Kamis, 04 Februari 2021

Kematian: Panggilan sempurna dari Tuhan

 

*P.Benediktus Bere Mali, SVD*


 Sumber refleksi tentang

Kematian: Panggilan sempurna dari Tuhan


Rm. 14:8

Mrk.8:33

Mat. 16:23


Pada waktu masih kecil tetangga dan orang tua yang tinggal di sebuah kampung dengan rumah-rumah adat yang berdekatan dengan di halaman tengah perkambungan tempat bermain anak-anak, tempat menyelenggarakan simbol-simbol adat-budaya yang meliputi kata-kata atau doa, bahan material yang digunakan, dan kegiatan atau  bahasa tubuh dalam penyelenggaraan ritus tersebut.


Salah satu kegiatan di halaman tengah itu adalah setiap sore kami sebagai anak-anak bermain dan berbagi cerita tentang cerita cerita yang penuh dengan sukacita, gembira,  damai, dan nyaman serta yang enjoy. Ketika cerita tentang kemarahan satu terhadap lain, bahkan cerita tentang dukacita, sedih, kematian, orang tua, kakak atau saudara yang mendampingi dan mendengar itu langsung menarik kami ke tempat lain sambil cerita-cerita sukacita untuk sekedar mengalihkan perhatian dari yang dukacita kepada yang sukacita.


Ketika Yesus bercerita tentang kematian, Petrus menarik Yesus ke belakang dan menegur serta melarang Yesus agar jangan ceritera tentang kematian. Petrus mau supaya Yesus berbicara tentang sukacita, kegembiraan, enjoy. Petrus tidak mau saat enjoy bersama diakhiri dengan berita duka, dan kematian. Pengalaman Petrus ini terjadi saat orang banyak sedang berbondong-bondong mengikuti Yesus yang membuat begitu banyak orang penuh dengan Damai dan Sukacita bersama Yesus. Petrus mau supaya terus hidup enjoy dan kedamaian ini jangan cepat berlalu. Tetapi Yesus marah Petrus. 


Yesus  berpaling sambil memandang murid-murid-Nya lalu memarahi Petrus, kata-Nya: "Enyahlah Iblis,  sebab engkau bukan memikirkan apa yang dipikirkan Allah, melainkan apa yang dipikirkan manusia (Mrk. 8:33)." Atau versi Mat.16:23, "Yesus berbalik dan berkata kepada Petrus, “Enyahlah dari hadapan-Ku, hai Setan! Kamu adalah batu sandungan bagi-Ku sebab engkau tidak menetapkan pikiranmu pada hal-hal dari Allah, melainkan hal-hal dari manusia.”


Barangkali pengalaman Petrus ini dapat ditujukan kepada kita. Kita lebih enjoy dengan hal-hal yang aduhai. Tetapi bukan pada hal-hal yang duka dan kematian. Sepertinya kita hanya mau memilih yang sukacita saja tetapi menolak yang dukacita. 




Banyak orang yang tidak mau susah, mati, maunya enjoy saja. Saya ingat pengalaman sakit mantan provinsial sebuah kongregasi yang tak berdaya dengan kesehatannya tapi ekspresi lahir wajah-Nya begitu senyum bahagia, tidak mengeluh, menerima. Lalu saya tanya, apa kuncinya? Beliau jawab begini, sakit, menderita, bahkan kematian adalah bagian dari panggilan saya, panggilan kita manusia. Saya terdiam lama mendengar dan merekam rapi di benak. Lantas saya lanjut dalam hati, memang  betul sekali bahwa beliau mengerti secara tepat tentang psikologi perkembangan ini bahwa setiap orang harus melewati tahap-tahap perkembangan manusia universal. Kita manusia harus melewati dan mengalaminya. Tahap psikologi perkembangan kita itu meliputi:   lahir, hidup, kerja, sakit, mati. Setiap orang mengalami dengan caranya masing-masing. Ada yang menerima setiap tahap hidupnya. Tetapi ada pula yang menolak setiap tahap hidupnya. Salah satunya tolak atau terima dukacita, derita, dan kematian. 



