Selasa, 26 Januari 2021

Renungan Misa Harian Selasa 26 Januari 2021

  Sumber Refleksi

2Tim 1:1-18

Luk 10:1-9



Teladan Hidup Beriman Keluarga Menyehatkan Iman Putra dan Putrinya 


*P. Benediktus Bere Mali,SVD*



Apa Persamaan antara St. Timotius dan St Arnoldus?  Dua tokoh iman yang terkenal hidup di dalam zaman yang berbeda, tetapi memiliki sumber kekuatan iman yang hampir sama. Orang tua dalam Keluarga mereka masing-masing memiliki iman yang tulus. Nenek dan ibunya Timotius memiliki iman yang tulus jatuh dan bertumbuh di dalam Hati Timotius yang Kita rayakan pestanya Hari ini Juga memiliki iman yang tulus. Demikian Juga Santo Arnoldus pendiri Serikat Sabda Allah dan Suster SSpS dan SSpSAP memiliki iman yang kokoh lahir dari dalam keluarga. Setiap Hari keluarga Membaca Prolog Injil Yohanes di dalam keluarga sesudah makan Malam. Selalu aktif Adorasi di depan Hati Kudus Yesus. Selalu berdevosi kepada Roh Kudus. Keluarga St. Arnoldus berakar di dalam Kehidupan religius yang berpusat di dalam Tritunggal Maha Kudus. Moto keluarga adalah Semoga Hiduplah Allah Tritunggal Maha Kudus di dalam Hati Semua Manusia. 


Keluarga adalah sumber keselamatan Dunia. Yesus lahir dari keluarga Kudus dari Nazareth yang memiliki iman yang tulus.  St. Timotius lahir dari keluarga yang memiliki iman yang kokoh dan tulus. Santo Arnoldus lahir dari keluarga yang terikat dan berakar di dalam Tritunggal Maha Kudus. 


Keluarga adalah Gereja Katolik Paling Kecil. Keluarga beriman tulus Gereja beriman Tulus. Keluarga menyelamatkan Dunia Gereja  Katolik menyelamatkan Dunia. Keluarga hadir menyembuhkan Sesama. Gereja Katolik hadir menyembuhkan Sesama bukan menyakiti orang lain. 


Kita secara pribadi dan bersama ada bersama untuk menyembuhkan Sesama bukan menyakiti Sesama baik secara fisik, Bahasa verbal maupun Bahasa non-verbal, baik dalam Dunia nyata maupun dalam dunia maya. Selamat merayakan pesta St. TIMOTIUS DAN TITUS, Uskup.***

Minggu, 24 Januari 2021

Renungan Pesta Bertobatnya St. Paulus Rasul, Senin 25 Januari 2021

  Kehadiranku  Menyembuhkan atau Menyakiti Orang Lain

 

 *P.Benediktus Bere Mali, SVD*

 




Pesta Bertobatnya St. Paulus, Rasul

Senin 25 Januari 2021

Bahan Refleksi

Kis.22:3-16

Atau Kis.9:1-22

Mzm. 117:1.2, R: Mrk.1:16-15

Mrk. 16: 15-18

 

 

 

 

Kehadiran Ananias bersama para murid pada bacaan-bacaan suci pada hari ini menyembuhkan sesama bukan menyakiti sesama. Kehadiran seperti ini dapat diterima oleh semua orang termasuk musuh yang tidak berdaya dan sakit. Ketika Ananias bersama murid Yesus hadir di samping musuh yang sakit dengan niat baik hadir disampingnya untuk menyembuhkan maka musuh yang sebelum sakit menjadi penganiayah pengikut Yesus itu membuka diri dan pasrah untuk disembuhkan. 

 

Saulus adalah penganiaya pengikut Yesus. Tetapi ketika jatuh sakit dan buta, Ananias murid Tuhan yang menyembuhkan dia. Pengalaman Ananias menyembuhkan Saulus ini membuat Saulus sadar dan kesadarannya itu mengubah kemauan yang dulunya hanya mau menganiaya murid-murid Tuhan kini murid Tuhan yang menyembuhkan dia, membuat dia kenal Yesus, dan mau mewartakan Yesus, dan berpuncak  berkarya mewartakan Yesus kepada semua orang mulai dari Damsyik. 

 

Saulus adalah penganiaya murid Tuhan. Tetapi Paulus adalah pencinta dan pewarta Yesus bersama murid-murid Tuhan Yesus. Perubahan nama dari Saulus menjadi Paulus adalah tanda pertobatan. Dulu bernama Saulus adalah musuh Tuhan. Kini bernama Paulus adalah pencinta dan pewarta Yesus kepada banyak orang. 

 

Paulus mewartakan Yesus setelah dia percaya bahwa Yesus yang menyembuhkannya melalui Ananias murid-Nya. Dulu Paulus hadir di sekitar para pengikut Yesus untuk menyakiti dan bahkan membunuh para pengikut Yesus. Tetapi kini Paulus hadir bukan untuk menyakiti tetapi menyembuhkan sesama. Paulus disembuhkan, dibaptis, percaya pada Yesus dan menjadi orang yang hadir menyembuhkan sesama dalam berbicara dan melayani sesama. 

 

Setiap orang yang hadir dan dibaptis lalu percaya kepada Yesus selalu untuk menyembuhkan sesama, akan diselamatkan Tuhan. Tetapi setiap orang yang hadir untuk menyakiti sesama akan dihukum Tuhan. Paulus bersama para murid Yesus membawa khabar Gembira Yesus ke seluruh dunia untuk menyembuhkan bukan untuk menyakiti. Maka tepat bacaan Injil hari ini, “Pergilah ke seluruh dunia dan wartakanlah Injil. Siapa yang percaya dan dibaptis akan diselamatkan, tetapi siapa yang tidak percaya akan dihukum.”

 

Kita telah percaya dan dibaptis. Kita bersama Paulus dan Ananias bersama para pengikut Yesus berjalan di jalan Sang Sabda Allah untuk menyembuhkan sesama termasuk musuh-musuh kita. Niat dan kemauan baik kita, kata verbal dan non-verbal kita, dan cara bertindak kita yang tulus menyembuhkan sesama pasti diberkati Tuhan.  Marilah kita hadir di tengah dunia dan di antara sesama untuk menyembuhkan dunia dan sesama, bukan merusak dunia dan menyakiti sesama. Selamat merayakan Pesta Bertobatnya Santo Paulus, Rasul. Selamat merayakan pesta pertobatan kita semua. ***

Sabtu, 23 Januari 2021

Renungan Hari Minggu 24 Januari 2021

 BEKERJA UNTUK YANG ABADI YANG MENYEMBUHKAN 


 *P.Benediktus Bere Mali, SVD*

Refleksi Hari Minggu 24 Januari 2021

 

 

Yun.3:1-5.10: Meninggalkan yang temporal Menuju yang Perpetual.

