Sabtu, 02 Maret 2013

Baek Sonde Baek Tanah Timor Lebih Baek


BAIK TIDAK BAIK
ORANG TUA KANDUNG LEBIH BAIK
Homili Sabtu 2 Maret 2013
Mikha 7 : 14 – 15.18-20
Mzm 103 : 1 – 4. 9-12
Luk 15 : 1 – 3 . 11 – 32

P. Benediktus Bere Mali, SVD

Sebuah keluarga memiliki enam anak. Orang tuanya berwatak keras tidak mau mengalah dalam mengemukakan pendapat. Orang tua selalu menempatkan diri sebagai yang menang dalam berkomunikasi dengan seluruh anggota keluarga. Anak-anak ketika masih kecil masih mengikuti perkataan dan perintah orang tua. Ketika anak mulai meginjak masa remaja saat memasuki pendidikan setingkat SMA dan pergurun tinggi, orang tua yang senantiasa merasa yang menang mulai ditantang dengan sikap kritis anak-anak. Anank-anak dengan sikap kritisnya juga tidak mau mengalah berhadapan dengan orang tuanya. Anak keras pendirian. Orang tua keras pendirian. Memang tepat dikatakan “buah jatuh tidak jauh dari pohonnya.” Pohon orang tua yang keras pendirian melahirkan anak-anak yang keras pendiriannya juga. Konflik senantiasa terjadi di dalam keluarga itu. Bahkan anak lari meninggalkan orang tua dari rumah dan pergi ke keluarga terdekat.
Pengalaman anak tinggal bukan serumah dengan kedua orang tua punya cerita tersendiri. Awal hidup dengan orang lain selalu memberikan yang menarik. Seminggu kemudian, anak mulai merasakan aneka penolakan dari tempat tingal itu. Penolakan itu mulai dari sikap, ekspresi raut wajah dan bahkan dengan kata – kata dari anggota keluarga terhadap anak yang bukan anak kandung dalam rumah tersebut. Anak itu merasa serba sunkan untuk makan, bicara, dan berekspresi secara bebas di dalam keluarga baru itu. Ia seolah-olah menempatkan diri sebagai orang yang tidak keras kepala seperti di rumah orang tua kandungnya. Selama kurang lebih sebulan tinggal dengan orang lain, anak itu mulai sadar dan berkata dalam hati “baik tidak baik keluarga orang tua kandung lebih baik. Jelek tidak jelek, keluarga asing lebih jelek.”  Kesadaran itu lahir dari pengalaman sekian lama meninggalkan keluarga orang tua kandung dan pergi tinggal bersama keluarga asing.
Kesadaran itu kemudian membimbing anak itu berpamitan dengan keluarga asing itu dan kembali kepada rumah asalnya yaitu rumah kedua orang tua kandung. Ketika tiba di rumah, anak itu memeluk kedua orang tuanya dan dengan meneteskan air mata berkata kepada kedua orang tuanya : “baik tidak baik keluarga bapa dan mama kandung lebih baik. Jelek tidak jelek keluarga asing lebih jelek”. Orang tua yang dulunya selalu konflik dengan anaknya dengan penuh harapan dan cinta menerima anaknya di dalam rumahnya. Anak pun mulai saat itu menghargai kedua orang tuanya. Pendidikan tinggi anaknya membuat pola pikir anak berubah dalam berkomunikasi dengan orang tua yang keras pendirian. Anak yang berpendidikan menempatkan diri pada posisi mengalah dan dengan ketenangan memberikan nasihat pada orang tua pada saat yang tepat sehingga arang tua pun semakin menyadari kelemahan dan kekurangannya. Dengan demikian dari hari ke hari terjadi kemajuan yang baik di dalam keluarga itu.
Injil hari ini adalah berbicara tentang kepergian anak bungsu meninggalkan rumah kedua orang tuanya setelah meminta harta kekayaan yang menjadi bagiannya dari orang tuanya. Orang tua pun bukan melarang anak bungsu tetapi membiarkan anaknya pergi meninggalkan rumah orang tua kandung dan tinggal di mana saja dia suka menggunakan harta yang telah diterimanya. Rupanya kedua orang tuanya menggunakan prinsip “jelek tidak jelek rumah orang asing lebih jelek” atau kedua orang tua memakai prinsip “baik tidak baik rumah arang tua kandung lebih baik”. Orang tua melepaskan anak bungsunya pergi dan membiarkan anaknya belajar dari pengalaman tinggal dengan orang asing, dan menemukan sendiri bahwa “baik tidak baik rumah orang tua kandung lebih baik”.  Paradigma yang digunkan orang tua dalam perumpamaan ini benar.
