Jumat, 12 Februari 2021

Hidup adalah kesempatan berbuat baik berdasarkan kehendak orang tua dan Tuhan

 *Benediktus Bere Mali*

 

Sumber Refleksi Pribadi

Sabtu 13 Februari 2021

Kej.3:9-24

Mrk.8:1-10

 

Orang tua memberikan semua yang terbaik kepada anak-anaknya.  Orang Tua juga memberikan aturan hidup dalam keluarga kepada anak-anak untuk kebaikan bersama. Ketika anak melanggar aturan sesuka hatinya, pasti orang tua yang mencintai anaknya marah pada anaknya yang hidup tanpa aturan. Terutama aturan tentang nama baik orang tua yang taat setia melaksanakan ibadah, ketika anaknya melanggar aturan moral keluarga dan agamanya, pasti suatu ketika orang tua marah lalu mengusir anaknya dari rumah. 

 

Tuhan dalam bacaan-bacaan suci hari ini seperti orang tua yang baik hati bagi anak-anaknya. Tuhan menciptakan segala sesuatu baik adanya. Ciptaan-Nya itu diserahkan kepada manusia pertama Adam dan Hawa. Tuhan memberikan aturan kepada Adam dan Hawa di taman Eden. Aturan itu tampak pada pohon pengetahuan tentang kebaikan dan kejahatan dan buah pohon itu tidak boleh dimakan. Tuhan juga menciptakan manusia dilengkapi dengan kebebasannya. Kebebasannya ini digunakan untuk mengikuti kehendak Allah dalam perkataan dan perbuatan yang dapat diukur indera mata anggota komunitas.  


Adam dan Hawa dalam hidupnya di Taman Eden tidak taat pada aturan. Mereka makan buah pohon terlarang. Ketika Tuhan mendatangi mereka di taman Eden, Adam dan Hawa telanjang, merasa malu dan bersembunyi karena mereka tidak setia pada Allah. Tuhan bertanya tentang mengapa telanjang dan merasa malu, tetapi mereka tidak langsung menjawabi-Nya pada inti persoalan bahwa karena mereka telah menggunakan kebebasan mereka untuk memilih makan buah pohon yang terlarang itu. Justru yang tampak saat Tuhan bertanya adalah mereka saling menuduh. Hawa menuduh ular yang menggoda sehingga ia memetik buah terlarang itu lalu makan buah terlarang itu. Adam menuduh Hawa yang memetik dan memberi buah pohon terlarang itu kepadanya sehingga ia pun makan buah terlarang itu.

 

Saling menuduh ini dapat melemahkan kebersaamaan sebagai sebuah keluarga dan komunitas. Tuhan tegas memarahi lalu mengusir mereka dan mengutuk mereka. Manusia itu pun meninggalkan Taman Eden dan pergi mengolah tanah dengan kerja tangan sendiri untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Tuhan menyediakan tanah dan dari tanah itulah mereka tercipta dan mereka kembali ke tanah itu.  Mereka harus bekerja untuk mendapat hasil kerja untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Mereka bekerja sendiri mencari sesuap nasi bagi hidupnya.

 

Sebaliknya dalam Injil hari ini Yesus memberikan makanan kepada begitu banyak orang yang mengikuti Yesus dan mendengarkan pengajaran-Nya. Orang banyak yang mengikuti Yesus itu kurang-lebih berjumlah 4000 orang.  Yesus penuh belaskasihan kepada orang banyak itu. Dengan menggandakan tujuh ketul roti dan dua ekor ikan yang ada pada para murid-Nya, Yesus bersama para murid-Nya memberi makan kepada orang banyak yang mengikuti Yesus dan mendengarkan Yesus.

 

 

Pesan bagi kita ada dua. Seperti dalam bacaan pertama, kita dapat belajar dari orang yang menggunakan kebebasannya untuk tidak mentaati aturan Tuhan, sehingga Tuhan mengusir mereka dari Taman Eden. Mamma bagi Kita adalah bahwa kita semestinya taat dan setia kepada aturan Tuhan yang senantiasa menyelamatkan, maka pasti Tuhan memberikan rahmat yang berlimpah ruah kepada kita. 


