya thanatos tampil dalam Perilaku aneh Menonjolkan Diri dalam semua tempat dan waktu/narsis sebagai cara capai kepuasan Diri,  mencari kepuasan  indera rasa dengan menyakiti dan melukai diri sendiri/masokis, mencari kepuasan dengan menyakiti orang lain/sadis,  AGRESI dalam Bahasa verbal  dan non-verbal yang melukai, menyakiti Sesama dan Diri tanpa solusi, Kecemasan terlalu rendah menurunkan bahkan menghilangkan semangat kerja, atau Kecemasan terlalu Tinggi sampai Sakit bahkan lumpuh tidak berdaya sama sekali. Ekspresi eros dan thanatos dalam sex, AGRESI, dan Kecemasan tersebut adalah dua makhluk raksasa yang ada di dalam diri setiap manusia secara pribadi maupun secara sosial religius. Bagaikan bateri smartphone yang memiliki Arus Positif dan negatif yang membuat Sinar Menerangi Wajah hp mempersembahkan berita informasi Positif dan negatif dari pencipta smartphone kepada pemilik smartphone.


Dalam Injil Hari ini Yesus mengeluarkan Roh Jahat dari orang yang Sakit dan disakiti Roh Jahat itu. Yesus tidak membunuh Roh Jahat itu. Yesus mengusir dan Memindahkan Roh Jahat itu dari dalam diri orang sakit ke tempatnya yaitu di luar diri manusia. Awalnya Roh Jahat itu bersoal jawab dengan Yesus yang datang hendak mengusirnya dari pekerjaannya yang menyakiti orang yang disakitinya. Pada akhirnya roh Jahat itu Taat pada Yesus, keluar dari orang sakit sehingga Setan atau Roh Jahat pergi ke tempatnya dan orang yang sebelumnya Sakit tiba pada kesembuhan berkat Sang Penyembuh yaitu Tuhan Yesus Raja Semesta Alam. 


Bagaimana supaya Setan itu tidak kembali lagi ke dalam diri manusia?  Pertama dan utama adalah bahwa manusia Perlu mengatur signal eros dan thanatos dalam dirinya dari segi manusiawi sebelum cepat cepat gegabah lari kepada jalur instant spiritual. Setiap pribadi termasuk yang Sakit dengan bantuan pendapat Freud, dapat meng-on-kan signal eros Positif dalam freim teologi Katolik dan pada saat yang sama dalam kesadaran lengkap meng-off-kan    thanatos negatif sehingga apa yng terungkap di publik yang positif dalam Teologi Katolik yang pro "putih" tolak  yang "Hitam". Tidak ada "abu-abu" bertindak dan berbicara di dalam Bahasa Teologi Katolik. Tepat Kotbah Yesus di Bukit, "Jika Ya katakan ya. Jika tidak katakan tidak."  Ya pada sumber kebaikan kebenaran dan keadilan dan kesamaian berpusat pada Tuhan Yesus Kristus. Bahasa Dalam bacaan Pertama, berbicara menurut kehendak Tuhan dalam berperan sebagai nabi. Bahasa bacaan kedua, bertindak fokus pada kehendak Tuhan. Tidak pada Roh Jahat dalam semua tempat dan segala waktu.***

Sabtu, 30 Januari 2021

Renungan Harian Sabtu 30 Januari 2021

  Sumber Refleksi Pribadi

Ibr. 11:1-2.8-19

Mark.4:35-41


*P.Benediktus Bere Mali, SVD*  


Dalam dunia psikologi konseling dikenal  "4P" dari setiap kasus yang muncul yang disampaikan konseli kepada konselor di ruang konseling. Konselor dan konseli berjalan bersama berziarah ke dalam ruang kasus konseli dengan tujuan untuk sembuh dari sakit psikologis konseli.  


P yang pertama adalah predisposisi konseli baik yang positif maupun negatif yang dari luar diri maupun di dalam diri konseli. Konseli dan konselor  berjalan bersama mengelaborasinya untuk menemukan yang menjadi pemicu utama kasus psikologis konseli. Konselor dan konseli setuju untuk elaborasi ini sesuai surat persetujuan konseli di tahap awal konseling di ruang konseling. 