Anak pergi membawa uang yang telah orang tua berikan kepadanya. Anak keluar dari rumah sudah memiliki kuasa penuh untuk menentukan seluruh arah hidupnya sesuai dengan harta yang menjadi bagiannya yang telah diberikan kedua orang tuanya. Tiba di tempat baru yang dituju, ia hidup berpesta pora dan bahkan jatuh dalam dunia pelacuran. Orang tua membiarkan anaknya mengalami semuanya itu.
Kesempatan berpesta pora semakin hari semakin berkurang. Dana untuk hidup berfoya-foya pun semakin lama semakin menipis hingga pada titik tertentu, anak itu kehabisan uang sama sekali sehingga makan pun dia harus ke kandang babi makan bersama makanan babi. Semakin lama semakin tersadarkan oleh pengalaman tinggal jauh dari kedua orang tua. Paradigma “baik tidak baik rumah orang tua kandung lebih baik” menjadi nyata di dalam pikirannya. Dia pun berdasarkan pandangan di atas bangkit meninggalkan kandang babi menuju rumah Bapa dengan aneka perasaan yang menghantui dirinya. Dia takut kepada saudara dan saudarinya menolak dirinya karena jatah harta untuknya tidak disediakan lagi oleh kedua orang tua. Dia takut kedua orang tuanya tidak menerimanya lagi sebagai anak kandungnya. Dia takut kalau toh semua keluarga kandungnya menolaknya, dia harus ke mana lagi.  Dalam aneka perasaan dan prasangka yang menghantui dirinya, dia memutuskan pergi ke rumah Bapa.
Dia tiba di rumah, semua prasangkanya tidak terbukti. Justru orang tua dengan penuh kerinduan buah hatinya telah lama pergi meninggalkan rumah induk, kembali ke pangkuan rumah orang tua kandung. Kedua orang tua menerimanya dengan penuh pesta pora. Kedua orang tuanya memberikan pakaian yang istimewa. Semua yang diberikan kepadanya adalah yang terbaik dari kedua orang tuanya.
Orang tua yang melahirkan. Sejahat apapun anak, anak tetaplah buah kasih kedua orang tua. Orang tua tetap memberikan kasihNya yang total kepada anaknya. Kedua orang tua bersyukur karena anaknya telah berubah berdasarkan pengalaman sebagai guru yang paling bijaksana. Anak dengan pengalaman itu diteguhkan secara sungguh bahwa “baik tidak baik kedua orang tua kandung lebih baik. Baik tidak baik rumah sendiri lebih baik.”  Pengalaman anak itu membawa anak menyatukan satu pemahaman bahwa “baik tidak baik rumah orang tua kandung lebih baik.”
Pengalaman yang adalah guru yang paling bijaksana itu membuat anak itu berpikir berkali-kali untuk tidak melakukan dosa dan pelanggaran yang sama yang mengantar dia untuk melalui pengalaman jatuh yang serupa di dalam kehidupan yang akan datang. Pengalaman pertobatan anak itu dari dosa membuat dia tidak akan melakukan kesalahan yang sama untuk kedua kalinya.
Kita pun barangkali melakukan kesalahan yang mengenaskan dalam hidup kita. Kita ketika bertobat dari dosa yang mengerikan itu, kita pun tidak ingin melakukan dosa yang sama. Bagi saya perumpamaan ini bukan perumpamaan tentang anak yang hilang tetapi perumpamaan tentang anak yang tidak hilang. Anak yang tidak hilang karena dia yang pergi jauh menghilang dari rumah orang tua kandung telah kembali ke dalam rumah kedua orang tua kandung. Kalau perumpamaan tentang anak yang hilang maka anak itu setelah menghilang dari rumah kedua orang tua kandung, tidak kembali lagi untuk selama-lamanya.
 Anak itu berdosa tetapi sudah bertobat. Anak itu hilang tetapi sudah ditemukan kembali. Anak itu pergi dari rumah tetapi sudah kembali ke rumah. Anak itu tinggal lama di luar rumah tetapi sudah kembali tinggal dalam rumah kedua orang tua.
Berdosa berarti berjalan meninggalkan rumah Bapa. Bertobat berarti berjalan meninggalkan kegelapan dosa pemborosan dan dosa pelacuran kembali kepada pangkuan Allah Bapa yang Maha Murah, Maha Pengasih serta Maha Pengampun.
Anak hanya sekali pergi meninggalkan Rumah Bapa. Anak itu kembali kepada Bapa dan tidak akan untuk kedua kalinya meninggalkan Bapa untuk yang kedua kalinya. Karena itu perumpamaan tentang anak yang tidak hilang itu ditulis hanya sekali saja dalam Injil. Alasannya jelas bahwa tidak ada kesempatan kedua bagia anak yang tidak hilang itu untuk hilang lagi. Tidak ada kesempatan kedua untuk jatuh dalam dosa yang sama dalam hidupnya.