Yang menerima kematian pasti telah siap sejak awal karena derita dan kematian adalah bagian dari tahap hidup manusia dan tampak enjoy mengalami duka dan kematian sebagai satu Panggilan sempurna dari Tuhan sebagai suatu moment penting untuk penyembuhan total dan Sukacita abadi di Surga. 

Maka tepat Paulus menulis Suratnya kepada jemaat di Roma. "Sebab jika kita hidup, kita hidup untuk Tuhan, dan jika kita mati, kita mati untuk Tuhan. Jadi baik hidup atau mati, kita adalah milik Tuhan. Karena kita hidup bukan untuk kita sendiri dan mati bukan untuk diri kita sendiri, tetapi baik hidup dan mati adalah untuk Tuhan (Roma 14:8)."


Panggilan hidup. Panggilan mati Kita tetap milik Tuhan. Panggilan pada kematian adalah panggilan Paling Sempurna. Orang/kita harus bicara tentang dukacita, kesedihan dan kematian. Karena itu adalah panggilan kita. Baik hidup atau mati Kita adalah milik Tuhan.***

Panggilan Sempurna dari Tuhan : Penyembuhan Total dalam Kematian

  Renungan Harian 

Kamis 4 Februari 2021

Sumber Refleksi 

Ibr.12:18-19.21-24

Mrk. 6:7-13




*P.Benediktus Bere Mali, SVD*


Injil hari ini mengisahkan tentang panggilan para murid  mengingatkan kita akan panggilan kita masing-masing. Panggilan para murid dan panggilan kita adalah sebuah rahmat Tuhan. Kita berterimakasih atas rahmat panggilan kita. Kita juga patut merayakan panggilan kita ini dan panggilan para murid ini sebagai sebuah rahmat Tuhan. Seringkali dalam kelemahan dan keterbatasan Kita, Kita bertanya pada diri kapan panggilan kita menjadi Sempurna?  Mengapa setelah mengikuti panggilan Tuhan menjadi imam, bruder biarawan biarawati masih tetap ada kekurangan dan kelemahan di sana dan di sini? Mengapa setelah Tuhan memanggil Kita secara khusus, masih ada berbagai kesulitan dan tantangan serta hambatan yang terus datang dan dialami?  



Menghadapi berbagai pertanyaan itu pada akhirnya Kita akan  tiba pada satu kata di tengah-tengah perjuangan  Kita, pasrah pada panggilan Tuhan menuju panggilan yang Paling Sempurna yaitu "Panggilan menuju Yerusalem Surgawi"  Yerusalem Baru sebagai sebuah panggilan yang Sempurna. Kita semua akan mengalami panggilan ini. Tidak seorang pun dapat lari dari panggilan Tuhan menuju Surga.


 Kematian Konfraters Romo Alo Wayan SVD dan Romo Yusuf Halim SVD adalah sebuah jalan panggilan kesempurnaan di dalam Yerusalem Surgawi. Yerusalem abadi. Hari ini mereka memenuhi panggilan Surgawi. Kita pun akan mengalami pemenuhan panggilan Sempurna itu. 


Mari Kita merayakan panggilan kita dan kedua konfraters Kita di dalam Perayaan Ekaristi pada Hari ini. ***

Renungan Harian Kamis 4 Februari 2021


Sumber Refleksi 

Ibr.12:18-19.21-24

Mrk. 6:7-13




*P.Benediktus Bere Mali, SVD*


Sharing pengalaman dengan sesama, antara dua orang atau lebih  itu sangat penting. Sharing pengalaman sangat membantu membuka peluang untuk menolong dan ditolong berdasarkan rencana strategi dan tujuan bersama, untuk menuntun dan dituntun pada arah yang tepat dan benar, untuk mengingatkan dan diingatkan, untuk menegur dan ditegur, untuk mengkritisi dan dikritisi sesuai arahan awal, strategi awal, untuk tujuan awal Sang Guru.   Singkatnya, sharing pengalaman itu menyehatkan, menyelamatkan, menyembuhkan, mengurangi sakit penyakit, mengurangi kesulitan dan persoalan, mengurangi dan meminimalkan kesalahan, mengutamakan kebijaksanaan dalam situasi dan kondisi yang  tepat dan baik serta benar. Letak pentingnya sharing itu disadari Tuhan Yesus Sang Guru 12 murid. 


