Rabu, 10 Februari 2021

Modal Tidak Tahu Malu untuk Menyembukan dan disembuhkan

 Refleksi Misa Harian

Kej.2: 18-25

Mrk.7:24-30


Merasa malu dan tidak malu adalah satu hal yang menjadi bagian dari hidup kita. Orang tidak merasa malu ketika berada dalam situasi normal dalam berbicara dan beraksinya diterima oleh aturan bersama baik yang ditentukan Tuhan dan mayoritas manusia menerimanya sebagai pedoman hidup bersama maupun aturan-aturan yang ditentukan oleh manusia untuk kepentingan keselamatan bersama. Sebaliknya orang merasa malu ketika ia berbicara dan perilakunya terasa asing bagi aturan hidup bersama termasuk aturan yang ditentukan oleh Allah bagi manusia. 


Bacaan pertama tentang Adam dan Hawa telanjang tetapi tidak merasa malu karena sesuai aturan Tuhan yang menciptakan mereka untuk mengambil bagian di dalam karya penciptaan Tuhan. Perempuan Yunani dari Siro-Fenisia dalam bacaan Injil hari ini merasa tidak malu datang kepada Yesus mohon kesembuhan anaknya perempuan yang sedang mengalami kerasukan roh jahat. Sekalipun Tuhan Yesus cukup menantangnya sebagai ujian terhadap sejauh mana imannya kuat kepada Yesus, tetapi ia tetap memiliki iman yang kokoh. Ia tidak merasa ciut mendengar tantangan dari Yesus. Justru ia semakin tertantang ia semakin tegar dan kokoh beriman kepadaNya. Berkat imannya yang kokoh itulah anak putrinya disembuhkan oleh Tuhan Yesus.


 Iman dapat menyembuhkan diri dan anggota keluarga dan sesama yang lain. 


Iman itu sangat personal dalam berelasi dengan Tuhan Yesus. Tetapi iman kepada Tuhan Yesus itu dapat tertangkap dan terukur secara inderawi dalam keaktifan pribadi di dalam kegiatan rohani untuk mengasah kesalehan sosial dan persoanal di dalam  doa pribadi dan doa komunitas, puasa pribadi dan puasa komunitas, dan berderma dan bersedeka baik secara pribadi maupun  secara bersama sebagai anggota komunitas. Kekuatan spiritual inilah yang menyembuhkan diri dan sesama. Iman yang menyembuhkan itu telah tampak dalam iman seorang ibu orang asing dari Yunani yang tidak tahu malu datang kepada Yesus seorang Yahudi, dan memohon kepadaNya untuk menyembuhkan anaknya yang kerasukan roh jahat. Walau sempat ia direndahkan, tetapi imannya kepada Yesus tidak luntur. Kokohnya iman seperti perempuan Yunani dari Siro-Fenisia inilah meneguhkan iman kita dalam setiap situasi dan kondisi kita termasuk saat situasi sulit mendatangi kita baik kesulitan itu dari dalam diri kita maupun datang dari luar diri kita.***(P.Benediktus Bere Mali,SVD)***

Renungan Misa Harian Rabu 10 Februari 2021

 Refleksi Misa Harian

Rabu, 10 Februari 2021

Kej.2:4b-9.15-17

Mrk.7:14-23



 *Kebebasan Makan Buah Pohon Terlarang  tentang Kebaikan dan Kejahatan di Taman Eden* 


Tuhan memberikan segala sesuatu kepada manusia. Semuanya terangkum dalam tiga kalimat yaitu Tuhan memberikan kebaikan Taman Eden, Tuhan memberikan pohon tentang kejahatan dan kebaikan dan Tuhan memberikan kebebasan kepada manusia yang diciptakan secitra Allah. 


Manusia hidup di Taman Eden kebaikan dengan penuh sadar kontrol diri menggunakan kebebasannya untuk bertindak baik maka dengan demikian manusia memperteguhkan citranya sebagai citra Allah. Sebaliknya manusia yang menggunakan kebebasannya bertindak jahat maka dengan demikian manusia menurunkan citranya sebagai citra Allah. 