 

Orang Niniwe berdosa di hadapan Tuhan. Dosa mereka karena terikat pada hal-hal duniawi yang meliputi harta, wanita dan kuasa. Yunus diutus Tuhan mewartakan pertobatan kepada penduduk Niniwe. Warta pertobatan Yunus didengarkan dengan telinga mereka, dan dipahami dengan pikiran mereka, dan kemudian tindakan mereka meninggalkan cara hidup lama kepada cara hidup baru dalam naungan dan bimbingan Tuhan. Perilaku konkrit orang-orang Ninive bertobat dari masa lalu yang penuh dosa. Tuhan mendengar pertobatan mereka dan Tuhan menyesal atas rencana-Nya untuk menunggangbalikkan kota Ninive. Tuhan mendengarkan doa dan pertobatan mereka yang hidup menurut yang abadi yang menyelamatkan. Mereka meninggalkan yang sementara yang menyesatkan.

 

1Kor.7:29-31: Melepaskan yang sementara dan memegangerat yang abadi

 

Segala sesuatu yang di dunia ini pasti berlalu oleh karena itu bekerjalah untuk yang abadi yang setia menyelamatkan dunia dan kita umat manusia. Yang Abadi Yang menyelamatkan. Yang Abadi yang menyembuhkan. Yang duniawi yang menyesatkan tetapi yang abadi di Surga yang menyembuhkan kita bersama.  Berpeganglah pada yang di Surga yang setia selalu menyembuhkan.

 

 

Mrk. 1:14-20: Meninggalkan Pekerjaan Yang Sementara dan Bekerjalah selalu untuk yang abadi

 

Para murid sudah kerja mapan sebagai nelayan. Tetapi mereka meninggalkan itu dan mengikuti Yesus untuk bekerja untuk yang hidup abadi di Surga. Mereka meninggalkan semua yang sementara menuju Yang abadi di Surga. Mereka bekerja di Kebun Anggur Tuhan, tidak ada sekolah yang paling istimewa selain kerja praktek di kebun Anggur menjadi seorang pekerja di kebun anggur Tuhan yang professional bukan dari buku tetapi dari pengalaman hidup di lapangan. Para murid beralih dari seorang nelayan ikan menjadi nelayan manusia. Sebuah peralihan kerja tanpa sebuah Pendidikan Formal karena bagi Yesus praktek kerja menjadi nelayan manusia di lapangan adalah paling penting dari sekolah formal di bangku kuliah. Mereka belajar melalui melihat dengan mata mereka, mendengar dengan telinga mereka, menyentuh dengan tangan kerja mereka. Mereka belajar pada sang guru dengan mengimitasi Sang Guru-Nya sebagai misionaris yang memiliki integritas. Menjadi murid bukan hanya belajar dari buku atau literature, tetapi menjadi murid yang mau belajar dari setiap pengalaman hidup bekerja praktek di lapangan. Belajar dari praktek harian itu yang menyempurnakan kekurangan dari hari-hari kemarin. Kerja praktek yang lebih lama bahkan sepanjang hayat di kandung badan itulah yang sungguh menyembuhkan. Tidak ada sekolah formasi panggilan secara khusus, tetapi pengalaman praktek di lapangan itulah guru kehidupan yang setia mengajari kita. 

 

Pertanyaan teka-teki yang menarik dari bacaan liturgis hari ini adalah mengapa sesudah Yohanes ditangkap Yesus langsung memilih 12 murid-Nya dalam melanjutkan misi pertobatan Yohanes Pembaptis? Mengapa Yohanes Pembaptis ditangkap?. Silahkan pembaca Injil liturgis hari ini untuk mendalaminya. ***


Jumat, 22 Januari 2021

Renungan Harian Sabtu 23 Januari 2021

 “Ia tidak sadar lagi”

Mrk.3:21-21

*P.Benediktus Bere Mali, SVD* 

 

 

 

 

 

Setiap teks kitab suci liturgis yang disusun gereja berdasarkan kalender liturgi selalu mengandung teka-teki tersendiri. Teka-teki teks itu dalam berbagai bentuk. Dari teks Injil hari ini teka-teki yang hendak dicari itu saya mencoba mencari dan menemukan jawabannya dimulai dengan atau dibuka dengan satu pertanyaan serius setidak-tidaknya bagi saya dan diharapkan bagi kita semua yang bergulat dengan teks ini.  Saya menemukan rumusan pertanyaannya seperti ini:  Mengapa orang lain begitu gampang menyebut seseorang tidak sadar lagi atau sinting atau gila atau abnormal atau disorder, sedangkan orang yang bersangkutan merasa normal, sadar, tidak gila? Atau dengan format lain dapat disusun pertanyaan ini sebagai berikut: Mengapa orang begitu cepat memberi cap kepada seseorang sebagai orang tidak sadar lagi tanpa meminta kepadanya untuk klarifikasi bahwa dirinya memang gila atau tidak sadar? 

 

Kita sering gampang menilai orang lain sebagai orang yang tidar sadar lagi dengan alasannya masing-masing. Untuk menilai orang lain berdasarkan data yang akurat menurut penilai maupun orang yang dinilai agar tidak bias tetapi obyektif. Penilaian seseorang berdasarkan data penilai dan yang dinilai untuk itu minimal melalui dua tahap sebagi berikut. 

 

Pertama. Seorang dokter mengatakan seseorang tidak sadar lagi dari segi medis, ketika organ yang berkaitan dengan urusan kesadaran sudah tidak dapat berfungsi secara baik. Dokter yang menentukan orang tidak sadar lagi berdasarkan asessemnt ilmiah dapat terukur secara ilmiah seperti yang terbaca pada alat ukur fungsi organ tubuh tentang kesadaran. 

 

Kedua. Seorang konselor akan membantu konseli yang berniat baik dengan akar sebab persoalan yang memelihara persoalannya. Misalnya kasusnya yang disampaikan kepada konselor di ruang konseli adalah tidak sadar atau abnormal. Konselor mendengar semua persoalan konseli yang disampaikan di awal pertemuan. Konselor mendampingi konseli menklarifikasikan soalnya secara terukur, teramati, dengan segala durasi dan frekuensinya pada awal pertemuan.  