Yesus memanggil keduabelas murid dan membagi mereka berdua-dua  lalu memberi kuasa atas roh-roh jahat. Artinya kuasa yang Tuhan beri kepada 12 murid yang dibagi dalam 6 Kelompok, dan setiap kelompok 2 orang, diberi kuasa Roh Kebaikan yang berasal dari Allah untuk mengantar semua orang yang mereka akan layani  kepada Tuhan Yesus. Enam Kelompok itu diutus ke tempat yang ditentukan oleh Sang Guru, Tuhan Yesus.  Yesus sesungguhnya memiliki rencana yang matang, strategi yang baik dengan kerja team yang solid, dan tujuan yang tegas dan jelas yaitu Roh Kebaikan adalah penuntun utama dalam situasi dan kondisi apapun. Artinya semua itu berjalan di dalam Group Proses yang baik. Pertama dan utama group proses itu untuk menyembuhkan dan menyelamatkan komunitas intern, ad intra yang menjadi dasar yang kuat dalam menjalankan tugas perutusan ke luar, ad extra, untuk menyembuhkan, menyelamatkan semua orang lintas batas.


Group proses kita perlu di dalam komunitas karya dan komunitas pembentukan. Group proses Yesus dan para murid adalah model group proses dalam keluarga kita sebagai Gereja pertama dan utama. Lewat group proses bermodelkan group proses dalam Injil hari ini, kita tegas untuk hidup dalam kuasa Roh Kebaikan yang menyelamatkan, menyehatkan, menyembuhkan Kita. ***

Rabu, 03 Februari 2021

Renungan Misa Harian Rabu 3 Februari 2021

  Renungan Misa Harian

Rabu, 3 Februari 2021

Ibr.12:4-7.11-15

Mrk.6:1-6


*P.Benediktus Bere Mali, SVD*



Ada teka teki besar dari bacaan Injil Hari ini. Teka-teki itu dapat diformulasikan di dalam persoalan atau dengan kata lain saya merumuskan persoalan ini dalam bentuk pertanyaan seperti ini.   Apakah ada sesuatu yang sangat aneh saat Yesus mengajar orang banyak seasal-Nya  yang mendengar-Nya merasa sangat heran dan takhjub, lalu kemudian menolak Yesus? Ya ada sesuatu yang sangat ganjil. Yesus mengajar begitu bagus tetapi kemudian mereka yang mendengar-Nya menolak Yesus. Keanehan itu muncul saat mereka mendengar-Nya lalu mengajukan aneka pertanyaan bukan tentang isi atau berbobot tentang apa yang dikatakan dalam pengajaran tetapi mempersoalkan kulit luarnya  yaitu tentang siapa yang mengatakan atau berbicara. Yesus adalah orang sederhana, berasal dari keluarga yang sederhana, lahir dalam kesederhanaan di kandang Betlehem, orang tua-Nya membawa 2 ekor burung merpati ke Bait Allah saat Yesus dipersembahkan di Bait Allah. Hanya orang miskin sederhana yang mempersembahkan 2 ekor burung merpati atau dua ekor burung tekukur. Sedang orang yang kaya mempersembahkan domba atau kambing menurut Hukum Musa. Kesederhanaan Yesus itu menjadi fokus orang orang yang menolak-Nya  dan hal itu menutup semua apa yang bermutu yang disampaikan di dalam pengajaran-Nya kepada mereka. 


Bagi orang-orang sekampung yang menolak-Nya, orang yang memiliki status sosial yang tinggi warisan tradisi  adalah orang -orang yang dapat didengarkan. Tetapi bagi Yesus kualitas pengajaran terletak pada siapa saja termasuk orang yang  sederhana sekalipun. 


Perbedaan kacamata yang digunakan dalam melihat apa yang dikatakan dengan siapa yang mengatakan dari Yesus dan orang-seasal-Nya dapat menimbulkan hal aneh dalam Injil Hari ini.