Setelah cukup mendalam berjalan bersama dalam tahap elaborasi predisposisi  dan sudah cukup alasan memahami dan mengerti predisposisi kasus  maka atas persetujuan konseli, konselor mendampingi konseli ke P yang kedua yaitu precipitating atau pemicu yang memuntahkan kasus konseli yang sebelumnya masih tertidur sembunyi di dalam ruang hati rasa dan pemikiran konseli ke permukaan publik baik di level keluarga, komunitas maupun masyarakat, sampai konseli kewalahan untuk mengaturnya dalam menurunkan level atau derajat kasusnya dari ruang publik kembali ke ruang privacy. Pemicu atau precipitating ini ditemukan Konselor berdasarkan persetujuan konseli dalam mengelaborasinya sedalam-dalamnya untuk menemukan akar penyebab utama yang melindungi kasus konseli terus berkembang dalam ruang aksi, rasa dan akal konseli. Setelah konselor dan konseli mengerti betul pemicu dan dengan alasan yang memadai, berdasarkan persetujuan konseli, konselor memandu konseli ke tahap berikut dalam ruang konseling. 


P yang berikut yaitu p yang ketiga yaitu perpetuating atau mengabadikan kasus terus hidup dalam diri konseli lewat ekspresi aksi yang tidak biasa yang dapat diukur, rasa yang tidak biasa, dan pikiran yang agak lain yang mengganggu dirinya. Pada dasarnya hal utama yang menjadi perpetuating kasus adalah pikirannya yang tidak biasa, yang tersembunyi tetapi dapat diukur dari ekspresi tindakan dalam kata dan tampilan tubuh fisik konseli yang terkoneksi langsung dengan rasa emosi tidak biasa konseli di depan publik maupun di ruang privacy. 



Setelah konseli paham perpetuating kasusnya berkat penjelasan konselor, atas persetujuan konseli, konseling menuju ke tahap berikut.


P berikut atau p yang keempat adalah protecting atau pelindung yang membungkus dan melindungi secara rapi kasus konseli dan  dengan persetujuan konseli, konselor buka agar pelindung kasus menjadi jelas di depan indera mata budi konseli dan Konselor. Pelindung itu bisa positif dan negatif  yang ditampilkan di publik lewat aksi-rasa-akal dari konseli. 


Dengan tahap ini konseli dan konselor semakin menemukan jalan terang menemukan akar penyebab utama kasus konseli dan dengan demikian  arah proses penyembuhan semakin jelas bagi konseli maupun konselor. Pemahaman ini membantu Konselor menemukan treatment effektif pada konseli untuk mengadres soal konseli. Untuk treatment  ini pun perlu ada persetujuan konseli setelah konseli mengerti karena konselor memberi penjelasan yang sangat baik kepada konseli. 

Pelindung Positif menjadi kekuatan positif konseli untuk menolong diri sendiri untuk sembuh dari sakit psikologisnya. Sedangkan pelindung negatif adalah kekuatan negatif di dalam diri yang terus menerus menumbuhkan dan mendukung berkembangnya kasus konseli baik di level rasa-akal-aksi yang ketiganya saling berhubungan. 


Konselor dan konseli memanfaatkan kekuatan Positif di dalam diri konseli untuk menolong dirinya sendiri agar sembuh dari sakit. Kekuatan Positif konseli ini menjadi titik Awal proses treatment yang diawali dengan daftar soal utama konseli yang mau disembuhkan dalam ruang konseling. Kekuatan positif konseli ini ditemukan oleh konseli yang didampingi konselor. Konseli sadar bahwa dia dapat menolong dirinya sendiri atau dia dapat menyembuhkan dirinya sendiri dengan pendampingan konselor di ruang konselor. 

