Kamis, 07 Januari 2021

Homili Misa Harian Jumat 8 Januari 2021

 Iman yang Menyelamatkan


*P. Benediktus Bere Mali, SVD* 


Renungan Misa Harian

Jumat 8 Januari 2021

1Yoh 5:5-13

Luk 5: 12-16


Seorang yang baru-baru ini Sembuh dari Positif covid 19, diminta banyak sahabatnya untuk berbagi pengalaman Sembuh dari covid 19. Kemudian ia mengawali sharingnya dengan pertanyaan ini.

Apa perbedaan pengalaman Sakit dan tinggal di Rumah Sakit Selama Masa pandemik covid-19 dengan Sakit dan tinggal di Rumah Sakit pada saat normal sebelum pandemik covid-19? 

 Sakit pada saat normal lebih baik daripada Sakit lalu Masuk Rumah Sakit pada saat pandemik covid 19. Sakit pada saat situasi normal, banyak sahabat dan anggota keluarga yang memperhatikan Kita yang sedang Sakit. Tetapi Sakit dan masuk Rumah Sakit Karena covid, lalu keluar isolasi mandiri, benar sebuah pengalaman yang sangat tidak enak. Sakit Positif covid  , Kita sendiri yang Cucu pakain-setrika khusus atau terpisab dari orang lain, termasuk makan minum dan lain-lain. Orang pun menjauh dari Diri Kita sendiri. Secara Psikologis, lebih banyak stress dan itu menurunkan imun tubuh. Sampai  Sembuh  dari Sakit Positif corona virus  19, secara bertahap si Sakit menata kembali  hidup secara normal. Kemudian satu hal utama yang membuat imun si penderita tetap kuat adalah ketika si sakit melewati pergulatan yang hebat sampai pada akhirnya ia tiba pada titik Percaya total kepada Tuhan, "kalau Tuhan mau maka saya disembuhkan."  Kata-kata pasrah ini pada akhirnya membuat si sakit Damai dengan Diri sendiri. Meskipun Positif covid, tetapi selera makannya baik sehingga makanan dapat menambah imun tubuh dan damai dengan Diri yang sedang Sakit Positif covid 19, menambah imun tubuhnya.   Penerimaan Diri yang sedang Sakit dan damai dengan Diri dan memiliki selera makan yang bagus, pada akhirnya kembali Negatif covid 19. 


Si penderita kusta mengalami Sakit Fisik, Psikologis dan Sosial. Secara Sosial, si kusta diasingkan dalam pergaulan bersama. Secara Psikologis, si kusta mengalami tekanan Psikologis. Secara Fisik, Sakit kusta sulit disembuhkan. Tetapi tampaknya bahwa secara psikologis ia telah berdamai dengan Diri yang sedang Sakit Fisik-sakit kusta, dan secara Sosial, ia juga sudah Sembuh Karena ia berani mendekati Yesus dengan berkata kepada-Nya: " Jika Tuhan mau, tahirkanlah aku." Kata-kata nya ini adalah dasar pasrah dan Percaya total si kusta kepada Tuhan Yesus sang penyembuh atau dokter   spiritual baginya. Tuhan tidak menutup mata terhadap dirinya. Tuhan Yesus berkata: "Aku Mau, jadikan engkau Tahir." Maka sembuhlah si kusta dan ia menyatakan kemuliaan Tuhan Yesus yang menyembuhkannya kepada imam dan mempersembahkan persembahan untuk pentahiran seperti yang diperintahkan Musa, sebagai bukti bagi mereka. 


Bukti Bahwa Yesus adalah dokter spiritual yang menyembuhkan dirinya. Dan dalam aturan Yahudi seorang yang Sembuh dari Sakit setia memberikan persembahan syukur kepada imam.   