Kita juga belajar dari bacaan Injil hari ini, bahwa semua orang yang mendengarkan Yesus secara rohani, pasti mendapat kekuatan spiritual yang baik, dan Tuhan tidak membiarkan mereka mati kelaparan. Tuhan memberikan makanan fisik kepada mereka setelah mendapat makanan spiritual dari Tuhan Yesus. Kita sebagai pelayan umat Allah dan sebagai pengiktut Yesus pada zaman ini semestinya perlu mengatur secara baik antara kebutuhan akan material dan spiritual secara seimbang, seperti dalam bacaan Injil hari ini, sehingga dengan demikian kehidupan kita menjadi utuh antara keduanya.***



 

 

 

Orang yang merasa tidak sakit yang tidak membutuhkan penyembuh

*Benediktus Bere Mali*

 



Refleksi Misa Harian

Jumat 12 Februari 2021

Kej.3:1-8

Mrk.7:31-38

 

 

Banyak orang yang menuntun kita kepada jalan yang baik dan benar dan indah menuju masa depan yang cerah. Tetapi di antara sekian banyak pengarah itu tidak kalah penting perannya adalah ibu dan ayah kita yang sejak awal mula di dalam Rahim ibu telah memiliki rencana yang mantap bagi masa depan kita kelak. Seluruh energi orang tua dicurahkan untuk menyertai kita sampai kita menjadi pribadi yang dewasa dan mandiri. 

 

Allah pencipta dalam bacaan-bacaan suci hari ini seperti kedua orang tua kita. Allah menyediakan segala sesuatu bagi manusia yang diciptakan-Nya. Semua yang diciptakan-Nya itu diberikan kepada manusia pertama Adam dan Hawa yang Allah Bapa ciptakan. Manusia diberi kuasa untuk mengatur semua ciptaan yang Allah Bapa serahkan kepadanya dengan aturan yang jelas dan tegas kepada Adam dan Eva di Taman Eden. Aturan itu adalah pohon pengetahuan tentang kebaikan dan kejahatan yang memberi pengertian kepada manusia tentang kebaikan dan kejahatan itu sendiri. Pohon itu Tuhan letakan di Taman Eden untuk memberikan pengertian tetapi buah pohon itu tidak boleh dimakan oleh siapapun. Manusia yang diciptakan Tuhan itu dilengkapi dengan kebebasannya. Tuhan memberikan segala sesuatu yang dibutuhkan manusia. Tuhan memberi kuasa, kebebasan dan kepastian aturan. Tuhan memberikan psikoedukasi yang jelas, tepat dan benar bagi keselamatan manusia dan ciptaannya.  

 

Simbol penggoda manusia tampil dalam ular yang licik menggunakan Bahasa manusia dan berdialog dengan manusia untuk menggunakan kelemahannya untuk menjerumuskannya ke dalam jalan yang bertentangan dengan jalan Tuhan. Tuhan telah mengedukasi manusia untuk tidak makan buah terlarang dari pohon pengetahuan yang memberi pengertian tentang kebaikan dan kejahatan. Tetapi manusia mengikuti keinginan ular yang menggoda Hawa untuk makan buah pohon terlarang itu sehingga mereka menjadi malu dan merasa bersalah karena telah melanggar aturan Tuhan dengan sadar tahu dan mau. Mereka menjadi buta dan tuli serta bisu pada suara Tuhan karena dikuasai oleh ular yang merayu dan menggoda. Tuhan datang menemui mereka dalam keadaan telanjang dan malu yang sangat mendalam.  Mereka sudah terlanjur jatuh dalam melanggar aturan Tuhan dan mereka mengharapkan belaskasihan Allah Bapa untuk menyembuhkan rasa bersalah yang sedang menghantui mereka. Mereka telah menjadi bisu dan tuli secara rohani terhadap kehendak Tuhan.