Seabad SVD Bungakan Modal-Nya di Lahurus - Timor - Indonesia

Dipercaya Bungakan Modal-Nya

Homili Jumat Pertama 1 Maret 2013
(Kej 37:3-4.12-13a.17b-28; Mat 21:33-43.44-45)

P. Benediktus Bere Mali, SVD

Seorang pemodal pasti dapat  memberikan modalnya kepada orang yang dipercaya untuk mengembangkan uangnya agar uangnya berbunga baik untuk dirinya maupun untuk pemodal.  Sebaliknya seorang pemodal tidak akan memberikan modalnya kepada orang yang tidak mampu membungakan modal yang dia terima. Pemodal pun akan mengambil kembali modal yang telah diberikan kepada  orang yang dipercaya  itu, kalau ia tidak dapat mengembangkan modal itu. Modal itu akan diberikan kepada orang lain yang lebih dapat membungkan modal  itu.
Injil hari ini berbicara menyangkut modal, pemodal, penerima modal dalam kaitannya dengan pengembangan atau perambatan Kerajaan Allah di dalam dunia ini.  Pemodal adalah Tuhan sendiri. Modal adalah nilai – nilai Kerajaan Allah. Nilai-nilai Kerajaan Allah itu adalah keadilan dan kedamaian, kebaikan dan kebenaran, kejujuran dan tranparansi manajemen. Penerima modal yang diberikan pemodal adalah kaum beriman. Penolak modal dari pemodal adalah  orang kafir. Penolak itu adalah mereka yang memiliki niat jahat seperti saudara-saudara Yusuf yang dengki dan iri hati serta rencana membunuh Yusuf. Perencanaan  pembunuhan Yusuf itu kemudian dialihkan dengan menjual Yusuf dengan harga seorang hamba yang dijual kepada raja pada saat itu. Mereka demi materi, nilai hidup dan persaudaraan dikorbankan. Mereka yang menerima modal Kerjaan Allah adalah Ruben dan Yehuda yang senantiasa meyakinkan saudara-saudara yang lain untuk tidak membunuh Yusuf karena dia adalah saudara mereka.
Tuhan memberikan modal Kerajaan Allah itu kepada orang yang terpilih layak menerima Kerajaan Allah. Orang yang menerima modal itu adalah mereka  yang beriman kepadaNya. Harapan Tuhan atas penerima modal adalah membungakan modal Kerajaan Allah itu kepada sesama dalam tugas perutusannya sebagai pebisnis di perusahaan spiritual Tuhan Yesus sebagai  Kerajaan Allah yang telah menjadi nyata dan tinggal di antara kita.  Penerima modal yang tidak kreatif  progresif membungakan modal nilai-nilai Kerajaan Allah itu membangkitkan pemodal menarik kembali modal itu dan modal itu diberikan kepada orang lain yang dapat dipercaya untuk mengembangkan modal itu. Hal itu ditegaskan dalam Sabda Allah ini : "Kerajaan Allah akan diambil dari padamu dan akan diberikan kepada suatu bangsa yang akan menghasilkan buah Kerajaan itu".  Intisari Sabda Allah ini sangat jelas.  