Dengan kekuatan positif konseli ini proses penyembuhan di ruang konseling dapat berjalan dengan baik. Selama konseli belum tahu kekuatan positif di dalam dirinya, konselor memandu konseli untuk menemukannya karena dengan itulah konseli dapat menyembuhkan dirinya sendiri. Konselor elaborasi literature terkini tentang intervensi effektif untuk menyembuhkan konseli atas persetujuan konseli dan konseli sendiri melaksanakan intervensi effektif itu. 


Ada berbagai kasus yang kita baca dalam diri para murid Yesus dalam Injil. Kasus-kasus itu dapat dilihat dari berbagai sisi dan menggunakan berbagai pendekatan untuk mengurangi kasus itu atau bahkan sampai menyembuhkannya. Salah satu pendekatan untuk melihat kasus-kasus itu adalah melihat kasus dari segi psikologis konseling. 


Salah satu kasus dalam bacaan Injil hari ini adalah ketakutan dan kepanikan para murid Yesus di tengah mengamuknya taufan, air sedang memenuhi perahu yang mereka tumpangi, sehingga jalan menuju tenggelamnya perahu semakin mendekati pintu maut, sementara Sang Guru mereka, Yesus tidur tenang. Aneh bukan? Ya jelas..... anehlah. 

Di tengah ketakutan dan kepanikan para murid ko.... Sang Guru tidur tenang di tengah  mengamuknya taufan, air penuh, nyaris tenggelam, sementara para murid berjuang mengendalikan perahu tidak tenggelam. Para murid tidak mau bersama Sang Guru mereka mati di tengah pelayaran untuk tujuan mulia melayani umat dan mewartakan Injil kepada manusia. Para murid bersama Sang Guru mau menyelamatkan diri dan menyelamatkan orang yang mereka layani. Mengamuknya taufan yang mendorong air memenuhi perahu menciptakan ketakutan dan kepanikan rasa dan budi berdampak aksi selamatkan diri dari amukan alam, membuat mereka berani menegur Sang Guru untuk tidak tidur. Guru harus dibagunkan agar buat sesuatu, katakan sesuatu, agar bisa selamat bersama. Kekuatan para murid sudah habis. Protecting satu-satunya adalah Yesus Sang Guru. Kekuatan team satu-satunya ada di tangan Pemimpin mereka. Kekuatan itulah akhirnya menyelamatkan mereka. Yesus bangun ikut arahan para murid. Yesus bersabda kepada amukan alam itu, "DIAM!TENANGLAH!" Alam Taat pada Tuhan Yesus Raja Semesta Alam. Alam tenang. Para murid Tenang dalam Tuhan Yesus. 


Semua kepanikan dan ketakutan hilang seketika. Soal fisik dan psikologis pun sembuh seketika. Suburlah sudah kehidupan spiritual para murid bersama Tuhan Yesus Sang Guru di dalam kebersamaan dan di dalam perahu kehidupan. 


Persoalan manusia dalam menghadapi mengamuknya taufan sudah selesai. Mereka tenang fokus pada kehidupan spiritual dengan segala segi atau bidang kehidupan lain yang menyertainya. Meskipun ada badai kehidupan yang akan menjadi pemicu persoalan psikologis para murid  pada masa yang akan datang, pasti pengalaman di atas perahu ini menjadi sebuah moment penting bagaimana mereka menghadapi dan mengalami persoalan- persoalan psikologis mereka bersama Sang Guru mereka maupun saat mereka melayani umat tanpa Sang Guru.  

 Tepat kata pepata, "pengalaman adalah Guru yang paling bijaksana." Untuk orang bijaksana perlu juga mengelaborasi literature   review tentang wisdom untuk asah akal-aksi-rasa bijaksana pribadi dalam hidup dan kehidupan.***