 

Bacaan Injil hari ini menampilkan orang tuli dan bisu secara fisik. Orang bisu dan tuli itu datang kepada Tuhan Yesus dengan iman yang mendalam. Tuhan Yesus menyembuhkan orang yang tuli dan bisu sehingga ia dapat berbicara dan mendengar. Penyembuhan fisik ini bermakna bagi kita bahwa kita pun adalah orang yang bisu dan tuli akan kehendak Allah yang kita mengerti-Nya sebagai penyelamat kita dan alam semesta seperti yang telah terjadi dalam diri Adam dan Hawa di dalam bacaan pertama. Berkat teladan orang bisu dan tuli dalam bacaan Injil ini yang datang kepada Yesus untuk disembuhkan, kita yang bisu dan tuli secara rohani juga datang kepada Yesus untuk disembuhkan-Nya dari sakit tuli dan bisu rohani agar kita kembali dapat berbicara dan mendengarkan Suara Allah yang selalu mengarakan kita kepada jalan yang menyelamatkan kita, sesama dan alam sekitar.***

Rabu, 10 Februari 2021

Modal Tidak Tahu Malu untuk Menyembukan dan disembuhkan

 Refleksi Misa Harian

Kej.2: 18-25

Mrk.7:24-30


Merasa malu dan tidak malu adalah satu hal yang menjadi bagian dari hidup kita. Orang tidak merasa malu ketika berada dalam situasi normal dalam berbicara dan beraksinya diterima oleh aturan bersama baik yang ditentukan Tuhan dan mayoritas manusia menerimanya sebagai pedoman hidup bersama maupun aturan-aturan yang ditentukan oleh manusia untuk kepentingan keselamatan bersama. Sebaliknya orang merasa malu ketika ia berbicara dan perilakunya terasa asing bagi aturan hidup bersama termasuk aturan yang ditentukan oleh Allah bagi manusia. 


Bacaan pertama tentang Adam dan Hawa telanjang tetapi tidak merasa malu karena sesuai aturan Tuhan yang menciptakan mereka untuk mengambil bagian di dalam karya penciptaan Tuhan. Perempuan Yunani dari Siro-Fenisia dalam bacaan Injil hari ini merasa tidak malu datang kepada Yesus mohon kesembuhan anaknya perempuan yang sedang mengalami kerasukan roh jahat. Sekalipun Tuhan Yesus cukup menantangnya sebagai ujian terhadap sejauh mana imannya kuat kepada Yesus, tetapi ia tetap memiliki iman yang kokoh. Ia tidak merasa ciut mendengar tantangan dari Yesus. Justru ia semakin tertantang ia semakin tegar dan kokoh beriman kepadaNya. Berkat imannya yang kokoh itulah anak putrinya disembuhkan oleh Tuhan Yesus.


 Iman dapat menyembuhkan diri dan anggota keluarga dan sesama yang lain. 


Iman itu sangat personal dalam berelasi dengan Tuhan Yesus. Tetapi iman kepada Tuhan Yesus itu dapat tertangkap dan terukur secara inderawi dalam keaktifan pribadi di dalam kegiatan rohani untuk mengasah kesalehan sosial dan persoanal di dalam  doa pribadi dan doa komunitas, puasa pribadi dan puasa komunitas, dan berderma dan bersedeka baik secara pribadi maupun  secara bersama sebagai anggota komunitas. Kekuatan spiritual inilah yang menyembuhkan diri dan sesama. Iman yang menyembuhkan itu telah tampak dalam iman seorang ibu orang asing dari Yunani yang tidak tahu malu datang kepada Yesus seorang Yahudi, dan memohon kepadaNya untuk menyembuhkan anaknya yang kerasukan roh jahat. Walau sempat ia direndahkan, tetapi imannya kepada Yesus tidak luntur. Kokohnya iman seperti perempuan Yunani dari Siro-Fenisia inilah meneguhkan iman kita dalam setiap situasi dan kondisi kita termasuk saat situasi sulit mendatangi kita baik kesulitan itu dari dalam diri kita maupun datang dari luar diri kita.***(P.Benediktus Bere Mali,SVD)***