Bangsa Israel adalah bangsa terpilih untuk mengembangkan modal imannya kepada Tuhan. Pengembangan modal iman itu bertujuan agar setiap orang beriman dapat berkembang baik secara kualitas maupun secara kuantitas. Tetapi karena Israel yang telah dipercaya Tuhan untuk mengembangkan modal Kerajaan Allah itu, tidak dapat membungakan modal yang telah diterimanya, maka Allah mengambil inisiatif mengambil kembali modal Kerajaan Allah itu, lalu modal itu diberikan kepada bangsa lain yang dipandang lebih layak dan pantas mengembangkan modal Kerajaan Allah itu.
Bangsa-bangsa lain yang menerima modal Kerajaan Allah itu termasuk kita yang beriman kepada Kristus Yesus pada saat ini di tempat kita masing-masing. Belajar dari kegagalan bangsa terpilih merambatkan Kerajaan Allah, kita semestinya membangun sebuah habitualisasi iman kepada Yesus Kristus dalam kata dan laku baik secara internal ke dalam Gereja untuk membangun kehidupan keimanan yang berkualitas maupun secara eksternal perambatan iman akan Kristus kepada dunia manusia yang belum mengenal Kristus Yesus menjadi mengenal dan beriman kepada Tuhan Yesus Kristus, sebagai upaya nyata membangun umat dalam kuantitasnya berjalan menuju pintu kualitas iman yang setia menanti.

Hari ini adalah tepat 100 Tahun SVD Misi di Lahurus – Timor – Indonesia. Serikat Sabda Allah adalah orang – orang pilihan Allah. Allah memberikan modalNya yaitu Kerajaan Allah yang isinya Kejujuran dan Transparansi merambatkan Kerajaan Allah di tanah misi baik secara eksternal kepada umat di paroki atau pastoral kategorial yang dilaksanakan setiap anggota SVD maupun secara internal komunitas SVD dan terutama ke dalam diri sendiri sebagai pawer setiap SVD dalam misi dewasa ini dan akan datang. Tanpa manajemen misi SVD yang jujur dan transparan melahirkan keraguan umat yang dilayani dan itu akan berdampak negatif bagi perjalanan misi SVD ke depan. Kerajaan Allah itu juga meliputi keadilan dan kedamaian, kebaikan dan kebenaran bagi semua orang lintas batas. Ketika misi SVD menyempitkan pandangan akan kebenaran dan keadilan, kebaikan dan kebenaran hanya secara internal atau hanya secara eksternal dalam pelayanan dan hidup berkomunitas, itu adalah awal kehilangan kepercayaan dari Allah yang hadiri di dalam diri sesama manusia atau umat yang dilayani. Tidak dipercaya mengembangkan modalNya di dalam perjalanan misi SVD meruakan sesuatu yang sama sekali tidak diharapkan. SVD sejegat berjuang menjauhkan diri dari  pemodal akan mengambil modalNya dari kita dan lalu modal itu diberikan kepada orang lain yang lebih mampu membungakan modalNya di mata Allah yang secara nyata di dalam hati nurani umat manusia yang dilayani.

