Rabu, 16 Desember 2020

Kelemahan Manusia tidak dapat membatalkan Rencana Keselamatan Alllah

  Bahan Renungan Misa Harian 17 Desember 2020

Mat 1:1-17  tentang Silsilah Yesus Kristus


*P. Benediktus Bere Mali, SVD*


Dalam buku Status dan kekudusan karangan Murray Milner, Jr, mengemukakan bahwa orang yang memiliki status tinggi memiliki kekudusan yang tinggi sedangkan orang yang status rendah menempati kekudusan yang rendah pula. Bahkan orang tidak memiliki status tidak memiliki kekudusan. Dalam buku ini mengedepankan orang yang memiliki status tinggi dan status rendah bahkan tidak memiliki status dalam hidup bersama adalah sesuatu yang tetap tidak akan berubah dalam lingkungan sosial setempat. Dengan kata lain Murray mau mengatakan bahwa orang yang status tinggi akan tetap memiliki status tinggi dan orang tidak memiliki status rendah tidak akan beralih dari tidak berstatus sosial menjadi berstatus tinggi dalam kehidupan sosial. 

Tetapi dalam Injil hari ini menampilkan bahwa Status Sosial dan kekudusan itu dinamis. Tuhan Yesus yang memiliki status tinggi dan memiliki kekudusan yang sempurna datang ke dunia menempati status manusia pada umumnya melewati silsilah keturunan yang berliku-liku. Yesus lahir dari keturunan yang sangat manusiawi, dengan segala kelebihan dan kekurangannya, dengan segala keunggulan dan kelemahannya. Misalnya Salomo salah satu yang disebutkan dalam Silsilah Yesus, memiliki isteri 700 dan selir berjumlah 300 orang (1Raj 11:3).  Contoh ini menunjukan bahwa kelemahan manusia tidak dapat  membatalkan rencana keselamatan Tuhan dalam diri Yesus yang kita nanti-nantikan kedatangannya pada Pesta Natal. 


Tuhan memiliki rencana unik untuk menyelamatkan dunia. Kelemahan dan kekurangan manusia tidak menjadi penghalang bagi terwujudnya Rencana Tuhan menyelamatkan dunia.  Tuhan melaksanakan rencana untuk menyelamatkan manusia berdasarkan caraNya bukan berdasarkan cara mantisa. Orang yang di mata manusia tidak memiliki peluang untuk menempati posisi istimewa, toh Tuhan menggunakannya untuk menjadi asal-usul keturunan Yesus sang juru selamat. 


Silsilah Yesus yang berasal dari orang-orang yang lemah ini memberikan pandangan baru bagi kita bahwa kelemahan dan kesederhanaan kita, tetap memiliki peluang untuk menjadi penyalur rahmat keselamatan Tuhan bagi sesama dan dunia. Kelemahan dan kekurangan kita tidak menjadi alasan untuk tidak menjadi penyebar khabar keselamatan bagi sesama dan dunia. Semua kita memiliki peluang untuk menjadi pribadi yang lebih baik atas usaha kita dan disempurnakan oleh Rahmat Tuhan. Tuhan memiliki rencana unik bagi setiap kita dalam perjalanan hidup kita masing-masing. Masa Kelam Silsilah Diri Kita pada masa lalu bukan berartu kelam juga masa depan kita. Masa depan kita penuh denga peluang untuk hidup lebih baik dalam keceriaan dan penuh dengan optimis. Masa lalu kita boleh berbeda tetapi kita memiliki masa depar yang sama untuk menata hidup yang lebih baik dan benar. Trimakasih Tuhan Yesus masa lalu silsilah Mu yang berwarna warni dalam menyelamatkan dunia dan manusia, memberi makna mendalam bagi kami yang juga  memiliki silsilah yang berwarna -warni. Trimakasih Tuhan Yesus. *****

Memberi Teladan Baik dalam Kata dan Aksi

 Bacaan Injil

Luk 7:19-23



*P. Benediktus Bere Mali, SVD*



Berita tentang kebaikan dan keburukan berlari sangat cepat mencapai budi dan hati manusia melalui smartphone yang dimiliki manusia. 