Renungan Misa Harian Rabu 10 Februari 2021

 Refleksi Misa Harian

Rabu, 10 Februari 2021

Kej.2:4b-9.15-17

Mrk.7:14-23



 *Kebebasan Makan Buah Pohon Terlarang  tentang Kebaikan dan Kejahatan di Taman Eden* 


Tuhan memberikan segala sesuatu kepada manusia. Semuanya terangkum dalam tiga kalimat yaitu Tuhan memberikan kebaikan Taman Eden, Tuhan memberikan pohon tentang kejahatan dan kebaikan dan Tuhan memberikan kebebasan kepada manusia yang diciptakan secitra Allah. 


Manusia hidup di Taman Eden kebaikan dengan penuh sadar kontrol diri menggunakan kebebasannya untuk bertindak baik maka dengan demikian manusia memperteguhkan citranya sebagai citra Allah. Sebaliknya manusia yang menggunakan kebebasannya bertindak jahat maka dengan demikian manusia menurunkan citranya sebagai citra Allah. 


Seorang yang sealiran Freud menegaskan bahwa simbol kejahatan dan kebaikan yang diletakan pada pohon tentang kebaikan dan kejahatan di tengah-tengah Taman Eden  adalah sebuah ekspresi nyata dari dua sisi kejahatan dan kebaikan seperti dua sisi mata uang yang lengket di dalam diri manusia. Bagi Freud, simbol kejahatan dan kebaikan dalam bahasa verbal dan bahasa non-verbal serta material/fisik berupa patung kejahatan dan kebaikan bersumber dari dalam diri manusia bukan dari luar diri manusia. Freud menggunakan dua kata yang digunakan untuk menyebut kekuatan jahat dan kekuatan baik seperti dua sisi mata uang di dalam diri manusia, yaitu eros dan thanatos. Eros dan thanatos ini terdiri dari tiga bagian penting yaitu seks, agresi dan kecemasan.  Seks untuk hal yang baik bagi diri dan sesama bukan yang jahat bagi diri dan orang lain. Agresi untuk yang baik bagi diri dan sesama bukan untuk yang jahat bagi diri dan sesama. Kecemasan itu untuk kebaikan diri dan sesama bukan untuk yang jahat terhadap diri dan sesama. Ketika ketiga hal itu untuk kebaikan maka di situ eros aktif bekerja lebih dari thanatos yang tidur dalam diri manusia. Sebaliknya ketika ketiga hal itu untuk kejahatan maka di situ thanatos aktif bekerja lebih dari eros yang tidur di dalam diri manusia. 


Kesadaran untuk mengaktifkan eros perlu dilatih terus menerus dengan taat disiplin diri yang termonitor, terevaluasi, dan terevisi bila dibutuhkan untuk terus asah aktifkan eros dalam hidup sehari-hari. 


Tepat sekali Sabda Yesus, di dalam Injil hari ini, bukan apa yang masuk ke dalam diri yang dapat menajiskan tetapi yang keluar dari dalam diri yang dapat menajiskan. Cukup jelas bahwa di sini ada titik pertemuan Freud dengan Injil hari ini. Kejahatan dan kebaikan itu ada dalan diri manusia bukan dari luar diri manusia. Pohon kebaikan dan kejahatan di tengah taman Eden adalah simbol kata, materi, tindakan yang terekspresi dari dalam diri manusia, ke luar diri manusia. Pohon kejahatan dan kebaikan di Taman Eden merupakan cetusan dari eros dan thanatos yang bagaikan dua sisi mata uang perak yang ada di dalam diri manusia. 

