Minggu, 03 Januari 2021

Homili Hari Raya Penampakan Tuhan Minggu 3 Januari 2021

 Cahaya Wajah Allah Menerangi Semua Bangsa:  Cahaya vs kegelapan


* P. Benediktus Bere Mali, SVD* 



Minggu 3 Januari 2021

Yesaya 60:1-6

Efesus 3:2-2a.5-6

Mat 2:1-12



Satu hal yang paling akrab dengan Kita sepanjang hidup Kita di Masa covid ini adalah wajah hp kita. Ada dua wajah hp yang Kita miliki yaitu wajah Terang dan wajah gelap. Wajah gelap terjadi ketika hp mati  sendiri karena kehabisan cahaya listrik di dalam bateri atau karena Kita matikan power cahaya listrik yang berpusat pada bateri. Sedangkan Wajah Terang Hp Kita tampil ketika Kita hidupkan power bateri hp Kita dan Selama cahaya listrik dalam hp masih terisi maka hp kita masih berfungsi dengan baik. Berkat kerja cahaya listrik dari bateri hp, Kita dapat mengoperasikan hp Kita untuk mencari dan menemukan semua wajah informasi yang dapat diakses di dalam tampilan wajah hp Kita. Supaya cahaya listrik di dalam hp itu tidak kehabisan maka setiap kali kekurangan Cahaya listrik bateri, Kita isi lagi Sinar listrik di bateri hp,  melalui kabel isi bateri yang menghubungkan bateri Hp dengan sumber cahaya listrik yang masih aktif.  Pengisian ini bekerja dengan baik jika bateri dan hp nya masih baik dalam menerima Arus listrik yang baik melalui kabel penghubung yang baik. Kalau salah satu unsur tidak dapat bekerja baik maka semuanya   hp tidak dapat bekerja dengan baik atau tidak dapat dioperasikan. Ada kerja sama yang terkoneksi baik antara bateri hp, kabel charger, dan pusat Arus listrik.


Cahaya wajah Allah tampak kepada segala bangsa pada Hari Raya epifani pada Hari ini melalui wakil segala bangsa dalam Diri Melkior, Baltasar dan Gaspar. Tuhan menampakan wajahNya kepada segala bangsa melalui dua Tahap. Wajah Terang Manusia dapat melihat Wajah  Terang Allah menampakan diriNya kepada manusia. Tetapi wajah kegelapan tidak akan melihat Cahaya wajah Allah yang menampakan Diri kepada semua bangsa. Hal ini jelas di dalam  Nubuat Yesaya kepada Yerusalem:   "Bangkitlah, menjadi teranglah sebab sesungguhya, kegelapan menutupi bumi dan kekelaman menutupi bangsa-bangsa; tetapi Terang Tuhan terbit atasmu dan kemuliaan-Nya menjadi nyata atasmu. Bangsa - bangsa berduyun-duyun kepada Terangmu dan raja-raja menyongsong Cahaya yang terbit bagimu."  Nubuat Yesaya ini terpenuhi di dalam Yesus Sang Terang itu sendiri yang menampilkan Cahaya  wajah-Nya dalam tanda Bintang-Nya kepada Tiga Raja di Timur. Tuhan menampakan Cahaya wajah-Nya dalam tanda Bintang kepada Melkior, Balthazar dan Gaspar dari Timur wakil segala bangsa yang telah melihat Wajah Allah yang menyelamatkan. Mereka menerima Penampakan Tuhan dalam tanda Bintang-Nya itu dengan penuh Sukacita. Tanda Wajah-Tuhan dalam Bintang-Nya mengundang Tiga Raja untuk terus menerus mencari tanpa lelah    untuk meneemukan Wajah Tuhan. Bintag-Nya itu menuntun dan menyertai Tiga Raja dalam pencariannya sampai mereka bertemu muka dengan Cahaya Wajah Allah dalam Diri Bayi Yesus Raja Yahudi di Kandang Bethlehem wilayah kekuasaan para gembala Domba. Mereka bertemu Raja Yahudi bukan di istana tetapi di daerah orang kecil, para gembala di Betlehem. Cahaya Wajah Yesus mempertemukan dan menyatukan para Raja dengan orang kecil yang tidak diperhatikan oleh Raja setempat. Wajah Yesus adalah Cahaya Wajah Allah yang peduli kepada kaum sederhana dan kaum yang berada dengan satu harapan supaya Kelompok yang kaya menjadi lebih solider dan berbela rasa pada orang kecil dan miskin papa. Tiga Raja bertemu Yesus yang lahir di kandang Betlehem miliki para gembala domba-dombanya. Wajah Tuhan Yesus  menampakan Diri kepada Tiga Raja di  tempat yang sederhana.  Para Raja mempersembahkan bahan persembahan terbaik kepada Yesus. Mereka mempersembahkan emas kepada Bayi Yesus. Pada zaman Yesus lahir, emas adalah bahan persembahan kepada Seorang Raja.  Mereka mempersembahkan dupa kepada Seorang Imam untuk mengukup bahan persembahan kepada Allah di Bait Allah dan Yesus adalah Sang Imam Agung bagi Kita umat manusia.  Mereka juga mempersembahkan Mur yang mengingatkan akan kematian dan wafatnya. Mur adalah minyak untuk membalsem seorang yang meninggal. Bahan persembahan yang terbaik yaitu emas, kemenyan dan Mur kepada Bayi Yesus sebagai imam dan raja  dari kelahiran sampai wafatNya ini menunjukan bahwa Ada persekutuan erat secara lahir dan bathin antara Terang Yesus dan Tiga Raja wakil bangsa-bangsa Dunia. Persatuan yang sebegitu erarnya Tiga Raja dengan Yesus yang telah menampakan Diri secara real, sehingga Wajah Allah muncul langsung dalam mimpi tiga Raja ini dan Allah menegaskan dalam mimpi ya supaya mereka kembali kepada bangsa-bangsa melalui jalan lain, jalan Cahaya Wajah Allah penyelamat Dunia, bukan kembali melewati Jalan Kegelapan Herodes yang menyehatkan mereka dan Dunia.  Persatuan Tiga Raja dengan Cahaya Wajah Allah yang telah menampakan Diri itu utuh baik secara Psikologis dalam mimpi, Sosial dalam kebersamaan kekuarga dan para gembala yang bersukakita mengalami rasa Cahaya Wajah Allah dalam Diri Bayi Yesus,   Fisik  dalam perjumpaan langsung dengan Bayi Yesus di kandang sederhana Betlehem dan spiritual  dalam sebuah kepastian iman yang kokoh. Persukutun Allah itu memberikan perutusan kepada mereka bahwa mereka harus pergi mewartakan Cahaya Wajah Allah yang telah mereka lihat dan alami itu kepada Dunia agar semua bangsa menyambut Yesus dan menjadi anggota tubuh Kristus.    