Orang yang berbicara atau menulis buruk tentang orang lain, Suku lain, agama lain, tempat lain, bahkan tetangganya sendiri di depan publik, tentu memuaskan pembicara atau penulis secara pribadi tetapi menimbulkan antipati mayoritas masyarakat yang lebih mencintai teladan baik dalam kata/tulisan dan aksi bagi Semua orang sebagai secitra Allah dan berkemanusiaan.  

Hanya sedikit orang yang menyebarkan berita buruk tetapi mayoritas orang yang lebih mengutamakan kebaikan dalam kata dan Aksi bagi Dunia. 

Pada dasarnya seorang yang melakukan yang buruk bagi orang lain di Luar Keluarga intinya, tidak mungkin berbuat buruk bagi anggota keluarga inti di dalam Keluarganya sendiri. 

Seorang ayah pasti mengutamakan Teladan kata dan Aksi yang baik bagi anak dalam keluarga demikian juga seorang Ibu memberi teladan Baik dalam Kata dan Aksi yang baik bagi anak-anak dalam keluarga.  Teladan baik itu lahir dari komitmen ayah dan ibu  dalam membangun Masa depan anak-anaknya. Anak-anak pasti merasa nyaman dan tergerak  untuk berbicara/menulis dan berbuat baik seperti perbuatan baik ayah dan ibunya di dalam keluarga dan di depan publik di dalam masyarakat.  Dengan Teladan Baik dalam Kata dan Aksi dapat Menarik hati banyak orang untuk berbicara dan berbuat baik dalam hidup pribadi maupun di dalam kehidupan publik. 

Bacaan Injil Hari ini tentang Yohanes dan Murid-muridnya yang menyiapkan segala sesuatu bagi Kedatangan Tuhan Yesus di Dunia, bertanya langsung kepada Yesus tentang kepastian siapa sesungguhya Tuhan Yesus yang dinantikan. 

Yohanes mengutus dua muridnya kepada Yesus. Mereka bertanya kepada Yesus, apakah Yesus yang kami nantikan ataukah orang lain? 

Yesus memdengar baik pertanyaan kedua murid yang Yohanes utus kepadaNya. Yesus tidak menjawab dengan kata-kata. Tetapi Yesus menjawab dalam pekerjaanNya yaitu menyembuhkan orang Sakit, mengusir Roh jahat yang menyakiti, menyembuhkan orang tuli sehingga mendengar, menyembuhkan orang bisu sehingga berbicara, menyembuhkan orang kusta, membangkitkan orang mati, dan mewartakan khabar gembira kepada orang miskin dan sederhana. 


Teladan hidup baik dalam aksinyata Yesus dapat memberi jawaban atas pertanyaan dua murid Yohanes. Hal ini menunjukan bahwa Bagi Yesus Aksi berbuat baik bagi semua orang adalah lebih penting dan sangat dikehendaki oleh semua orang. Kata-kata indah tentang berbuat baik saja belumlah cukup. Orang bisa saja mempercantik Kata tentang perbuatan baik tetapi aksinyata yang dapat membuktikan apakah kata-kata indah itu menjadi kenyataan atau sekedar menyembunyikan perbuatan buruk yang dilakukannya atau sama sekali tidak melakukan perbuatan baik dalam hidupnya. 

Berbuat baik dalam hidup Selama 24 jam sehari itu merupakan bukti kehadiran Tuhan Yesus. Tetapi sedetik saja Anda buat buruk atau jahat itu telah menggeser kehadiran Tuhan Yesus dalam hidupmu. 

Lantas bagaimana dengan orang yang mewartakan kebencian terhadap sesama yang lain di depan publik? Lihat media Sosial dalam seminggu terakhir ini. Ternyata mewartakan keburukan kepada Sesama tidak hanya menyakiti Sesama tetapi menghancurkan Diri sendiri. Semua orang tidak suka pada Penyebar kebencian pada orang lain di mimbar publik. Hukum sipil kita pun tidak mengijinkan orang untuk menyebarkan kebencian pada orang lain di depan publik apalagi di mimbar publik di dalam Dunia kita yang penuh berwarna kebhinekaan. 

Tuhan cipta kebhinekaan secara indah untuk dinikmati dengan penuh syukur dan terima kasih dan bukan untuk dibenci. Membenci  kebhinekaan adalah lawan ciptaanNya. *****.