 

Kemudian atas persetujuan konseli, berdasarkan daftar soalnya yang disampaikan pada awal pertemuan di ruang konseling itu, konselor melakukan assessment atas soal konseli. Ada tiga pokok asessement untuk mendapat data yang penting dan holistik tentang penyebab utama yang memelihara persoalan konseli. Tiga tahap asesment itu dilakukan atas persetujuan konseli. Konselor professional tidak pernah secara gampang melakukan assessment tanpa persutujuan konseli. Mengapa perlu ada assessment? Pertanyaan harus dijawab dan dalam jawaban itu konselor memberikan penjelasan kepada konseli sebagai edukasi konseli untuk mengerti betapa pentingnya assessment dalam proses konseling. Konselor menyampaikan kepada konseli bahwa konseli datang ke konselor di ruang konseling, konseli tidak tahu akar soalnya sehingga meminta bimbingan dan pendampingan konselor. Sementara Konselor pun tidak tahu akar persoalan konseli. Penyampaian ini kiranya konseli dapat mengerti secara baik. Agar konseli dan konselor dapat mengetahui akar persoalan yang memeliahara bertumbuh dan berkembangnya soal konseli. Karena itulah sangat dibutuhkan asessement untuk mendapat data yang tepat tentang persoalan konseli. Asessment itu terdiri dari observasi konselor pada tindakan, kata, dan semua material yang digunakan konseli sejak awal telephone untuk datang ke kantor konseling dan sampai akhir seluruh proses konseling. Intisari observasi adalah untuk memperoleh data tentang konsistensi konseli antara kata-katanya dengan tindakannya sejak awal konseling sampai tahap terminasi konseling. 

 

Selain observasi, konselor mewawancarai konseli dari awal sampai terminasi proses konseling. Wawancara fokus pada sebab utama yang memelihara bertumbuh dan berkembangnya persoalan konseli. Setiap sesi konseling professional selama 50 menit. Selain data yang diperoleh dari observasi dan wawancara, konselor dapat memberikan tes psikologi kepada konseli atas persetujuan konseli. Untuk konseli setuju, konselor mengedukasi konseli tentang alat tes psikologi yang paling tepat sesuai soal psokologis konseli. Pada dasarnya tes psikologi untuk mendapat data yang tepat atas soal yang sedang dialami konseli. Pengertian dan persetujuan konseli, memandu konseli menerima tes dan menjawab soal tes psikologi secara jujur dan obyektif agar mendapat data yang tepat atas soal yang sedang dialami.  Hasil tes psikologi dapat diinterpretasi oleh psikometrik karena itu bidang profesinya. Konselor perlu kerja sama dengan psikometrik berkaitan dengan tes psikologi. Hasil interpretasi dan hasil observasi dan wawancara dirangkum berdasarkan fokus akar persoalan konseli. Hasil rangkuman tiga jenis assessment itu disampaikan kepada konseli secara baik menggunakan Bahasa yang menyembuhkan agar konseli dapat mengklarifikasikannya sehingga hasil data itu merupakan data yang dimengerti dan diterima konseli. Setelah konseli setuju dan menerimanya maka konseling menuju ke tahap atau sesi berikut. 

 

Tahap berikut yang dimaksud adalah berdasarkan data yang terkumpul, dan berdasarkan literature terkini yang berkaitan langsung dengan soal konseli, maka konselor dapat menentukan sakit A atau Sakit B Atau Sakit C, dengan minimal 4 gejala sakit A atau sakit psikologis B, Sakit Psikologis C. Untuk menentukan sakit psikologis, konselor membuka DSM-5 (file pdf di Google), dan literature terkini tentang sakit psikologis konseli. Hasil sementara gejala sakit psikologi A atau B atau C itu, konselor semestinya minta klarifikasi konseli. Setelah konseli klarifikasi dan konseli setuju, maka konselor dapat memandu konseli ke tahap konseling berikut.

 

 

Setelah konseli setuju bahwa sakit A atau Sakit B, kini sesinya konselor merumuskan persoalannya secara tepat. Rumusan soal itu terdiri dari missal Sakit A dengan penyebab utama yang memeliharanya berdasarkan data assesement dan literature terkini. Rumusan yang tepat dapat memudahkan untuk treatmen pada tahab konseling berikutnya. Rumusan soal itu konseli komukasikannya dengan konseli yang sedang mengalami soal itu, untuk mendapat klarifikasi dari klien. Klain setuju rumusan itu maka, proses konseling akan maju ke sesi berikut. 

 

Sesion berikutnya adalah rencana treatmen. Proses pertama adalah konseli dan konselor mendaftar soal yang mau diadress. Soal itu sudah ada di dalam rumusan pada sesi sebelumnya. Pada umumnya setiap rumusan soal itu terdiri dari tiga bagian soal konseli yang mau diaddress. Soal yang dimaksud biasa terdiri dari tiga bagian yaitu yang paling mudah untuk diadress adalah perilaku yang dapat dilihat, diukur. Selain itu soal emosi atau perasaan dan yang ketiga adalah soal pikiran. Soal pikiran, tindakan, dan emosi selalu bergandengan saling mempengaruhi satu sama yang lain. Hal ini pun semestinya konselor sampaikan kepada konseli untuk mendapat klarifikasi dari konseli. Setelah konseli mengerti maka atas persetujuan konseli, proses konseling dapat maju ke tahap sesi berikut. 

 

Setelah daftar soal ditentukan bersama, konseli dan konselor bersama-sama menentukan tujuan dari setiap soal psikologis seperti terdapat pada daftar soal. Misalnya tujuan masalah A takut ular, maka tujuannya berani bertemu ular. Demikian juga tujuan soal yang lain sesuai daftar soal. Tujuan semestinya SMART: Simple/sederhama/Spesifik/particular, Measurable/terukur, Attainable/dapat dicapai, Realistik/konkret, Timely Statement/Dalam jangka waktu yang ditentukan. Tujuan in disampaikan kepada klien, agar klien paham dan setuju. Setelah setuju maka konseling berlanjut ke tahap berikut. 

 

Setelah tujuan dari setiap daftar soal ditentukan bersama konseli, konselor mengelaborasi literature intervensi yang efektif dalam mencapai tujuan dari setiap daftar soal yang ada. Intervensi yang efektif ini disampaikan kepada konseli agar konseli mengerti. Interveni efektif juga bisa dilatih. Konselor memberikan latihan atau praktek interfensi efektif ini entah itu latihan langsung maupun dari video-video yang ada di youtube dalam mengadress soal yang sedang dialami konseli. Setelah konseli mengerti dan setuju maka efektif intervensi itu diemplementasikan atau dilaksanakan oleh konseli. 