Iman Kita dalam situasi normal seringkali iman Kita bertumbuh biasa-biasa saja. Tetapi pada saat tubuh Fisik dan Psikologis serta Sosial tidak berdaya lagi, satu-satunya kekuatan hidup Kita adalah pasrah total kepada Tuhan sumber hidup Kita. Pasrah total kepada Yesus sungguh dapat menyembuhkan Kita dari Sakit penyakit yang Kita alami dan derita. Iman yang bertumbuh di dalam Kepasrahan dapat menyembuhkan Kita.***

Lukas 4:14-22a : Misi ala "blusukan" dari Yesus versus Setan Padang gurun berusaha supaya menang

* P. Benedict Bere Mali, SVD *



Daily Mass Devotional 

Thursday, 7 January 2021

1Jo 4: 19-5: 4

Luke 4: 14-22a

The devil of the Wilderness enemies the mission of "blusukan" Jesus



In the Network (online) all Positive and Negative information floods every person. Only a handful of people choose Negative information over a long period of time. The majority of the population chooses positive information for themselves and others. One of the positive information that every human being has is that everyone wants to be treated positively by others and thus he is motivated to do positive things to others.


One of the positive things that attracted the public's heart and went viral on social media in the (online) network this Sunday is the downward movement by our Social Affairs minister. The minister came to touch the hearts of the homeless and immediately knew them and especially the need for housing, food and clothing for the homeless that the Social Affairs Minister met. Serving with the "blusukan" down to the bottom is needed by the general public in this country. This is a public service revolution "leaving the way behind the desk" towards "going to the field" both at the beginning, process, evaluation, revision, process, evaluation, mission until the goal is achieved, namely common prosperity equitably for everyone. 


Jesus ministered by means of a "descending" gesture, that of being born in the Stables of Bethlehem. Since the beginning, he has shown his humility. His mission is not at the prijaji level only, but the "blusukan mission" model of Jesus to bring the Good News to the poor, deliverance to captives, to see the blind, and to liberate the oppressed. Jesus took ministry to marginalized people, small and simple people who had not received maximum service from their fellowmen. The ministry mission of Jesus was always looking for opportunities that were not normally accessible to other people. 


Bahaya kemapanan seorang misionaris zaman ini bisa direduksi oleh sapaan gaya misi Yesus. Misi seperti ini dimiliki setelah lulus ujian dari Iblis di Padang gurun.  Ada tiga ujian penting di Padang gurun yaitu harta duniawi, kuasa duniawi, mental instant. Yesus bermisi "blusukan" lewat proses bukan instant dalam bermisi. Yesus tidak terbelenggu oleh harta dan kuasa duniawi. Yesus komitment pada misi kepada orang yang belum dilayani yaitu orang miskin, tertawan, buta/Sakit, tertindas secara Psikologis, Sosial, dan Fisik.

Dengan sederhana dapat dikatakan bahwa sesungguhya Yesus sudah menyelesaikan persoalan-persoalan yang berhubungan dengan dirinya sendiri. Pengolahan Diri yang matang telah teruji  Iblis dalam pencobaan di Padang gurun Selama 40 Hari sebagai sebuah Retret Agung. Sekali lagi Yesus sudah menyelesaikan semua soal  yang berhubungan dengan dirinya sendiri. Yesus kini hanya memfokuskan Diri pada persoalan persoalan dunia lainnya dan persoalan Sesama atau orang lain. Yesus tidak dikuasai oleh harta, kuasa dan wanita. Ujian itu oleh Iblis di Padang gurun. Kini Yesus fokus Misi ala "blusukan" yang bagi mayoritas sulit dilakukan. 


Konstitusi Kita berbasis Misi Yesus mulai dari pinggiran  atau orang kecil inilah yang sebaiknya menjadi dasar misi Kita pada zaman ini. Benturan keuangan adalah sebuah soal diskusi hangat dalam misi Kita. Tetapi management keuangan yang belum tepat sering dijadikan alasan untuk tidak bermisi seperti Yesus dalam Injil Hari ini. Padahal Yesus bermisi tidak punya uang tetapi misinya menjadi sumber atau dasar bagi misionaris sepanjang zaman. ***