Sumber bacaan untuk renungan misa harian: 

Liturgia Verbi (B-I)
Hari Biasa, Pekan Adven III

Rabu, 16 Desember 2020

Bacaan Pertama
Yes 45:6b-8.18.21b-25

"Hai langit, teteskanlah keadilan dari atas."

Pembacaan dari Kitab Yesaya:

Beginilah firman Tuhan,
"Akulah Tuhan dan tidak ada yang lain,
yang menjadikan terang dan menciptakan gelap.
Akulah yang memberikan kebahagiaan
dan mendatangkan kemalangan.
Akulah Tuhan yang membuat semuanya ini.

Hai langit, teteskanlah keadilan dari atas,
dan baiklah awan-awan mencurahkannya.
Baiklah bumi membuka diri,
dan bertunaskan keselamatan serta menumbuhkan keadilan.
Akulah Tuhan yang menciptakan semuanya ini.

Sebab beginilah firman Tuhan,
yang menciptakan langit dan bumi.
Dialah Allah yang membentuk menjadikan
serta menegakkan bumi;
yang menciptakan bumi bukan supaya kosong,
melainkan supaya didiami orang;
Beginilah firman-Nya,
"Akulah Tuhan dan tidak ada yang lain.
Akulah Tuhan!
Tidak ada yang lain, tidak ada Allah selain Aku.
Allah yang adil dan Juruselamat, tidak ada yang lain kecuali Aku.
Berpalinglah kepada-Ku dan biarkanlah dirimu diselamatkan,
hai ujung-ujung bumi!
Sebab Akulah Allah dan tidak ada yang lain.
Demi Aku sendiri Aku telah bersumpah,
dari mulut-Ku telah keluar kebenaran,
suatu firman yang tidak dapat ditarik kembali:
Semua orang akan bertekuk lutut di hadapan-Ku,
dan akan bersumpah setia dalam segala bahasa,
sambil berkata,
Hanya dalam Tuhanlah keadilan dan kekuatan.
Semua orang yang telah bangkit amarahnya terhadap Dia
akan datang kepada-Nya dan mendapat malu.
Tetapi seluruh keturunan Israel akan nyata benar
dan akan bermegah di dalam Tuhan."

Demikianlah sabda Tuhan.

Mazmur Tanggapan
Mzm 85:9ab-10.11-12.13-14,R:Yes 45:8

Refren: Hai langit, teteskanlah keadilan,
hai awan, curahkanlah keadilan.

*Aku ingin mendengar apa yang hendak difirmankan Allah!
Bukankah Ia hendak berbicara tentang damai
kepada umat-Nya dan kepada orang-orang yang dikasihi-Nya?
Sungguh, keselamatan dari Tuhan dekat pada orang-orang takwa,
dan kemuliaan-Nya diam di negeri kita.

*Kasih dan kesetiaan akan bertemu,
keadilan dan damai sejahtera akan berpelukan.
Kesetiaan akan tumbuh dari bumi,
dan keadilan akan merunduk dari langit.

*Tuhan sendiri akan memberikan kesejahteraan,
dan negeri kita akan memberi hasil.
Keadilan akan berjalan di hadapan-Nya,
dan damai akan menyusul di belakang-Nya.

Bait Pengantar Injil
Yes 40:9-10

Nyaringkanlah suaramu, hai pembawa kabar baik.
Lihat, Tuhan Allah datang dengan kekuatan.

Bacaan Injil
Luk 7:19-23

"Katakanlah kepada Yohanes apa yang kalian lihat dan kalian dengar."

Inilah Injil Yesus Kristus menurut Lukas:

Yohanes memanggil dua orang muridnya,
dan menyuruh mereka bertanya kepada Yesus,
"Tuankah yang ditunggu kedatangannya,
atau haruskah kami menantikan seorang lain?"
Ketika kedua orang itu sampai kepada Yesus,
mereka berkata,
"Yohanes Pembaptis menyuruh kami bertanya,
'Tuankah yang ditunggu kedatangannya,
atau haruskah kami menantikan seorang lain?"

