Kamis, 14 Januari 2021

Renungan Misa Harian Jumat 15 Januari 2021

*P.Benediktus Bere Mali, SVD*


Bacaan 


Ibr.4:1-5.11


Mrk. 2:1-12




Banyak orang yang datang kepada Yesus dalam Injil Hari ini  Karena Yesus berbicara penuh Kuasa. Pada zaman sebelum Yesus, para Nabi berbicara atas nama Allah tetapi Yesus ada dan berbicara sebagai Anak Allah sendiri. Kalau para Nabi berbicara untuk Kedatangan Mesias. Yesus bicara sebagai sebagai Mesias itu sendiri. Apakah semua orang yang datang kepada Yesus memiliki pemahaman yang sama bahwa Yesus adalah Anak Allah Sang Mesias yang dinanti-nantikan dalam Perjanjian Lama? Jawabannya Tidak. Ahli-ahli Taurat yang tampil menyaksikan Yesus menyembuhkan orang lumpuh dalam Injil pada Hari ini adalah orang yang memiliki pandangan yang masih dalam Perjanjian Lama. Ahli Taurat melihat Yesus yang mengampuni dosa orang lumpuh itu dilihat sebagai penghujat Allah. Bagi Ahli Taurat hanya Allah yang mengampuni dosa orang. Tetapi Yesus tegas berkata, Anak Manusia berkuasa  atas pengampunan dosa manusia. Yesus adalah Anak Allah. Tentu orang- orang yang datang itu memiliki iman kepada Yesus sebagai Mesias Anak Allah yang menyembuhkan dan mengampuni dosa manusia. Karena iman mereka kepada Yesus sebagai Anak Allah itulah mendorong banyak orang datang kepada-Nya. Orang Yang disembuhkan berkat imannya kepada Yesus Anak Allah.  




Pesan bagi Kita bahwa perbuatan baik yang lahir dari iman Kita kepada Yesus Anak Allah tetap memiliki peluang bagi Kita untuk terus berbuat baik, tetapi tidak menutup pintu jendela bagi orang lain menyangkal dan menolak Kita. Semua dukungan dan penerimaan tidak membuat Kita merasa sombong. Tetapi semua penolakan yang Kita terima juga tidak membuat Kita putus asa di dalam mengikuti Yesus dan mewartakan Yesus sang juru selamat dunia kepada segala Suku bangsa agar semua orang berjalan bersama Sang Sabda yang telah menjadi manusia di dalam Diri Yesus Anak Allah. ***

Rabu, 13 Januari 2021

Renungan Misa Harian Kamis 14 Januari 2021



*P.Benediktus Bere Mali,SVD*




Bacaan 

Ibr.3:7-14

Mrk.1:40-45


Yesus melakukan mujizat penyembuhan orang yang sakit kusta. Bagi saya, ada satu hal yang paling Menarik dalam Injil Hari ini.  Saya tertarik pada Yesus yang menegaskan bahwa Orang yang telah  Sembuh dari Kusta itu tidak boleh menyebarkannya kepada siapapun kecuali kepada imam. Hal ini bagi saya merupakan sesuatu yang sangat istimewa. Mengapa? Pada zaman ini, seorang yang mengalami Sakit Kusta, mendapat pengobatan dan hingga penyembuhan, sudah pasti berada di dalam tangan dingin para dokter dan perawat. Tetapi pada zaman Yesus, orang yang memiliki kuasa untuk menentukan seorang Sakit Kusta dan bagaimana aturan pengobatan dan penyembuhannya, ada di dalam tangan para imam (Kitab Imamat 13 dan 14). Yesus menegaskan bahwa orang yang telah mengalami kesembuhan dari Kusta itu penting pergi menjumpai imam dan membawa serta sejumlah persyaratan Syukuran atas Sembuh dari Sakit Kusta menurut Hukum Musa (Imamat 13 dan 14). Dalam Perjanjian Lama khususnya Kitab Taurat ditegaskan bahwa para imam yang menentukan apakah seseorang itu Sakit Kusta atau tidak, bagaimana pengobatan sampai Sembuh lalu kemudian syukur atas Sembuh. Tetapi dalam Perjanjian Baru, khususnya dalam Injil Hari ini Yesus adalah Sang Imam Agung penyembuh orang Kusta. Mujizat  Yesus menyembuhkan orang Kusta ini merupakan sebuah jawaban atas , siapa yang menentukan seseorang itu menderita Sakit Kusta, pengobatan, penyembuhan, syukur atas sembuh, seperti terdapat dalam Perjanjian Lama khususnya dalam Kitab Imamat 13 dan 14.  Yesus adalah Imam Agung, memiliki kuasa penuh atas orang yang Sakit Kusta sampai Sembuh. 