Pesan bagi Kita. Yesus telah lahir dan tampak bagi Kita. Tetapi pencarian terus menerus Wajah Yesus dalam setiap konteks tidak pernah merasa lelah. Cahaya Wajah Allah selalu up-to-date oleh konteks yang sedang di alami manusia setiap zaman dengan keunikannya yang berbeda-beda. Misalnya di Masa pandemik covid 19 yang sedang Kita alami ini, Kita bertanya Wajah Allah seperti siapa yang Kita renungkan. Wajah Allah yang cinta akan disiplin Diri dalam mentaati memakai masker. Mencuci tangan, dan mencuci tangan atau kebersihan Diri secara utuh. Cahaya Wajah Allah yang memberi Terang kepada Kita agar Kita berjalan di jalan Cahaya disiplin Diri dengan menjaga kebersihan Diri dan lingkungan. Di Masa pandemik covid 19 ini Wajah Allah yang menampakan Diri kepada Kita dalam Allah mendidik Kita untuk setia mengatur dan menjaga imunitas tubuh Kita secara utuh dan baik dan benar. ***

Jumat, 01 Januari 2021

Renungan Misa Harian Sabtu 2 Januari 2021

 Hidup dalam Kelompok: utamakan Diri atau utamakan kelompok



*P.Benediktus Bere Mali, SVD*


1Yoh 2: 22 - 28

Yoh 1: 19 - 26

Sabtu 2 Januari 2021

Liturgi Tahun B


Dalam kehidupan bersama yang memiliki keanggotaannya banyak, datang dari berbagai latarbelakang asal dan Adat istiadat,  setiap anggota dalam kelompok itu pasti mengalami banyak hal yang Istimewa karena setiap  orang dengan keunikannya masing-masing. Di antara sekian banyak anggota yang memiliki keunikan itu, dapat dibagi dalam dua Kelompok yaitu bahwa Ada yang memberikan keunggulan yang dimilikinya untuk kepentingan bersama tetapi ada juga yang sebaliknya menggunakan keunggulan yang dimilikinya hanya untuk dirinya sendiri. Pada umumnya tokoh yang ditampilkan di depan publik baik dalam kelompok ataupun relasi keluar dengan Kelompok luar,  bukan orang yang mengutamakan diri tetapi pribadi yang lebih memberikan semua kemampuannya termasuk dirinya sendiri bagi kepentingan bersama untuk kebaikan hidup bersama. Hal ini sangat terasa di dalam kehidupan bersama sebagai orang yang menyebut dirinya sebagai anggota kelompok religious, dengan fokus utamanya adalah untuk melayani bukan untuk dilayani.