Pada saat itu Yesus sedang menyembuhkan banyak orang
dari segala penyakit dan penderitaan dan dari roh-roh jahat;
dan Ia mengaruniakan penglihatan kepada banyak orang buta.
Maka Yesus menjawab,
"Pergilah dan katakanlah kepada Yohanes
apa yang kalian lihat dan kalian dengar:
Orang buta melihat, orang lumpuh berjalan,
orang kusta menjadi tahir, orang tuli mendengar,
orang mati dibangkitkan
dan kepada orang miskin diberitakan kabar baik.
Dan berbahagialah orang yang tidak menjadi kecewa
dan menolak Aku."

Demikianlah sabda Tuhan.



Rabu, 23 Juli 2014

waras vs non-waras



WARAS vs NON-WARAS
*P. Benediktus Bere Mali, SVD*
Homili Rabu, 23 Juli 2014


Selama persiapan Pemilihan Presiden 9 Juli 2014, kita banyak menerima informasi tentang arahan pemilih untuk memilih para calon presiden 2014-2019. Ada dua pendapat yang menyentuh benak dari aliran berita yang diterima. Pendapat-pendapat itu adalah pemilih yang cerdas dan pemilih yang tidak waras. Pemilih yang waras senantiasa menentukan pilihannya melalui memilih calon pemimpin yang mengutamakan kejujuran dan kesejahteraan seluruh rakyat banyak serta calon pemimpin yang setia pada rakyat dan tunduk di depan konstitusi, sebaliknya pemilih yang non-waras memilih calon pemimpin yang mengutamakan kepentingan pribadi dan tidak jujur yang dikenal dengan nama calon pemimpin yang sedang dikelompokkan sebagai koruptor.
          Perumpamaan tentang Penabur dalam Mateus 13 : 1 – 7 menampilkan “Penabur yang waras dengan penabur yang non-waras”.  Penabur yang waras menabur benih baik di atas lahan yang subur sehingga menghasilkan buah yang berlipatganda, sedangan penabur yang non-waras menabur benih yang baik di atas tanah yang tidak subur sehingga menghasilkan buah yang berkurang bahkan sama sekali tidak mendatangkan hasil yang baik. Penabur yang tidak cerdas itu menabur benih yang baik di tepi jalan, di tanah yang berbatu, dan di lahan yang penuh dengan semak duri, sedangkan penabur yang cerdas menabur benih yang baik itu di lahan yang tepat bagi bertumbuh dan berbuahnya secara berlipat ganda, ada yang seratus kali lipat, ada yang enam puluh kali lipat, ada yang tiga puluh ganda. Tuhan menghendaki kita semua menjadi penabur yang waras, dengan menjadi penabur yang menabur benih yang baik di atas lahan yang sudah disiapkan menjadi lahan yang subur. Benih itu adalah benih Sabda Allah yang selalu menyelamatkan dan menyejahterahkan semua orang. Penabur yang sejati adalah Tuhan Yesus sendiri yang menabur benih Sabda Allah di atas lahan hati dan budi manusia yang disiapkanNya supaya menjadi lahan yang subur bagi SabdaNya yang membawa sukacita sejati bagi semua orang lintas batas.
          Kita dapat bercermin pada penabur yang waras yang dikontraskan dengan penabur yang tidak waras. Kita bisa saja digolongkan sebagai penabur yang tidak waras yang menabur benih baik di atas lahan hati sesama dan diri kita yang kurang subur atau tidak subur, karena kemalasan kita dalam mengasah kemampuan budi dan ketajaman nurani serta kejernihan spiritual. Atau kita juga bisa dikelompokkan sebagai penabur yang waras karena kita setia dan tekun serta disiplin menata lahan hati kita secara personal maupun lahan hati sesama secara sosial, menjadi lahan yang subur bagi bertumbuhnya pohon kebaikan, kebenaran, keadilan dan kedamaian yang memberikan naungannya yang menyejukkan bagi semua tanpa diskriminasi tertentu. ***

                                

Minggu, 29 Juni 2014

Hari Raya St. Petrus dan Paulus: Beda Tetapi Saling Lengkapi



PETRUS &  PAULUS:
BERBEDA TETAPI SALING MELENGKAPI
*P.Benediktus Bere Mali, SVD*


Setiap manusia itu unik. Sekalipun manusia itu kembar tetapi tetap berberda satu terhadap yang lain. Perbedaan itu bukan saling menyingkirkan tetapi saling melengkapi menuju kesempurnaan. Itu berarti perbedaan dilihat sebagai berkat atau rahmat atau kekayaan bukan sebagai kutukan atau konflik yang saling meniadakan satu terhadap yang lain.