Seorang yang sealiran Freud menegaskan bahwa simbol kejahatan dan kebaikan yang diletakan pada pohon tentang kebaikan dan kejahatan di tengah-tengah Taman Eden  adalah sebuah ekspresi nyata dari dua sisi kejahatan dan kebaikan seperti dua sisi mata uang yang lengket di dalam diri manusia. Bagi Freud, simbol kejahatan dan kebaikan dalam bahasa verbal dan bahasa non-verbal serta material/fisik berupa patung kejahatan dan kebaikan bersumber dari dalam diri manusia bukan dari luar diri manusia. Freud menggunakan dua kata yang digunakan untuk menyebut kekuatan jahat dan kekuatan baik seperti dua sisi mata uang di dalam diri manusia, yaitu eros dan thanatos. Eros dan thanatos ini terdiri dari tiga bagian penting yaitu seks, agresi dan kecemasan.  Seks untuk hal yang baik bagi diri dan sesama bukan yang jahat bagi diri dan orang lain. Agresi untuk yang baik bagi diri dan sesama bukan untuk yang jahat bagi diri dan sesama. Kecemasan itu untuk kebaikan diri dan sesama bukan untuk yang jahat terhadap diri dan sesama. Ketika ketiga hal itu untuk kebaikan maka di situ eros aktif bekerja lebih dari thanatos yang tidur dalam diri manusia. Sebaliknya ketika ketiga hal itu untuk kejahatan maka di situ thanatos aktif bekerja lebih dari eros yang tidur di dalam diri manusia. 


Kesadaran untuk mengaktifkan eros perlu dilatih terus menerus dengan taat disiplin diri yang termonitor, terevaluasi, dan terevisi bila dibutuhkan untuk terus asah aktifkan eros dalam hidup sehari-hari. 


Tepat sekali Sabda Yesus, di dalam Injil hari ini, bukan apa yang masuk ke dalam diri yang dapat menajiskan tetapi yang keluar dari dalam diri yang dapat menajiskan. Cukup jelas bahwa di sini ada titik pertemuan Freud dengan Injil hari ini. Kejahatan dan kebaikan itu ada dalan diri manusia bukan dari luar diri manusia. Pohon kebaikan dan kejahatan di tengah taman Eden adalah simbol kata, materi, tindakan yang terekspresi dari dalam diri manusia, ke luar diri manusia. Pohon kejahatan dan kebaikan di Taman Eden merupakan cetusan dari eros dan thanatos yang bagaikan dua sisi mata uang perak yang ada di dalam diri manusia. 

Kita dapat menggunakan kebebasan kita untuk mengaktifkan eros dan meng-off-kan thanatos dalam hidup kita. Itulah membuat iman kita hidup di depan publik. Sebaliknya ketika kebebasan kita meng-on-kan thanatos maka disitulah terlihat jelas oleh mata dunia bahwa iman kita kehilangan kekuasaannya.***(P.Benediktus Bere Mali, SVD)***

Selasa, 09 Februari 2021

Renungan Misa harian Selasa 9 Februari 2021

  Refleksi Misa Harian

Selasa 9 Februari 2021

Kej.1:20-2:4a

Mrk.7:1-13



Memiliki Takhta Untuk Melayani Bukan Dilayani


Setiap orang diberi tahkta di dalam hidup. Sejak awal Tuhan menciptakan manusia Tuhan memberi kuasa kepada manusia untuk berkuasa atas ciptaan yang lain seperti di dalam bacaan pertama pada hari ini. 

Kuasa itu ada di dalam  diri orang-orang Farisi dan Ahli-ahli Taurat. Mereka memiliki tahkta dalam hidup bersama. Yesus pun memiliki Tahkta. 