Rabu, 06 Januari 2021

Homili Misa Harian Kamis 7 Januari 2021

 Iblis musuh misi "blusukan" Yesus



*P. Benediktus Bere Mali, SVD*


Renungan Misa Harian 

Kamis, 7 Januari 2021

1Yoh 4:19-5:4

Luk 4: 14-22a



Dalam Jaringan (daring) semua informasi Positif dan Negatif membanjiri setiap pribadi. Hanya segelintir orang yang memilih informasi Negatif dalam jangka waktu yang panjang. Mayoritas penduduk memilih informasi Positif bagi Diri dan Sesama. Salah satu informasi Positif yang dimiliki oleh setiap manusia adalah setiap orang ingin diperlakukan secara Positif oleh orang lain  dan dengan demikian ia pun termotivasi untuk melakukan hal-hal Positif kepada Sesamanya.


Salah satu hal Positif yang Menarik hati publik dan menjadi viral di media Sosial dalam Jaringan (daring) dalam Minggu ini adalah gerak turun ke bawah oleh menteri Sosial Kita. Sang menteri turun sentuh Hati tuna wisma dan langsung mengenal mereka dan terutama kebutuhan akan perumahan, makanan dan pakaian para tunawisma yang dijumpai mensos. Melayani dengan cara "blusukan" turun ke bawah ini dibutuhkan masyarakat umum di tanah air.  Ini adalah Sebuah revolusi pelayanan publik "tinggalkan cara di belakang meja" menuju "turun ke lapangan" baik pada awal, proses, evaluasi, revisi, proses, evaluasi, Misi hingga tercapai goal yaitu kesejahteraan bersama secara Adil merata bagi semua orang. 


Yesus melayani dengan cara gerak "turun" yaitu lahir di Kandang Bethlehem. Sejak Awal sudah menunjukan kerendahan hatiNya. Misinya bukan pada level priyayi saja tetapi model "misi blusukan"  Yesus membawa Khabar Gembira kepada orang miskin, pembebasan kepada tawanan, penglihatan kepada yang buta, dan membebaskan orang-orang yang tertindas. Yesus menempuh pelayanan kepada orang - orang pinggiran, orang kecil dan sederhana yang  belum mendapat pelayanan maksimal dari Sesamanya. Misi pelayanan Yesus selalu mencari peluang-peluang yang tidak biasa dijangkau oleh orang lain. 


Bahaya kemapanan seorang misionaris zaman ini bisa direduksi oleh sapaan gaya misi Yesus. Misi seperti ini dimiliki setelah lulus ujian dari Iblis di Padang gurun.  Ada tiga ujian penting di Padang gurun yaitu harta duniawi, kuasa duniawi, mental instant. Yesus bermisi "blusukan" lewat proses bukan instant dalam bermisi. Yesus tidak terbelenggu oleh harta dan kuasa duniawi. Yesus komitment pada misi kepada orang yang belum dilayani yaitu orang miskin, tertawan, buta/Sakit, tertindas secara Psikologis, Sosial, dan Fisik.


Konstitusi Kita berbasis Misi Yesus mulai dari pinggiran  atau orang kecil inilah yang sebaiknya menjadi dasar misi Kita pada zaman ini. Benturan keuangan adalah sebuah soal diskusi hangat dalam misi Kita. Tetapi management keuangan yang belum tepat sering dijadikan alasan untuk tidak bermisi seperti Yesus dalam Injil Hari ini. Padahal Yesus bermisi tidak punya uang tetapi misinya menjadi sumber atau dasar bagi misionaris sepanjang zaman. ***

Selasa, 05 Januari 2021

Homili Misa Harian Rabu 6 Januari 2021

  Saat Panik versus Saat Normal


*P. Benediktus Bere Mali, SVD*



Renungan Misa Harian

Rabu, 6 Januari 2021

Tahun Liturgi B

1Yoh 4:12-18

Markus 6:45-52


Kita pernah mengalami kepanikan di dalam hidup Kita. Kepanikan biasanya datang secara mendadak spontan di luar perencanaan atau antisipasi. Saat Kita Panik, Pikiran Sehat kita dapat menurun sampai minus bahkan sampai menuju irasional dalam melihat sesuatu.