St. Petrus dan St. Paulus adalah dua sosok yang unik. Perbedaan keduanya sebetulnya terletak di dalam perannya, dimana Petrus fokus pada soal institusi Gereja sedangkan Paulus fokus pada pelayanan di lapangan. Dengan kata lain Petrus adalah tokoh iman yang berada di balik meja sedangkan Paulus adalah tokoh yang terjun di medan misi di lapangan yang nyata.  

Perbedaan peran itu saling melengkapi. Apa yang disusun team Petrus di balik meja untuk misi dengan ide-ide yang segar dapat diterjemahkan oleh team Paulus di dalam pelayanan konkret di lapangan. Senjang antara apa yang dibalik meja dengan apa yang di lapangan menjadi input bagi team Petrus dan team Paulus untuk dievaluasi dan membangun sebuah perubahan misi yang kontekstual menjawabi kebutuhan umat di lapangan, dalam meningkatkan kualitas iman umat pada umumnya.

Kita dalam hidup karya pelayanan, terdiri dari kelompok yang berada pada posisi struktur Gereja, Biara, dan ada yang berada pada posisi pelaksana atau pelayan di lapangan. Keduanya seperti dua sisi mata uang yang merupakan satu kesatuan dalam memberikan pelayanan kepada umat secara lebih sempurna. Hal ini dimiliki dalam diri St. Arnoldus Janssen dengan St. Josef Freinademetz. St. Arnoldus ada di kantor atau di balik meja dalam SVD sedangkan St. Josef Freinademetz adalah sosok misionaris di lapangan. Keduanya boleh disebut sebagai penerus gaya Petrus dan Paulus dalam menyebarkan Kerajaan Allah ***






Minggu, 15 Juni 2014

Tritunggal Maha Kudus : Satu untuk Misi



TRITUNGGAL MAHA KUDUS : SATU UNTUK MISI
Hari Raya Tritunggal Maha Kudus, 15 Juni 2014
*P. Benediktus Bere Mali, SVD*

Telinga kita sudah cukup akrap dengan semboyan  atau moto Amerika Serikat  E Pluribus  Unum” dan moto Indonesia “Bhineka Tunggal Ika”.  E Pluribus Unum dari bahasa Latin dan secara harafiah berarti: "Dari banyak menjadi satu".  Secara konseptual ini agak berbeda dengan moto Indonesia; Bhinneka Tunggal Ika, yang bisa diartikan bahwa  “perbedaan itu manifestasi daripada keesaan”.  Satu pesan yang saya ambil dari dua moto tersebut adalah perbedaan itu dipandang secara positif bukan secara negatif atau  perbedaan itu berkat sedangkan pembedaan itu kutuk.  Kalau pembedaan yang ditonjolkan, maka hal itu mengantar orang menganggap dirinya lebih baik, lebih benar, diselamatkan sedangkan yang lain dipandang salah, buruk, kafir, musuh yang harus ditiadakan; tetapi kalau perbedaan itu dipandang sebagai berkat maka keanekaan budaya, kemampuan, bakat, talenta, potensi, keunggulan setiap pribadi adalah kekayaan yang dapat diatur dan disatukan untuk membangun kehidupan bersama yang baik, benar, adil dan damai tanpa diskriminasi tertentu. Perbedaan sebagai berkat inilah menjadi fokus perhatian sekaligus jiwa moto tersebut, yang memberi roh atau spirit bagi perilaku manusia yang memiliki moto tersebut.
Komunitas Tritunggal  Maha Kudus terdiri dari Bapa Pencipta yang kreatif menciptakan, Putera yang menyelamatkan, dan Roh Kudus yang melanjutkan, dan ketiganya bersekutu dalam kesempurnaan dan keutuhan cinta Kasih sejati, untuk bermisi kepada semua manusia agar Allah Tritunggal  Maha Kudus hidup di dalam hati semua manusia. Hati manusia yang dipenuhi Allah Tritunggal Maha Kudus adalah pribadi manusia yang berperilaku menyesuaikan diri dengan lingkungan Allah Tritunggal Maha Kudus, yaitu kehadirannya secara kreatif menciptan suasana yang baru bagi sesama untuk lebih bersemangat hidup; kehadirannya untuk menyelamatkan semua orang bukan menghancurkan atau mematikan; kehadirannya melanjutkan yang baik, benar, adil dan damai bukan yang buruk, yang salah, yang tidak adil dan kekerasan.