Di sini Kita menemukan bahwa Yesus melakukan mujizat penyembuhan orang Kusta ini, dalam koridor taat aturan setempat yang sedang berlaku. Yesus melakukan mujizat dalam rangka melengkapi apa yang sudah ada di waktu lalu. Dalam konteks ini waktu lalu yang dimaksud adalah Perjanjian Lama. Yesus melakukan mujizat bukan untuk melawan hukum Taurat tetapi untuk menyempurnakannya. 


Pesan bagi Kita khususnya para penyembuh dalam kelompok-kelompok Rohani yang ada adalah ini. Menjadi penyembuh bukan untuk melawan aturan atau hukum Gereja yang ada. Tetapi kelompok-kelompok doa penyembuhan atau penyembuh dalam Gereja Katolik semestinya Taat aturan Gereja Katolik dalam hal ini penting sekali penyembuh atau Kelompok penyembuhan senantiasa berdialog dengan pimpinan Gereja Katolik dari tingkat Komunitas Basis Gereja sampai pimpinan tertinggi menurut Hukum Gereja Katolik. Aturan yang ada disempurnakan dengan kegiatan-kegiatan penyembuhan yang ada dalam Gereja Katolik. ***

Selasa, 12 Januari 2021

Renungan Bacaan Misa Harian 13 Januari 2021


* Benediktus Bere Mali, SVD* 


Bacaan

Ibr. 2:14-18

Mrk.1:29-39


Banyak orang yang datang kepada Yesus untuk dilayani. Tetapi dari sekian banyak yang terus menerus datang kepadaNya itu, Mengapa Yesus tidak melayani sebagian yang datang meminta untuk dilayani? 

Atau lebih tepatnya pertanyaan ini sebaiknya berbunyi demikian, apakah Yesus yang datang untuk melayani bukan untuk dilayani, selalu melayani semua orang yang datang kepada-Nya? Jawabannya tidak. Mengapa? Yesus melayani setiap orang yang datang kepada-Nya senantiasa berdasarkan kebutuhan. Ibu Simon yang Sakit, Yesus layani.  Orang-orang Sakit yang datang kepada-Nya, disembuhkan. Tetapi Yesus mengabaikan orang-orang yang datang dan mencari-Nya itu, tidak dilayani karena tampaknya  mereka mencari Yesus berdasarkan keinginan bukan berdasarkan kebutuhan. Menurut   hemat saya, Yesus tidak melayani mereka karena agenda pelayanan telah tersusun rapi bagi Yesus untuk  melayani di tempat lain. Ada berbagai kemungkinan lain yang bisa saja ada di dalam benak Yesus sehingga tidak melayani banyak orang yang mencari-Nya seperti di dalam Injil hari ini. Bagi hemat saya,  orang banyak ini mencari Yesus bukan karena kebutuhan tetapi karena keinginan. Bagi Yesus melayani keinginan orang pasti tidak akan tuntas. Tetapi melayani berdasarkan kebutuhan itu sebagai sebuah prioritas. 