 

Implementasi intervensi efektif untuk sembuh dari sakit psikologis yang terdiri dari tindakan, perasaan, dan pikiran itu, konselor dapat memonitor perkembangan atau kemundurannya. Untuk itu konselor akan memberikan form-form yang perlu diisi konseli untuk membantu konseli memonitor mandiri perkembangan soalya, Form-form itu juga bisa diberikan kepada orang-orang terdekat yang membantu menyembuhkan konseli, yaitu orang tua, keluarga, teman sekolah, guru, dll. Kemudian ada evaluasi dan jika perlu revisi setelah evaluasi, maka perlu mendapat persetujuan konseli. Revisi berarti mulai assessment ulang dan tahap seterusnya seperti sudah diulas sebelumnya. Setelah revisi atas persetujuan konseli, dan kemudian konseli merasa sembuh, maka atas persetujuan dan kemauan konseli, terminasi konseling dapta dilaksanakan. Sebaliknya konseli tidak berhasil sembuh, konseli dapat melakukan terminasi dan konselor mendampinginya dalam mencari proses penyembuhan kepada yang lebih professional atas soal konseli.

 

 

Nah kalau, Ia mulai tidak Sadar lagi dalam Injil hari ini, adalah persoalan orang yang menilai bukan persoalan orang yang dinilai. Maka soalnya perlu diadress dalam group proses terhadap kelompok orang yang menilai Yesus adalah orang yang tidak sadar lagi, dalam bahasa konseling orang yang mengalami gangguan psikologis. Mereka yang menilai orang lain dalam hal ini menilai Yesus sebagai orang yang tidak sadar lagi  tanpa data holistik. Mereka menilai Yesus sebagai orang yang tidak sadder lagi hanya berdasarkan observasi sesaat saja secara spontan, tidak mandalam melewati proses sesi konseling sampai terminasi. Mereka dapat dididik dalam grup proses tentang menilai orang sampai orang itu sendiri menerima penilain atas dirinya adalah tepat sebagai orang yang sadar tau tidak sadar. Itu hanya terjadi di dalam ruang konseling baik konseling pribadi maupun konseling kelompok/keluarga atau komunitas. Yesus Sungguh Sadar Apa dipikirkan, dirasakan dan dilakukan di depan publik. Tetapi orang-orang yang menilai-Nya sebagai orang yang tidak sadar tulah yang sebetulnya tidak sadar. Mari kita menilai orang lain berdasarkan data sehingga penilaian kita sebagai input yang membangun orang yang dinilai dan kita yang menilai. Apakah penilaianku pada sesama berdasarkan data yang dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah? ***

 

Yesus Memanggil Murid-murid-Nya di atas Bukit (Mrk.3:13-19)

                                   


 Mengapa Yesus memanggil murid-murid-Nya di atas bukit?

Mrk. 3:13-19

 

Jumat, 22 Januari 2021

Sharing Iman Berbasis Kitab Suci

*P. Benediktus Bere Mali, SVD*

 

Proses Yesus memanggil para murid merupakan satu peristiwa yang sangat istimewa bagi saya. Bukan hanya istimewa tetapi menjadi sebuah persoalan yang serius bagi saya dan tentunya diharapkan bagi kita semua. Persoalan itu saya simpulkan dalam pertanyaan berikut: Mengapa Yesus sebelum memanggil dua belas murid naik ke atas Bukit dan para murid yang dipanngil pun lalu naik ke atas bukit? 

 

Orang yang dipilih atau dilantik atau diresmikan statusnya, pada umumnya memiliki tempat yang istimewa. Tempat yang istimewa itu adalah di atas bukit. Berada di tempat yang tinggi, orang dapat melihat pemandangan yang indah dan memiliki pemandangan luas dan lebar dan lebih mendalam. Orang yang berada di tempat yang tinggi dapat melihat semua hadirin yang menyaksikan peristiwa Yesus memanggil para murid. 

 

Gerakan “Naik ke atas bukit” dalam konteks panggilan para murid ini memiliki banyak kesan dan makna. Ada yang melihat panggilan ini untuk mendapat status sosial yang sangat tinggi. Ada yang melihat dan memaknainya sebagai sebuah kebanggaan dan kepuasan pribadi sendiri. Ada yang melihat naik ke atas sebagai tempat yang memberikan rasa aman pada status quo. Ada yang melihat naik ke atas sebagai sebuah tempat yang mengungkapkan kesombongan. Ada yang melihat hal ini sebagai simbol kedekatan dengan Tuhan yang berdiam di tempat yang tertinggi di Surga.

 

Tetapi bagi saya, di antara sekian banyak banyak pemaknaan atas panggilan yang diawali dengan “naik ke atas” ini hanya ada satu yang paling utama dan penting yaitu naik ke atas di sini memiliki simbol yang paling mendalam di balik perbuatan ke atas dan kalimat ke ke atas ini adalah bahwa menjadi murid Yesus, menjadi orang terpilih fokusnya adalah untuk lebih mendekatkan diri dengan Tuhan dan bersatu dengan Tuhan kemudian bukan untuk merasa puas sendiri menikmati kenyamanan di atas bukit panggilan tetapi untuk turun ke bawah, ke lembah untuk menjumpai semua suku dan bangsa yang semestinya sedang menanti para murid untuk dilayani. Menjadi murid Yesus bukan untuk mengutamakan diri sendiri tetapi untuk mengutamakan kepentingan begitu banyak orang. Menjadi pemimpin bukan untuk dilayani tetapi untuk melayani. Menjadi Pemimpin bukan untuk menjadi sombong tetapi untuk menjadi rendah hati. Seorang Pemimpin bukan untuk mengutamakan kepentingan diri sendiri tetapi untuk kepentingan banyak orang. 

 

Yesus memanggil 12 muridNya. Pertanyaan berikutnya adalah: Apakah semua murid yang dipanggil melakukan makna terdalam dari simbol “naik ke atas” saat dipanggil Tuhan Yesus? Kita semua disadarkan oleh Sabda Allah hari ini bahwa tidak semua murid-Nya melayani dengan hati yang tulus tetapi dalam Injil hari ini justru Yudas Iskariot tampil beda. Ia beda menjadi murid Yesus. Ia beda karena ia menjadi murid dan menjadi ekonom untuk mengkorup uang bersama. Ia berpikir beda dan puncaknya adalah menjual Yesus Gurunya karena mata duitan. Yudas Iskariot menjual Yesus Sang Guru dengan seharga seorang hamba kepada musuh-musuhNya. Yudas Iskariot “naik ke atas” saat dipanggil dan diam lalu terus ke atas dalam hal keuangan lewat korupsi dan lewat menjual Yesus Sang Gurunya. Yudas Iskariot dipanggil atas kehendak Bapa di Surga tetapi ia hidup tidak berdasarkan kehendak Tuhan. Yudas Iskariot Murid Yesus tapi pengkhianat Yesus. 