Yohanes di dalam Injil Hari ini   adalah  tampil sebagai tokoh yang hadir dan berkarya untuk mengutamakan keselamatan banyak orang. Ia menyiapkan segala sesuatu bagi Kedatangan Mesias  yaitu Tuhan Yesus sendiri. Semua kemampuan dan keunggulannya dipersembahkan kepada Allah. Ia tidak menggunakan semua kehebatannya untuk mewartakan Diri sendiri untuk dikenal lebih dari Mesias yaitu Tuhan Yesus sendiri. Ia mau berbagi dari apa yang dimilikinya kepada Tuhan dan Sesama. 


Hari ini Kita memperingati St. Basilius Agung dan S. Gregorius dari Nazianze, Uskup dan Pujangga Gereja. Kedua tokoh ini menjadi panutan bagi Gereja. 


St. Basilius sebelum masuk biara adalah orang yang angat sombong atas kepintaran dan kemampuan oratornya. Dia menggunakan kehebatannya itu untuk mencari dan menemukan pujian dari orang lain. Ketika orang lain pasif mendengarnya maka ia kehilangan pujian dari Sesama dan mengalami Gangguan Perasaan di dalam dirinya. Untuk menyembuhkan Gangguan Perasaan itu ia selalu berjuang mencari peluang untuk berbicara dan bekerja dengan motivasi untuk mendapat pujian dari sesama. Tetapi setelah masuk biara, Basilius mengolah Diri secara baik dan kemudian Ia berhasil menjadi pribadi yang sadar Diri bahwa hidup membiara adalah tempatnya orang-orang unggul karena kerendahan Hati dan berbagi lewat melayani Tuhan dan Sesama. Ia menjadi Dewasa secara lahir dan bathin. Kemudian Ia terpilih menjadi Uskup dan menjadi panutan bagi umat dalam Gereja yang dipimpinnya. 


Santo Gregorius dari Naziensa memiliki hal Istimewa yang patut Kita jadikan Contoh. Ia selalu sabar, tenang, dan menggunakan budi Bahasa yang manis dalam menghadapi setiap persoalan kecil maupun besar yang datang silih berganti kepada dirinya sebagai Uskup. 


Tiga tokoh Yohanes dan Basilius dan Gregorius ini menjadi panutan bagi Kita anggota Gereja karena bagi mereka: kehidupan Kelompok   Religious itu adalah tempatnya orang-orang hebat karena kerendahan Hati untuk berbagi apa yang dimilikinya bagi Tuhan dan Sesama. Tokoh tokoh ini adalah model bagi setiap orang yang menyebut dirinya sebagai anggota Religious. Sabar, rendah Hati, tekun melayani dan menggunakan budi Bahasa manis dalam melayani Tuhan dan sesama termasuk orang-orang yang melawan iman Katolik adalah hal utama yang Kita teladani dari ketiga tokoh ini. ***

Kotbah Tahun Baru Hari Raya Santa Maria Bunda Allah Jumat 1 Januari 2021

Mengapa Maria dan Yusuf Pilih Melahirkan Yesus Sungguh Allah dan Sungguh manusia di Gua miskin  Bethlehem?


*P.Benediktus Bere Mali, SVD"


Homili 1 Januari 2021

Lukas 2:16-21

Gal 4:4-7

Bil 6:22-27






Introduksi 


Mengawali Perayaan Ekaristi Kudus ini, pertama-tama saya  mengucapkan  Selamat Tahun Baru untuk Kita semua. Semoga Tuhan selalu menyertai Kita semua dalam mamasuki Tahun Baru 2021 yang masih penuh dengan lembaran putih yang masih  kosong bagi Kita untuk menulis dengan semua hal yang memberi harapan bagi dunia terutama bagi orang kecil dan miskin yang terasing dari lingkungan Sosial masyarakatnya. Kita juga bersyukur atas penyertaan Tuhan di  Tahun 2020 yang lalu. Semua suka duka,  gagal dan sukses di Tahun yang lalu menjadi sebuah pengalaman yang indah dan berarti bagi Kita dalam menjalani Tahun Baru 2021 yang sedang dimulai pada Hari ini. 


