Jumat, 02 April 2021

Tetapi di antara sekian banyak Pertanyaan di dalam kisah sengsara Yesus itu ada satu Pertanyaan yang Yesus tidak menjawabnya. Yesus diam. Pertanyaan itu adalah : Apakah kebenaran itu?

   Ada begitu banyak Pertanyaan dalam kisah sengsara  menurut Injil Yohanes  yang diberikan kepada Yesus, dapat Yesus menjawabnya dengan  sangat lancar dan sungguh meyakinkan. 


Tetapi di antara sekian banyak Pertanyaan di dalam kisah sengsara Yesus itu ada satu Pertanyaan yang Yesus tidak menjawabnya. Yesus diam. Pertanyaan itu adalah : Apakah kebenaran itu? 


Apakah Yesus tuli? Apakah Yesus mati kutu mendengar pertanyaan itu? Mengapa Yesus diam, tidak menjawab? Apakah Yesus memancing emosi penanya? Apakah Yesus tidak ada tenaga lagi? Apakah Pertanyaan itu salah dimata Yesus? Kalau  Pertanyaan itu salah, seperti apa Pertanyaan yang benar di  dalam perspektif Yesus Anak Muda berusia 33 Tahun?  

Barangsiapa dapat menjawabnya dialah yang dapat menemukan imannya di dalam Kisah Sengsara ini. 


Liturgia Verbi (B-I)

Hari Jumat Agung


Jumat, 2 April 2021


PF S. Fransiskus dari Paola, Pertapa


Bacaan Pertama

Yes 52:13-53:12


"Ia ditikam karena kejahatan kita."


Pembacaan dari Kitab Yesaya:


Beginilah firman Tuhan,

"Sesungguhnya, hamba-Ku akan berhasil!

Ia akan ditinggikan, disanjung dan dimuliakan!

Seperti banyak orang tertegun melihat dia

 -- rupanya begitu buruk, tidak seperti manusia lagi,

     dan tampaknya bukan seperti anak manusia lagi, --

demikianlah ia akan membuat tercengang banyak bangsa,

dan raja-raja akan mengatupkan mulutnya melihat dia!

Sebab apa yang tidak diceritakan kepada mereka

akan mereka lihat,

dan yang tidak mereka dengar akan mereka pahami.

Maka mereka berkata:

Siapakah yang percaya kepada berita yang kami dengar,

kepada siapakah tangan kekuasaan Tuhan dinyatakan?

Sebagai taruk Hamba Yahwe tumbuh di hadapan Tuhan,

dan sebagai tunas ia muncul dari tanah kering.


Ia dihina dan dihindari orang,

seorang yang penuh kesengsaraan,

dan biasa menderita kesakitan;

ia sangat dihina, sehingga orang menutup mukanya terhadap dia,

dan bagi kita pun dia tidak masuk hitungan.

Ia tidak tampan, dan semarak pun tidak ada padanya,

sehingga kita tidak tertarik untuk memandang dia;

dan rupanya pun tidak menarik,

sehingga kita tidak terangsang untuk menginginkannya.


Tetapi sesungguhnya,

penyakit kitalah yang ditanggungnya,

dan kesengsaraan kitalah yang dipikulnya,

padahal kita mengira dia kena tulah,

dipukul dan ditindas Allah.

Sesungguhnya dia tertikam oleh karena pemberontakan kita,

dia diremukkan oleh karena kejahatan kita;

derita yang mendatangkan keselamatan bagi kita

ditimpakan kepadanya,

dan oleh bilur-bilurnya kita menjadi sembuh.

Kita sekalian sesat seperti domba,

masing-masing mengambil jalan sendiri!

Tetapi Tuhan telah menimpakan kepadanya kejahatan kita sekalian.

Dia dianiaya, tetapi dia membiarkan diri ditindas,

dan tidak membuka mulutnya

seperti anak domba yang dibawa ke pembantaian;

seperti induk domba

yang kelu di depan orang-orang yang menggunting bulunya,

ia tidak membuka mulutnya.

Sesudah penahanan dan penghukuman ia terambil,

dan tentang nasibnya siapakah yang memikirkannya?

Sungguh, ia terputus dari negeri orang-orang hidup,

dan karena pemberontakan umat-Ku ia kena tulah.

Orang menempatkan kuburnya di antara orang-orang fasik,

dan waktu mati ia ada di antara penjahat-penjahat,

sekalipun ia tidak berbuat kekerasan,

dan tipu tidak ada dalam mulutnya.


Tetapi Tuhan berkehendak meremukkan dia dengan kesakitan,

dan apabila ia menyerahkan dirinya sebagai kurban silih,

ia akan melihat keturunannya,

umurnya akan lanjut,

dan kehendak Tuhan akan terlaksana karena dia.

Sesudah kesusahan jiwanya,

ia akan melihat terang dan menjadi puas.

Sebab Tuhan berfirman,

Hamba-Ku itu, sebagai orang yang benar,

akan membenarkan banyak orang oleh hikmatnya,

dan kejahatan mereka dia pikul.

Sebab itu Aku akan membagikan kepadanya

orang-orang besar sebagai rampasan,

dan ia akan memperoleh orang-orang kuat sebagai jarahan.

Ini semua sebagai ganti

karena ia telah menyerahkan nyawanya ke dalam maut

dan karena ia terhitung di antara pemberontak,

sekalipun ia menanggung dosa banyak orang,

dan berdoa untuk pemberontak-pemberontak.


Demikianlah sabda Tuhan.


Mazmur Tanggapan

Mzm 31:2.6.12-13.15-16.17.25,R:Luk 23:46


Refren: Ya Bapa, ke dalam tangan-Mu Kuserahkan nyawa-Ku.


*Pada-Mu, Tuhan, aku berlindung,

janganlah sekali-kali aku mendapat malu.

Luputkanlah aku oleh karena keadilan-Mu,

ke dalam tangan-Mu kuserahkan nyawaku;

sudilah membebaskan daku, ya Tuhan, Allah yang setia.


*Di hadapan semua lawanku aku tercela,

tetangga-tetanggaku merasa jijik,

para kenalanku merasa ngeri;

Aku telah hilang dari ingatan seperti orang mati,

telah menjadi seperti barang yang pecah.


*Tetapi aku, kepada-Mu, ya Tuhan, aku percaya,

aku berkata: "Engkaulah Allahku!"

Masa hidupku ada dalam tangan-Mu,

lepaskanlah aku dari tangan musuh-musuhku

dan bebaskan dari orang-orang yang mengejar aku!


*Buatlah wajah-Mu bercahaya atas hamba-Mu,

selamatkanlah aku oleh kasih setia-Mu!