Yesus secara tegas meninggalkan orang banyak yang mencari-Nya berdasarkan keinginan dan kemudian Yesus bersama para murid-Nya pergi ke tempat-tempat lain yang sangat membutuhkan pelayanan dari Yesus. Tentu orang banyak yang mencari-Nya tetapi tidak dilayani itu memiliki tanggapan beraneka dan yang sangat dominan menurut saya bahwa pasti ada yang kecewa, ada yang marah serta ada yang merasa  dirinya tidak "diorangkan".  


Kita adalah pelayan-pelayan di zaman ini. Ketika Kita menghadapi orang-orang yang telah berjasa bagi Kita baik pribadi maupun komunitas Gereja dan Serikat, Kita seringkali berada pada situasi dan kondisi yang sulit, dan kemudian bertanya apakah pelayanan Kita ini berdasarkan kebutuhan atau keinginan. Kebutuhan dan keinginan dalam hal ini bisa datang dari pelayan maupun dari mereka yang menerima pelayanan.  Pengalaman Yesus secara tegas melayani berdasarkan kebutuhan bukan berdasarkan keinginan dalam Injil hari ini menginspirasi Kita untuk menata Ulang pelayanan Kita berdasarkan kebutuhan bukan hanya sekedar suka dan tidak suka. Pelayan yang  sedang melayani berdasarkan suka dan tidak suka adalah pelayan yang belum menyelesaikan persoalan dengan dirinya sendiri. Demikian juga pencari pelayan berdasarkan keinginan. Marilah Kita bersama mencari Yesus berbasis kebutuhan.***

Senin, 11 Januari 2021

Renungan Misa Harian Selasa 12 Januari 2021


*P. Benediktus Bere Mali, SVD*


Ibr. 2: 5-12

Mrk. 1:21b-28


 *Apa perbedaan antara  Yesus dengan Ahli Taurat dalam berbicara  dan mengajar?* 


Bicara berdasarkan pikiran orang lain rasanya kurang memberi kepuasan Psikologis pembicara. Tetapi berpikir dan berbicara lahir dari dalam pembicara itu sendiri, pasti akan memberi kepuasan tersendiri.  Contoh beberapa pengkotbah mensharingkan bahwa pengalaman membawa renungan atau kotbah yang lahir dari refleksi yang mendalam pasti memberi kepuasan Psikologis dan spiritual yang sangat luarbiasa. Tetapi pengkotbah yang hanya membawakan kotbah orang lain, bukan hasil refleksi pengkotbah, rasanya sesuatu yang bilang yaitu kepuasan Psikologis dan spiritual serta Sosial.



perkataan dan ajaran Yesus lahir dari diriNya sendiri. Artinya pembicaraanNya di depan publik keluar dari sebuah refleksi dan penghayatan yang mendalam. Semua yang dikatakan-Nya, dilakukan-Nya dan semua yang dilakukan-Nya, diwartakan-Nya. Pengajaran Yesus yang lahir  dari refleksi yang mendalam dan lahir dari meditasi yang mendalam dapat  membuat pendengar tahkjub. Sedangkan Ahli- Ahli Taurat  dapat bicara dan mengajar tetapi mereka sendiri tidak melakukan apa yang mereka ajarkan, dapat menciptakan kehilangan Rasa takhjub publik sebagai observer dan audience. 


Ajarkanlah apa yang dilakukan. Laksanakanlah apa yang dikatakan. Ajaranmu keluar dari teladanmu. Semua yang mendengarmu pasti takhjub penasaran untuk seperti Anda.***

Minggu, 10 Januari 2021

Renungan Misa Harian Senin 11 Januari 2021


 

Bacaan 

Ibr.1:1-6

Mrk. 1-14-20.