Pastoral kategorial menjadi fokus SVD ke depan. Mengapa? Paroki-paroki di NTT hampir semuanya tidak ditangani imam-imam SVD. Hanya satu dua paroki yang ditangani oleh SVD. Lahan misi teritorial semakin minim bagi misi SVD. Tetapi lahan misi kategorial sangat banyak. Fokus pelayanan pada pastoral kategorial tidak mematikan komunikasi dengan pemimpin Gereja Lokal. Pelayanan kategorial ada di atas teritori wilayah keuskupan. Dialog yang terbuka dengan uskup setempat merupakan awal yang baik misi kategorial SVD di Indonesia.  Tenaga-tenaga profesional di setiap lini pastoral kategorial sesegera mungkin dipersiapkan. Peran pemimpin untuk melayani, secara serius memutuskan dalam kebijaksanaan Allah untuk persiapan SDM SVD yang siap diterjunkan ke mandala misi kategorial.



Minggu, 03 Februari 2013

Homili Minggu 3 Februari 2013



 “BUKAN SIAPA  TETAPI  APA “

Yer 1 : 4 - 5; 17 -19;
1Kor 13 : 4 - 13;
 Luk  4 : 21 – 30

Homili Minggu 3 Februari 2013
Dari Surabaya Untuk Dunia


*P. Benediktus Bere Mali, SVD*


Kalau diminta memilih antara undangan Seminar dari seorang anak muda yang belum punya nama dengan seorang senior yang sudah terkenal, pasti kebanyakan di antara yang menerima undangan akan lebih tertarik pada pembicara yang lebih senior dan mempunyai nama daripada anak muda yang tidak terkenal. Walapun barangkali anak muda itu lebih kreatif dalam membawakan makalahnya. Mengapa demikian? Karena para undangan terpola dengan sistem berpikir yang dijiwai oleh “bukan apa yang dikatakan tetapi siapa yang mengatakan.”
Demikian juga seorang anak muda yang berbicara meyakinkan, penuh kuasa serta penuh dengan sikap kritis  di dalam sebuah kampung di hadapan  mayoritas para tetua dan para sesepuh, belum tentu semua orang sekampung itu menerima pembicaraannya. Sejumlah dari mereka yang tergolong sesepuh bisa jadi merasa bangga dengan kehadiran anak muda itu dan bisasanya datangnya dari keluarga dekat si pembicara atau yang berprinsip “bukan orangnya tetapi kualitas pembicaraannya.”  Tetapi sesepuh yang lain bisa jadi melihat dengan kacamata iri hati pada si anak muda itu bahkan secara terang-terangan dengan kata maupun sikap ataupun dengan perbuatan menyangkal kehadirannya.
Salah satu tema yang dijadikan bahan diskusi dalam kapitel terakhir adalah kesenjangan antara senior dengan yang yunior dalam hidup berkomunitas. Dalam kehidupan bersama, yang senior seringkali bahkan banyak kali memandang yunior dengan paradigma “ kau baru lahir kemarin belum tahu apa-apa”. Sistem berpikir seperti ini melahirkan tanpa apresiasi dari senior kepada Yunior yang bekerja tekun dan menghasilkan karya pelayanan yang baik bagi banyak umat yang dilayaninya.
Pengalaman yang demikian membawa dampak pada kehidupan berkomunitas, dimana antara senior dengan yunior semakin berjalan jauh dari kekompakan di dalam karya pelayanan. Atau sebaliknya yang Yunior pun dalam kehidupan bersama mengandalkan sistem berpikir “merendahkan senior” karena usia dan kesehatan, dan memandangnya sebagai beban bagi yang yunior, sehingga konflik pun bisa semakin kelihatan. 
Solusi yang mau ditempuh adalah komunikasi dan evaluasi dari hati ke hati sebagai jembatan yang mendamaikan antara yang Yunior dengan Senior di dalam kehidupan bersama di Pastoran atau komunitas karya agar yang diutamakan adalah “Misi Allah” bukan “misi diri” masing-masing baik Yunior maupun senior. Untuk itu paradigma yang menjiwai hidup bersama adalah “kita (senior – Yunior) sama tahu untuk melaksanakan Kehendak Allah bukan kehendak pribadi.”
Yesus adalah Yunior dalam usia tetapi  pemikirannya penuh berbobot. Pembicaraannya sangat berbobot untuk keselamatan dunia itu  ditanggapi dengan penolakan dari orang-orang sedesanya atau sekampungnnya.
Mayoritas orang sekampung Yesus  bahkan para pemuka agama menolak Yesus si anak muda, yang selayaknya dijadikan harapan masa depan dari Kampung Nazaret.
Apakah penolakan itu membuat Yesus mundur dari perjuangannya memberikan yang terbaik dan terbenar bagi masyarakat setempat, agar mendapatkan rasa aman dan tanpa konflik di dalam komunitas Nazareth?