Pengalaman rasa Panik para murid dalam Injil Hari ini dipicu oleh badai gelombang yang menghantam perahu yang sedang mereka tumpangi sehingga mereka nyaris tenggelam yang akan membawa maut bagi nyawa mereka.  Ada berbagai Reaksi  dari antara para murid. Ada yang mungkin berebutan ban dalam agar jika tenggelam mereka masih bisa memegang ban dalam yang terisi angin untuk menuju daratan atau dermaga. Ada yang teriak minta pertolongan Tuhan. Ada yang menangis. Ada yang saling menguatkan. Ada yang pasrah pada yang Maha Kuasa.  Tetapi dalam Injil Hari ini, derajat kepanikan para murid itu sudah lumayan Tinggi. Terlihat jelas dalam pandangan mereka yang irasional pada saat Tuhan Yesus datang menghampiri mereka yang sedang berjalan di atas air. Para murid melihat Tuhan Yesus sebagai seorang hantu. Bayangkan, tingkat kepanikan yang Tinggi menciptakan pandangan yang irasional terhadap Tuhan sebagai hantu. Emosi kepanikan benar-benar berpengaruh pada irasionalitas dalam memandang Tuhan sebagai Hantu. 


Irasionalitas itu dapat disembuhkan lewat Tahap berikut yaitu dari pihak Luar dalam hal ini Tuhan Yesus sendiri mengkomunikasikan identitas Diri pribadi-Nya sendiri sebagai Tuhan Yesus kepada para murid yang Panik dan irasional terhadap pengenalan Diri Tuhan Yesus sang guru dan pemimpin mereka. Yesus menyembuhkan kepanikan para murid yang sedang irasional terhadap diriNya dengan Sabda: "Tenanglah! Aku ini, jangan takut." Saat itu mereka sadar dan menyambut Tuhan Yesus memasuki perahu mereka.  Setelah Yesus Masuk ke dalam perahu dan tinggal bersama mereka di dalam Perahu, maka angin badai alam pun redalah dan badai kepanikan Psikologis dan pikiran irasional mereka pun mulai kembali normal. Mereka sadar bahwa  bersama Yesus semua tenang. Alam pun tenang. Hati dan pikiran pun tenang dan normal. Tuhan memberi diriNya kepada para murid untuk menyelamatkan mereka. Inilah kasih/beri Sempurna Tuhan bagi Kita manusia. Kita beri/kasih Tuhan seluruh Diri Kita seutuhnya sehingga kasih Allah effektif dalam Diri Kita. 


Pesan bagi kita. Tinggal di luar Yesus, tidak ada keselamatan. Hanya hidup di dalam Tuhan Yesus ada keselamatan. Mari Kita setia tinggal bersama Yesus dan berjalan bersama Yesus Tuhan adalah satu-satunya keselamatan Kita umat manusia. ***

Senin, 04 Januari 2021

Homili misa harian Selasa 5 Januari 2021

  "Allah adalah Kasih/Beri"



*P. Benediktus Bere Mali, SVD*



1Yoh 4:7-10

Mrk 6:34-44



Setiap hari kita menerima waktu dan napas sampai akhir hidup kita. Kita menerima dari yang lain. Dalam iman, Tuhan Yesus yang memberi/kasih waktu dan napas kehidupan kepada kita. 


Allah adalah beri/kasih. Itulah intisari Bacaan pertama Hari ini. Setiap orang yang menerima Allah bersekutu dengan Allah dan tinggal di dalam Allah tampil beraksi memberi/kasih kepada Sesama. Sebaliknya orang yang tidak memberi/mengasihi Sesama  tidak mengenal Allah. 


Allah adalah Kasih/beri. Kasih Allah paling besar kepada Kita adalah Mengutus Anak-Nya untuk menebus dosa-dosa kita.  Kasih Allah secara Rohani ini terpenuhi di dalam Kasih/beri Allah secara lahiriah. Bacaan Injil Hari ini menampilkan Yesus yang memberi makan kepada orang banyak yang lapar. Inilah kasih yang nyata dan konkret. Inilah Kasih Allah tidak sebatas kata-kata indah. Inilah kasih Allah kepada Kita manusia paling nyata. 