Kuatkanlah dan teguhkanlah hatimu,

hai semua orang yang berharap kepada Tuhan!


Bacaan Kedua

Ibr 4:14-16;5:7-9


"Ia telah belajar menjadi taat,

dan menjadi pokok keselamatan abadi bagi semua orang

yang taat kepada-Nya."


Pembacaan dari Surat Kepada Orang Ibrani:


Saudara-saudara,

kita sekarang mempunyai Imam Agung,

yang telah melintasi semua langit,

yaitu Yesus, Anak Allah.

Maka baiklah kita teguh berpegang pada pengakuan iman kita.

Sebab Imam Agung yang kita punya,

bukanlah imam Agung yang tidak dapat turut merasakan kelemahan kita!

Sebaliknya Ia sama dengan kita!

Ia telah dicobai, hanya saja tidak berbuat dosa.

Sebab itu marilah kita menghampiri takhta kerahiman Allah

dengan penuh keberanian,

supaya kita menerima rahmat dan menemukan kasih karunia

untuk mendapat pertolongan pada waktunya.


Dalam hidup-Nya sebagai manusia,

Yesus telah mempersembahkan doa dan permohonan

dengan ratap tangis dan keluhan

kepada Dia, yang sanggup menyelamatkan-Nya dari maut;

dan karena kesalehan-Nya, Ia telah didengarkan.

Akan tetapi sekalipun Anak, Ia telah belajar menjadi taat;

ini ternyata dari apa yang telah diderita-Nya!

Dan sesudah mencapai kesempurnaan,

Ia menjadi pokok keselamatan abadi

bagi semua orang yang taat kepada-Nya.


Demikianlah sabda Tuhan.


Bait Pengantar Injil

Flp 2:8-9


Kristus sudah taat bagi kita;

Ia taat sampai mati, bahkan sampai mati di salib.

Itulah sebabnya Allah sangat meninggikan Dia

dan menganugerahi-Nya nama di atas segala nama.


Bacaan Injil

Yoh 18:1-19:42


"Mengenang Sengsara Tuhan."


Inilah Kisah Sengsara Tuhan kita Yesus Kristus

menurut Yohanes:


Seusai perjamuan Paskah,

keluarlah Yesus dari ruang perjamuan

bersama-sama dengan murid-murid-Nya,

dan mereka pergi ke seberang sungai Kidron.

Di situ ada suatu taman.

Yesus masuk ke taman itu bersama-sama dengan murid-murid-Nya.

Yudas yang mengkhianati Yesus tahu juga tempat itu,

karena Yesus sering berkumpul di situ dengan murid-murid-Nya.

Maka datanglah juga Yudas ke situ

bersama sepasukan prajurit dan penjaga-penjaga Bait Allah

yang disuruh oleh imam-imam kepala dan orang-orang Farisi.

Mereka datang  lengkap dengan lentera, suluh dan senjata.

Yesus tahu semua yang akan menimpa diri-Nya.

Maka Ia maju ke depan dan berkata kepada mereka,

"Siapakah yang kamu cari?"

Jawab mereka, "Yesus dari Nazaret!"

Kata Yesus kepada mereka, "Akulah Dia."

Yudas yang mengkhianati Yesus

berdiri juga di situ bersama-sama mereka.

Ketika Yesus berkata kepada mereka 'Akulah Dia',

mundurlah mereka, dan jatuh ke tanah.

Maka Yesus bertanya pula, "Siapakah yang kamu cari?"

Jawab mereka, "Yesus dari Nazaret!"

Jawab Yesus, "Telah Kukatakan kepadamu, Akulah Dia.

Jika Aku yang kamu cari, biarkanlah mereka ini pergi."

Demikian terjadi

supaya genaplah firman yang telah dikatakan-Nya:

   Dari mereka yang Engkau serahkan kepada-Ku,

   tidak seorang pun yang Kubiarkan hilang.


Lalu Simon Petrus, yang membawa pedang, menghunus pedang itu,

dan menetakkannya kepada hamba Imam Agung

dan memutuskan telinga kanannya.

Nama hamba itu Malkhus.

Kata Yesus kepada Petrus,

"Sarungkanlah pedangmu itu!

Bukankah Aku harus minum cawan

yang diberikan Bapa kepada-Ku?"


Maka para prajurit serta perwiranya,

dan penjaga-penjaga yang disuruh orang Yahudi itu

menangkap Yesus dan membelenggu Dia.

Lalu mereka membawa Yesus mula-mula kepada Hanas,

karena Hanas adalah mertua Kayafas,

yang pada tahun itu menjadi Imam Agung;

dan Kayafaslah yang telah menasihatkan kepada orang-orang Yahudi:

   Adalah lebih berguna

   jika satu orang mati untuk seluruh bangsa.


Simon Petrus dan seorang murid lain mengikuti Yesus.

Murid itu mengenal Imam Agung,

dan ia masuk ke halaman istana Imam Agung itu.

Tetapi Petrus tinggal di luar dekat pintu.

Maka murid lain tadi, yang mengenal Imam Agung,

kembali ke luar,

bercakap-cakap dengan perempuan penjaga pintu,

lalu membawa Petrus masuk.

Maka kata perempuan penjaga pintu kepada Petrus,

"Bukankah engkau juga murid orang itu?"

Jawab Petrus, "Bukan!"

Sementara itu

hamba-hamba dan penjaga-penjaga Bait Allah telah memasang api arang,

sebab hawa dingin waktu itu,

dan mereka berdiri berdiang di situ.

Petrus pun berdiri berdiang bersama-sama dengan mereka.

Maka mulailah Imam Agung menanyai Yesus

tentang para murid dan tentang ajaran-Nya.

Jawab Yesus kepadanya,

"Aku berbicara terus terang kepada dunia!

Aku selalu mengajar di rumah-rumah ibadat dan di Bait Allah

tempat semua orang Yahudi berkumpul,

Aku tidak pernah berbicara sembunyi-sembunyi.

Mengapakah engkau menanyai Aku?

Tanyailah mereka,

yang telah mendengar apa yang Kukatakan kepada mereka;

sungguh, mereka tahu apa yang telah Kukatakan."

Ketika Yesus berkata demikian,

seorang penjaga yang berdiri di situ menampar muka Yesus

sambil berkata, "Begitukah jawab-Mu kepada Imam Agung?"

Jawab Yesus kepadanya,

"Jikalau kata-Ku itu salah, tunjukkanlah salahnya,

tetapi jikalau benar, mengapakah engkau menampar Aku?"


Lalu Hanas mengirim Yesus terbelenggu kepada Kayafas,

Imam Agung.