Sikap kritis Yesus semakin bergema di dalam situasi penolakan yang dialaminya. Bahkan Yesus menyampaikan sindiran yang mendalam terhadap BangsaNya sendiri, lewat mujizat yang terjadi atas orang non Israel: janda Sarfaat di saat kelaparan hebat dan Naaman yang sakit disembuhkan karena memiliki iman, harapan dan kasih kepadaNya.
Orang asing non Israel diselamatkan karena mereka yang dulunya dicap sebagai bukan bangsa terpilih kini bertobat menjadi bangsa terpilih oleh iman dan harapan dan kasih kepada Tuhan Yesus. Sebaliknya orang Israel yang dulunya dikenal sebagai bangsa terpilih, tidak mengalami mujizat dari Tuhan karena kehilangan iman, harapan dan kasih. Dengan kata lain Orang Asing berjalan bersama Yesus sebaliknya Orang Israel berjalan bersama egoismenya.

Introduksi Perayaan Ekaristi :

Allah membentuk kita sejak dalam kandungan Ibu yang mengandung kita. Menjadi imam dan bruder  bahkan sebagai awam pun telah direncanakan Allah sejak dalam kandungan ibu yang dengan penuh cinta mengandung kita. Itulah Cinta Tuhan yang kita alami secara nyata di dalam kandungan orang tua kita.

Kini kita jaga dan pelihara serta merawat cinta itu di dalam perjalanan panggilan hidup kita. Artinya meskipun Allah telah membentuk kita sejak awal kekhidupan kita sesuai kehedaknya, kita bukanlah robot yang remote-nya dipegang oleh Allah yang mengarahkan kita kepada kehendakNya.
Tuhan memberikan kebebasan kepada kita sejak di awal kehidupan yang berasal dari Allah sendiri. Dengan kebebasan itulah kita menyetir kendaraan perjalan hidup kita, entah ke kiri atau ke kanan atau berjalan lurus sesuai dengan rambu-rambu Tuhan sendiri. Dengan dasar iman harap dan kasih, kita mengendarai kendaraan hidup kita berjalan pada kehendak Tuhan Yesus dalam suka maupun duka kita, bukan berdasarkan kesombongan yang menghilangkan iman harap dan kasih kepada Tuhan Yesus.

Rabu, 30 Januari 2013

Paradigma Baru Misi SVD 100 Thn Akan Datang



DARI
“DUNIA PAROKI SVD”
 KE
“DUNIA MEDAN PASTORAL KATEGORIAL SVD”

Homili  Pesta St. Yosef Freinademetz
Selasa 29 Januari 2013
Rm 15 : 13 – 19a. 20 - 21; Luk 10 : 1 – 9
Dari Soverdi Surabaya Untuk Dunia

P. Benediktus Bere Mali, SVD

Ketika Kaul Kekal dan ditahbiskan sebagai imam SVD  kemudian tiba acara pengumuman benuming atau penempatan pertama para misionaris di utus ke seluruh dunia, ke segala bangsa, disambut dengan tepukan tangan yang sangat meriah dari umat. Peristiwa ini sadar atau tidak, lahir dari sebuah prinsip misi SVD yang memproklamasikan bahwa sesungguhnya “DUNIA ADALAH PAROKI KITA (SVD)”. Tepukan tangan itu bisa lahir dari sebuah kejutan yang lahir dari kebanggaan umat atas seorang misionaris SVD dari Indonesia ke seluruh dunia untuk menjadi pelayan di Paroki-paroki yang tersebar di seluruh dunia, di segala bangsa, dan suku serta bahasa. Seorang misionaris pun merasa bangga bahagia atas penempatan ke luar negeri karena saat itu ditempatkan sebagai misionaris produk lokal  dalam negeri untuk konsumsi internasional.   