Yesus berkata kepada Kita para muridNya pada zaman ini: "Kamu Harus memberi makan kepada orang yang lapar." Inilah Kasih/Beri kepada Sesama. Allah adalah Kasih. Kasihmu kepada Sesama dan kasihmu kepada  Sesama secara real menegaskan bahwa Allah adalah Kasih menurut imanmu kepadaNya. 


Di sekitar Kita ada banyak orang kaya materi berupa uang dan barang lain. Tetapi ada juga begitu banyak orang yang tidak memiliki apa-apa  yaitu mereka yang miskin dan papa. Baik yang kaya dan miskin itu termasuk orang yang beriman kepada Allah adalah Kasih. Iman mereka akan Allah adalah Kasih dapat terungkap dalam  berbagi, solider dan berbela rasa dengan Sesama. Kalau orang kaya tidak mau berbagi berarti hal itu membuat iman akan Allah adalah Kasih sesungguhya belum berakar di dalam hidupnya. 


Bagi Kita saat ini tentu Kita memiliki banyak kekurangan di Masa pandemik covid-19 ini, di samping kelebihan-kelebihan yang Kita miliki. Seringkali banyak orang berprinsip dirinya berkelebihan dulu kemudian dapat kasih/beri kepada orang lain. Tetapi Kita masih ingat orang miskin/janda miskin dalam Injil, ia memberi persembahan dari kekurangannya dan hal itu diperhatikan Tuhan Yesus. Membantulah Sesama Selama waktu hidupmu. Jangan sampai menunggu anda kaya dulu Baru membantu Sesama. Jangan sampai anda berpikir anda kaya dulu Baru sekolahkan anak. Tetapi sekolahkanlah anak dari apa yang sedang anda miliki. Tuhan memperhatikan setiap kali anda memberi yang terbaik kepada Sesamamu, walau paling sederhana sekalipun. ***

Homili Senin 4 Januari 2021

Cahaya Matahari Yesus Menerangi Segala Bangsa





*P. Benediktus Bere Mali, SVD* 



Bacaan Pertama

1Yoh 3:22-4:6

Bacaan Injil

Mat 4:12-17.23-25



Setiap Hari kita menerima Cahaya  Matahari menyinari Kita masing-masing. Cahaya Matahari itu menyinari semua bangsa. Demikian juga Terang Matahari Kristus Menerangi Semua Bangsa di bumi.


Bacaan Injil Hari ini  menegaskan bahwa Yesus adalah Terang Dunia, pergi mewartakan Sabda Allah ke daerah Zebulon dan Naftali, bangsa asing yang masih hidup di dalam kegelapan. Tujuan Yesus ke daerah kafir,  Zebulon dan Naftali agar Terang-Nya bersinar kepada    Naftali dan  Zebulon yang masih belum mengenal dan mendapat Terang Kristus. Dengan demikian Terang Kristus menyinari semua orang lintas batas terwujud di Negeri asing Zebulon dan Naftali.


Dalam Bacaan pertama, orang yg mengetahui  inkarnasi disebut sebagai orang memiliki Roh Allah. Sedangkan orang yang tidak mengakui inkarnasi disebut sebagai orang yang dikuasai roh antikristus. Mereka ini dapat dibantu agar mereka dapat beralih dari antiKristus menjadi pro Kristus. Untuk itulah Yesus yaitu Sang Terang itu sendiri pergi menyebarkan  Sukacita Kristus kepada segala Bangsa sehingga mereka bertobat dan berjalan bersama Sang Sabda yaitu Yesus Sang Terang Sejati bagi dunia.