 

 

Kita semua di panggil Tuhan dalam panggilan kita masing-masing atas kehendak Tuhan. Kita dipanngil untuk melakukan kehendak Tuhan dari bangun pagi sampai bangun pagi lagi di hari berikutnya. Kita dipanggil untuk melayani bukan untuk dilayani baik dalam keluarga maupun dalam komunitas biarawan dan biarawati. Kita dipanggil untuk menjadi rendah hati satu terhadap yang lain bukan untuk menjadi orang yang sombong. Kerendahan hati disukai dan dibutuhkan semua orang. Tetapi kesombongan tidak dibutuhkan oleh mayoritas orang. Selamat menjadi murid Yesus di jalan panggilan kita masing-masing baik sebagai awam maupun sebagai kaum berjubah.***

Kamis, 21 Januari 2021

Renungan Harian Jumat 22 Januari 2021

 Situasi Group Proses Penyembuhan dalam Komunitas 12 Murid

Belum Ada sehingga Yudas Iskariot Menjadi Pengkhianat Yesus

 

 

*.P.Benediktus Bere Mali, SVD*

 

Renungan Harian Jumat 22 Januari 2021

Ibr.8:6-13

Mrk.3:13-19

 

 

Sekilas Situasi Covid 19 mengubah dan diubah

 

Sebelum situasi pandemic covid 19, bebera waktu lalu penyembuhan secara psikologis, spiritual dan sosial face to face sangat laris manis. Saya tidak mempunyai data berapa keuntungan yang diperoleh dari penyembuh spiritual, psikologis dan sosial pada masa sebelum pandemic covid 19. Tetapi situasi dan kondisi pandemi covid 19 ini menghentikan sejenak penyembuhan face to facespiritual, psikologis dan sosial. Banyak pusat konseling professional yang kehilangan pasien untuk disembuhkan dan dengan demikian pendapatan dari pusat konseling pun mengalami penurunan secara drastis. Pusat-pusat perkumpulan penyembuhan kharismatik juga sepi dan dengan demikian dampak ekonomi bagi kelompok penyembuh spiritual juga sangat menurun. Penyembuhan secara sosial face to face pun sangat jarang karena orang lebih manjaga jarak untuk tetap tidak terpapar covid 19 yang sedang menyebar cepat. Banyak orang beralih profesi untuk mempertahankan hidupnya di masa pandemi covid 19 ini. Kita pun akhirnya taat pada lingkungan khususnya Lingkungan pandemic covid 19 yang secara drastis mengubah pola hidup dalam segala lini dan manusia dipandu untuk beradaptasi hanya untuk satu tujuan, untuk bisa bertahan hidup. Orang yang dulunya menjadi penyembuh kharismatik face to face harus beralih menjadi petani hanya untuk mempertahankan hidupnya di masa covid 19 ini. 

 

Situasi Mengubah Yudas Iskariot 

 

Situasi Yudas Iskariot sebelum menjadi murid Yesus tentunya berbeda. Setelah dipilih menjadi murid Yesus, Yudas Iskariot mengalami situasi selama kurang lebih 3 tahun bersama 11 murid yang lain bersama sang guru Yesus yang dapat mengubah hidupnya.  Awalnya Ia menjadi murid Yesus. Kemudian Ia menjadi ekonom komunitas 12 murid. Tentu Yesus berpikir bahwa Sehebat pelayanan apapun soal uang untuk memperlancar roda kehidupan pelayanan adalah sesuatu yang sangat sentral.  Maka sejak awal Yesus memilih 12 Murid.  Yesus sadar akan betapa pentingnya keuangan bagi karya cinta kasih. Yudas Iskariot dipilih sebagai ekonom. Sedangkan 11 murid yang lain fokus bersama Yesus melayani kehidupan spiritual semua orang yang mereka layani. Yudas Iskariot mengatur keuangan misi Yesus bersama 11 murid yang lain. Yudas mengatur urusan rumah tangga dari dapur sebagai sumber energi untuk melayani semua orang oleh Yesus bersama 11 murid yang lain. 

 

Kita dapat membayangkan betapa banyak orang yang disembuhkan Yesus dan begitu banyak orang yang tentu memberikan perhatian kepada 12 murid. Dan dalam Injil banyak ibu-ibu atau perempuan yang melayani Yesus dan 12 murid. Tentu di antara para ibu itu ada yang prihatin tentang soal makan minum dan pakaian Yesus dan 12 murid. Para ibu berpartisipasi dalam mengatur dan menyiapkan soal makan minum Yesus bersama 12 murid. Bantuan mereka tentu berhubungan langsung dengan ekonom yang memimpin urusan dapur kelompok 12 para murid bersama sang guru Yesus sendiri. Sumbangan ibu-ibu dan umat yang mereka layani tentu dalam berbagai bentuk. Ada ibu-ibu yang langsung masak di dapur untuk makanan dan minuman para murid bersama Yesus Guru mereka. Ada Ibu yang barangkali fokus memberi uang karena tidak dapat terlibat di dapur secara langsung karena fokus urusan kerja dan atau urusan keluarganya yang tidak dapat ditinggalkan. Ada juga sumbangan dari donatur yang penerimanya adalah Yudas Iskariot sebagai ekonom dan urusan makan minum Yesus dan para murid.

 

Selama hidup bersama Yesus, tidak pernah kita temukan tentang sosok ekonom yang ditampilkan di dalam Injil. Ini dapat memberi kita banyak kesan. Mungkin urusan dapur dan keuangan aman-aman saja selama misi pelayanan Yesus di darat, di laut, maupun di tempat-tempat yang sulit dijangkau. Semua keuangan untuk biaya operasional terkesan tampak tidak ada soal. Bisa jadi Yesus tidak memiliki agenda khusus secara rutin untuk memonitor ekonom, mengevaluasi ekonom, merevisi hal-hal prinsipil ekonom jika perlu dan mendesak demi kepercayaan para pendukung dan donatur misi yang berurusan secara langsung dengan Yudas Iskariot sebagai pengurus keuangan komunitas kelompok para murid bersama Yesus sebagai Sang Guru. Yudas Iskariot yang bisa jadi tidak dikontrol secara bersama dan tidak dievaluasi serta tidak ada kerja ekonom yang perlu direvisi, maka ketika ada peluang Yesus akan ditangkap oleh para penguasa oposisi, Yudas Iskariot memanfaatkan kesempatan itu dengan menghancurkan Yesus Gurunya dari dalam kelompok 12 murid itu sendiri. Yudas Iskariot menjual Yesus kepada para oposisinya yang selama ini menyimpan dendam membara kepada Yesus. Yudas Iskariot menjual Yesus kepada para musuh dengan harga yang sangat murah seharga seorang hamba yang dijual kepada majikan seharga 30 keping perak. 