Perbedaannya terletak di sini bahwa Yesus memiliki Tahkta untuk melayani sampai mati di Salib. Sedangkan orang Farisi dan ahli Taurat bertahkta untuk dilayani, dipuji, dimuliakan, diagung-agungkan. Yesus berkuasa untuk menyempurnakan yang lama sedangkan orang Farisi dan ahli Taurat berkuasa untuk menghalang-halangi semua yang baru untuk menyempurnakan yang lama. Yang baru itu adalah memuliakan Tuhan dengan bibir dan hati serta dengan aksi baru untuk kebaikan bersama. Yang baru itu berpusat dalam diri Yesus yang berkuasa untuk mengatur yang kaos menjadi kosmos.***(P.Benediktus Bere Mali, SVD)***



Senin, 08 Februari 2021

Renungan Misa Harian Senin 8 Februari 2021

 



 Renungan Misa Harian

Senin 8 Februari 2021

Kej.1:1-19

Mrk.6:53-56

 

“Menjamah Yesus itu yang Menyembuhkan”

 

 

Pada masa pandemic covid 19 ini saling menjamah dalam situasi normal menjadi sesuatu yang asing dan ganjil. Jamahan yang menyembuhkan dapat terjadi dari perawat dan dokter kepada pasien untuk mendapat data sakit atau penyakit dari pasien dalam dunia Kesehatan. Misalnya penderita Covid-19 hanya dapat diketahui melalui asesesment yang menggunakan peralatan medis untuk mendapat data ilmiah dari pasien yang terpapar positif covid-19. Ini adalah jamahan yang menyembuhkan dari pihak medis kepada pasien covid-19. Sebaliknya jiks terjadi pasien covid-19 yang menjamah maka jamahannya itu membawa sakit penyakit bahkan dapat membawa kematian bagi yang menjamah dan dijamah. 

 

Injil hari ini tentang jamahan yang menyembuhkan. Orang-orang sakit melalui menjamah Yesus maka dapat disembuhkan oleh jamahan itu. Tuhan Yesus membiarkan diri-Nya dijamah oleh semua orang yang melakukannya dengan satu kekuatan utama yaitu iman yang kokoh kepada Yesus Tuhan Sang Penyembuh Sejati. Jamahan tanpa iman akan mendatangkan jamahan yang tidak membawa dampak apa-apa bagi penjamah. Jamahan dalam Injil hari ini jamahan yang bermula dari sebuah jamahan yang berakar dalam iman yang kuat sekali. Orang-orang yang mengusung orang sakit di atas tilam kepada Yesus. Iman pribadi dan iman orang lain dalam menjamah Yesus itu berbuah penyembuhan dalam diri para penjamah. Di sini ditemukan kerja sama yang baik dalam beriman kepada Yesus dalam proses penyembuhan orang-orang sakit yang datang menjamah Yesus. 

 

Penyembuhan ini menciptakan situasi yang harmonis dan normal dan baik adanya. Sakit fisik yang telah membuat suasana fisik dan bathin tidak baik, berakhir lewat jamahan yang menyembuhkan. Jamahan yang membuat segala sesuatu Kembali baik adanya. Bacaan Pertama menegaskan, pada awal penciptaan, Tuhan menciptakan segala sesuatu baik adanya. Tetapi jamahan manusia pada buah terlarang dari pohon peraturan antara yang baik dan jahat itulah, membuat semuanya Kembali kaos, kacau, tidak normal, tidak harmonis. Sakit-penyakit merupakan sebuah situasi dan kondisi yang menghilangkan kaharmonisan di dalam diri manusia. Melalui menjamah Yesus  orang sakit disembuhkan. Penyembuhan lewat menjamah Yesus dapat mengembalikan keharmonisan yang telah hilang.*** (P. Benediktus Bere Mali, SVD)***

 

 

Sabtu, 06 Februari 2021

Renungan Hari Minggu Biasa V (B-1) 7 Februari 2021


Ayb.7:1-4.6-7

1Kor.9:16-19.22-23

Mrk.1:29-39

 