Simon Petrus masih berdiri berdiang.

Kata orang-orang di situ kepadanya,

"Bukankah engkau juga seorang murid Yesus?"

Petrus menyangkalnya, katanya, "Bukan!"

Salah seorang hamba Imam Agung,

keluarga dari hamba yang telinganya dipotong Petrus,

berkata kepadanya, "Bukankah engkau kulihat di taman itu

bersama-sama dengan Yesus?"

Maka Petrus menyangkal lagi

dan ketika itu berkokoklah ayam.


Keesokan harinya

mereka membawa Yesus dari istana Kayafas ke gedung pengadilan.

Ketika itu hari masih pagi.

Mereka sendiri tidak masuk ke gedung pengadilan itu,

supaya jangan menajiskan diri,

sebab mereka hendak makan Paskah.

Sebab itu Pilatus keluar mendapatkan mereka dan berkata,

"Apakah tuduhan kamu terhadap orang ini?"

Jawab mereka kepadanya,

"Jikalau Ia bukan penjahat,

kami tidak menyerahkan-Nya kepadamu!"

Kata Pilatus kepada mereka,

"Ambillah Dia, dan hakimilah Dia menurut hukum Tauratmu!"

Kata orang-orang Yahudi itu,

"Kami tidak diperbolehkan membunuh seseorang."

Demikian terjadi

supaya genaplah firman Yesus

yang dikatakan-Nya untuk menyatakan bagaimana Ia akan mati.


Maka kembalilah Pilatus ke dalam gedung pengadilan,

lalu memanggil Yesus dan bertanya kepada-Nya,

"Engkau inikah raja orang Yahudi?"

Jawab Yesus,

"Dari hatimu sendirikah engkau katakan hal itu?

atau adakah orang lain yang mengatakannya kepadamu tentang Aku?"

Kata Pilatus, "Orang Yahudikah aku?

Bangsamu sendiri dan imam-imam kepala

telah menyerahkan Engkau kepadaku,

apakah yang telah Engkau perbuat?"

Jawab Yesus, "Kerajaan-Ku bukan dari dunia ini!

Jika Kerajaan-Ku dari dunia ini,

pasti hamba-hamba-Ku sudah melawan,

supaya Aku jangan diserahkan kepada orang Yahudi.

Akan tetapi Kerajaan-Ku bukan dari sini!"

Maka kata Pilatus kepada-Nya,

"Jadi Engkau adalah raja."

Jawab Yesus, "Seperti yang kaukatakan, Aku adalah raja!

Untuk itulah Aku lahir, dan untuk itulah Aku datang ke dalam dunia ini,

yakni untuk memberi kesaksian tentang kebenaran;

setiap orang yang berasal dari kebenaran mendengarkan suara-Ku."

Kata Pilatus kepada-Nya, "Apakah kebenaran itu?"


Sesudah mengatakan demikian,

Pilatus keluar lagi mendapatkan orang-orang Yahudi,

dan berkata kepada mereka,

"Aku tidak mendapati kesalahan apa pun pada-Nya.

Tetapi padamu ada kebiasaan,

bahwa pada hari raya Paskah aku membebaskan seorang bagimu.

Maukah kamu,

supaya aku membebaskan raja orang Yahudi ini bagimu?"

Mereka pun berteriak,

"Jangan Dia, melainkan Barabas!"

Barabas adalah seorang penyamun.


Lalu Pilatus mengambil Yesus dan menyuruh orang menyesah Dia.

Prajurit-prajurit menganyam sebuah mahkota duri,

dan menaruhnya di atas kepala Yesus.

Mereka mengenakan jubah ungu pada-Nya,

dan sambil maju ke depan mereka berkata,

"Salam, hai raja orang Yahudi!"

Lalu mereka menampar wajah Yesus.


Pilatus keluar lagi dan berkata kepada Orang-orang Yahudi,

"Lihatlah aku membawa Dia ke luar kepada kamu,

supaya kamu tahu

bahwa aku tidak mendapati kesalahan apa pun pada-Nya."

Lalu Yesus keluar, bermahkota duri dan berjubah ungu.

Maka kata Pilatus kepada mereka,

"Lihatlah Manusia ini!"

Ketika para imam kepala dan penjaga-penjaga itu melihat Yesus,

berteriaklah mereka, "Salibkan Dia, salibkan Dia!"

Kata Pilatus kepada mereka,

"Ambil saja sendiri dan salibkanlah Dia!

Sebab aku tidak mendapati kesalahan apa pun pada-Nya."

Jawab orang-orang Yahudi itu kepadanya,

"Kami mempunyai hukum, dan menurut hukum itu Ia harus mati,

sebab Ia menganggap diri-Nya sebagai Anak Allah."


Ketika Pilatus mendengar perkataan itu bertambah takutlah ia.

lalu ia masuk pula ke dalam gedung pengadilan,

dan berkata kepada Yesus, "Dari manakah asal-Mu?"

Tetapi Yesus tidak memberi jawab kepadanya.

Maka kata Pilatus, "Tidakkah Engkau mau bicara dengan aku?

Tidakkah Engkau tahu

bahwa aku berkuasa untuk membebaskan Engkau,

dan berkuasa juga untuk menyalibkan Engkau?"

Yesus menjawab,

"Engkau tidak mempunyai kuasa apa pun terhadap Aku,

jikalau kuasa itu tidak diberikan dari atas.

Sebab itu,

dia yang menyerahkan Aku kepadamu, lebih besar dosanya."

Sejak itu Pilatus berusaha untuk membebaskan Yesus,

tetapi orang-orang Yahudi berteriak,

"Jikalau engkau membebaskan Dia,

engkau bukanlah sahabat Kaisar.

Setiap orang yang menganggap diri raja, melawan Kaisar."


Ketika mendengar perkataan itu,

Pillatus menyuruh Yesus ke luar.

Lalu ia duduk di kursi pengadilan,

di tempat yang bernama Litostrotos,

dalam bahasa Ibrani: Gabata.

Hari itu ialah hari persiapan Paskah,

kira-kira jam dua belas.

Kata Pilatus kepada orang-orang Yahudi itu,

"Inilah rajamu!"

Maka berteriaklah mereka,

"Enyahkan Dia! Enyahkan Dia! Salibkan Dia!"

Kata Pilatus kepada mereka,

"Haruskah aku menyalibkan rajamu?"

Jawab imam-imam kepala,

"Kami tidak mempunyai raja selain Kaisar!"

Akhirnya Pilatus menyerahkan Yesus kepada mereka

untuk disalibkan.

Dan mereka menerima Yesus.