 

*P.Benediktus Bere Mali, SVD*

 

 *Mengapa setelah Yohanes Pembaptis ditangkap, Yesus meneruskan tugas perutusan-Nya dengan memilih para murid?*

 

 

Sudah banyak orang yang dibaptis oleh Yohanes Pembaptis. Yesus melanjutkan apa yang sudah dimulai Yohanes Pembaptis. Pembinaan iman bagi mereka yang telah dibaptis sebaiknya Yesus lakukan agar dengan demikian mereka Percaya kepada Sang Mesias yaitu Yesus sendiri semakin kokoh. Pembinaan iman bagi yang telah dibaptis  Perlu diberi porsi yang memadai agar rasa Percaya kepada Sang Mesias semakin Hari semakin mantap. 

Selain itu masih banyak juga yang belum dibaptis dan untuk mereka Yesus diutus agar mereka bertobat dan Percaya kepada -Nya. Kebutuhan misi begitu kompleks tetapi tenaga terbatas. Satu orang saja yang membina umat dan membaptis orang rupanya sangat lamban untuk secara cepat menyebarkan Khabar Gembira yang menarik lebih banyak orang Percaya kepada Sang Mesias.

Dibutuhkan team kerja yang solid dan memiliki semangat pelayanan yang terkoordinasi , terkontrol, dievaluasi secara rutin,dan jika dalam evaluasi ada yang Perlu direvisi maka segera revisi untuk mencapai Tujuan tugas pelayanan dan perutusan yaitu mempertobatkan, membaptis, Percaya kepada Tuhan dan menjadi anak-anak Allah. Yesus memiliki kesadaran yang Tinggi tentang Misi dan bermisi dalam team dengan program yang jelas, pelaksanaannya melibatkan team kerja, dan ada proses monitoring dan evaluasi dalam agenda yang rapi, serta bila ada yang Perlu direvisi setelah evaluasi maka sesegera mungkin direvisi dan lalu dikonseptualisasi secara mantap lalu diterapkan sampai tujuan Misi tercapai yaitu mempertobatkan banyak orang secara terukur yaitu berapa banyak orang yang dibaptis, dan berapa banyak yang dibina setelah dibaptis dapat terlihat di dalam tugas perutusan yang sedang dan terus dilakukan sesuai konteks tuntutan zaman.

 

Memonitor program Misi yang sedang dilaksanakan, jadwal evaluasi dan revisi yang jelas, dapat dengan mudah  untuk mencapai Tujuan Misi yaitu anggota yang dibaptis meningkat, Percaya kepada Yesus semakin kokoh lewat pembinaan iman, dan banyak yang terlibat ambil bagian di dalam Misi Yesus. Di dalam Misi Yesus ini ada aspek animator, koordinator dan administrator. Yesus sudah mulai di Awal misiNya yang dimulai di Galilea. Kita tinggal melanjutkannya sesuai situasi dan kondisi zaman Misi Kita Hari ini. Kerja team dan team kerja merupakan sebuah opsi penting untuk Misi Dewasa ini secara lebih cepat dan Meluas.***

Pesta Pembaptisan Tuhan Minggu 10 Januari 2021

Pesta Pembaptisan Tuhan

Bacaan

Yes 55:1-11

1Yoh 5:1-9

Mrk 1: 7-11

Rendah Hati Membuka Diri Terhadap Tuhan dan Sesama serta alam lingkungan.

·        P. Benediktus Bere Mali, SVD*

 

Mengapa Yesus dibaptis pada usia yang ke -30 di Sungai Yordan?

 Menurut hukum Yahudi seseorang yang layak berbicara tentang hukum Taurat di depan publik    adalah orang yang telah berusia 30 Tahun (Luk 3:23) dengan pengetahuan yang memadai dan pribadi yang Dewasa secara Sosial, emosional dan  kesalehan yang mendalam serta hidup bijaksana. Dengan demikian Pembaptisan Yesus untuk sebuah tugas perutusan menghadirkan Khabar keselamatan kepada segala bangsa di bumi, sudah memenuhi persyaratan dalam konteks setempat.

 Pembaptisan ini berlangsung di Sungai Yordan. Mengapa di antara sekian banyak air, hanya Air Yordan yang dipilih oleh Yesus menjadi tempat Pembaptisan bagi-Nya?