Bacaan pertama menampilkan Allah Tritunggal Maha Kudus dalam awan dan menampakan diri kepada Musa yang mengenal  Allah itu sebagai pengasih dan penyayang, panjang sabar dan penuh kasih setia-Nya, terhadap tegar tengkuk bangsa Israel di hadapan Allah.  Bacaan kedua menampilkan usaha manusia untuk sempurna dan hidup dalam damai sejahtera senantiasa diberkati oleh Tuhan Yesus. Yesus hadir dalam diri manusia yang hidup berjuang menuju kesempurnaan dan damai sejahtera. Bacaan Injil menampilkan Kasih Allah yang sempurna kepada manusia dengan mengutus Yesus ke dunia untuk memberi kehidupan yang kekal kepada manusia. Allah mengutus anakNya ke dunia untuk menyelamatkan bukan menghakimi. Setiap manusia yang membuka hati dan pikiran menerima Yesus yang datang ke dalam dirinya untuk membawa hidup dan keselamatan, maka ia memperoleh hidup yang kekal.

Kita hidup dalam keanekaragaman budaya, suku, agama dan latarbelakang. Keanekaan ini sebagai berkat dari Tuhan. Keanekaan itu dipandang sebagai berkat maka kita akan berperilaku menyesuaikan diri dengan keanekaan sebagai berkat. Artinya kita bertindak menyatukan berbagai potensi positif yang berasal dari keragaman itu diatur dan disatukan untuk membangun kebaikan hidup bersama yang dicita-citakan bersama. Pola kognitif yang sama dalam keanekaan mengantar manusia berafeksi psositif terhadap perbedaan dan selanjutnya berperilaku positif dalam lingkungan keanekaraman sebagai sebuah warna pelangi indah yang menghiasi kehidupan bersama. Dengan itu kita memberi kesaksian kepada dunia bahwa dalam diri kita Hidup Allah Tritunggal Maha Kudus. Waktu saya ujian universum, pertanyaan pertama yang perlu saya jawab adalah: Apakah Allah Roh Kudus itu beda dengan Allah Putera dan Allah Bapa? Saya menjawab : Allah Roh Kudus, Allah Putera dan Allah Bapa tidak Beda tetapi Sama dan SATU. Jawaban itu tepat dan benar. *