Sambil memikul salib-Nya, Yesus dibawa ke luar kota,

ke tempat yang bernama Tengkorak, dalam

bahasa Ibrani: Golgota.

Di situ Yesus disalibkan,

dan bersama dengan Dia disalibkan juga dua orang lain,

sebelah-menyebelah, Yesus di tengah-tengah.

Pilatus menyuruh memasang juga tulisan di atas kayu salib itu,

bunyinya: Yesus, orang Nazaret, Raja orang Yahudi.

Banyak orang Yahudi membaca tulisan itu,

sebab tempat Yesus disalibkan itu letaknya dekat kota,

dan kata-kata itu tertulis dalam bahasa Ibrani, Latin dan bahasa Yunani.

Maka kata imam-imam kepala kepada Pilatus,

"Jangan engkau menulis: Raja orang Yahudi,

tetapi: Ia mengatakan: Aku adalah Raja orang Yahudi."

Jawab Pilatus, "Apa yang kutulis, tetap tertulis!"


Sesudah prajurit-prajurit itu menyalibkan Yesus,

mereka mengambil pakaian Yesus,

lalu membaginya menjadi empat bagian,

masing-masing prajurit satu bagian.

Jubah Yesus pun mereka ambil.

Tetapi jubah itu tidak berjahit,

dari atas ke bawah merupakan satu tenunan utuh.

Karena itu mereka berkata seorang kepada yang lain,

"Janganlah kita membagi jubah ini menjadi beberapa potong,

tetapi baiklah kita membuang undi

untuk menentukan siapa yang akan mendapatnya."

Demikianlah terjadi

supaya genaplah yang ada tertulis dalam Kitab Suci:

   Mereka membagi-bagi pakaian-Ku di antara mereka,

   dan membuang undi atas jubah-Ku.

Hal itu telah dilakukan oleh prajurit-prajurit itu.


Di dekat salib Yesus berdirilah ibu Yesus dan saudara ibu-Nya,

Maria, isteri Klopas dan Maria Magdalena.

Ketika Yesus melihat ibu-Nya

dan murid yang Ia kasihi di sampingnya,

berkatalah Ia kepada ibu-Nya,

"Ibu, inilah anakmu!"

dan kemudian kata-Nya kepada murid itu,

"Inilah ibumu!"

Dan sejak saat itu

murid itu menerima Maria di dalam rumahnya.


Sesudah itu, karena Yesus tahu

bahwa segala sesuatu telah selesai,

berkatalah Ia

-- supaya genaplah yang ada tertulis dalam Kitab Suci, --

"Aku haus!"


Di situ ada suatu buli-buli penuh anggur asam.

Maka mereka mencucukkan bunga karang pada sebatang hisop,

mencelupkannya dalam anggur asam itu,

lalu mengunjukkannya ke mulut Yesus.

Sesudah meminum anggur asam itu,

berkatalah Yesus, "Sudahlah selesai!"

Lalu Yesus menundukkan kepala dan menyerahkan nyawa-Nya.


(semua hening sejenak menerungkan wafat Tuhan)


Karena hari itu adalah hari persiapan Paskah,

dan supaya pada hari Sabat

mayat-mayat itu tidak tinggal tergantung pada kayu salib

-- sebab Sabat itu adalah hari yang besar --

maka datanglah orang-orang Yahudi kepada Pilatus

dan meminta kepadanya supaya kaki orang-orang itu dipatahkan,

dan mayat-mayatnya diturunkan.

Maka datanglah prajurit-prajurit,

lalu mematahkan kaki orang yang pertama dan kaki orang yang lain

yang disalibkan bersama-sama dengan Yesus.

Tetapi ketika mereka sampai kepada Yesus

dan melihat bahwa Ia telah mati,

mereka tidak mematahkan kaki-Nya.

Tetapi seorang dari antara prajurit itu

menikam lambung Yesus dengan tombak,

dan segera mengalirlah darah serta air ke luar.

Dan orang yang melihat sendiri hal itu

yang memberi kesaksian ini, dan benarlah kesaksiannya.

Dan ia tahu bahwa ia mengatakan kebenaran,

supaya kamu juga percaya.

Sebab hal itu terjadi,

supaya genaplah yang tertulis dalam Kitab Suci:

   Tidak ada tulang-Nya yang akan dipatahkan;

dan nas lain yang mengatakan:

   Mereka akan memandang Dia yang telah mereka tikam.


Sesudah itu Yusuf dari Arimatea,

(Yusuf ini adalah seorang murid Yesus,

tetapi sembunyi-sembunyi karena takut kepada orang-orang Yahudi)

meminta kepada Pilatus,

supaya ia diperbolehkan menurunkan jenazah Yesus.

Pilatus meluluskan permintaan Yusuf.

Maka datanglah Yusuf dan menurunkan jenazah Yesus

Juga Nikodemus datang ke situ.

Dialah yang dulu datang malam-malam kepada Yesus.

Ia membawa campuran minyak mur dengan minyak gaharu,

kira-kira lima puluh kati beratnya.

Mereka mengambil jenazah Yesus,

mengapaninya dengan kain lenan

dan membubuhinya dengan rempah-rempah

menurut adat pemakaman orang Yahudi.

Di dekat tempat Yesus disalibkan itu ada suatu taman,

dan dalam taman itu ada suatu kubur baru

yang di dalamnya belum pernah dimakamkan seseorang.

Karena hari itu hari persiapan orang Yahudi,

sedang kubur itu tidak jauh letaknya,

maka mereka meletakkan jenazah Yesus di situ.


Demikianlah sabda Tuhan.

Kamis, 01 April 2021

Membasuh kaki, dibasuh kaki, saling .membasuh kaki

 *P.Benediktus Bere Mali, SVD*








Kel 12:1-8.11-14

1Kor 11:23-26

Yoh 13:1-15


Gagasan Homili Kamis Putih 1 April 2021


Inti Hari Raya Kamis Putih adalah Pembasuhan Kaki  dan Perjamuan Ekaristi.


 Perayaan Ekaristi adalah jantung hidup Gereja Yesus historis dan Gereja Kristus yang bangkit. Untuk mengambil bagian di dalam Ekaristi setiap murid Kristus harus dibasuh agar memiliki hati yang bersih. Pembasuhan Kaki para murid oleh Yesus sebagai  seorang guru adalah budaya baru bagi orang Yahudi. 


Sedangkan budaya lama bangsa Yahudi adalah seorang murid yang membasuh kaki murid, seorang yunior yang membasuh kaki senior, seorang bawahan yang membasuh kaki seorang atasannya. 


Budaya baru ini adalah antithesis terhadap budaya lama. 