 

Barangkali Yudas Iskariot melakukan hal ini dengan pikiran seorang ekonom yang sangat matang dengan memperhitungkan segala untung dan resikonya. Sebagai ekonom, beliau observasi dan interview tokoh tokoh kunci tentang pelayanan Yesus khususnya melakukan banyak mujizat penyembuhan yang menjadi kunci mengapa Yudas Iskariot menjual Yesus dengan seharga yang sangat murah. Yudas Iskariot bisa saja melakukan ini karena baginya Yesus akan menghadapi para musuh yang membeliNya lalu menghukumNya, semua rencana musuh akan dimentahkan oleh Mujizat Yesus. Dalam pikiran Yudas Iskariot, Yesus yang sudah berpengalam mengadakan banyak mujizat, pasti akan mematahkan semua usaha lawan-lawanNya termasuk rencana untuk pembunuhan sekalipun. Bagi Yudas Iskariot bukan soal 30 Perak yang menjadi fokus tetapi fokusnya adalah Yesus akan melakukan Mujizat saat lawan-lawanNya datang kepadaNya. 

 

Pikiran seorang ekonom tidak sama dengan pikiran gurunya. Pikiran Yesus, Pikiran Gereja Katolik, Pikiran Orang beriman kepada Yesus melalui Gereja Katolik tentu sudah pasti menuduh Yudas Iskariot sebagai orang yang mengkhianati Yesus. Penulis Injil hari ini menyebutnya sebagai Yudas Iskariot seorang yang dipilih Yesus atas kehendak Bapa tetapi kemudian mengkhianati Yesus. Saya jika berada pada posisi Yudas Iskariot sebagai salah seorang murid Yesus pada zaman itu, tentu saya juga bisa jadi seperti apa yang dipikirkannya. Apalagi sebagai seorang ekonom yang setiap hari mengurus dapur dan keuangan untuk biaya operasional misi pelayanan Yesus dan para purid yang lain. Yudas berusaha dan fokus mencari dan mendapatkan serta mengelolah keuangan untuk meyelamatkan hidup dalam hal makan dan minum para murid dan Yesus sebagai kekuatan dasar untuk melayani orang banyak. 

 

Tetapi itulah rancangan manusia bukanlah rancangan Allah. Maka tepat nubuat Yesaya tentang jalannya sejarah keselamatan: “sebab rancangan-Ku bukanlah rancanganmu (Yes.55:8).” Seringkali rancangan kita begitu hebat seperti Yudas Iskariot di luar rancangan Allah dan ketika memaksakan rancangan kita itu diimplementasikan ternyata buahnya bukan dihargai tetapi justru digolongkan sebagai orang yang mengkhianati Allah. Yudas dipilih atas kehendak Allah menjadi seorang ekonom 12 murid bersama sang guru mereka. Tetapi dalam perjalanan hidupnya Yudas hidup tidak berdasarkan kehendak Allah tetapi atas kehendaknya sendiri.  Sayang seribu sayang kehendaknya pun tidak disiskusikan dengan 11 murid yang lain dan terutama konsultasikan dengan Yesus Sang Gurunya. 

 

Lalu dari sini kita menemukan sebuah pertanyaan, Mengapa 11 Murid yang lain hidup menurut kehendak Tuhan tetapi Yudas tidak? Kunci persoalannya dimana dalam konteks sebagai anggota komunitas 12 para murid Yesus? Bagaimana proses kehidupan 12 murid sejak awal sampai 3 tahun bersama Yesus? Apakah ada rencana awal yang matang dengan program pertemuan rutin untuk memonitor, mengevaluasi, merevisi program, bila perlu, ketika para agen dalam hal ini 12 Murid menjalankan tugas perutusannya secara tidak semestinya? Apakah ada program group proses dalam komunitas 12 murid bersama Yesus dengan agenda dasar: Menyembuhkan Komunitas dan disembuhkan komunitas? Persoalan Yudas Iskariot yang dipilih menjadi murid Yesus dan dipilih menjadi ekonom tentu atas dasar kemampuan yang hebat dari Yudas Iskariot. Tetapi menjadi persoalan besar dalam sejarah keselamatan karena Yudas Iskariot adalah seorang murid yang mengkhianati Yesus Sang Gurunya. Bagi saya, hal ini terjadi dan dapat direfleksikan dari sisi group proses penyembuhan kelompok 12 murid bersama sang guru Yesus.  Bagi hemat saya, seandainya group proeses penyembuhan dalam komunitas 12 murid bersama Guru berjalan secara baik sejak awal maka pasti pengkhianatan bisa diredusir atau tidak terjadi dalam komunitas 12 murid bersama Yesus sebagai guru mereka. 

 

 

Bagi saya, Group Proses 12 Murid bersama Sang Guru terabaikan di balik pelayanan keluar yang begitu sangat hebat mengagumkan publik. Seandainya ada group proses penyembuhan 12 murid bersama Yesus Sang Guru mereka, saya berpendapat bahwa Yudas Iskariot bekerja secara baik dan tidak akan menjadi pengkhianat karena dia memiliki pemahaman yang jelas tentang Yesus. Supaya Yudas Isakriot yang lain pada zaman kini bekerja baik dan tidak mengkhianati Yesus maka perlu ada group proses penyembuhan di dalam komunitas 12 murid bersama Sang Guru Yesus sendiri. Maka penting Yesus Sang Guru mengedukasi para muridNya dengan pola mengikuti Tahap-tahap Group Proses Kelompok 12 murid dengan GuruNya sebagai berikut. 

 

 

 

Pertama. Program Yesus adalah mencintai Tuhan, Sesama dan Diri Sendiri sedang berjalan tetapi Yudas Iskariot pada zaman ini mengkhianati Yesus Sang Gurunya. Ini soal serius. Program ini baku dan berbasiskan program ini kelompok 12 murid bersama Guru mereka mengumpulkan data keberhasilan dan kegagalam melaksanakan program ini. Program ini menarik karena setiap orang membutuhkan cinta dan Yesus dan muridNya memberikan kasih kepada sesama yang membutuhkan cinta.  Para murid dan Guru juga membutuhkan cinta dan yang memenuhi kebutuhan akan cinta itu adalah anggota komunitas sendiri lewat group proses dalam komunitas. Cinta kasih ke luar dan cinta kasih ke dalam dapat dilihat dan diukur, diharapkan dilaksanakan secara seimbang. Persoalannya: Mengapa Yudas Iskariot menjadi Pengkhianat Sang Guru? Mengapa Program Cinta Pada Sesama dan diri sendiri gagal dalam diri Yudas Iskariot?