Jumat, 10 Mei 2013

NOVENA ROH KUDUS HARI PERTAMA Jumat 10 Mei 2013

BERMISI DI “TEMPAT” SULIT : Takut vs Berani
*P. Benediktus Bere Mali, SVD*

Kita bisa diutus di tempat misi yang gampang atau di tempat misi yang sulit. Ketika kita diutus ke tempat yang gampang, karya misi berjalan bagaikan kendaraan berjalan di atas jalan tol. Pribadi kita maupun komunitas kita memperlancar aliran karya misi Allah dan kendaraan misi Allah dapat berjalan lancar. Pribadi sesama, baik itu umat, pemerintah atau penguasa sipil dan penguasa agama-agama lintas batas mendukung karya misi Allah sehingga kendaraan misi Allah berjalan bagaikan berjalan di atas jalan tol. Sebaliknya ketika kita diutus dan berada di daerah misi  yang sulit, kita bisa semakin berani untuk bermisi atau semakin takut untuk bermisi.
Kesulitan itu bisa datang dari internal pribadi atau internal komunitas kita sebagai titik awal kepergian kita keluar untuk bermisi. Kesulitan itu juga bisa datang dari luar diri kita sebagai pribadi, atau juga berasal dari luar diri komunitas kita. Kesulitan dari dalam diri kita itu berupa kesaksian hidup pribadi yang semakin mengalami kejatuhan, yang dapat menyebabkan menyalibkan sesama atau menjadi batu sandungan bagi sesama. Atau kesulitan dari dalam itu bisa berupa ketidakharmonisan dalam komunitas karena "SARA" di balik jubah biara yang menghalangi misi keluar komunitas dan juga misi ke dalam sebagai basis untuk misi ke luar komunitas. Kesulitan itu juga bisa datang dari atasan kita yang kurang bijaksana di dalam mengambil keputusan-keputusan untuk karya misi yang berjiwa kemanusiaan dan keimanan.
Menghadapi kesulitan berwajah ganda itu kita dapat melahirkan kedua kemungkinan ini. Kita bisa membangkitkan Roh keberanian atau Roh Kenabian mewartakan nilai-nilai kebenaran, kejujuran, keadilan, kebaikan, atau kita bisa mematikan atau menenggelamkan Roh Keberanian atau Roh Kenabian di dalam aneka kesulitan itu sehingga kita tampil sebagai seorang pribadi yang berwarna “abu-abu” seperti seorang politisi, atau tampil sebagai “bunglon” hanya untuk sekedar mencari keamanan diri, yang hanya memberikan sukacita sesaat saja, tidak memberikan sukacita sejati dan abadi yang hanya dapat ditemukan di dalam Roh Kudus Roh Kristus seperti yang diwartakan di dalam Injil hari ini.
Bacaan Pertama hari ini menampilkan misi kenabian Paulus di Korintus. Ia berkarya berdasarkan petunjuk janji Tuhan, yang muncul di dalam suatu penglihatan:”Jangan Takut! Teruskan memberitakan Firman Allah dan Jangan diam! Sebab Aku menyertai engkau, sebab banyak umat-Ku di kota ini.
Paulus memegang teguh pada janji Tuhan itu sebagai kekuatan utama di dalam misinya di Korintus. Ketika orang Yahudi  hendak mematahkan karya misi Paulus, upaya mereka itu sia-sia belaka. Gubernur Galio yang berkuasa pada saat itu, mengusir orang-orang Yahudi yang datang menjatuhkan atau menggagalkan misi Paulus di Korintus. Hal ini menunjukkan bahwa orang-orang yang mengandalkan Allah, mengandalkan Roh Kudus Allah, senantiasa mengalami sukacita dan keberanian dalam mewartakan Firman Allah untuk menyelamatkan bukan menghancurkan. Semua kekuatan yang menghancurkan ditundukan di hadapan Allah yang Paulus wartakan.
Kita mengadakan Novena kepada Roh Kudus hari pertama pada hari ini. Dasar Kitab Suci Novena kepada Roh Kudus adalah Kisah Para Rasul 1:12-14, yang mengingatkan kita akan masa sesudah kenaikan Kristus ke Surga, ketika para rasul, atas nama Yesus, kembali ke ruang atas dan tinggal di sana, dalam doa bersama Ibu Yesus dan saudara-saudari yang terhimpun dalam komunitas awal, yang merupakan inti pertama dari Gereja.
Setiap tahun sesudah Hari Raya Kenaikan, Gereja menjalani novena perdana ini, novena kepada Roh Kudus. Kisah Para Rasul 1:8 mengatakan bahwa Para Rasul berhimpun di ruang atas bersama Bunda Kristus, memohon penggenapan janji yang disampaikan kepada mereka oleh Kristus yang telah bangkit, “Kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksi-Ku”.
Novena perdana kepada Roh Kudus yang dilaksanakan oleh Para Rasul itu merupakan model dari Novena Kepada Roh Kudus yang kita laksanakan dalam Gereja pada kesempatan ini. Tujuan Novena Roh Kudus adalah agar kita hidup berdasarkan kehendak Roh Kudus yang menyelamatkan dan membawa sukacita yang sejati yang tidak dapat diambil oleh orang lain atau oleh siapapun dari diri kita. Kita mengadakan novena bukan untuk Roh Kudus menuruti kehendak kita yang egois yang menyalibkan sesama. Kita mengadakan Novena kepada Roh Kudus agar Roh Keberanian Allah dan Roh Kenabian Allah bertumbuh dan berkembang serta lahir dalam pewartaan dan kesaksian hidup kita.


Novena kepada Roh Kudus Hari Pertama
Jumat 10 Mei 2013 di RKZ Surabaya
Kis 18 : 9 – 18
Mzm 47 : 2–3.4-5.6-7
Yoh 16 : 20 - 23