Sedangkan sintesisnya adalah saling membasuh kaki agar semua bersih sebagai syarat mengambil bagian di dalam perjamuan Ekaristi. 


Aplikasinya saling membasuh, saling menyempurnakan, saling mengkritisi untuk kebaikan bersama semua orang adalah ideal hidup bersama dalam dunia dewasa ini baik dalam komunitas mikro maupun di dalam komunitas  makro dengan basiknya 8 tahap saling membasuh satu sama lain yaitu asah otak bersama atau saling asah otak untuk memiliki konsep yang sama, asah rasa at home di dalam komunitas, ada aksi teratur  bersama dalam komunitas, ada program bersama baik program harian-mingguan-bulanan-tahunan, ada implementasi program bersama, ada monitor atas implementasi program bersama, ada evaluasi atas implementasi program  bersama, ada revisi atas program bersama untuk kebaikan bersama. Delapan tahap saling  Pembasuhan  di atas untuk melihat hubungan kokoh antara Ekaristi sebagai jantung hidup rohani kita dengan pembersihan personal maupun sosial di dalam hidup bersama komunitas Kristiani.***

Membasuh kaki, dibasuh kaki, saling membasuh kaki

 *P.Benediktus Bere Mali, SVD*




Kel 12:1-8.11-14

1Kor 11:23-26

Yoh 13:1-15


Gagasan Homili Kamis Putih 1 April 2021


Inti Hari Raya Kamis Putih adalah Pembasuhan Kaki  dan Perjamuan Ekaristi.


 Perayaan Ekaristi adalah jantung hidup Gereja Yesus historis dan Gereja Kristus yang bangkit. Untuk mengambil bagian di dalam Ekaristi setiap murid Kristus harus dibasuh agar memiliki hati yang bersih. Pembasuhan Kaki para murid oleh Yesus sebagai  seorang guru adalah budaya baru bagi orang Yahudi. 


Sedangkan budaya lama bangsa Yahudi adalah seorang murid yang membasuh kaki murid, seorang yunior yang membasuh kaki senior, seorang bawahan yang membasuh kaki seorang atasannya. 


Budaya baru ini adalah antithesis terhadap budaya lama. 


Sedangkan sintesisnya adalah saling membasuh kaki agar semua bersih sebagai syarat mengambil bagian di dalam perjamuan Ekaristi. 


Aplikasinya saling membasuh, saling menyempurnakan, saling mengkritisi untuk kebaikan bersama semua orang adalah ideal hidup bersama dalam dunia dewasa ini baik dalam komunitas mikro maupun di dalam komunitas  makro dengan basiknya 8 tahap saling membasuh satu sama lain yaitu asah otak bersama atau saling asah otak untuk memiliki konsep yang sama, asah rasa at home di dalam komunitas, ada aksi teratur  bersama dalam komunitas, ada program bersama baik program harian-mingguan-bulanan-tahunan, ada implementasi program bersama, ada monitor atas implementasi program bersama, ada evaluasi atas implementasi program  bersama, ada revisi atas program bersama untuk kebaikan bersama. Delapan tahap saling  Pembasuhan  di atas untuk melihat hubungan kokoh antara Ekaristi sebagai jantung hidup rohani kita dengan pembersihan personal maupun sosial di dalam hidup bersama komunitas Kristiani.***

Rabu, 31 Maret 2021

Bukan Menjadi Musuh di dalam Selimut

  *P. Benediktus Bere Mali, SVD* 


Renungan Hari Rabu dalam Pekan Suci

31 Maret 2021

Yes 50:4-9a

Mzm.69:8-10.21bcd-22.31.33-34,R:14bc

Mat 26:14-25



Mengkambinghitamkan yang lain untuk membenarkan diri adalah sebuah cara menutupi kekurangan, keterbatasan, kesalahan, kedosaan diri di hadapan yang lain. Orang lain atau yang lain disalahkan untuk senantiasa membenarkan diri sering kita alami di dalam kehidupan kita bersama dengan orang lain, baik di dalam keluarga, komunitas, maupun di dalam masyarakat tempat kita hidup. Sangat kasihan bahwa Iblis selalu dituduh atau dikambinghitamkan sebagai pribadi yang sedang merasuki Yudas Iskariot sehingga dia menggunakan kaki kebenasannya berjalan menuju musuh-musuh Yesus untuk menyerahkan Yesus kepada para musuh-Nya dengan seharga 30 keping perak adalah seharga jual beli seorang hamba dalam masyarakat Yahudi pada zaman itu. Kasihan Iblis-lah dikambinghitamkan, yang dituduh menjadi sumber pengkhianatan dari Yudas Iskariot terhadap Yesus Sang Gurunya sendiri. 


Freud seorang Psikolog ternama berkata bahwa Kejahatan/Iblis-jahat dan kebaikan/malaekat-baik adalah dua makhluk atau dua sisi yang yang ada di dalam jiwa(psike) setiap manusia. Dua sisi itu seperti dua sisi mata uang perak yang ada di dalam psike manusia. Dua sisi itu seperti pisau bermata dua di dalam jiwa (psike) manusia. Misalnya mengapa seorang yang beragama yang senantiasa menggunakan jubah putih putih sebagai Simbol Kebaikan/malaekat itu perilakunya tidak berperikemanusiaan kepada sesamanya yang tidak sealiran denganya sehingga kebahagiaan orang lain mengalami kekurangan? Atau mengapa seorang kafir: orang Samaria di mata Agama Yahudi, justru memiliki pikiran positif, perasaan empati pada orang yang terluka oleh para perampok/penyamun, yang sedang tergeletak di tepi jalan itu, melihatnya lalu merawat dan melayaninya secara tuntas sampai ia sembuh, sedangkan orang yang beragama Yahudi: imam, lewi, yang lewat di jalan itu, melihat orang yang tak berdaya itu, tetapi tidak melakukan apa-apa terhadapnya? Dua contoh Pertanyaan di atas yang dapat kita menjawabnya secara  pribadi, mempertegas kembali bahwa jiwa manusia memuat Iblis buruk-malaiakat baik sekaligus. Signal baik dan signal buruk sedang bertumbuh dan berkembang subur di dalam jiwa (psike) setiap pribadi manusia. 