Pada masa ini dengan 4G dan 5G yang merata di seluruh pelosok dunia, takaran apa yang dibicarakan dan siapa yang berbicara, jurangnya telah diruntuhkan. Hanya orang yang berlari cepat mencari dan menemukan yang berkualitas dan mengatakan yang berkualitas lah yang akan menempati urutan terbaik. Bagi saya dalam Injil hari ini, Yesus berlari lebih cepat mencari dan menemukan yang berkualitas dan datang ke kampung tempat kelahiran -Nya mengatakan yang bermutu kepada orang-orang seasal-Nya. Kita semua, yang Jaya maupun yang sederhana saja, mempunyai peluang yang sama 24 jam sehari, kalau kita berlari lebih cepat mencari dan menemukan yang berkualitas maka kita pun memiliki kesempatan menyatakan yang berkualitas kepada orang lain termasuk orang yang seasal tempat kelahiran dengan kita. Memang kita juga tetap memiliki peluang untuk diterima dan ditolak tentang apa yang terbaik yang disampaikan atau dilakukan. Tetapi seperti  Yesus, teruslah kita melakukan kebaikan kepada sesama  lintas batas. Di antara satu kampung yang menolak masih ada kampung-kampung lain yang menerima apa yang terbaik yang akan kita sampaikan kepada mereka. ***

Selasa, 02 Februari 2021

Renungan Pesta Yesus dipersembahkan di Bait Allah Selasa 2 Februari 2021


 MENGUBAH DUNIA MULAI DARI HAL SEDERHANA



Mal. 3:1-4

Ibr.2:14-18

Luk.2:22-40

 

 

*P. Benediktus Bere Mali, SVD*

 

 

Manusia hidup dan beraktivitas dari lahir sampai mati bahkan keadaan setelah kematian pun berada di dalam aturan agama dan aturan sipil. Salah satu aturan sipil adalah keluarga Yusuf dan Maria ikut sensus jiwa saat menjelang kelahiran Yesus di Betlehem. Yesus hidup sebagai orang yang beragama Yahudi mentaati aturan agama Yahudi. Orang tua Yesus mempersembahkan Yesus setelah 40 hari kelahiran-Nya sesuai hukum Taurat.

 

Penyambut Yesus adalah Simeon dan Hana. Keunggulan Hana dan Simeon adalah senantiasa dekat dengan Allah. Mereka adalah orang yang suci, kudus di mata orang-orang yang mengobservasinya. Hana dan Simeon utamanya suci dan kudus di depan mata Allah. Mereka berdoa, berpuasa di Bait Allah dalam usia senja hidupnya. Mereka menjumpai Allah di Bait Allah yang telah menjadi manusia di dalam diri Tuhan Yesus sendiri. Roh Kudus membimbing Simeon dan Hana datang ke Bait Allah pada waktu yang tepat untuk menyambut Tuhan Yesus yang dipersembahkan oleh kedua orang tua-Nya di Bait Allah.

 

Di Bait Allah manusia bertemu dengan Tuhan Yesus secara langsung dan dalam Simbol yang digunakan yaitu melalui kata-kata/doa, materi (tubuh-fisik, alat pemberkatan), dan tindakan yaitu Gerakan tubuh saat melakukan ritus pemberkatan. Semua gerakan ritus penyambutan Yesus di Bait Allah, kata-kata atau doa, tentang Yesus dan masa lalu Yesus dan masa depan Yesus dan semua materi termasuk tubuh fisik dan material lain yang disebutkan di dalam penyambutan. Ketiganya menjadi satu kesatuan yang utuh dan lengkap mewarnai perjumpaan Tuhan di Bait Allah. 

 

Perjumpaan dengan Yesus terungkap di dalam bacaan pertama. Nubuat Nabi Maleaki tentang utusan yang menyiapkan jalan bagi Tuhan terpenuhi di dalam diri Yesus yang pestanya dirayakan pada hari ini. Pada waktu orang tua, Yesus dan Maria mempersembahkan Yesus kepada Tuhan di Bait Alllah, Simeon yang diutus Roh Kudus menyambutNya dan menatangNya di Bait Allah. 