PENDERITAAN DAN KESELAMATAN YANG INKLUSIF

 

*P. Benediktus Bere Mali, SVD*

 

 

 

Banyak orang senang mencari Yesus untuk menyelesaikan banyak persoalan yang sedang mereka alami . Hal ini terjadi setelah Yesus menyembuhkan Ibu Mertua Simon yang sakit demam. Peristiwa penyembuhan ini disusul dengan begitu banyak orang yang berbondong-bondong mencari Yesus pada sore hari dan pada pagi hari berikutnya. Waktu sore hari itu, Yesus melayani semua yang berbondong-bondong datang kepada-Nya. Tetapi pada pagi hari berikutnya, Yesus tidak sempat melayani karena sebelum orang banyak itu berbondong-bondong datang di penginapan Yesus bersama para murid-Nya, Yesus telah pergi mendahului para murid-Nya ke tempat yang sunyi untuk berdoa pada waktu pagi yang masih gelap. Para murid yang datang kemudian ke tempat Yesus, berkata kepada Yesus bahwa begitu banyak orang datang berbondong-bondong terus mencari Yesus. Barangkali di dalam Perasaan dan pikiran para murid, ingin Yesus meluangkan waktu untuk melayani mereka. 


Tetapi pikiran Yesus sangat berbeda. Di dalam kesunyian itu Yesus, dalam doa-Nya Yesus menemukan jawaban bahwa meskipun banyak orang yang berbondong-bondong mencari-Nya, Yesus memutuskan pergi ke tempat-tempat lain di Galilea dan sekitarnya untuk melayani mereka karena untuk itulah Yesus telah datang. Yesus dipanggil dan diutus untuk mewartakan keselamatan universal kepada segala suku bangsa. Artinya keselamatan Yesus sifatnya inklusif, artinya keselamatan itu bukan hanya kepada orang-orang yang bersemangat mencari dan mengikuti Yesus, tetapi juga untuk mereka yang belum mengenal Tuhan di daerah-daerah lain. 

 

Orang banyak yang berbondong-bondong mencari dan mengikuti Yesus ini barangkali atau mungkin dapat ditujukan kepada kita. Barangkali kita juga mencari dan menemukan Yesus untuk Yesus menyelesaikan persoalan-persoalan yang sedang kita alami. Barangkali kita seperti orang banyak yang mencari Yesus untuk Yesus menyelesaikan berbagai persoalan kita termasuk penderitaan, sakit, sementara kita sendiri tidak pernah berusaha untuk menyelesaikan persoalan yang sedang kita alami. Barangkali kita mencari Yesus untuk Yesus menyelesaikan semua persoalan kecil, persoalan sederhana, persoalan sedang bahkan persoalan paling berat yang sedang  kita alami. Dengan kata lain kita mencari Yesus sebagai penyelesai atas semua kesulitan dan persoalan yang sedang kita alami. 

 

Yesus memutuskan meninggalkan mereka yang berbondong-bondong mencari Yesus itu karena Yesus tidak mau membuat mereka merasa sangat tergantung pada Yesus untuk menyelesaian semua persoalan termasuk persoalan-persoalan yang dapat mereka selesaikan sendiri. Yesus tidak menghendaki orang banyak itu lari dari penderitaan mereka sendiri. 


Yesus mau supaya mereka sendiri juga harus menerima penderitaan, mengalami penderitaan, dan menyelesaikan persoalan mereka sendiri. Yesus mau mendidik mereka bahwa tidak semua penderitaan harus diselesaikan oleh Yesus. Ada penderitaan yang merupakan bagian dari hidup dan harus dialami sendiri selama hidup mereka. Yesus tidak mau mereka bermental santai dan enak dalam hidupnya terutama di dalam menyelesaikan persoalan yang harus mereka sendiri selesaikan. Ketika Yesus meninggalkan orang banyak yang mencari-Nya tentu ada berbagai tanggapan yang muncul dalam diri mereka yang ditinggalkan maupun mereka yang menyaksikannya. Ada tanggapan negatif. Ada juga tanggapan positif.