Kita dapat menggunakan kebebasan kita untuk mengaktifkan eros dan meng-off-kan thanatos dalam hidup kita. Itulah membuat iman kita hidup di depan publik. Sebaliknya ketika kebebasan kita meng-on-kan thanatos maka disitulah terlihat jelas oleh mata dunia bahwa iman kita kehilangan kekuasaannya.***(P.Benediktus Bere Mali, SVD)***

Selasa, 09 Februari 2021

Renungan Misa harian Selasa 9 Februari 2021

  Refleksi Misa Harian

Selasa 9 Februari 2021

Kej.1:20-2:4a

Mrk.7:1-13



Memiliki Takhta Untuk Melayani Bukan Dilayani


Setiap orang diberi tahkta di dalam hidup. Sejak awal Tuhan menciptakan manusia Tuhan memberi kuasa kepada manusia untuk berkuasa atas ciptaan yang lain seperti di dalam bacaan pertama pada hari ini. 

Kuasa itu ada di dalam  diri orang-orang Farisi dan Ahli-ahli Taurat. Mereka memiliki tahkta dalam hidup bersama. Yesus pun memiliki Tahkta. 

Perbedaannya terletak di sini bahwa Yesus memiliki Tahkta untuk melayani sampai mati di Salib. Sedangkan orang Farisi dan ahli Taurat bertahkta untuk dilayani, dipuji, dimuliakan, diagung-agungkan. Yesus berkuasa untuk menyempurnakan yang lama sedangkan orang Farisi dan ahli Taurat berkuasa untuk menghalang-halangi semua yang baru untuk menyempurnakan yang lama. Yang baru itu adalah memuliakan Tuhan dengan bibir dan hati serta dengan aksi baru untuk kebaikan bersama. Yang baru itu berpusat dalam diri Yesus yang berkuasa untuk mengatur yang kaos menjadi kosmos.***(P.Benediktus Bere Mali, SVD)***



Senin, 08 Februari 2021

Renungan Misa Harian Senin 8 Februari 2021

 



 Renungan Misa Harian

Senin 8 Februari 2021

Kej.1:1-19

Mrk.6:53-56

 

“Menjamah Yesus itu yang Menyembuhkan”

 

 

Pada masa pandemic covid 19 ini saling menjamah dalam situasi normal menjadi sesuatu yang asing dan ganjil. Jamahan yang menyembuhkan dapat terjadi dari perawat dan dokter kepada pasien untuk mendapat data sakit atau penyakit dari pasien dalam dunia Kesehatan. Misalnya penderita Covid-19 hanya dapat diketahui melalui asesesment yang menggunakan peralatan medis untuk mendapat data ilmiah dari pasien yang terpapar positif covid-19. Ini adalah jamahan yang menyembuhkan dari pihak medis kepada pasien covid-19. Sebaliknya jiks terjadi pasien covid-19 yang menjamah maka jamahannya itu membawa sakit penyakit bahkan dapat membawa kematian bagi yang menjamah dan dijamah. 

 

Injil hari ini tentang jamahan yang menyembuhkan. Orang-orang sakit melalui menjamah Yesus maka dapat disembuhkan oleh jamahan itu. Tuhan Yesus membiarkan diri-Nya dijamah oleh semua orang yang melakukannya dengan satu kekuatan utama yaitu iman yang kokoh kepada Yesus Tuhan Sang Penyembuh Sejati. Jamahan tanpa iman akan mendatangkan jamahan yang tidak membawa dampak apa-apa bagi penjamah. Jamahan dalam Injil hari ini jamahan yang bermula dari sebuah jamahan yang berakar dalam iman yang kuat sekali. Orang-orang yang mengusung orang sakit di atas tilam kepada Yesus. Iman pribadi dan iman orang lain dalam menjamah Yesus itu berbuah penyembuhan dalam diri para penjamah. Di sini ditemukan kerja sama yang baik dalam beriman kepada Yesus dalam proses penyembuhan orang-orang sakit yang datang menjamah Yesus. 