Jumat, 29 Januari 2021

Renungan Misa Pesta St. Yosef Freinademetz Jumat 29 Januari 2021

  Proses versus instant


*P.Benediktus Bere Mali,SVD*



Refleksi Pribadi 

Jumat 29 Januari 2021

Mrk.4:26-34

Ibr.10:32-39


Di sebuah Universitas terbaik dalam jurusan konseling, seorang mahasiswa akan disebut sebagai seorang konselor professional setelah melewati proses belajar tatap muka, lulus ujian lisan, lulus ujian tulis, presentasi contoh kasus klien dari setiap matakuliah di klas dan Juga di  tempat praktek, lulus praktek konseling terbimbing di kampus, lulus praktek konseling terbimbing oleh supervisor berlisensi internasional di pusat praktek konseling  dan harus lulus ujian komprehensif dimana hasil lulus ujian itu berdasarkan evaluasi semua dosen konseling di kampus tersebut. Proses itulah akan menciptakan seorang Konselor professional. Artinya bahwa dengan Proses yang demikian mantap mengantar seorang Konselor professional pasti untuk menjadi pendamping dan penuntun konseli di ruang konseling secara baik dan benar untuk menyembuhkan konseli, berkat semua tahap konseling yang telah diperoleh Selama masa pendidikannya sebagai pembentukan seorang Konselor professional. Sebaliknya Konselor yang bawah ijazah Karena belaskasihan akan meleset pada waktu pelaksanaan konseling di ruang konseling. Mental instant baik dari institusi maupun dari pribadi yang hanya berorientasi mendapat  ijazah tetapi abaikan proses praktek konseling, pasti akan terjadi error di ruang konseling  maupun di luar ruang konseling, khusus yang berkaitan dengan bidang dan ijazahnya atau sertifikatnya. Intinya bahwa mencintai  proses itu pasti menyelamatkan. Sedangkan yang bermental instant itu lebih banyak membuat orangnya sesat menyesatkan. 


Kebenaran Proses berakar dari Kerajaan Allah dalam Injil Hari ini disampaikan dalam bentuk perumpamaan tentang Benih  kecil yang ditanam, bertunas bertumbuh, berkembang, bertumbuh Subur, berbunga, berbuah, masak dan kemudian dipanen karena telah tiba musim panen. Demikianlah Kerajaan Allah itu bertumbuh dan berkembang di dalam lahan hati dan budi manusia melalui proses bukan instant bertumbuh dan berkembang serta berbuah.

Di dalam Proses itu seorang penyebar Kerajaan Allah butuh ketekunan, kesadaran, kesetiaan, di samping stress, tekanan, Sakit, pusing dan bahkan nyaris putus asa dan menyerah. Dalam Proses demikian kekuatan utama setiap orang yang jatuh dan melewati Proses itu adalah "sengsara membawa nikmat"  sebagai spirit yang berperan sebagai pemandu. 


Santo Yosef Freinademetz yang pestanya diperingati hari ini, seorang misionaris pertama SVD di China. Sejak meninggalkan tanah kelahirannya menuju China, hingga meninggal di China ia tidak pernah kembali berlibur ke Negeri kelahirannya. "Spirit Cinta pada China begitu mendalam sehingga ia menjadi orang China dalam budaya China dan bahkan ia berkata sampai di Surga pun ia ingin tetap  menjadi orang China." Hal ini dimiliki Santo Josef Freinademetz karena ketekunan dan kesabarannya serta kesetiaannya menjadi seorang misionaris China. Meskipun ada banyak tantangan dan halangan, ia tetap setia menyebarkan Kerajaan Allah di Negeri China sampai ia mati di China. 

Bagi St. Josef Freinademetz Kerajaan Allah di Negeri China itu seumpana seorang yang menanam benih, kemudian ia bertunas, bertumbuh dan berkembang, sampai berbuah dan pada saatnya yang tepat dipanen karena musim panen telah tiba. 

Buah-buah dari misionaris St Josef Freinademetz pada hari ini adalah ada orang China baik dari Negara China maupun di luar Negara China  yang telah menjadi Bruder SVD dan Imam SVD.  Cinta St. Josef Freinademetz kepada orang China dan menjadi orang China bahkan sampai di Surga pun tetap menjadi orang China telah ditanggapi secara positif oleh orang China dengan menjadi Imam dan Bruder SVD. Santo Josef Freinademetz doakanlah kami dari dalam Surga. Secara khusus mohon doa Bapa Santo Josef Freinademetz untuk panggilan pemuda dan pemudi Tionghoa untuk menjadi imam, Bruder dan Suster. ***