Bagi saya, barangkali bagi kita semua juga bahwa bukan hanya keselamatan yang inklusif tetapi penderitaan juga inklusif. Artinya bahwa semua orang tanpa kecuali mengalami penderitaan dengan derajat derita yang dialaminya masing-masing orang berbeda-beda, ada yang derajat deritanya rendah, ada yang deritanya sedang dan ada yang derajat atau tingkat deritanya sangat tinggi. Penderitaan yang rendah bisa membuat orang bermotivasi rendah untuk berjuang dan bekerja menjadi yang terbaik dalam hidup bersama orang lain maupun dalam meraih tujuan hidupnya. Penderitaan yang sedang dapat memotivasi orang untuk berjuang dengan tekun dan sungguh-sungguh meraih cita-cita yang tinggi. Penderitaan yang terlalu tinggi memandegkan motivasi orang untuk berusaha lebih maju dalam meraih tujuan hidupnya. 

 

Mereka yang menderita dan mencari Yesus, tetapi Yesus berani meninggalkan mereka karena Yesus mau menunjukkan bahwa penderitaan adalah bagian dari hidup manusia. Ada penderitaan yang semestinya dialami oleh manusia karena penderitaan itu juga adalah bagian dari hidup manusia. 


Penderitaan inklusif ini terungkap jelas di dalam Kitab Ayub dalam bacaan pertama. Ayub sebagai manusia mengungkapkan penderitaan-Nya bahwa ia bergulat secara sangat serius dalam hidupnya dan bahkan Ayub merasa gelisah sepanjang malam hingga dinihari. Ayub mengalami pergulatan yang hebat dalam menanggung penderitaan-Nya. 


Bagi saya dan tentu mungkin bagi kita juga bahwa sesungguhnya penderitaan adalah sebuah panggilan hidup. Yesus mengalami penderitaan salib sampai wafat di salib. Yesus tidak lari dari penderitaan tetapi Yesus menerima dan mengalami penderitaan. Hanya lewat penderitaan-Nya dan kematian-Nya ada kebangkitan dan keselamatan kekal.


Dalam bacaan kedua, menegaskan bahwa pewartaan Injil bukan untuk mencari  memegahkan diri tetapi untuk menjadi hamba yang setia melayani. Bagi orang yang mewartakan Injil untuk mencari dan menemukan memegahkan diri, untuk dilayani, maka adalah sebuah penderitaan tersendiri ketika harus fokus mewartakan Injil untuk menjadi hamba yang selalu setia  melayani.


Saudara-saudara, di masa pandemi covid-19 ini, kita diinspirasi oleh penderitaan inklusif  dalam bacaan suci hari ini. Bahwa penderitaan yang kita alami saat ini oleh karena pandemi ini, juga dialami semua negara di dunia. Menerima pandemi sebagai penderitaan kita membuat kita sembuh satu langkah lebih maju dari sakit ataupun serangan covid-19. Artinya bahwa penderitaan covid-19 ini inklusive terbuka bagi siapa saja dan kapan saja. Hanya lewat disiplin prokes covid-19 dan menerima vaksin yang dapat mengurangi serangan covid-19 terhadap diri kita. Tuhan memberkati Kita semua. Salam Sehat Selalu. ***


 

 

Jumat, 05 Februari 2021

Renungan Misa Harian Sabtu 6 Februari 2021

 Renungan Harian

Sabtu 6 Februari 2021

 

Ibr.13:15-17.20-21

Mrk. 6:30-34

 

 