 

Penyembuhan ini menciptakan situasi yang harmonis dan normal dan baik adanya. Sakit fisik yang telah membuat suasana fisik dan bathin tidak baik, berakhir lewat jamahan yang menyembuhkan. Jamahan yang membuat segala sesuatu Kembali baik adanya. Bacaan Pertama menegaskan, pada awal penciptaan, Tuhan menciptakan segala sesuatu baik adanya. Tetapi jamahan manusia pada buah terlarang dari pohon peraturan antara yang baik dan jahat itulah, membuat semuanya Kembali kaos, kacau, tidak normal, tidak harmonis. Sakit-penyakit merupakan sebuah situasi dan kondisi yang menghilangkan kaharmonisan di dalam diri manusia. Melalui menjamah Yesus  orang sakit disembuhkan. Penyembuhan lewat menjamah Yesus dapat mengembalikan keharmonisan yang telah hilang.*** (P. Benediktus Bere Mali, SVD)***

 

 

Sabtu, 06 Februari 2021

Renungan Hari Minggu Biasa V (B-1) 7 Februari 2021


Ayb.7:1-4.6-7

1Kor.9:16-19.22-23

Mrk.1:29-39

 

PENDERITAAN DAN KESELAMATAN YANG INKLUSIF

 

*P. Benediktus Bere Mali, SVD*

 

 

 

Banyak orang senang mencari Yesus untuk menyelesaikan banyak persoalan yang sedang mereka alami . Hal ini terjadi setelah Yesus menyembuhkan Ibu Mertua Simon yang sakit demam. Peristiwa penyembuhan ini disusul dengan begitu banyak orang yang berbondong-bondong mencari Yesus pada sore hari dan pada pagi hari berikutnya. Waktu sore hari itu, Yesus melayani semua yang berbondong-bondong datang kepada-Nya. Tetapi pada pagi hari berikutnya, Yesus tidak sempat melayani karena sebelum orang banyak itu berbondong-bondong datang di penginapan Yesus bersama para murid-Nya, Yesus telah pergi mendahului para murid-Nya ke tempat yang sunyi untuk berdoa pada waktu pagi yang masih gelap. Para murid yang datang kemudian ke tempat Yesus, berkata kepada Yesus bahwa begitu banyak orang datang berbondong-bondong terus mencari Yesus. Barangkali di dalam Perasaan dan pikiran para murid, ingin Yesus meluangkan waktu untuk melayani mereka. 


Tetapi pikiran Yesus sangat berbeda. Di dalam kesunyian itu Yesus, dalam doa-Nya Yesus menemukan jawaban bahwa meskipun banyak orang yang berbondong-bondong mencari-Nya, Yesus memutuskan pergi ke tempat-tempat lain di Galilea dan sekitarnya untuk melayani mereka karena untuk itulah Yesus telah datang. Yesus dipanggil dan diutus untuk mewartakan keselamatan universal kepada segala suku bangsa. Artinya keselamatan Yesus sifatnya inklusif, artinya keselamatan itu bukan hanya kepada orang-orang yang bersemangat mencari dan mengikuti Yesus, tetapi juga untuk mereka yang belum mengenal Tuhan di daerah-daerah lain. 

 

Orang banyak yang berbondong-bondong mencari dan mengikuti Yesus ini barangkali atau mungkin dapat ditujukan kepada kita. Barangkali kita juga mencari dan menemukan Yesus untuk Yesus menyelesaikan persoalan-persoalan yang sedang kita alami. Barangkali kita seperti orang banyak yang mencari Yesus untuk Yesus menyelesaikan berbagai persoalan kita termasuk penderitaan, sakit, sementara kita sendiri tidak pernah berusaha untuk menyelesaikan persoalan yang sedang kita alami. Barangkali kita mencari Yesus untuk Yesus menyelesaikan semua persoalan kecil, persoalan sederhana, persoalan sedang bahkan persoalan paling berat yang sedang  kita alami. Dengan kata lain kita mencari Yesus sebagai penyelesai atas semua kesulitan dan persoalan yang sedang kita alami. 

 

Yesus memutuskan meninggalkan mereka yang berbondong-bondong mencari Yesus itu karena Yesus tidak mau membuat mereka merasa sangat tergantung pada Yesus untuk menyelesaian semua persoalan termasuk persoalan-persoalan yang dapat mereka selesaikan sendiri. Yesus tidak menghendaki orang banyak itu lari dari penderitaan mereka sendiri. 