Bapa ibu Saudara dan Saudari yang terkasih. Pada Tahun Baru Ini Gereja Katolik seluruh Dunia merayakan Hari Raya Maria Bunda Allah. Pada Hari ini juga Kita mulai memasuki Hari Perdamaian Dunia, dalam Suasana dan kondisi  Masa Oktaf Natal dalam Kalender Liturgi Gereja Katolik Roma.


Pertanyaan-pertanyaan  yang muncul di dalam permenungan Kita ini adalah:  Mengapa Maria  disebut Bunda Allah dan mengapa Perayaan Ini dirayakan pada Tahun Baru 1 January? 


Jawabannya demikian: 


Pertama, Bahwa Kita merayakan Hari Raya Maria Bunda Allah karena iman Kita kepada Yesus adalah sungguh Allah dan Sungguh manusia dapat diteguhkan kembali secara tegas. Iman Kita kepada Yesus yang 100 persen Allah dan 100 persen manusia. Yesus adalah sungguh Allah dan Sungguh Manusia dikandung dan dilahirkan oleh Maria BundaNya. Rahim Ibu Maria mengandung dan melahirkan Yesus sungguh Allah dan Sungguh Manusia inilah, maka Konsili Efesus menetapkan Maria Ibu Yesus sebagai Santa Maria Bunda Allah. 


Konsili Efesus ini terlaksana sebagai Reaksi terhadap aliran sesat nestorianisme yang menyebut Yesus bukan sungguh Allah dan Sungguh Manusia. Yesus tidak 100 persen Allah 100 persen manusia yang dikandung oleh Maria. Nestorianisme meragukan Yesus Sungguh Allah-Sungguh manusia. Dengan demikian kaum Nestorianisme juga meragukan tentang Maria Bunda Allah.


Kedua, Hari Raya Maria Bunda Allah ini dirayakan pada tanggal 1 January dalam Masa Oktaf Natal. Kita tahu bahwa Natal adalah  kelahiran Yesus Sang juru Damai bagi Dunia. Yesus adalah Pangeran Damai.  Sang Pangeran Damai ini dikandung dan dilahirkan dari Rahim Bunda Maria sebagai sang Ratu Damai. Tahun Baru adalah Tahun harapan dan Tahun Sukacita. Tahun Baru 1 Januari adalah dimulainya Hari Perdamaian seDunia. Karena ada hubungan yang sangat erat antara Maria Bunda Allah, Bunda Ratu Damai, Natal adalah kelahiran Yesus Sang Pangeran Damai, Tahun Baru adalah Tahun Harapan dan Perdamaian maka hal itu menjadi dasar yang kokoh  bagi  Paus Paulus VI memasukan Perayaan  Maria Bunda Allah pada Masa Oktaf Natal dan Hari Perdamaian Dunia didalam Kalender Liturgi di Kota Roma yang jatuh pada tanggal 1 January setiap tahun. Maria Bunda Allah yang mengandung Yesus sungguh Allah sungguh Manusia. Maria adalah Ratu Damai yang mengandung dan melahirkan   Yesus sebagai Pangeran Damai. Dalam Masa Oktaf Natal, Kita merayakan kelahiran sang Pendamai bagi dunia. Tahun Baru adalah Tahun Damai dan harapan dan Sukacita bagi semua orang.


 Satu makna yang dapat kita ambil dari Perayaan Maria Bunda Allah ini adalah bahwa keselamatan Allah Maha Rahim bagi manusia bermula dari Rahim seorang Ibu Maria Bunda Allah. 


Maria Bunda Allah adalah Bunda Iman Kita dan Bunda Gereja. Bunda Maria Ratu Damai ini mengandung dan melahirkan Yesus Pangeran Perdamaian bagi semua bangsa, secara Istimewa bagi orang kecil dan miskin yang diasingkan dari kehidupan bersama.


Homili 


Ada 4 Perayaan besar yang dirayakan pada Hari ini dan keempat bagian Perayaan ini saling bergandengan satu sama lain. Gandengan itu di dalam satu kata DAMAI.


Keempat Perayaan itu adalah    Hari Raya Maria Bunda Allah, Hari Raya Oktaf Natal, Hari Raya Perdamaian Dunia dan Hari Raya Harapan Tahun Baru 2021. 


Hari Raya Maria Bunda Allah ada dan dirayakan untuk meneguhkan iman Kita kepada Yesus. Bahwa Konsili Efesus menetapkan Maria sebagai Bunda Allah karena Maria mengandung dan melahirkan Yesus sungguh Allah sungguh Manusia. Konsili Efesus ini meneguhkan iman Kita kepada Yesus 100 persen Allah- 100 persen manusia. Dengan demikian penghormatan Kita kepada Maria sebagai Bunda Allah ditegaskan kembali dalam dogma Teotokos, Maria Bunda Allah. Dengan demikian dogma Teotokos dapat menggugurkan paham Nestorianisme  yang mengatakan bahwa Yesus bukan 100 persen Allah - 100 persen manusia. Dengan demikian Maria pun bukan sebagai Bunda Allah. 