Pilihan air Sungai Yordan memiliki kepantasan seturut rencana Allah menyelamatkan manusia.  Sungai Yordan memotong Padang gurun dan panjangnya kurang lebih 200 km dari hulu sampai ke hilir, sebagai tempat dimana Yohanes berseru-seru, "siapkanlah jalan bagi Tuhan." Siapkanlah jalan bagi Tuhan ini  dijawab atau terpenuhi oleh Yang dibaptis di Sungai Yordan pada Hari ini. Sungai Yordan adalah tempat terjadinya peristiwa-peristiwa penting dalam sejarah keselamatan. Musa menyerahkan tongkat kepemimpinan kepada Yosua sebelum bangsa Israel menyeberangi Sungai Yordan ke tanah terjanji- tanah Kanaan. Di Sungai Yordan yang memotong padang gurun inilah tempat Yesaya dan Yohanes mewartakan pertobatan kepada bangsa-bangsa sebagai persiapan penyambutan Sang Mesias yang Hari ini dibaptis oleh Yohanes.

Peristiwa Mujizat pembelahan Sungai Yordan oleh Tuhan untuk penyeberangan Israel Kita temukan dalam Kitab Yosua (Yos.3:14-17). Dan sebagai peringatan abadi akan mujizat Sungai Yordan yang meluap pada musim panen, tetapi Allah mengeringkannya sehingga bangsa Israel boleh menyeberangi Sungai Yordan memasuki tanah terjanji, tanah Kanaan maka Yosua memilih wakil 12 Suku Israel yang berjumlah 12 orang dan mereka mengangkat batu dari dalam Sungai Yordan yang kering itu lalu dengan 12 Batu yang dibawah oleh 12 wakil Suku Israel, didirikanlah mezbah di Gilgal yang ada sampai Hari ini. Setiap kali ditanya oleh anak Cucu tentang susunan Batu yang membentuk mezbah ini, orang-orang tua menjawabnya bahwa inilah kenangan sejarah mujizat Allah mengeringkan Sungai Yordan di depan Tabut Perjanjian Tuhan di Masa kepemimpinan Yosua yang mengantar masuk Bangsa Israel ke dalam Tanah Kanan yaitu tanah yang Tuhan janjikan (Yos. Bab 3 dan Bab 4).

Dari segi geografis, Sungai Yordan adalah Sungai yang letaknya paling rendah di kedalaman  393 meter di bawah permukaan Laut. Dengan demikian Sungai Yordan adalah Sungai yang paling besar dan meluap pada musim panen karena Sungai Yordan menerima semua Sungai kecil yang ada di sekitarnya. Yesus Pilih dibaptis di tempat yang paling rendah ini dengan sebuah makna terdalan tentang kerendahan HatiNya di hadapan Tuhan dan Sesama khususnya dibaptis oleh orang yg tidak pantas untuk tunduk dan membuka tali kasutNya yaitu Yohanes yang merendahkan diri serendah-rendahnya di bawah hamba di hadapan Yesus. Tetapi Yesus Pilih dibaptis oleh Yohanes.

 Makna kerendahan Hati di balik alam Sungai Yordan yang menerima semua Sungai kecil di sekitarnya, dan Yohanes yang merendahkan diri serendah-rendahnya di bawah seorang hamba, dan Yesus yang rendah Hati ingin dibaptis di Sungai Yordan adalah sebuah situasi dan kondisi lahir dan bathin yang sangat layak dan pantas untuk mendengar suara dari dalam Surga: “ Engkaulah Anak-Ku yang Ku-kasihi, kepada-Mulah Aku berkenan.”