Yudas Iskariot sedang lebih mengaktifkan signal kuat bersumber dari jiwa Iblis di dalam dirinya, yang menggerakan kaki kebebasannya berjalan menuju jalan kegelapan yaitu menjual Yesus seharga 30 keping perak kepada kepada para musuh Yesus. Kerja signal kuat Iblis buruk Yudas Iskariot itu sungguh sangat berhasil bahwa Yesus diserahkan kepada musuh-Nya atas mediasi Yudas Iskariot, pengkhianat, musuh dalam "selimut" komunitas 12 murid. Betapa jahatnya Yudas Iskariot yang lebih mengaktifkan signal jiwa Iblis buruk di dalam dirinya. Sebaliknya di dalam bacaan pertama, Yesus tidak seperti Yudas Iskariot yang menggunakan kakinya berjalan pergi kepada musuh-musuh Yesus dan menjual Yesus. Yesaya menggunakan lidah-nya untuk menyampaikan kata-bahasa yang menyelamatkan sesama di sekitar. Yesaya menggunakan telinganya mendengarkan Sabda Allah dan melakukan apa yang didengarnya sesuai kehendak Allah yang setia menyelamatkan semua orang. Yesaya menggunakan inderanya melaksanakan kehendak Allah yang ada di dalam jiwa(psike)nya tetapi mematikan signal buruk yang juga lengket di dalam jiwa(psike)nya juga.


Kita adalah manusia seperti Yudas Iskariot dan Yesaya yang juga memiliki sisi terang dan gelap di dalam jiwa(psike) kita dalam pandangan Psikolog Freud. Kita terinspirasi Yesaya yang lebih mengaktifkan signal jiwa (psike) kebaikan dengan menggunakan telinga untuk setia mendengarkan Sabda Allah dan mengatakan tentang Sabda Allah yang menyelamatkan dan menyejukan hati, rasa, dan budi sesama atau dengan kata lain kata dan  aksi Yesaya untuk selalu menyelamatkan sesama dan dunia. Bukan kata dan aksi kita seperti Yudas Iskariot yang menjadi musuh di dalam selimut dalam keluarga besar para murid Yesus atau menjadi pengkhianat di dalam komunitas 12 murid karena Yudas Iskariot sangat dominan mengaktifkan signal kuat buruk di dalam jiwa(psike)nya dalam perspektif Psikolog Freud. 


Kebebasan adalah satu bagian penting di dalam diri kita. Kita menggunakan kaki kebebasan kita untuk berjalan menuju Terang Sejati dalam Kristus Yesus seperti kaki Yesaya di dalam bacaan pertama dan bukan menggunakan kaki kebebasan kita menuju kegelapan seperti Yudas Iskariot di dalam bacaan Injil hari ini. Ingatlah bahwa psikemu- psikeku-psikekita mengandung signal baik dan buruk sekaligus. Kebebasanmu-kebebasanku-kebebasankita dapat memilih yang baik untuk keselamatan bersama.***

Selasa, 30 Maret 2021

"Mengapa Pemimpin dan Ekonom kelompok 12 para murid Yesus itu sedang mengalami Krisis panggilan?"

   *P.Benediktus Bere Mali, SVD*



Renungan Misa Harian

Selasa dalam Pekan Suci

30 Maret 2021

Yes 49:1-6

Yoh 13:21-33.36-38



"Mengapa Pemimpin dan Ekonom kelompok 12 para murid Yesus itu sedang  mengalami Krisis panggilan?"




Krisis adalah satu bagian dari perkembangan hidup manusia baik secara fisik-biologis, sosial, psikologis, dan spiritual. 12 Murid Yesus adalah orang-orang yang sudah dewasa secara fisik bahkan ada yang sudah mapan dalam pekerjaan lalu meninggalkan pekerjaan mapannya itu kemudian menjadi murid Yesus dan hidup bersama Yesus selama 3 tahun lamanya. Tetapi mereka sebagai manusia mengalami Krisis dalam panggilan mereka sebagai murid Yesus. Yesus sebagai guru mereka lebih mudah dari para murid-Nya. Hanya dalam 3 Tahun mereka hidup bersama Yesus. Formasi mereka sangat singkat kalau dibandingkan dengan situasi formasi kita sekarang. 


Krisis Petrus dan Yudas Iskariot sangat jelas di saat-saat akhir hidup bersama Yesus. Petrus sebagai pemimpin mengalami krisis dan itu akan tampil di dalam penyangkalannya terhadap Yesus. Sekalipun demikian kemudian Petrus bertobat. Kemudian Petrus menjadi pemimpin atau Paus Pertama dalam hirarki Gereja Katolik. Kepemimpinan Petrus diteruskan sampai hari ini dalam diri para Paus penggantinya. 


Sedangkan Yudas Iskariot lebih parah lagi bahwa Yudas mengkhianati Sang Guru dengan menjual Yesus kepada para musuh-Nya seharga jual seorang hamba pada saat itu, sebesar 30 keping perak. Uang itu untuk dirinya sendiri. 


Yudas Iskariot selama hidupnya dalam kelompok 12 murid,  bermain dua kaki yaitu melayani kebutuhan kelompok 12 murid dan sekaligus pada saat yang bersamaan mengumpulkan harta untuk dirinya sendiri. Contoh Yudas mencuri uang dari komunitas kelompok 12 murid untuk dirinya sendiri. Hal ini terungkap saat Maria Magdalena meminyaki kaki Yesus dengan minyak Narwastu yang Mahal harganya. Yudas menegur Yesus bahwa tidak penting meminyaki kaki Yesus dengan minyak Narwastu  yang sangat mahal harganya 300 dinar itu dari persembahan Maria Magdalena kepada Yesus. Lebih Baik uang itu untuk  menolong orang-orang miskin yang lebih membutuhkan. Yudas terlalu masuk pada urusan pribadi Maria Magdalena yang memberikan yang terbaik kepada Yesus.


Tetapi motivasi Yudas bukan itu, ia katakan itu agar  ia  dapat mencuri uang itu untuk dirinya sendiri. Ia menggunakan alasan yang tampak sangat masuk akal di mata publik tetapi setelah menerima uang, karena ia bendahara, uang itu digunakan untuk kepentingan dirinya sendiri.



Di sini kita melihat, Petrus sekalipun mengalami jatuh bangun sebagai murid Yesus,  tetapi toh ia menjadi pelayan Yesus dan umatNya  yang sampai tuntas. Sedangkan Yudas menjadi murid yang melayani  secara tuntas hanya untuk dirinya sendiri dengan sikap oportunis dalam kelompok 12. Hal itu berpuncak pada penjualan Yesus sang Gurunya seharga 30 keping perak seharga seorang hamba pada saat itu. Buahnya Yudas mati bunuh diri. Harta kekayaan duniawi dengan menjual Yesus yang dimilikinya tidak memberi kebahagiaannya, tetapi justru  sebaliknya bahwa ia menjadi orang yang mengalami stress tingkat tinggi dan akhirnya ia mati dengan cara membunuh dirinya sendiri. 