Hari Raya Maria Bunda Allah ini dirayakan pada Masa Oktaf Natal. Natal adalah kelahiran Yesus Sang Pangeran Perdamaian Dunia.   Maka IbuNya disebut Maria Ratu Perdamaian segala bangsa. Perayaan ini juga jatuh pada tanggal satu Januari yang ditentukan sebagai Awal Hari Perdamaian seDunia. Tahun Baru sendiri adalah Tahun Harapan akan Damai dan Sukacita manusia. Hubungan erat keempat perayaan besar itu, menjadi alasan mendasar bagi Paus Paulus VI memasukan Hari Raya Bunda Maria sebagai Bunda Allah dalam Kalender Liturgi yang jatuh pada tanggal 1 Januari setiap tahun. 


Dari keempat perayaan tersebut yang Kita rayakan pada Hari ini, yang menjadi fokus dalam permenungan Kita adalah kata Damai, Sukacita. Maria Ratu Damai mengandung Yesus Pangeran Damai dan Hari ini adalah Tahun Baru, Hari Perdamaian Dunia dimulai. 


Yang menjadi pertanyaan permenungan Kita adalah sasaran  perdamaian itu ditujukan kepada siapa, bila dikaitkan dengan Bacaan-bacaan Suci pada Hari Raya Maria Bunda Allah pada Tahun Baru Ini? 



Maria Bunda Allah mengandung Yesus sungguh Allah sungguh Manusia dan dilahirkan di sebuah tempat yang sederhana, terasing, tidak biasa, di kandang yang hina di Bethlehem. Tempat ini asing bagi masyarakat umum yang berkecukupan, tetapi tempat ini sangat akrab bagi orang-orang kecil, sederhana, terasing dari kehidupan masyarakat umum yang berkecukupan, yaitu para gembala. 


Maria Bunda Allah memiliki tempat miskin ini sebagai tempat kelahiran Yesus Pangeran Damai dan Sukacita bagi Dunia dan hal itu dimulai dari pinggiran Betlehem. 


Para gembala adalah orang yang sederhana menerima Yesus dan Maria serta Yusuf yang memilih kemiskinan sebagai Awal kelahiran dan kehidupan  Yesus Pangeran Perdamaian. Ada begitu banyak orang melihat dan mendengar tentang kelahiran Yesus tetapi hanya para gembala sederhana yang menanggapinya secara Positif. Mereka mendengar tentang kelahiran Yesus Pangeran Perdamaian dan bergegas bertemu muka dengan Yesus di palungan dan memuji dan memuliakan  Dia dengan penuh Sukacita dan kemudian pergi menyebarkan berita kelahiran Yesus dengan Damai dan penuh Sukacita. 


Damai Sukacita Yesus itu masuk berdiam di dalam budi dan hati para gembala. Para gembala yang diasingkan dalam masyarakat umum saat itu, dan dianggap orang sederhana, yang tidak diperhatikan,  kini semua itu disembuhkan oleh Yesus Pangeran Perdamaian bagi Dunia secara khusus bagi orang kecil dan orang-orang miskin. Pilihan Maria Yusuf pada kandang Betlehem sebagai tempat Yesus lahir adalah sebuah keberpihakan kepada orang miskin dan sederhana untuk mengangkat harkat dan martabat mereka sebagai secitra Allah. Allah turun mengalami kemiskinan  dan hidup di dalam kemiskinan dan mengangkat para miskin papa sebagai anak-anak Allah. Sehingga mereka bukan lagi hamba tetapi telah menjadi anak-anak Allah. Tanda para gembala menjadi anak-anak Allah adalah mereka menerima Yesus di kandang Betlehem,  memuji dan memuliakanNya dan pergi dengan penuh Sukacita mewartakan Berita kelahiran Yesus Pangeran Perdamaian yang lahir dari Rahim Maria Ratu Damai, kepada Sesama di sekitar. Mereka bukan lagi hamba. Tetapi mereka adalah anak-anak Allah. 