 

Mereka yang rendah hati yang layak mendengar suaraku: " Engkaulah Anak-anak-Ku yang Ku-kasihi, kepadaMulah aku berkenan." Orang yang rendah hati senantiasa membuka Diri untuk Tuhan dan Sesama bagi kemajuan Diri dan kebaikan bersama. Sebaliknya orang yang sombong utamakan Diri sendiri dan menganggap Diri sempurna dan dengan demikian orang sombong menutup Diri terhadap Masukan dari luar sekalipun Masukan itu untuk kebaikan Diri dan Sesama. Orang sombong sering secara halus tapi agresif memperalat yang lain untuk Menonjolkan dirinya sendiri, termasuk memperalat agamanya untuk mencari pujian dirinya sendiri.

 

 

Pertanyaan kedua yang mempertajam renungan ini adalah: Mengapa sebelum Suara dari   Surga terdengar " Engkaulah anak-Ku yang Ku-kasihi, kepada-Mulah Aku berkenan" terjadi peristiwa Yesus keluar dari dalam Air Sungai Yordan, langit terkoyak, Roh seperti burung merpati turun ke atas-Nya?

 

Keluar dari air Sungai Yordan yang dipilih oleh Yesus dibaptis karena Air Sungai Yordan yang memotong padang gurun tempat dimana Yohanes berseru-seru "Siapkanlah jalan bagi Tuhan." Yesus ingin dibaptis Yohanes untuk menjawab Karya Yohanes dan Nabi Yesaya dan seluruh sejarah keselatan yang terjadi di Sungai Yordan. Yesus memenuhi Nubuat Yesaya dan Yohanes dan seluruhPerjanjian Lama.

 

Keluar dari air Sungai Yordan menunjukan orang yang telah bersih secara fisik.Tentu ada perbedaan tajam sebelum turun- masuk -cemplung ke dalam Air Sungai Yordan. Air merupakan  simbol yang membersihkan semua non-fisik yang masih kotor. Setelah bersih lahir dan bathin maka langit pun terkoyak dan Roh Kudus Turun dan Sabda Allah terdengar dari dalam Surga " Engkaulah Anak-Ku yang Ku-kasihi, kepada-Mulah Aku berkenan."

 

Peristiwa Sungai Yordan dalam Pembaptisan ini adalah Sebuah Perjumpaan antara Sesama yang terjadi ketika semua pihak yang terlibat di dalamnya  memiliki kesamaan yang disatukan dalam sebuah kata Terbuka. Bukan tertutup.  Masing-masing orang membuka Diri dan keluar dari  ketertutupannya dengan satu arah yaitu untuk berjumpa dengan Sesama. Untuk itu orang yang mau bertemu dengan yang lain sebaiknya pertama-tama tampil layak agar pertemuan yang akan berlangsung dalam situasi yang nyaman/pantas/layak/bersih/tidak kotor.

Satu hal utama untuk berjumpa adalah bersih lahir dan bathin. Yesus membuka Diri lewat "keluar" dari dalam Air, setelah bersih, Suci, Kudus. Roh Kudus Turun dari Surga setelah langit terkoyak. Jalan dari Surga ke Bumi sudah terbuka. Suara Sabda Allah mengalir dari dalam Surga. Perjumpaan Allah Tritunggal membuka pintu Surga dari Bumi ke Surga dan dari Surga ke  Bumi.

 

 *Membuka Pintu dari Surga ke  bumi dan dari Bumi ke Surga*

 

Yesus dari Surga. Malaikat Gabriel membawa Sabda Allah kepada Santa Maria. Sabda itu dikandung Maria dari Roh Kudus berkat persetujuan Maria, "Aku ini hamba Tuhan, terjadilah padaku menurut kehendak-Mu.” Santa Maria dan Santo Yusuf menjadi orang tua Yesus sampai usia 30 Tahun (Luk 3:23) dibaptis di Sungai Yordan. Pembaptisan Yesus adalah perutusan Yesus untuk mulai berkarya  di publik. Yesus melayani semua orang untuk mengantar semua berjalan bersama Sang Sabda menuju Bapa di Surga dalam bimbingan Roh Kudus. Yesus adalah jalan kebenaran kehidupan (Yoh 14:6). Yesus adalah satu-satunya "guide" semua orang masuk ke pangkuan Allah Bapa di Surga.