Kita belajar dari Petrus dan Yudas Iskariot. Dua tokoh ini sangat inspiratif dalam melihat realitas pemimpin dan ekonom dalam kenyataan hidup kita baik dalam lingkup kecil maupun makro. Seringkali masalah ada dalam komunitas karena spirit dua tokoh ini secara negatif masih hidup dalam. Komunitas makro maupun mikro. Atau sebaliknya secara positif spirit dua tokoh ini masih berjalan menggunakan kaki mereka di jalan yang benar sesuai arahan Yesus sang Guru sejati pada zaman kita dewasa ini.***

Senin, 29 Maret 2021

Mengapa Maria Magdalena membasuh/meminyaki kaki Yesus dengan minyak Narwastu yang Mahal harganya lalu melapnya dengan rambutnya yang adalah mahkota seorang wanita dalam bangsa Yahudi?

   *P.Benediktus Bere Mali, SVD*


Renungan Misa Harian

Senin, dalam Pekan Suci, 29 Maret 2021

Yes.42:1-7

Mzm.27:1.2.3.13-14

Yoh.12:1-11


Mengapa Maria Magdalena membasuh/meminyaki kaki Yesus dengan minyak Narwastu yang Mahal harganya lalu melapnya dengan rambutnya yang adalah mahkota seorang wanita dalam bangsa Yahudi? 


Kaki Yesus beda dengan kaki Yudas. Yudas menggunakan kakinya untuk kejar materi, uang untuk dirinya sendiri. Contoh dia menggunakan kakinya pergi ke sana kemari untuk mencuri uang seperti dikatakan dalam Injil hari ini tanpa niat baiknya untuk kembali berjalan di jalan yang benar sesuai kehendak Yesus Sang Gurunya. 

Bahkan sampai akhir hidup Yesus, justru Yudas menggunakan kakinya pergi bersekongkol dengan para musuh Yesus dan menyerahkan Yesus kepada para musuh dengan harga hanya 30 keping perak seharga jual beli  seorang hamba pada masa itu. 

Uang itu untuk dirinya sendiri. Yudas benar-benar egois menjual Yesus untuk memperkaya dirinya sendiri. Sebaliknya kaki Maria yang dulunya pendosa dan mendapat harta kekayaan dengan kerjaannya sebagai pelacur, kemudian Yesus mendampinginya secara baik sehingga ia menggunakan kakinya  bukan lagi pergi menjauh dari Yesus dan bukan lagi menjadi pelacur melainkan menjadi orang yang kembali bertobat, menggunakan kakinya berjalan kepada Yesus, meminyaki kaki Yesus dengan minyak Narwastu  yang sangat mahal harganya itu lalu melapnya dengan rambutnya yang adalah tanda mahkota terhormat bagi seorang wanita dalam masyarakat bangsa Yahudi. 

Mengapa kaki Yesus? Karena Yesus menggunakan indera kakinya untuk  berjalan sambil berbuat baik lewat teladan hidup, pewartaan, dan tanda dan mukjizat. Artinya Yesus menggunakan kaki-Nya untuk melakukan hal yang baik, untuk menyelamatkan, untuk membawa kebenaran, kebaikan dan keadilan bagi semua orang lintas batas. Yesus menggunakan kaki untuk berjalan membangkitkan Lazarus. Yesus menggunakan kaki untuk melaksanakan kehendak YAHWEH dengan menjadi seorang hamba YAHWEH yang setia sampai mati seperti dalam Bacaan Pertama hari ini. 


Pengalaman Maria Magdalena akan kaki Yesus berjalan mendatanginya dan menyelamatkannya inilah membangkitkan Maria Magdalena sangat rendah hati di hadapan Yesus dengan meminyaki kaki Yesus sebagai penyelamat atas dirinya dan semua orang, dengan minyak Narwastu yang Mahal harganya dan melap kaki Yesus dengan Rambutnya yang adalah mahkota seorang Yahudi dalam masyarakat Yahudi. Tindakan Maria Magdalena ini menunjukan bahwa Maria Magdalena merendahkan diri serendah-rendahnya di hadapan Allah dan manusia. Maria Magdalena sangat dekat dengan Yesus dan cinta pada Yesus diungkapkannya dengan memberi yang terbaik kepada Yesus sumber kebaikan sejati dan diwujudkan dengan menggunakan kaki berjalan dari satu tempat ke tempat yang lain dalam membagi kebaikan kepada sesama yang dijumpai-Nya. 


Maria pasti melalui pengalaman meminyaki kaki Yesus dengan minyak Narwastu dan membersihkan dengan rambutnya ini mau mengatakan bahwa rambu kepala Simbol mahkota kepala/otak ini dapat digunakan untuk segala sesuatu yang Yesus ajarkan bagi keselamatan semua orang. Pengalaman ini bagi Maria Magdalena sangat spesial, karena kaki Yesus lah yang dapat menyelamatkan dirinya, mempertobatkan dirinya. Maria berterima Kasih kepada Yesus dengan memberikan yang terbaik kepada Yesus.


Pesan bagi kita adalah kaki kita semestinya seperti kaki Yesus yang yang berjalan sambil berbuat baik dalam setiap detik untuk semua orang bukan hanya untuk kepentingan diri sendiri saja. Itulah jejak kaki digital daring dan luring. ****

Minggu, 28 Maret 2021

Yesus Komitmen Menyempurnakan Identitas Agama Bangsa Yahudi

     *P.Benediktus Bere Mali,SVD*


Renungan Misa Hari Minggu Palma, 28 Maret 2021. Tahun B. 


Yes 50:4-7

Mzm. 22:8-9.17-18a.19-20.23-24; Ul"2a

Flp. 2:6-11.

Mrk. 15:1-39


Politik identitas adalah cara paling mudah untuk meraih kuasa dalam dunia perpolitikan. Kelompok mayoritas Suku, bahasa, agama, asal, adalah lahan empuk bagi seorang calon legislatif dan eksekutif untuk  dapat memakai politik identitas dalam kompetisi politik untuk dapat dengan mudah meraih kuasa dan harta bagi dirinya dan bagi pendukungnya berbasis politik identitas. Dalam kompetisi semacam ini hasil akhirnya adalah soal kalah dan memang dan sudah pasti bahwa yang menang adalah calon dari kelompok mayoritas sedangkan kualitas kelompok minoritas sudah pasti mengalami kekalahan. Politik identitas kelompok mayoritas dimainkan oleh team sukses calon eksekutif maupun legislatif semakin mengokohkan kelompok mayoritas dan pada saat yang sama, team sukses membuat kelompok minoritas tidak berdaya dalam bersaing di dunia perpolitikan untuk sebuah kekuasaan dan harta yang bersifat sangat temporal, tidak eternal.