Kita belajar dari Para gembala. Bahwa di antara begitu banyak orang yang mendengar tentang kelahiran Yesus pembawa Damai sejati, hanya para gembala yang memberi respons Positif. Mereka menerima dan Percaya kepada Yesus dan pergi menjadi missionaries pertama tentang Yesus kepada Dunia. Sedangkan yang lain setelah mendengar tentang kelahiran Yesus sebatas kagum dan berbicara tanpa menjadi misionaris tentang kelahiran Yesus Pangeran Perdamaian. Para gembala secara manusiawi memiliki inisiatif yang Tinggi terhadap Natal kelahiran Yesus sumber Sukacita sejati. Mereka menerima, Percaya dan mewartakan Yesus kepada Dunia dengan kepolosan dan kejujuran serta penuh Sukacita. Bagi Kita dan bagi para gembala Yesus adalah pembawa Damai Sukacita bagi semua. Kita terima suka cita natal.  Kita juga pergi membagi Sukacita natal itu kepada Dunia. Selamat Tahun Baru. Tuhan memberkati.***



Coretan asli dari tanganku di era online 



























Rabu, 30 Desember 2020

Renungan Akhir Tahun Kamis 31 Desember 2020

Selama Tahun 2020: Apakah hidup Kita lebih Pro Kristus atau Anti Kristus 




* P. Benediktus Bere Mali,SVD*


Renungan Misa Oktaf Natal

31 Desember 2020

1 Yohanes 2:18-21

Yohanes 1:1-18 


Ada begitu banyak tawaran untuk memperoleh kehidupan dan kebenaran.   Tetapi terpenting  Bagi Kita sebagai orang Katolik bahwa  di antara sekian banyak jalan menuju hidup yang sejati itu hanya ada satu jalan menuju kebenaran dan kehidupan yaitu hanya melalui Yesus Kristus. 


Pada Hari terakhir tahun 2020 ini Kita merenungkan prolog Injil Yohanes 1:1-18. Permenungan Prolog Injil Yohanes ini  di dalam konteks Tujuan Penulisan Injil Yohanes seperti terdapat di dalam Yohanes 20: 30-31. Bahwa Injil Yohanes ditulis dengan Tujuan,  Agar orang menerima Yesus, agar orang yang menerima Yesus itu Percaya kepada Yesus, agar orang menerima dan Percaya kepada Yesus  itu menerima hidup melalui Yesus sebagai Satu-satunya Jalan kebenaran dan kehidupan (Yoh 14:6). Itu berarti tidak ada pilihan lain untuk mengalami kehidupan yang kekal. Hanya di dalam Yesus. 


Lalu  bagaimana dengan mereka yang antikristus seperti dalam Bacaan pertama? Dalam Prolog Injil Yohanes antikristus dikenal dengan orang yang masih tinggal di dalam kegelapan. Agar mereka mengenal Yesus adalah Terang kehidupan abadi bagi banyak orang, maka Perlu ada orang yang mewartakan atau memberikan Kesaksian tentang Yesus Sang Terang  sejati itu. Yohanes memberikan Kesaksian tentang Terang itu. Sebuah Kesaksian yang tanpa paksaan tetapi memberi kebebasan untuk menerima Terang Kristus, percaya kepada Kristus  dan menerima hidup dalam Yesus sebagai satu-satunya jalan menuju kehidupan yang kekal. 


Merenungkan Prolog Injil Yohanes berarti Kita sebagai SVD merenungkan serikat Sabda Allah sendiri secara utuh yaitu Sabda Allah, Sabda Roh Kudus, Sabda Yesus sendiri. Artinya merenungkan Sabda Allah berarti merenungkan Sabda Allah Tritunggal Maha Kudus.


Kita sepanjang Tahun 2020 ini telah berjalan bersama sang Sabda yaitu Sabda Putera, Sabda Roh Kudus dan Sabda Allah yang Kita rayakan di dalam Ekaristi setiap Hari dalam Tahun 2020 sampai Hari terakhir Hari ini 31 Desember 2020. 


Bagi Kita tidak ada pilihan lain. Kita memiliki nama Identitas SVD untuk selalu setia berjalan bersama Sang Sabda. Karena Sabda adalah Terang kehidupan  bagi Kita dan bagi orang yang Percaya kepadaNya. Berjalan Bersama Sang Sabda berarti Kita memberi Kesaksian kepada Dunia agar mereka yang masih berjalan bersama yang lain kembali bergabung dengan Kita berjalan bersama Sang Sabda Allah, Putera dan Roh Kudus dimana dan kapan saja Kita berada. Dan dalam berjalan bersama Sang Sabda itu Kita selalu berbicara dengan Sabda lewat Rajin Membawa Kitab Suci dan berusaha mengerti Kitab Suci dan mengahayatinya secara mendalam di dalam kehidupan Kita.***

NABI HANA: PRIBADI "MATANG" LAHIR & BATHIN



* P, Benedict Bere Mali, SVD * 


Christmas Octave Mass Devotional 

Wednesday, 30 December 2020

Bible Reading for the Liturgical Year B

Luke 2: 36- 40




Among the many views about the cloaked people, there is one view that often appears and is heard in our ears that the robed people are perfect people so that God called and chosen to work from and in the Church or Temple of God.