Pesan bagi Kita hanya satu. Yesus menyelamatkan segala bangsa.  Kita menerima, menyembah dan memuliakan Yesus kemudian mewartakan Yesus kepada segala bangsa agar Terang Kristus mereduksi kegelapan yang masih menguasa Hati orang dari bangsa-bangsa di bumi. ***

Minggu, 03 Januari 2021

Homili Hari Raya Penampakan Tuhan Minggu 3 Januari 2021

 Cahaya Wajah Allah Menerangi Semua Bangsa:  Cahaya vs kegelapan


* P. Benediktus Bere Mali, SVD* 



Minggu 3 Januari 2021

Yesaya 60:1-6

Efesus 3:2-2a.5-6

Mat 2:1-12



Satu hal yang paling akrab dengan Kita sepanjang hidup Kita di Masa covid ini adalah wajah hp kita. Ada dua wajah hp yang Kita miliki yaitu wajah Terang dan wajah gelap. Wajah gelap terjadi ketika hp mati  sendiri karena kehabisan cahaya listrik di dalam bateri atau karena Kita matikan power cahaya listrik yang berpusat pada bateri. Sedangkan Wajah Terang Hp Kita tampil ketika Kita hidupkan power bateri hp Kita dan Selama cahaya listrik dalam hp masih terisi maka hp kita masih berfungsi dengan baik. Berkat kerja cahaya listrik dari bateri hp, Kita dapat mengoperasikan hp Kita untuk mencari dan menemukan semua wajah informasi yang dapat diakses di dalam tampilan wajah hp Kita. Supaya cahaya listrik di dalam hp itu tidak kehabisan maka setiap kali kekurangan Cahaya listrik bateri, Kita isi lagi Sinar listrik di bateri hp,  melalui kabel isi bateri yang menghubungkan bateri Hp dengan sumber cahaya listrik yang masih aktif.  Pengisian ini bekerja dengan baik jika bateri dan hp nya masih baik dalam menerima Arus listrik yang baik melalui kabel penghubung yang baik. Kalau salah satu unsur tidak dapat bekerja baik maka semuanya   hp tidak dapat bekerja dengan baik atau tidak dapat dioperasikan. Ada kerja sama yang terkoneksi baik antara bateri hp, kabel charger, dan pusat Arus listrik.