Dalam group proses penyembuhan atau penyelesaian atas sebuah soal, ada lima langkah yang perlu dilakukan. Pertama, data persoalan dari pribadi, keluarga, kelompok dan komunitas berasal dari sebuah assessment ilmiah yang terdiri dari pertama observasi dari dalam anggota kelompok itu sendiri maupun dari luar kelompok sehingga data observasi mendekati kebenaran bahwa dalam pribadi maupun dalam keluarga atau komunitas yang menjadi fokus, bisa mendapat persoalan secara obyektif. Kedua, wawancara pribadi, keluarga, atau komunitas yang hendak diteliti untuk mendapat data yang obyektif. Wawancara terbatas pada tokoh-tokoh kunci yang memiliki pengetahuan yang mendalam tentang pribadi, keluarga, atau komunitas yang diteliti. Ketika, questioner atau alat tes psikologi yang tepat sesuai dengan soal di dalam diri atau keluarga atau komunitas, berdasarkan persetujuan partisipan setelah penjelasan peneliti dan dipahami oleh partisipan. 

 

Kedua, data dari tiga alat asesement ini dapat dirangkum peneliti. Hasilnya disampaikan kepada partisipan untuk mendapat koreksi yang melengkapi data yang tekah peneliti rangkumkan. Setelah mendapat masukan dari partisipan, peneliti menentukan daftar persoalan dari group yang diteliti kemudian soal itu disampaikan kepada partisipan untuk didiskusikan, sampai menemukan masalah utama dari kelompok atau group atau komunitas yang diteliti.  

 

Ketiga, Masalah utama yang dimaksud bisa terdiri dari satu soal atau beberapa soal dengan penyebab utama yang memelihara persoalan itu. Setelah rumusan persoalan yang bersentuhan langsung dengan perasaan, pembicaraan, perbuatan dan pikiran dari anggota kelompok atau pribadi yang diteliti, peneliti dapat menyampaikan hasil rumusan sementara itu, presentasikan kepada partisipan untuk disempurnakan oleh partisipan. 

 

Keempat, setelah partisipan menyetujui hasil rumusan itu, peneliti dapat menuju tahap berikut yang membantu peneliti bersama partisipan menentukan perencanaan penyembuhan atas soal-soal group atau komunitas yang dirumuskan sebelumnya. Perencanaan penyembuhan atau penyelesaian soal ini meliputi tiga tahap terpenting yang harus dilalui. Pertama, peneliti bersama partisipan membaca rumusan soal sebelumnya. Dari dalam rumusan itu persoalan group yang berhubungan dengan emosi, tindakan, dan pikiran didaftar secara jelas dan pasti sebagai persoalan pokok atau persoalan inti dari group atau komunitas yang hendak melaksanakan proses penyembuhan atau penyelesaian atas soal-soal itu. Peneliti meminta konfirmasi partisipan atas daftar soal partisipan untuk membuat persoalan final menurut partisipan yang diteliti. 

 

Setelah partisipan menyetujui daftar soal groupnya atau komunitas, peneliti memasuki tahap berikut dari proses penyembuhan kelompok atau komunitas yang menjadi partisipan yang diteliti. Tahap berikut setelah daftar soal utama adalah peneliti bersama partisipan menentukan tujuan dari setiap daftar soal pada tahap pertama. Tujuan itu untuk menyembuhkan atau menyelesaikan setiap daftar soal group atau komunitas yang telah ditentukan sebelumnya pada tahap pertama dari proses penyembuhan. Tujuan itu semestinya spesifik, dapat terukur, dapat dicapai, konkret, memiliki batas waktu tertentu. Peneliti menjelaskan tujuan ini kepada partisipan sampai semua partisipan mengerti sebab dengan pemahaman partisipan itu partisipan dapat melaksanakan proses penyelesaian soal dalam group atau komunitas. 

 

Setelah mereka mengerti tujuan, peneliti dapat mengarahkan partisipan pada tahap berikut dari proses penyembuhan atau proses penyelesaian atas dafta soal dengan tujuannya yang telah ditentukan dan disetujui bersama. 