Bangsa Yahudi dan Agama Yahudi sedang berada dalam penjajahan bangsa Roma. Orang Yahudi memiliki identitas utama yaitu Bait Allah Yerusalem adalah tempat doa kepada Yahweh sebagai Allah Esa bagi mereka. Penjajah Roma mengakui dua identitas ini tetapi pada saat yang sama penjajah Roma itu tetap mengontrol semua aktifitas di dalam lingkungan Bait Allah.


Yesus sebagai seorang bangsa Yahudi datang bukan untuk menghapus atau melawan identitas agama bangsa leluhur-Nya. Tetapi Yesus datang dan berkarya serta melakukan Mukjizat untuk menyempurnakan identitas bangsa Yahudi secara nyata. 

Bagi Yesus Bait Allah Yerusalem menjadi tempat doa bagi bangsa Yahudi dan bangsa-bangsa lain karena bagi Yesus Yahweh adalah Allah semua bangsa bukan hanya Allah orang Yahudi. 

Tetapi orang Yahudi berprinsip YAHWEH adalah hanya Allah mereka bukan Allah orang lain. Bagi Yesus YAHWEH itu telah menjadi manusia dalam diri-Nya sendiri, dan Yesus adalah Allah, tetapi bagi orang Yahudi Yesus menghujat Allah.  

Yesus adalah Bait Allah yang hidup dan Yesus adalah YAHWEH yang menjadi manusia dan tinggal di antara kita. Bagi Yesus, inilah yang dimaksudkan dengan Yesus ada dan hadir di antara orang Yahudi untuk menyempurnakan identitas bangsa Yahudi yang berpusat pada Bait Allah sebagai pusat sembah YAHWEH, monoteisme iman bangsa Yahudi, kepercayaan serta pengalaman akan YAHWEH dalam hidup bangsa Yahudi.

 Tetapi orang Yahudi yang anti-Yesus, menggunakan politik identitasnya yang berpusat pada monoteisme, menuduh Yesus sebagai penghujat Allah dan karena alasan itulah Yesus mengalami kisah sengsara, disalibkan, dimakamkan seperti di dalam Injil Markus hari ini. 

Yesus komitmen bahwa Ia datang untuk menyempurnakan identitas bangsa Yahudi yaitu bangsa-Nya sendiri. Dan hal ini bukan dari diri-Nya sendiri tetapi atas kehendak YAHWEH yaitu Allah Bapa-Nya sendiri. Yesus berani menampilkan diri dalam menyempurnakan identitas bangsa Yahudi. Yesus tampil siap menerima semua halangan tantangan hambatan dan gangguan bahkan penderitaan di Salib dan kematian dalam tangan bangsa-Nya sendiri untuk   menyempurnakan identitas bangsa-Nya sendiri. Yesus tampil sebagai seorang Hamba yang tidak mengeluh sedikitpun dalam mengalami siksaan di tangan bangsa-Nya sendiri untuk menyempurnakan identitas bangsa Yahudi. 


Bacaan Pertama secara jelas mengokohkan bahwa sang hamba yang menderita itu tidak menyembunyikan muka ketika dinodai, karena hamba itu tahu bahwa hamba tidak akan mendapat malu. Hamba itu meneguhkan hatinya seperti teguhnya gunung batu karena hamba itu tahu bahwa hamba itu tidak akan mendapat malu. Karena Tuhan menyertai hamba itu. 


Bacaan Kedua, menampilkan spiritualitas hamba dalam diri Yesus dalam menyempurnakan identitas bangsa Yahudi.  Yesus mengosongkan diri-Nya, merendahkan diri secara tuntas dan taat kepada Allah sampai mati, bahkan sampai mati di kayu Salib. 


Yesus menyempurnakan identitas bangsa-Nya sendiri tetapi bangsa-Nya sendiri merasa mapan dengan identitas orde lama yang telah ternoda oleh korupsi, kolusi serta nepotisme. 

Bait Allah digunakan sebagai tempat perdagangan untuk mencari keuntungan bagi dirinya dengan mengorbankan umatnya sendiri. Misalnya Yesus marah dan membalikan meja perdagangan di sekitar Bait Allah menjelang paskah Yahudi  karena pertentangan nilai   kejujuran dan ketulusan yang diperjuangkan Yesus dalam penjualan binatang kurban paskah dan tukar mata uang asing di Bait Allah telah diwarnai oleh manipulasi jabatan imam Yahudi dalam kerja sama dengan kontrol penjajahan Roma untuk mencari keuntungan bagi diri dan mengorbankan Umat sederhana. 

Orang orang Yahudi memperalat Agamanya untuk mencari keuntungan diri semata. Yesus memperjuangkan bahwa Bait Allah yang sesungguhnya untuk doa semua bangsa yang datang ke Bait Allah pada Hari Raya paskah Yahudi untuk sebuah perayaan ingatan dan kenangan akan kemerdekaan dari penjajahan Mesir. 

Ingatan beda dengan kenangan. Ingatan lebih pada persolan kemanusiaan yang terdapat dalam peristiwa pembebasan dari penjajahan Mesir. Sedangkan kenangan lebih pada kemerdekaan itu yang lebih pada adanya karya Roh Kudus dan semangat dan kekuatan dari dalam diri untuk mengalami kemerdekaan itu. 

Kenangan lebih pada keterlibatan Allah sebagai penyelamat dan ditanggapi secara psikologis bahwa setiap orang yang mau bebas dari penjajahan senantiasa  berjuang tanpa lelah melewati proses menuju kemerdekaan seutuhnya  sebagai orang beriman dan dengan perjuangan manusiawi secara total. 


Perayaan Minggu Palma adalah ingatan akan persoalan kemanusiaan yang diperjuangkan Yesus  yaitu Yesus menyempurnakan identitas bangsa Yahudi dalam usianya 33 Tahun. Tetapi para senior dan sesepuh bangsa Yahudi tidak menerima bahkan menyalibkan-Nya sampai mati.

Perayaan Minggu Palma ini adalah Kenangan akan Yesus yang adalah YAHWEH yang menjadi manusia dan tinggal di antara kita, bekerja untuk keselamatan begitu banyak orang, bukan untuk kepentingan diri sendiri saja. Yesus bekerja sampai mati di Salib. 

Perayaan Hari Minggu Palem adalah perayaan Kenangan akan misteri Allah yang telah menjadi manusia dalam diri Yesus adalah Allah yang hidup di antara kita, komitmen pada tugas perutusan-Nya sampai mati di Salib. ***