 

Pelaksanaan program berhasil atau gagal, dibutuhkan data dari lapangan. Data Lapangan yang dimaksud adalah data dari orang luar dan orang dalam sendiri. Data diperoleh lewat assessmentyaitu wawancara, observasi, dan alat berupa questioner untuk menemukan akar persoalan kegagalam pelaksanaan program. Prinsip ambil data dari semua yang terlibat memberikan data lewat wawancara dan obeservasi maupun questioner berbasiskan semua anggota memiliki niat baik untuk kehidupan bersama yang lebih baik dalam konteks pelaksanaan program yang sukses berhasil memuaskan bersama. Maka pemimpin kelompok atau komunitas semestinya memberikan penjelasan yang baik kepada anggota yang akan memberi data agar data keluar dari kejujuran sehingga masalah yang ditemukan adalah valid untuk diadres. Setelah semua mengerti dan bersedia untuk memberi data yang obyektif, assessment yang terdiri wawancara, observasi, dan questioner dapat dibagikan/dilakukan kepada partisipan dari luar komunitas 12 maupun di dalam kelompok 12 murid. Leader bersama team memiliki peran sebagai fasilitator dalam mengumpulkan data, mengolah data sampai menemukan persoalan inti kelompok dua belas agar soal itulah yang akan diaddres untuk kebaikan bersama. Daftar soal yang ditemukan itu kemudian dibicarakan bersama anggota kelompok 12 untuk klarifikasi. Jika semua setuju dengan daftar soal hidup bersama, team merumuskan persoalan itu, pada level daftar persoalan yang ada dalam komunitas 12 murid bersama sang guru. 

 

Kedua.  Pertemuan kedua lebih fokus pada soal utama yang menjadi penyebab yang memelihara bertumbuhnya kasus dalam hidup bersama komunitas. Misalnya kasus A paling utama menjadi penyebab yang menumbuhkembangkan kasus dalam hidup bersama.  Semua sepakat bahwa kasus utama itu adalah kasus A dengan berbagai segi yang memelihara kasus utama itu.  Kalau semua setuju maka group proses beralih kepada tahap penyembuhan komunitas berikutnya.

 

Ketiga.  Team dapat memformulasikan persoalan secara tepat. Penyebab yang memelihara akar soal dalam kehidupan kelompok duabelas murid dirumuskan secara tepat dan dalam rumusan itu memuat segi-segi yang mengandung persoalan, berdasarkan data yang dikumpulkan dari wawancara, observasi, alat test dan dukungan literature terbaru yang mendukung rumusan soal yang akan diadress dengan intervensi yang efektif berdasarkan literature terbaru.  Hasil rumusan team disampaikan kepada anggota untuk mendapat klarifikasi dari anggota sampai semua anggota setuju rumusan itu sebagai hasil rumusan bersama. Setelah rumusan disetujui oleh semua anggota, kita memasuki tahap selanjutnya dalam group proses yang menyembuhkan kelompok atau keluarga atau dalam hal ini group proses komunitas 12 murid bersama Sang Guru Yesus.

 

 

Keempat. Setelah merumuskan akar soal secara tepat maka tahap berikut adalah rencana penyembuhan atas soal tersebut. Rencana treatmen terdiri dari tiga bagian penting, pertamaberdasarkan rumusan persoalan itu, bersama-sama menentukan daftar soal A,B,C  yang mau diaddress. Setelah semua setuju daftar soal yang ada, maka leader sebagai fasilitator menjelaskan, tahap kedua, yaitu tujuan dari setiap daftar soal yang telah disepakati bersama oleh hadirin dalam pertemuan. Misalnya Kasus A adalah tidak transparan dalam sebuah komisi A. Maka Tujuan kasus A adalah Transparan/Jujur. Demikian juga Tujuan kasus B dan C.  Tujuan semestinya SMART artinya Tujuan setiap kasus itu (S)pesifik/simple, (M)easurable/terukur, (A)ttainable/tercapai, (R)ealistik, (T)imely Statement/jangka waktu yang ditetapkan. Leader bersama team mengedukasi peserta sampai mengerti dan pengertian yang diputuskan adalah pengertian bersama agar dengan pengertian yang baik dari setiap anggota, tidak mengalami kesulitan saat pelaksanaan di lapangan real dalam menyembuhkan kehidupan komunitas bersama. Setelah tujuan jelas diputuskan bersama, memasuki tahap berikut, tahap ketiga dalam bagian ini yaitu penentuan intervensi yang efektif untuk mencapai tujuan yang telah ditentukan. Intervensi yang efektif untuk mencapai tujuan itu, team leaders sebagai fasilitator dan bisa juga partisipan membaca literature terbaru yang langsung berkaitan dengan intervensi efektif atas kasus dan tujuan yang telah ditentukan bersama.  Intervensi efektif atas setiap kasus dan tujuan dapat disampaikan secara tepat agar anggota komunitas mengerti secara tepat proses intervensi efektif itu sehingga ketika implementasi intervensi efektif pada anggota komunitas, semua anggota komunitas dapat melaksanakan secara baik dan berhasil dalam proses menyembuhkan komunitas dan disembuhkan oleh komunitas. Kalau ini jalan maka kita beralih ke tahap berikut dalam group proses anggota komunitas 12 murid dengan sang Guru Yesus.

 

Kelima. Memonitor Implementasi Intervensi Efektif, Evaluasi, Revisi bila diperlukan. 

 

Sementara pengimplementasian intervensi yang efektif, leader bersama team memonitor. Alat monitor berupa form-form yang berkaitan dengan kemajuan perubahan dan kemunduran perkembangan kasus dalam diri dan kelompok dapat diukur sehingga anggota kelompok dan individu tahu bahwa implementasi interfensi betul efektif atau tidak.  Form-form monitoring ini dibagikan juga kepada orang tua dan saudara dan saudari atau teman sekolah dan sahabat yang setiap hari bersama dalam kelompok atau individu sehingga kemajuan dan kemundurannya selama implementasi interfensi efektif dapat diketahui dari semua mereka yang peduli dan menolong individu dan atau komunitas yang sedang melalui proses penyembuhan. 

 

Selain itu leader dan teamnya menentukan jadwal yang tetap untuk mengevaluasi implementasi efektif intervensi, bisa harian, bisa mingguan, bisa bulanan, caturwulan, semesteran, atau tahunan. Dalam evaluasi itu tentu menemukan keberhasilan atau kegagalan, harapan dan tantangan. 