 

Terpenuhilah janji Roh Kudus kepada Simeon bahwa ia tidak akan meninggal sebelum melihat Mesias yang diurapi. Hal ini termuat di dalam doa Simeon saat sedang menatang Yesus, “Sekarang Tuhan, biarkanlah hamba-Mu ini pergi dalam damai sejahtera, sesuai dengan firman-Mu, sebab mataku telah melihat keselamatan yang dari pada-Mu, yang telah Engkau sediakan di hadapan segala bangsa, yaitu terang yang menjadi penyataan bagi bangsa-bangsa lain dan menjadi kemuliaan bagi umat-Mu, Israel.”

 

Betapa bahagianya Simeon yang telah melihat Mesias yang dijanjikan Roh Kudus kepadanya. Betapa sukacitanya Yusuf dan Maria dibalik ungkapan keheranan atas semua yang dialami, dilakukan dan dikatakan oleh Simeon yang sedang menatang Yesus. 

 

Simeon utusan Allah itu lalu memberkati (Gerakan ritus berkat dan materi yang yang digunakan untuk memberkati) mereka, dan berkata kepada Maria ibu Anak itu, “Sesungguhnya Anak ini ditentukan untuk menjadi suatu tanda yang menimbulkan perbantahan dan suatu pedang akan menembus jiwamu sendiri supaya menjadi nyata pikiran hati banyak orang.”  

 

Perkataan Simeon ini tentang masa depan Yesus. Bahwa Yesus yang dipersembahkan di Bait Allah ini adalah Bait Allah yang hidup itu sendiri. Kehadiran-Nya akan menjadi pertentangan bagi banyak orang. Kehadiran-Nya sebagai Bait Allah yang hidup dan akan menjadi pertentangan bagi orang-orang yang tidak menyetujui kejujuran, kebenaran, keadilan, dan kedamaian yang dihadirkanNya. Puncak penolakan itu adalah penderitaan dan kematian-Nya di Salib. Penderitaan dan kematian-Nya di Salib itulah yang menjadi pedang yang akan menembus jiwa Maria Ibu Gereja dan Ibu Tuhan Yesus sendiri. 

 

Di situ ada juga nabiah Hana yang selalu setia berdoa dan berpuasa di Bait Allah dalam mengasah kesalehannya. Karena kesalehannya itu, maka Roh Kudus mengutus Hana menyambut Yesus dan berbicara tentang Yesus kepada semua orang yang menantikan kelepasan untuk Yerusalem. Kelepasan untuk Yerusalem ini bukan secara politis tetapi secara spiritual. Yesus membebaskan Yerusalem dengan melayani Yerusalem sampai menderita dan wafat di salib dan berpuncak pada kebangkitan-Nya sebagai kemenangan atas kematian dan maut. Itulah kelepasan untuk Yerusalem dan di luar Yerusalem dalam arti spiritual.

 

Kita mempersembahkan diri sebagai persembahkan kepada Tuhan yang paling istimewa. Teladan Hana dan Simeon mempersembahkan dirinya siang dan malam di Bait Allah dalam mengasah kesalehan mereka lewat berdoa, berpuasa dan bersedeka. Bersedeka atau berderma atau berbuat amal tidak ditampilkan secara pasti dalam diri Simeon dan Hana karena mereka telah usia lanjut.  Hal ini menunjukan bahwa mereka adalah orang sederhana, tidak memiliki uang atau materi yang cukup untuk melakukan amal. 

 

Maria dan Yusuf pun adalah orang saleh yang sederhana dan telah dipilih menjadi ayah dan ibu Tuhan Yesus. Kesederhanaan mereka tampak dalam mereka membawa dua ekor tekukur atau dua ekor merpati sebagai bahan persembahan di Bait Allah pada pesta Yesus dipersembahkan kepada Tuhan di Bait Allah. Sedangkan biasanya orang yang kaya pada dasarnya membawa kambing atau domba yang sudah berumur satu tahun sebagai bahan persembahan di Bait Allah sesuai hukum Taurat. 