Yesus mau supaya mereka sendiri juga harus menerima penderitaan, mengalami penderitaan, dan menyelesaikan persoalan mereka sendiri. Yesus mau mendidik mereka bahwa tidak semua penderitaan harus diselesaikan oleh Yesus. Ada penderitaan yang merupakan bagian dari hidup dan harus dialami sendiri selama hidup mereka. Yesus tidak mau mereka bermental santai dan enak dalam hidupnya terutama di dalam menyelesaikan persoalan yang harus mereka sendiri selesaikan. Ketika Yesus meninggalkan orang banyak yang mencari-Nya tentu ada berbagai tanggapan yang muncul dalam diri mereka yang ditinggalkan maupun mereka yang menyaksikannya. Ada tanggapan negatif. Ada juga tanggapan positif.


Bagi saya, barangkali bagi kita semua juga bahwa bukan hanya keselamatan yang inklusif tetapi penderitaan juga inklusif. Artinya bahwa semua orang tanpa kecuali mengalami penderitaan dengan derajat derita yang dialaminya masing-masing orang berbeda-beda, ada yang derajat deritanya rendah, ada yang deritanya sedang dan ada yang derajat atau tingkat deritanya sangat tinggi. Penderitaan yang rendah bisa membuat orang bermotivasi rendah untuk berjuang dan bekerja menjadi yang terbaik dalam hidup bersama orang lain maupun dalam meraih tujuan hidupnya. Penderitaan yang sedang dapat memotivasi orang untuk berjuang dengan tekun dan sungguh-sungguh meraih cita-cita yang tinggi. Penderitaan yang terlalu tinggi memandegkan motivasi orang untuk berusaha lebih maju dalam meraih tujuan hidupnya. 

 

Mereka yang menderita dan mencari Yesus, tetapi Yesus berani meninggalkan mereka karena Yesus mau menunjukkan bahwa penderitaan adalah bagian dari hidup manusia. Ada penderitaan yang semestinya dialami oleh manusia karena penderitaan itu juga adalah bagian dari hidup manusia. 


Penderitaan inklusif ini terungkap jelas di dalam Kitab Ayub dalam bacaan pertama. Ayub sebagai manusia mengungkapkan penderitaan-Nya bahwa ia bergulat secara sangat serius dalam hidupnya dan bahkan Ayub merasa gelisah sepanjang malam hingga dinihari. Ayub mengalami pergulatan yang hebat dalam menanggung penderitaan-Nya. 


Bagi saya dan tentu mungkin bagi kita juga bahwa sesungguhnya penderitaan adalah sebuah panggilan hidup. Yesus mengalami penderitaan salib sampai wafat di salib. Yesus tidak lari dari penderitaan tetapi Yesus menerima dan mengalami penderitaan. Hanya lewat penderitaan-Nya dan kematian-Nya ada kebangkitan dan keselamatan kekal.


Dalam bacaan kedua, menegaskan bahwa pewartaan Injil bukan untuk mencari  memegahkan diri tetapi untuk menjadi hamba yang setia melayani. Bagi orang yang mewartakan Injil untuk mencari dan menemukan memegahkan diri, untuk dilayani, maka adalah sebuah penderitaan tersendiri ketika harus fokus mewartakan Injil untuk menjadi hamba yang selalu setia  melayani.


Saudara-saudara, di masa pandemi covid-19 ini, kita diinspirasi oleh penderitaan inklusif  dalam bacaan suci hari ini. Bahwa penderitaan yang kita alami saat ini oleh karena pandemi ini, juga dialami semua negara di dunia. Menerima pandemi sebagai penderitaan kita membuat kita sembuh satu langkah lebih maju dari sakit ataupun serangan covid-19. Artinya bahwa penderitaan covid-19 ini inklusive terbuka bagi siapa saja dan kapan saja. Hanya lewat disiplin prokes covid-19 dan menerima vaksin yang dapat mengurangi serangan covid-19 terhadap diri kita. Tuhan memberkati Kita semua. Salam Sehat Selalu. ***