 

Kalau interfensi efektif itu tidak jalan maka perlu direvisi. Revisi berarti dalam konteks komunitas, perlu meminta persetujuan anggota komunitas, atau secara personal, perlu mendapat persetujuan pribadi. Revisi berarti asessmen ulang. Itu berarti prosesnya dari awal lagi. Setelah revisi bisa berhasil atau gagal. Kegagalan dapat memberi peluang untuk terus atau terminasi proses penyembuhan komunitas /pribadi. Terminasi berarti mencari solusi cara lain dengan bantuan ahli lain dalam mengadres soal pribadi/komunitas. Untuk itu perlu adanya kerendahan hati leader dan team untuk mencari orang yang lebih professional dalam bidangnya untuk menyembuhkan komunitas/individu. 

 

Tetapi jika setelah revisi semua rasa beres berdasarkan form evaluasi yang diisi oleh semua pihak bahwa efektif intervensi berhasil maka atas keputusan pribadi /komunitas yang telah sembuh atau kelompok yang sembuh untuk melakukan terminasi. Group proses berhasil dalam penyembuhan.  Tetapi dalam konteks penyembuhan komunitas oleh anggota komunitas, group proses terus dan wajib dilaksanakan selama komunitas itu eksis. Hal ini sebuah keharusan untuk mengurangi persoalan individu maupun komunitas. Komunktas adalah lokus untuk menyembuhkan dan disembuhkan. Semoga menginspirasi setiap kelompok kecil maupun kelompok besar. Tuhan memberkati. ***

 

 

 

Rabu, 20 Januari 2021

Renungan Misa Harian Kamis 21 Januari 2021

 SENTUHAN FISIK, PSIKOLOGIS, SOSIAL  SERTA SPIRITUAL YANG MENYEMBUHKAN

 

Renungan Misa Harian Kamis 21 Januari 2021

Ibr. 7:25-8:6

Mrk. 3:7-12

 

 

*P. Benediktus Bere Mali, SVD *

 

 

Masa pandemi covid 19 seperti ini setiap orang mencintai diri dengan melakukan yang terbaik untuk diri agar diri sehat. Hanya orang yang sehat dapat melayani sesama yang sakit Covid 19 dengan melindungi diri dengan peralatan kesehatan yang telah ditentukan. Petugas kesehatan pertama-pertama merasa aman dengan dirinya sendiri sebelum melayani sesama terutama mereka yang sakit Covid 19. 

 

Yesus melayani lautan manusia yang datang berdesak-desakan kepadaNya. Yesus mencintai mereka dengan cara melayani mereka dengan baik dan tulus. Yesus satu orang dapat melayani kebutuhan lautan manusia yang ada dan datang kepadaNya agar kebutuhan mereka Yesus penuhi. Pada titik tertentu Yesus menyadari diri bahwa dirinya membutuhkan perlindungan di antara himpitan dan desakan banyak orang. Karena itu ketika di dalam sebuah pelayaran, Yesus meminta sebuah perahu khusus agar tidak dihimpit oleh begitu banyak orang berlayar bersama. Orang-orang sakit berdesak-desakan datang kepada Yesus untuk menjamah Yesus karena lewat jamahan itu mereka disembuhkan. 

 

Kita seringkali melayani umat di zaman kita dengan agenda yang begitu padat sampai kita melupakan agenda untuk diri sendiri. Kadang-kadang kita menemukan para imam yang jatuh sakit setelah melayani kebutuhan umat dengan jadwal yang padat dan lupa jadwal untuk diri sendiri sehingga pada akhirnya jatuh sakit bahkan ada yang sakit berat dan langsung meninggal. Ini tandanya seorang pelayan mencintai sesama tetapi lupa mencintai dirinya sendiri. Seorang imam menyelamatkan orang lain tetapi lupa menyelamatkan dirinya sendiri. Seorang imam dapat mengatur orang lain tetapi lupa mengatur dirinya sendiri.

 

Yesus melayani begitu banyak orang yang datang kepadaNya tetapi Yesus tetap melayani kebutuhan diriNya sendiri agar diriNya sehat dan kuat. Pengalaman Yesus ini memberi inspirasi kepada kita bahwa kita pun semestinya melayani sesama tetapi jangan lupa melayani kebutuhan kesehatan diri kita sendiri. Hal ini penting karena dengan kesehatan yang baik kita dapat melayani dengan baik pula. 

 

Pada masa pandemic covid 19 ini kesehatan adalah segalanya bagi kita. Utamakan kesehatan dan jangan terpapar covid 19. Untuk itu kita hidup disiplin diri agar kita sehat dengan demikian kita juga tidak menjadi sumber penyebar covid kepada sesama yang kita jumpai. Ini adalah tanda kita mencintai sesama dan mencintai diri sendiri. Ini adalah kita bertanggungjawab untuk diri sendiri dan orang lain. Kelalaian kita sehingga terpapar covid 19 adalah kehilangan tanggungjawab kita terhadap diri sendiri dan sesama dalam kehidupan kita yang berbasis hidup berkomunitas. 

 

Dalam Injil Hari ini , lewat jamahan Yesus orang sakit disembuhkan. Tetapi pada zaman pandemic covid 19 ini lewat jamahan doa dan spiritual orang dapat disembuhkan Tuhan. Bagi kita saat ini jamahan fisik dihindari karena itu dapat menjadi sumber penyebaran virus kepada sesama. Dalam masa pandemic covid 19 ini pertemuan langsung dan sentuhan fisik misalnya berjabatan tangan dan cipika dan cipiki adalah sebuah kerinduan semua orang yang belum dapat terlayani. 

 

Menarik kita renungkan antara jamahan fisik dan pelayanan online di masa pandemic covid 19 ini. Semua pelayanan dapat dilayani secara online tetapi soal makan minum pakaian kita dapatkan lewat sentuhan langsung. Semua yang berhubungan dengan hidup tubuh fisik kita selalu dipenuhi dengan sentuhan fisik. Tidak ada dan belum pernah ada orang makan dan minum secara online. Hanya soal-soal administrasi dapat dikerjakan secara online. Pihak medis pun tidak dapat menyembuhkan orang sakit fisik secara online. Sentuhan pihak medis pada fisik pasien entah itu pengambilan darah dan assessment fisik lainnya yang bergandengan secara langsung dengan sumber sakit penyakit fisik, sentuhan fisik tetap menjadi hal primer. Penyembuhan membutuhkan sentuhan fisik. 



Pertanyaan terbuka bagi kita tentang sentuhan. Kita membutuhkan sentuhan fisik, psikologis, sosial dan spiritual dari orang lain bagi  hidup kita. Orang lian juga membutuhkan sentuhan fisik, psikologis, sosial, dan spiritual dari kita. Apakah Sentuhan kita yaitu sentuhan Fisik, Psikologis, Sosial dan Spiritual pada sesama senantiasa menyembuhkan?  Apakah kita menerima sentuhan fisik, psikologis, sosial, dan spiritual dari orang lain senantiasa menyembuhkan diri kita?. ***