Tetapi ketika uskup-uskup mulai mengambil paroki – paroki dari SVD, bukan lagi tepukan tangan meriah dari SVD, tetapi SVD menyerahkan paroki-paroki yang sebelumnya ditangani oleh SVD kepada Keuskupan, sesuai Hukum Gereja dan Konstitusi Serikat Sabda Allah, SVD menundukkan kepala dan mengheningkan cipta, serta mengangkat wajah menatapi masa depan SVD yang sedang berjalan di atas medan misi, dengan sebuah kepastian menggeser paradigma misi masa lalu “DUNIA ADALAH PAROKI KITA (SVD)” kepada paradigma misi masa kini dan akan datang yang kontekstual “DUNIA ADALAH MEDAN PASTORAL KATEGORIAL KITA (SVD)”.  Pergeseran paradigma misi ini sebuah tawaran yang sesegera mungkin direalisasikan dalam perjalanan SVD ke masa depan.

Kesegeraan itu ditampakkan di dalam pembangunan manusia menuju profesionalisme dalam segala bidang ilmu sosial dan ilmu pasti sebagai pintu masuk kepada misi kategorial SVD di atas  planet ini.  Nilai-nilai  iman Kristiani dialirkan ke dalam bidang-bidang karya setiap konfrater SVD, yang dimainkan secara profesional.  Profesionalisme setiap anggota dalam ilmu sosial, humaniora, ilmu pasti, teologi dan Filsafat adalah keutamaan yang menjadi jantung yang menggerakkan seluruh perjalanan hidup matinya pastoral kategorial SVD. Para pengambil kebijakan dan keputusan sesegera mungkin memberikan porsi yang lebih untuk pastoral kategorial SVD baik di tingkat distrik, rumah-rumah karya, provinsi maupun secara internasional.

Pembangunan profesionalisme Sumber Daya Manusia SVD dalam segala bidang kehidupan sekular maupun spiritual membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Investasi sumber daya manusia  diberi tempat pertama dan utama, dan sekiranya dana pembangunan fisik diminimalisir bahkan diberhentikan. Karena wajah dunia bisa diperbarui secara cepat dan berbobot melewati dunia pendidikan. Hal ini sangat ditekankan oleh seorang tokoh terkenal yaitu Nelson Mandela. Ia berkata : “Pendidikan adalah senjata yang paling ampuh yang dapat  digunakan untuk mengubah wajah dunia” (Kompas, sabtu, 26 Januari 2013, hal. 7 ).

Profesionalisme dalam bidang karya yang diakui legal secara intrenasional baik dalam ilmu sosial, humaniora, ilmu-ilmu pasti, teologi dan filsafat, adalah pintu yeng terbuka lebar bagi SVD untuk pergi ke seluruh dunia mewartakan Khabar Gembira kepada semua orang yang dilayani. Profesionalisme dalam bidang karya yang diakui secara legal pada tingkat internasional, memudahkan SVD masuk Negara-negara yang menutupi pintunya bagi misionaris asing untuk bermisi dengan gaya misi Katolik di dalam negaranya. Misalnya Negara India menutupi pintu bagi misionaris luar India masuk ke Negara India. Tetapi dengan visa sebgai dosen professional diperkenankan untuk mengajar di Universitas di India. Indonesia menutupi pintu bagi misionaris asing masuk ke Indonesia untuk menyebarkan Injil. Tetapi pintu Indonesia terbuka bagi seorang pendidik atau dosen professional untuk mengajar di universitas di Indonesia. China menutupi pintu bagi para misonaris masuk ke China untuk tujuan mewartakan Injil dan menyebarkan agama Katolik. Tetapi pintu terbuka lebar bagi seorang dosen yang professional dalam bidangnya untuk mengajar di suatu universitas yang ada di China. Pintu yang tertutup dibuka dengan pendidikan yang professional. Pendidikan mengubah wajah dunia melintas batas.  