Cahaya wajah Allah tampak kepada segala bangsa pada Hari Raya epifani pada Hari ini melalui wakil segala bangsa dalam Diri Melkior, Baltasar dan Gaspar. Tuhan menampakan wajahNya kepada segala bangsa melalui dua Tahap. Wajah Terang Manusia dapat melihat Wajah  Terang Allah menampakan diriNya kepada manusia. Tetapi wajah kegelapan tidak akan melihat Cahaya wajah Allah yang menampakan Diri kepada semua bangsa. Hal ini jelas di dalam  Nubuat Yesaya kepada Yerusalem:   "Bangkitlah, menjadi teranglah sebab sesungguhya, kegelapan menutupi bumi dan kekelaman menutupi bangsa-bangsa; tetapi Terang Tuhan terbit atasmu dan kemuliaan-Nya menjadi nyata atasmu. Bangsa - bangsa berduyun-duyun kepada Terangmu dan raja-raja menyongsong Cahaya yang terbit bagimu."  Nubuat Yesaya ini terpenuhi di dalam Yesus Sang Terang itu sendiri yang menampilkan Cahaya  wajah-Nya dalam tanda Bintang-Nya kepada Tiga Raja di Timur. Tuhan menampakan Cahaya wajah-Nya dalam tanda Bintang kepada Melkior, Balthazar dan Gaspar dari Timur wakil segala bangsa yang telah melihat Wajah Allah yang menyelamatkan. Mereka menerima Penampakan Tuhan dalam tanda Bintang-Nya itu dengan penuh Sukacita. Tanda Wajah-Tuhan dalam Bintang-Nya mengundang Tiga Raja untuk terus menerus mencari tanpa lelah    untuk meneemukan Wajah Tuhan. Bintag-Nya itu menuntun dan menyertai Tiga Raja dalam pencariannya sampai mereka bertemu muka dengan Cahaya Wajah Allah dalam Diri Bayi Yesus Raja Yahudi di Kandang Bethlehem wilayah kekuasaan para gembala Domba. Mereka bertemu Raja Yahudi bukan di istana tetapi di daerah orang kecil, para gembala di Betlehem. Cahaya Wajah Yesus mempertemukan dan menyatukan para Raja dengan orang kecil yang tidak diperhatikan oleh Raja setempat. Wajah Yesus adalah Cahaya Wajah Allah yang peduli kepada kaum sederhana dan kaum yang berada dengan satu harapan supaya Kelompok yang kaya menjadi lebih solider dan berbela rasa pada orang kecil dan miskin papa. Tiga Raja bertemu Yesus yang lahir di kandang Betlehem miliki para gembala domba-dombanya. Wajah Tuhan Yesus  menampakan Diri kepada Tiga Raja di  tempat yang sederhana.  Para Raja mempersembahkan bahan persembahan terbaik kepada Yesus. Mereka mempersembahkan emas kepada Bayi Yesus. Pada zaman Yesus lahir, emas adalah bahan persembahan kepada Seorang Raja.  Mereka mempersembahkan dupa kepada Seorang Imam untuk mengukup bahan persembahan kepada Allah di Bait Allah dan Yesus adalah Sang Imam Agung bagi Kita umat manusia.  Mereka juga mempersembahkan Mur yang mengingatkan akan kematian dan wafatnya. Mur adalah minyak untuk membalsem seorang yang meninggal. Bahan persembahan yang terbaik yaitu emas, kemenyan dan Mur kepada Bayi Yesus sebagai imam dan raja  dari kelahiran sampai wafatNya ini menunjukan bahwa Ada persekutuan erat secara lahir dan bathin antara Terang Yesus dan Tiga Raja wakil bangsa-bangsa Dunia. Persatuan yang sebegitu erarnya Tiga Raja dengan Yesus yang telah menampakan Diri secara real, sehingga Wajah Allah muncul langsung dalam mimpi tiga Raja ini dan Allah menegaskan dalam mimpi ya supaya mereka kembali kepada bangsa-bangsa melalui jalan lain, jalan Cahaya Wajah Allah penyelamat Dunia, bukan kembali melewati Jalan Kegelapan Herodes yang menyehatkan mereka dan Dunia.  Persatuan Tiga Raja dengan Cahaya Wajah Allah yang telah menampakan Diri itu utuh baik secara Psikologis dalam mimpi, Sosial dalam kebersamaan kekuarga dan para gembala yang bersukakita mengalami rasa Cahaya Wajah Allah dalam Diri Bayi Yesus,   Fisik  dalam perjumpaan langsung dengan Bayi Yesus di kandang sederhana Betlehem dan spiritual  dalam sebuah kepastian iman yang kokoh. Persukutun Allah itu memberikan perutusan kepada mereka bahwa mereka harus pergi mewartakan Cahaya Wajah Allah yang telah mereka lihat dan alami itu kepada Dunia agar semua bangsa menyambut Yesus dan menjadi anggota tubuh Kristus.    


Pesan bagi Kita. Yesus telah lahir dan tampak bagi Kita. Tetapi pencarian terus menerus Wajah Yesus dalam setiap konteks tidak pernah merasa lelah. Cahaya Wajah Allah selalu up-to-date oleh konteks yang sedang di alami manusia setiap zaman dengan keunikannya yang berbeda-beda. Misalnya di Masa pandemik covid 19 yang sedang Kita alami ini, Kita bertanya Wajah Allah seperti siapa yang Kita renungkan. Wajah Allah yang cinta akan disiplin Diri dalam mentaati memakai masker. Mencuci tangan, dan mencuci tangan atau kebersihan Diri secara utuh. Cahaya Wajah Allah yang memberi Terang kepada Kita agar Kita berjalan di jalan Cahaya disiplin Diri dengan menjaga kebersihan Diri dan lingkungan. Di Masa pandemik covid 19 ini Wajah Allah yang menampakan Diri kepada Kita dalam Allah mendidik Kita untuk setia mengatur dan menjaga imunitas tubuh Kita secara utuh dan baik dan benar. ***