Inilah Kerja sama Allah Putera, Allah Roh Kudus dan Allah Bapa dalam menyelamatkan semua Bangsa di bumi. Pesta Pembaptisan Tuhan adalah sebuah titik Awal tugas perutusan dengan kerja sama team yang kokoh dalam melaksanakan program besar untuk menyelamatkan umat manusia di bumi agar semua orang berjalan bersama dalam bimbingan Roh Kudus menuju Bapa di Surga.

Kita semua ingin maju baik secara personal maupun secara sosial serta dan dalam kehidupan religius. Untuk maju bersama bagi kebaikan bersama komunitas, penting semua Kita terbuka. Membuka Diri untuk majukan hidup Bersama dan pada saat yang bersamaan membuka Diri untuk orang lain memberi Masukan bagi kemajuan Diri. Terbuka awal kemajuan. Tertutup Awal keterbelakangan atau kemunduran. Terbuka, untuk  memajukan dan dimajukan adalah orang yang layak mendengar Suara dari atas, dari Surga untuk kemajuan di bawah di bumi: “Engkaulah Anak-anak-Ku yang Ku-Kasihi, kepada-Mulah Aku berkenan." Orang yang rendah hati dapat membuka Diri bagi yang lain yaitu Tuhan dan Sesama serta alam lingkungan untuk memajukan Diri dan Sesama. “Engkaulah Anak-anak-Ku yang Ku-Kasihi, kepada-Mulah Aku berkenan." ***

Sabtu, 09 Januari 2021

Homili HR Pembaptisan Tuhan, CKMS Manila 10 Januari 2016 Pada Natal dan Tahun Baru Bersama Flobamora Global Fhilipine

  KEMAUAN YESUS DIBAPTIS DI AIR YORDAN

*P. Benediktus Bere Mali, SVD*

Homili HR Pembaptisan Tuhan, CKMS Manila  10 Januari 2016 Pada Natal dan Tahun Baru Bersama Flobamora Global Fhilipine

Thn.c. Yes 40 :1-5.9-11. Tit 2 : 11 -14; 3 : 4 – 7; Luk 3:15-16.21-22

Yohanes memilih  Sungai Yordan sebagai tempat pembaptisan. Pemilihan ini melahirkan  di dalam diri kita masing-masing sebuah pertanyaan ini: Mengapa di antara sekian banyak air yang ada, hanya air Yordan yang jadi tempat baptis banyak orang dan Tuhan Yesus? Alasan mendasar yang membuat air Yordan paling unik bila dibanding dengan air yang lain adalah karena Sungai Yordan memotong padang gurun, tempat dimana Yohanes berseru-seru  dengan suara yang sangat lantang tentang : siapkanlah jalan bagi Tuhan.

Seruan Yohanes ini sesungguhnya  menegaskan kembali apa yang dinubuatkan nabi Yesaya kepada bangsa Israel: “Siapkanlah di padang gurun jalan bagi Tuhan”.  Banyak orang yang menanggapi seruan penegasan itu dengan sebuah hati yang terbuka lebar. Tanggapan baik itu tampak melalui begitu banyak jumlah orang yang pergi ke Sungai Yordan untuk berjumpa dengan Yohanes dan dibaptis di dalam air Yordan. Kalau kita mengikuti betul proses orang banyak yang datang ke air Yordan itu, kita dapat menemukan bahwa dari antara sekian banyak orang yang turun ke dalam air Yordan dan dibaptis itu, memiliki motivasi yang berbeda-beda antara satu orang dengan yang lainnya. Ada yang datang ke Sungai Yordan dan bersedia dibaptis karena hanya sekedar rame-rame mengikuti teman-temannya yang juga mau dibaptis. Ada yang datang ke sungai Yordan karena hanya sekedar ingin mengetahui, seperti siapakah Mesias yang diwartakan Yohanes. Ada yang datang ke Sungai Yordan memang didasari oleh pertanyaan dalam hati apakah Mesias yang dinantikan itu adalah Yohanes yang membaptis mereka atau kah orang lain. Dengan kata lain, menerima baptisan di Sungai Yordan tidak selamanya memberikan jaminan atau jawaban yang memuaskan atas semua keraguan dan pertanyaan iman tentang siapakah Mesias yang sesungguhnya yang mereka dengar dan baca dalam Kitab Suci.