The general view that cloaked people are Perfect beings is sometimes consciously or unconsciously accepted by some people who call themselves part of the group of cloaked people. 


Whether they realize it or not, they often find it difficult to accept corrections and evaluations as well as constructive criticism of the mistakes and shortcomings that have surfaced in the public eye. 


Dengan demikian antara  kematangan personal dan Sosial, serta kematangan spiritual sulit didamaikan. Antara kematangan lahir dan bathin masih ada gap atau jurang pemisah yang cukup lebar. 


Bacaan Injil Hari ini menampilkan Hana seorang Nabi Perempuan. Tentu di pikiran Kita, sebagai Nabi, dia tidak memiliki persoalan yang menjadi pergulatan hidupnya. Tetapi kalau kita mengenal Hana secara lebih dekat maka sebetulnya Hana memiliki persoalan yang menjadi pergulatan yang cukup serius di dalam hidupnya. Pertama, Ia adalah keturunan Suku Asyer yang pernah melawan Yahweh sehingga mereka jatuh dan dibuang ke Asyur. Orang Israel yang setia pada Yahweh memiliki prasangka Negatif pada Suku Asyer ini. Hal ini pasti secara Sosial menjadi sebuah pergulatan yang hebat dalam Diri Hana. Kedua, Hana adalah janda miskin. Mengapa dikatakan Hana itu miskin. Dalam Agama Yahudi ada tiga syarat kesalehan yang harus dimiliki oleh seseorang yaitu Berdoa, berpuasa, dan bersedekah bagi sesama. Tetapi dalam Injil tidak disebutkan bahwa Hana bersedekah. 


Apakah kedua persoalan itu meghalangi Hana untuk menjadi seorang Nabi bagi Sang Mesias yang membawa kelepasan bagi umat manusia yang terbelenggu oleh dosa? 


Tampaknya kedua pergulatan itu tidak dapat membatalkan karya keselamatan yang harus dialami secara Fisik dalam Diri Yesus Sang Mesias di dalam Bait Allah. Itu dari sisi Allah. Tetapi dari sisi manusiawi Hana, sesungguhya ia telah berdamai dengan persoalan dan pergulatan personal dan Sosial. Ia telah Damai dengan Diri dan Sesama. Ia telah selesaikan kedua persoalan tersebut. Dan Karena itu ia boleh dikatakan  pribadi yang cukup matang  secara personal dan Sosial dan dapat  fokus sebagai seorang Nabi yang mengalami Yesus Sang Mesias yang membawa kelepasan bagi dosa umat manusia. Ia mewartakan Yesus Sang Pembebas manusia dari belenggu dosa dengan kata dan perbuatan. Ia mewartakan Sang Mesias yang membawa kelepasan bagi manusia lewat usahanya  mengalami kelepasan secara lahir, personal dan Sosial dalam dirinya sebagai seorang Nabi Allah. 


From Prophet Hana we learn. We are prophets about the Christmas Jesus the Messiah today. Like Hana, we need to proclaim the Christmas of Jesus the Messiah with words and life examples in the form of praying, fasting and giving alms to others during the Covid-19 pandemic. Perhaps, like Hannah, we don't have enough material to give alms materially, but we give charity through prayer and the Eucharist as a real sign of deliverance for mankind. ****

Senin, 28 Desember 2020

Yesus adalah Cahaya Para Bangsa

Foto: versi bawakan dalam misa Oktaf Natal 29/12/2020




*Benediktus Bere Mali, SVD*


Renungan Misa Harian Oktaf  Natal 29 Desember 2020 Tahun Liturgi B

1 Yoh 2:3-11 Terang vs gelap (cinta vs benci)

Luk 2:22-35




Ketika Yesus dipersembahkan di kenisa, Simeon menubuatkan bahwa Yesus akan menjadi  CAHAYA bagi para Bangsa. Tetapi tidak semua orang mengakuiNya. Ada saja orang  yang tidak mau datang kepada CAHAYA. Bacaan pertama Hari ini  menegaskan bahwa bila kita saling mengasihi maka Allah tinggal pada Kita dan Kita berada dalam CAHAYA. Tetapi bila kita saling membenci, maka Kita tinggal di dalam kegelapan. 