 

Tuhan Yesus lahir sederhana, dipersembahkan di Bait Allah dalam kesederhanaan, berkarya secara sederhana dan matipun dalam sebuah kesederhanaan. Tuhan kita itu sederhana. Pasti  kederhanaan kita Tuhan perhatikan. Tuhan memberkati kita semua.***

 

 

 

 

 

 

  

Minggu, 31 Januari 2021

Renungan Harian Senin 1 Februari 2021

  Refleksi Pribadi 

Senin 1 Februari 2021

Ibr.11:32-40

Mrk. 5:1-20


*P.BENEDIKTUS BERE MALI, SVD*


Di antara sekian banyak hal yang menarik dari bacaan Injil hari ini,  hanya satu hal yang spesial bagi saya pribadi dan diharapkan juga bagi semua orang yang mendengar dan membaca bacaan ini,  yaitu merasa heran bahwa 2000 ekor babi yang mati tidak menjadi sumber kemarahan para penjaga babi tetapi justru mereka sukacita mewartakan mujizat Yesus mengusir 2000 Roh Jahat /legion yang merasuki dan mengganggu pribadi yang bersangkutan, sehingga roh jahat itu menyakiti diri dan melukai diri sendiri. Pemilik babi dan penjaga babi justru tidak marah pada Yesus dengan atau lewat perintah-Nya, legion yang merasuki orang sakit itu dapat dipindahkan ke dalam babi yang berjumlah kurang lebih 2000 ekor itu. Sesudah itu babi babi itu terjun ke dalam jurang dan mati semuanya. Tetapi justru bukan binatang babi yang diutamakan melainkan yang paling utama adalah keselamatan manusia paling tinggi di atas segalannya. 


Hal ini bagi banyak orang memang luarbiasa aneh dalam dunia zaman ini yang berpegang pada pepata lama yang sealalu baru di telinga kita:  "ada uang ada cinta, tidak ada uang tidak ada cinta." Artinya uang dapat membeli segalannya. Artinya dalam dunia yang sangat mengutamakan materi/uang, adalah aneh jika mereka membiarkan 2000 ekor babi mati setelah Yesus perintahkan legion dari orang kerasukan itu berpindah ke dalam babi-babi. Penjaga dan pemilik 2000 babi itu telah siap mengorbankan babi-babi yang berjumlah sebesar 2000 ekor tetapi mereka lebih mengutamakan keselamatan orang yang baru saja disembuhkan oleh Yesus.


Kita sedang mendapat sapaan Sabda Allah hari ini  untuk kita mengutamakan kemanusiaan atau harta dunia. Kalau kita diberi kesempatan tampil untuk memilih maka saya pilih baik material maupun kemanusiaan sama-sama diutamakan. Bagi saya keduanya saling melengkapi. Memilih selamatkan material tapi bukan materialis. Memilih kemanusiaan bukan berarti menolak materi. Semoga  Kita diinspirasi dengan renungan kecil tulisan kecil ini. Semoga renungan ini menjadi sumber inspirasi  bagi Kita semua. ***