Beraneka keraguan dan pertanyaan tentang siapakah Mesias yang dinanti-nantikan itu dapat ditemukan dalam persoalan pokok berikut, yang menurut hemat saya, barangkali  juga menjadi persoalan iman kita di dalam sepanjang sejarah ziarah hidup iman kita. Persoalan besar itu dapat dirumuskan dalam sebuah pertanyaan penting sekaligus menarik: Mengapa Yesus begitu kuat memiliki  kemauan untuk turun ke Sungai Yordan dan dibaptis, walaupun dengan sebuah awal yang menghalangi Yohanes untuk membaptis karena Yohanes benar-benar secara jujur menyatakan sebuah rasa tidak layak untuk membaptis Yesus yang diwartakanNya?

Yesus mau turun ke Sungai Yordan sebagai cara  buka Pintu Surga dan  Hati yang dahulu tertutup rapat

 Yesus memiliki kemauan yang begitu luarbiasa besar untuk turun ke dalam Sungai Yordan karena bagi Yesus, hanya dengan jalan itulah, semua orang yang telah turun ke dalam air Yordan, diperbolehkan atau diijinkan atau lebih tepatnya diperkenankan untuk mendengarkan Suara dari langit yang penuh berdaya revolusioner, : “Engkaulah AnakKu yang terkasih, kepada-Mulah Aku berkenan”.  Suara ini adalah kata-kata pengakuan dari Allah Bapa di Surga bahwa Yesus adalah Mesias yang dinanti-nantikan; Yesus adalah yang berkenan sebagai Mesias dan bukan orang yang lain. Suara itu juga menegaskan bahwa semua kehendak Tuhan tentang semua yang terbaik  bagi manusia telah diberikan kepada Yesus maka semua orang yang dibaptis menerima undangan dari Tuhan untuk mendengarkan Yesus dan melaksanakan semua yang diajarkan Yesus. Dengan demikian Suara itu mengubah yang ragu tentang Mesias menjadi percaya bahwa Yesus adalah Mesias yang utama dan dengan demikian mereka menjadi lebih yakin dan pasti mendengarkan Yesus dan melaksanakan semua yang diajarkan Yesus karena semua apa yang disampaikan Yesus senantiasa membuat hati sejuk para pendengarNya dan damai yang dialami itu senantiasa diharapkan semua mahkluk di muka bumi karena selalu menarik hati.  

Kesimpulan

Dengan demikian, ditemukan sebuah benang merah bahwa Siapkanlah jalan bagi Tuhan, dijawab oleh mereka yang dibaptis di Sungai  Yordan, karena hanya melalui cara itu, mereka yang dibaptis boleh mendengarkan suara Allah Bapa: “Engkaulah Putera dan Puteriku yang Terkasih”.  Kita semua yang telah dibaptis menjadi putera dan puteri yang dikasihi Tuhan, selalu dekat dengan Tuhan, bahkan bukan hanya itu melainkan kita juga selalu menjadi orang yang berkenan bagi Tuhan untuk tinggal bersamaNya sebagai orang yang selalu hidup di dalam Keluarga Allah (Kej 9:16/tema Natal 2015).  Dan satu contoh yang menjadi tanda nyata sebagai orang yang selalu hidup di dalam keluarga Allah adalah Senantiasa Rajin Berbuat Baik bagi semua orang tanpa syarat apapun. ***