 

Untuk mencapai tujuan itu, peneliti menemukan dan menjelaskan intervensi yang efektif kepada partisipan sebagai satu cara untuk mencapai tujuan atau dengan kata lain menyelesaikan persoalan yang ada dalam group atau komunitas. Peneliti mengelaborasi literatur-literatur terkini tentang intervensi efektif atas soal group atau komunitas yang sedang ditujukan untuk diselesaikan. Peneliti memberikan contoh, bahkan latihan kepada partisipan sampai mereka mengerti dan mereka dapat melaksanakan intervensi efektif itu pada diri mereka sendiri dalam mencapai tujuan yaitu menyelesaikan masalah group atau komunitas. 

 

Kelima, setelah partisipan atau group atau anggota komunitas mengerti intervensi efektif berdasarkan literatur terkini, maka peneliti dapat beralih kepada tahap pengimplementasian intervensi efektif pada anggota komunitas atau group atau partisipan. Selama implementasi intervensi efektif itu, peneliti dapat menentukan jadwal monitor dan evaluasi, baik oleh peneliti, partisipan, maupun observer dari luar dengan mengisi form-form monitor dan evaluasi yang sudah disiapkan dan telah dibagikan. Dari hasil data monitor dan evaluasi ini, peneliti dan partisipan memiliki alasan yang cukup untuk mengatakan bahwa proses penyembuhan atau penyelesaian atas persoalan partisipan dapat berjalan dengan baik atau sebaliknya. Ternyata dalam pengimplementasian intervensi efektif itu tidak berjalan maka peneliti meminta persetujuan dan ijin partisipan untuk melakukan revisi karena sangat memungkinkan untuk itu. 

 

Revisi berarti peneliti dapat melakukan assessment ulang dan seterusnya melalui tahap-tahap seperti disebutkan di atas sampai group atau komunitas yang menjadi partisipan dapat sembuh atau menyelesaikan persoalannya. Atas dasar persetujuan partisipan bahwa mereka telah merasa nyaman karena masalah telah selesai maka proses penyembuhan atau penyelesaian persoalan group, secara bersama oleh partisipan dan peneliti mengakhirinya atau terminasi proses penyembuhan atau penyelesaikan persoalan komunitas atau group proses. 

 

 

Langkah-langkah group proses dalam menyelesaikan persoalan group di atas dapat digunakan untuk melihat group proses dalam komunitas para murid bersama Yesus secara khusus di dalam Injil pada hari ini.  Salah satu tahap dari group proses yang sangat aktual yang ditemukan di dalam group proses para murid adalah tahap evaluasi tugas dan kerja mereka sebagai pewarta Injil kepada segala suku bangsa. Mereka menyelesaikan persoalan bahwa begitu banyak orang yang belum mengenal Tuhan Yesus maka mereka perlu ditutus dan mewartakan Yesus kepada semua orang. Dalam melaksanakan tugas ini ada banyak pengalaman suka dan duka, gagal dan berhasil.  Yesus mengundang mereka semua berkumpul pada tempat yang sepi untuk sharing pengalaman, untuk evaluasi tugas misi mereka. Evaluasi ini penting karena dari sini para murid dapat menyempurnakan misi mereka dan jika perlu revisi, maka mereka perlu revisi cara pendekatan mereka sesuai konteks misi mereka masing-masing, sehingga revisi cara misi itu akan memberikan dampat positif bagi penerima pewartaan khabar Gembira Tuhan yang membawa keselamatan inklusif. Revisi itu baik yang berhubungan dengan misi ke dalam diri para murid dan ke dalam komunitas para murid itu sendiri maupun misi ke luar kepada orang-orang yang mereka layani. 

 

Mungkin dalam evaluasi itu termasuk menyangkut bidang fisik berupa Kesehatan, uang saku, uang makan minum pakaian serta biaya operasional yang lainnya dari misi. Saya rasa dan yakin, di sini peran murid Yudas Iskariot menjadi sentral dalam mempresentasikan semua kegiatan misi yang berhubungan dengan keuangan komunitas para murid bersama Sang Guru Yesus Tuhan. 