Peristiwa ini membuka pintu hati SVD yang  tertutup rapat oleh kebingungan yang mendalam karena semua paroki SVD diambil alih oleh keuskupan sesuai hukum Gereja dan konstitusi Serikat Sabda Allah. Pintu dunia selalu terbuka lebar bagi misi SVD. Pastoral kategorial sebuah keharusan. Pastoral Parokial ditinggalkan. Paradigma “DUNIA ADALAH PAROKI KITA” mulai perlahan gugur karena hampir semua paroki diserahkan kepada keuskupan. Inilah saatnya bagi pertumbuhan Paradigma misi SVD: “DUNIA ADALAH MEDAN PASTORAL KATEGORIAL”.

Kita memerlukan penafsiran baru atas Paulus dan Para Murid  diutus kepada bangsa-bangsa untuk mewartakan Injil seperti dalam bacaan pertama dan bacaan Injil pada pesta St. Yosef Freinademetz ini, dalam konteks dan zaman serta moment kita saat ini. Saat kita sekarang bukan pembangunan Fisik yang utama tetapi profesionalisme para agen misi dalam hal ini misionaris.

Pada saat  P. Yosef Freinademetz SVD terpilih sebagai provincial China pada tahun 1900, 113 tahun yang lalu, dia memberikan sambutannya dalam kalimat emas ini : “Kemajuan Misionaris adalah Kemajuan Misi.”  P. Yosef Freinademetz SVD  merealisasikan pemikiran atau prinsip misinya di China dengan menciptakan peluang-pelung emas bagi para misionaris SVD. 

Gaya kepemimpinannya sungguh terpuji karena sebagai pemimpin membuka peluang yang luas bagi para konfrater dan bruder misionaris mengasah dan mempertajam bidang keahlihannya secara professional. Peluang-peluang yang tercipta bagi kemajuan misionaris kemajuan misi adalah dalam bidang spiritualitas dan dalam bidang sekular sebagai lahan misi misionaris. 

 Konfrater misionaris diberi peluang untuk menata kehidupan rohani dengan retret tertata secara professional. Perpustakaan sebagai jendela dunia bagi misi Allah. Kursus-kursus keahlihan untuk kemajuan misionaris kemajuan misi. Pendidikan formal setiap misionaris untuk menjadi seorang misionaris yang profesional di dalam bidang karya misi.  Peluang-peluang yang tercipta itu dimanfaatkan untuk kemajuan misionaris kemajuan misi di China.

Misi SVD Jawa didominasi misi parokial. Beberapa Paroki sudah diserahkan kepada Keuskupan. Paroki St. Petrus Batam tepat tanggal 13 Januari 2013, SVD serahkan kepada Keuskupan Pangkal Pinang. Sementara Pastoral Kategorial masih dilihat sebelah mata hati. Kapitel General terakhir 2012, mengarahkan anggota SVD dunia kepada pastoral Kategorial. Sosialisasi Hasil Kapitel itu kepada konfrater sudah dilaksanakan. Arah dasar Provinsi pun sudah dibuat berdasarkan hasil sosialisasi kapitel General. Perlu sosialisasi kepada para Uskup tempat SVD berkarya agar bisa  sepaham dengan Gereja Lokal dalam pelaksanaan pastoral Kategorial yang dijalankan SVD di dalam wilayah teritorial keuskupan.  Dialog dan komunikasi dari SVD dengan keuskupan adalah jembatan menuju pelaksanaan pastoral kategorial berdasarkan amanat Kapitel General SVD tahun 2012.