Di sini Kita disadarkan bahwa  Yesus adalah terang bagi bangsa-bangsa bukan dalam dalam pengertian lahiriah  tetapi dalam arti bathiniah. 


Lantas secara bathiniah,  apakah Kita tinggal di dalam Terang, saling mencintai dan dengan mudahnya saling memaafkan jika di antara Kita ada yang saling menyakiti baik melalui kata, Bahasa tubuh dan Aksi lainnya?  memyangkut Soal bathiniah, orang yang paling tahu  adalah  Diri Anda sendiri.  Anda yang paling tahu soalnya apa dan bagaimana solusinya. Kalau soalnya benci Sesama maka solusinya mencintai Sesama.  ***

Minggu, 27 Desember 2020

Kegelapan Herodes Vs Terang Bayi Yesus

 *P.Benediktus Bere Mali, SVD*


Renungan Misa Harian

Senin 28 Desember 2020

Mat 2:13-18


Bacaan-Bacaan suci Hari ini tentang Terang dan gelap. Dalam pandangan Katolik Terang dan gelap dibedakan secara tajam tidak ada yang namanya abu-abu seperti di dalam Dunia politik. Terang adalah Allah. Allah adalah Terang. Anti Allah adalah gelap atau kegelapan. Seorang yang setia pada Allah adalah orang yang berjalan di dalam Terang sedangkan orang yang melawan Allah adalah orang yang berjalan atau hidup dikuasai oleh kegelapan. 


Herodes adalah orang yang tampil tidak jujur di hadapan Orang Majus yang berjalan dalam arahan bintang Terang Allah sendiri dan Terang itu telah menjadi nyata dalam Diri Bayi Yesus Sang Mesias di Kandang Bethlehem. Setelah para Majus itu kembali ke daerahnya atas panduan Terang Allah, ketidakjujuran Herodes itu dibalik bahwa Para Majus itulah yang telah memperdayakan dirinya atau menipu dirinya  karena setelah mereka berjumpa dengan Yesus Sang Mesias Rohani itu, mereka tidak menyampaikannya kepada Herodes tentang tempat tinggal Bayi Yesus Sang Mesias Rohani. Bagi Herodes, ia diperdayakan oleh orang orang Majus itu. Tetapi bagi Allah Maha Tahu, Herodeslah yang justru tidak jujur pada Orang Majus itu. Herodes sungguh sangat licik memproyeksikan tidak jujur nuraninya kepada para Majus yang betul-betul memiliki Hati nurani yang jujur di hadapan Allah sumber Terang sejati. 


Allah yang Maha Tahu, lewat mimpi dapat berbicara kepada Yusuf orang tua Yesus.  Bahwa Herodes akan mencari Yesus  bukan untuk diakui dan disembah seperti para Majus dari Timur tetapi Herodes akan segera mencari dan membunuh Yesus. Lewat mimpi Yusuf, Allah memandu Yusuf agar ia bersama Yesus dan Maria mengungsi ke Mesir, sampai Herodes meninggal.


Yusuf, Maria dan Yesus diselamatkan karena berjalan di dalam Terang Allah sendiri. Tetapi Herodes dikuasai ketidakjujuran, kemarahan dan takut pada seorang Bayi Yesus Sang Mesias Yang lahir yang akan menjadi Mesias Rohani bukan Mesias Duniawi. Herodes melihat Mesias dalam arti duniawi. Padahal kemesiasan Yesus sebenarnya dalam arti    Rohani. Kesalahpahaman Herodes ini membawa akibat  yang fatal. Ia sebetulnya tidak mempunyai sahabat untuk berdiskusi tentang Mesias duniawi dan Mesias Rohani sebelum ia bertindak.  


Pengetahuanya yang keliru mengarahkan  Sikap atau Kemauannya yang keliru juga,  yang pada akhirnya dapat membawa Aksi yang fatal yaitu ia secara bengis membunuh semua  Bayi Bayi jujur polos berusia dibawah 2 Tahun.  Ambisi akan kuasa, takut kehilangan kuasa, dan hanya untuk memertahankan kuasa, Herodes menghalalkan segala cara demi dirinya dan dinastinya. 


Kita merenungkan Terang dan kegelapan dalam konteks pandemic corona virus 19 ini. Terang bagi Kita dalam konteks ini adalah ketika Kita berjalan dalam tanggungjawab moral Kita untuk menyelamatkan Diri dan anggota komunitas agar Kita bersama selamat, Dengan Taat mengikuti protokol kesehatan untuk kebaikan Kita bersama di dalam komunitas Rumah Kita bersama.***