 

Dalam bidang rohani, tentu fokus pada hidup doa, puasa, dan berderma atau bersedeka sebagai tiga hal utama dalam mempertajam kesalehan para misionaris. Dalam Injil jelas, mereka pergi ke tempat yang sunyi, untuk mengolah dan mengasah keheningan mereka. Itulah pengalaman para murid dalam Injil hari ini.

 

Kita hidup dalam komunitas karya dan komunitas formasi dengan penekanan misi ke dalam dan keluar komunitas dengan penekanan yang berbeda-beda. Tetapi bagi kita tahap-tahap group proses komunitas kita untuk menyehatkan komunitas kita, harus kita sadari, dan implementasikan di dalam komunitas kita. Arahnya jelas dan sangat penting: untuk menyehatkan kehidupan kita bersama di dalam komunitas karya dan komunitas formasi. Lima tahap untuk menjadikan komunitas kita sehat atau setidak-tidaknya meminimalkan persoalan dalam komunitas kita yaitu kita tahu soal-soal yang ada dalam komunitas kita melalui assessment rutin yang kita lakukan dalam waktu yang telah terencana rapi. Kita bersama merumuskan persoalan itu. Kita bersama mendaftarkan persoalan utama dalam komunitas kita. Kita menentukan tujuan dari persoalan itu. Kita menemukan intervensi efektif terkini dalam menyelesaikan persoalan utama komunitas kita yang sedang kita alami. Kita mengimplementasikan intervensi efektif itu dan dalam pengimplementasian itu kita menentukan bagaimana memonitornya, mengevaluasinya, merevisinya jika perlu, sampai komunitas kita berjalan sehat dan normal untuk kebaikan kita bersama. Semoga berguna bagi pembaca.*** (P.Benediktus Bere Mali, SVD)***

 

 

 

 

Renungan Harian Jumat 5 Februari 2021

  Refleksi Bacaan Misa Harian

Jumat 5 Februari 2021

Ibr.13:1-8

Mrk 6:14-29


*P.Benediktus Bere Mali, SVD*



Ada tiga hal penting yang menjadi godaan bagi manusia yaitu tahkta, harta, dan seks. Godaan ini disinggung di dalam bacaan-bacaan suci hari ini. Bacaan Pertama berbicara tentang godaan harta dan seks. Dalam bahasa bacaan Pertama tertulis, janganlah menjadi hamba uang dan janganlah menodai tempat tidur. Sementara di dalam bacaan Injil berbicara secara detil tentang godaan kuasa. Hamba kekuasaan  dapat menghalalkan segala cara untuk memiliki kuasa dan sekaligus menjadi hamba kuasa. Herodes memiliki sekaligus menjadi hamba kuasa. Ia memenggal kepala Yohanes Pembaptis demi harga diri, kuasa, dan seks. Herodes hamba kuasa, harta, dan seks yang berpuncak pada Pemenggalan kepala Yohanes Pembaptis yang  terjadi setelah Yohanes Pembaptis menegur Herodes yang memperisteri Herodias, isteri Filipus saudaranya. Herodes hamba kuasa, harta dan kenikmatan seks. Herodes menghalalkan segala cara untuk memiliki dan sekaligus menjadi hamba harta, kuasa, tahkta.


Pesan bagi kita adalah cukupkanlah dirimu dengan materi tapi janganlah materialis, cukupkanlah dirimu dengan kuasa tetapi janganlah hamba kuasa seperti Herodes, cukuplah dirimu dengan kepuasan dan kenikmatan inderawi tetapi janganlah menjadi hamba kenikmatan duniawi yang sementara. 


Arahkanlah dirimu berkuasa untuk melayani dengan tulus ikhlas,  berharta duniawi untuk memperoleh harta surgawi yang abadi, dan memiliki kenikmatan inderawi untuk memiliki kenikmatan surgawi yang kekal. Tuhan memberkati.***