Renungan Hari Minggu 31 Januari 2021

  Bahan Refleksi Minggu 31 Januari 2021

Ul.18:15-20

1Kor.7:32-35

Mrk.1:21-28


*P.Benediktus Bere Mali, SVD* 


Bukan Membunuh Setan Tetapi Mengusir Setan


Ada begitu banyak orang  berpendapat tentang Tuhan Raja Semesta Alam. Secara istimewa Injil Hari ini tentang  Tuhan Yesus mengusir Setan atau Roh jahat yang kerja utamanya menyakiti, melukai, bahkan mematikan. Pertanyaan yang Menarik dan menantang kenapa Setan atau makluk jahat itu tidak bunuh hanya diusir?   Setan atau Roh Jahat Perlu ada di samping Roh kebaikan dalam dunia seni, harmonis. Harmonis itu seimbang antara Hitam dan putih. Berjalan tepat persis di garis keseimbangan itulah seseorang diposisikan sebagai orang yang memiliki harmonis. Seorang psikolog, Freud berkata bahwa kekuatan jahat dan kekuatan baik itu bukan di luar diri manusia tetapi berada di dalam diri manusia. Kekuatan jahat dan kekuatan baik itu terungkap dalam aksi yang baik dan jahat yang tampak terukur oleh indera observer. Simbol kebaikan dan kejahatan yang tertulis atau berbentuk fisik misalnya patung dll, cerita dogeng dll dalam agama-agama dan dalam kebudayaan adalah hasil cetusan kekuatan kejahatan kejahatan dan kebaikan dari dalam diri pencipta atau penulis atau pencerita atau pemimpin atau seniman atau wartawan dll. Freud menyebut dua makluk raksasa yang ada di dalam ruang hati-rasa-budi manusia itu adalah "eros & thanatos." Eros menciptakan kebaikan dalam semua segi kehidupan, mengkritisi/AGRESI/oposisi dengan data ilmiah untuk membangun, Kecemasan yang menciptakan motivasi untuk bekerja secara Positif dan bertanggungjawab. Sebaliknya thanatos tampil dalam Perilaku aneh Menonjolkan Diri dalam semua tempat dan waktu/narsis sebagai cara capai kepuasan Diri,  mencari kepuasan  indera rasa dengan menyakiti dan melukai diri sendiri/masokis, mencari kepuasan dengan menyakiti orang lain/sadis,  AGRESI dalam Bahasa verbal  dan non-verbal yang melukai, menyakiti Sesama dan Diri tanpa solusi, Kecemasan terlalu rendah menurunkan bahkan menghilangkan semangat kerja, atau Kecemasan terlalu Tinggi sampai Sakit bahkan lumpuh tidak berdaya sama sekali. Ekspresi eros dan thanatos dalam sex, AGRESI, dan Kecemasan tersebut adalah dua makhluk raksasa yang ada di dalam diri setiap manusia secara pribadi maupun secara sosial religius. Bagaikan bateri smartphone yang memiliki Arus Positif dan negatif yang membuat Sinar Menerangi Wajah hp mempersembahkan berita informasi Positif dan negatif dari pencipta smartphone kepada pemilik smartphone.


Dalam Injil Hari ini Yesus mengeluarkan Roh Jahat dari orang yang Sakit dan disakiti Roh Jahat itu. Yesus tidak membunuh Roh Jahat itu. Yesus mengusir dan Memindahkan Roh Jahat itu dari dalam diri orang sakit ke tempatnya yaitu di luar diri manusia. Awalnya Roh Jahat itu bersoal jawab dengan Yesus yang datang hendak mengusirnya dari pekerjaannya yang menyakiti orang yang disakitinya. Pada akhirnya roh Jahat itu Taat pada Yesus, keluar dari orang sakit sehingga Setan atau Roh Jahat pergi ke tempatnya dan orang yang sebelumnya Sakit tiba pada kesembuhan berkat Sang Penyembuh yaitu Tuhan Yesus Raja Semesta Alam. 


Bagaimana supaya Setan itu tidak kembali lagi ke dalam diri manusia?  Pertama dan utama adalah bahwa manusia Perlu mengatur signal eros dan thanatos dalam dirinya dari segi manusiawi sebelum cepat cepat gegabah lari kepada jalur instant spiritual. Setiap pribadi termasuk yang Sakit dengan bantuan pendapat Freud, dapat meng-on-kan signal eros Positif dalam freim teologi Katolik dan pada saat yang sama dalam kesadaran lengkap meng-off-kan    thanatos negatif sehingga apa yng terungkap di publik yang positif dalam Teologi Katolik yang pro "putih" tolak  yang "Hitam". Tidak ada "abu-abu" bertindak dan berbicara di dalam Bahasa Teologi Katolik. Tepat Kotbah Yesus di Bukit, "Jika Ya katakan ya. Jika tidak katakan tidak."  Ya pada sumber kebaikan kebenaran dan keadilan dan kesamaian berpusat pada Tuhan Yesus Kristus. Bahasa Dalam bacaan Pertama, berbicara menurut kehendak Tuhan dalam berperan sebagai nabi. Bahasa bacaan kedua, bertindak fokus pada kehendak Tuhan. Tidak pada Roh Jahat dalam semua tempat dan segala waktu.***