Sabtu, 09 Januari 2021

Homili HR Pembaptisan Tuhan, CKMS Manila 10 Januari 2016 Pada Natal dan Tahun Baru Bersama Flobamora Global Fhilipine

  KEMAUAN YESUS DIBAPTIS DI AIR YORDAN

*P. Benediktus Bere Mali, SVD*

Homili HR Pembaptisan Tuhan, CKMS Manila  10 Januari 2016 Pada Natal dan Tahun Baru Bersama Flobamora Global Fhilipine

Thn.c. Yes 40 :1-5.9-11. Tit 2 : 11 -14; 3 : 4 – 7; Luk 3:15-16.21-22

Yohanes memilih  Sungai Yordan sebagai tempat pembaptisan. Pemilihan ini melahirkan  di dalam diri kita masing-masing sebuah pertanyaan ini: Mengapa di antara sekian banyak air yang ada, hanya air Yordan yang jadi tempat baptis banyak orang dan Tuhan Yesus? Alasan mendasar yang membuat air Yordan paling unik bila dibanding dengan air yang lain adalah karena Sungai Yordan memotong padang gurun, tempat dimana Yohanes berseru-seru  dengan suara yang sangat lantang tentang : siapkanlah jalan bagi Tuhan.

Seruan Yohanes ini sesungguhnya  menegaskan kembali apa yang dinubuatkan nabi Yesaya kepada bangsa Israel: “Siapkanlah di padang gurun jalan bagi Tuhan”.  Banyak orang yang menanggapi seruan penegasan itu dengan sebuah hati yang terbuka lebar. Tanggapan baik itu tampak melalui begitu banyak jumlah orang yang pergi ke Sungai Yordan untuk berjumpa dengan Yohanes dan dibaptis di dalam air Yordan. Kalau kita mengikuti betul proses orang banyak yang datang ke air Yordan itu, kita dapat menemukan bahwa dari antara sekian banyak orang yang turun ke dalam air Yordan dan dibaptis itu, memiliki motivasi yang berbeda-beda antara satu orang dengan yang lainnya. Ada yang datang ke Sungai Yordan dan bersedia dibaptis karena hanya sekedar rame-rame mengikuti teman-temannya yang juga mau dibaptis. Ada yang datang ke sungai Yordan karena hanya sekedar ingin mengetahui, seperti siapakah Mesias yang diwartakan Yohanes. Ada yang datang ke Sungai Yordan memang didasari oleh pertanyaan dalam hati apakah Mesias yang dinantikan itu adalah Yohanes yang membaptis mereka atau kah orang lain. Dengan kata lain, menerima baptisan di Sungai Yordan tidak selamanya memberikan jaminan atau jawaban yang memuaskan atas semua keraguan dan pertanyaan iman tentang siapakah Mesias yang sesungguhnya yang mereka dengar dan baca dalam Kitab Suci.

Beraneka keraguan dan pertanyaan tentang siapakah Mesias yang dinanti-nantikan itu dapat ditemukan dalam persoalan pokok berikut, yang menurut hemat saya, barangkali  juga menjadi persoalan iman kita di dalam sepanjang sejarah ziarah hidup iman kita. Persoalan besar itu dapat dirumuskan dalam sebuah pertanyaan penting sekaligus menarik: Mengapa Yesus begitu kuat memiliki  kemauan untuk turun ke Sungai Yordan dan dibaptis, walaupun dengan sebuah awal yang menghalangi Yohanes untuk membaptis karena Yohanes benar-benar secara jujur menyatakan sebuah rasa tidak layak untuk membaptis Yesus yang diwartakanNya?

Yesus mau turun ke Sungai Yordan sebagai cara  buka Pintu Surga dan  Hati yang dahulu tertutup rapat

 Yesus memiliki kemauan yang begitu luarbiasa besar untuk turun ke dalam Sungai Yordan karena bagi Yesus, hanya dengan jalan itulah, semua orang yang telah turun ke dalam air Yordan, diperbolehkan atau diijinkan atau lebih tepatnya diperkenankan untuk mendengarkan Suara dari langit yang penuh berdaya revolusioner, : “Engkaulah AnakKu yang terkasih, kepada-Mulah Aku berkenan”.  Suara ini adalah kata-kata pengakuan dari Allah Bapa di Surga bahwa Yesus adalah Mesias yang dinanti-nantikan; Yesus adalah yang berkenan sebagai Mesias dan bukan orang yang lain. Suara itu juga menegaskan bahwa semua kehendak Tuhan tentang semua yang terbaik  bagi manusia telah diberikan kepada Yesus maka semua orang yang dibaptis menerima undangan dari Tuhan untuk mendengarkan Yesus dan melaksanakan semua yang diajarkan Yesus. Dengan demikian Suara itu mengubah yang ragu tentang Mesias menjadi percaya bahwa Yesus adalah Mesias yang utama dan dengan demikian mereka menjadi lebih yakin dan pasti mendengarkan Yesus dan melaksanakan semua yang diajarkan Yesus karena semua apa yang disampaikan Yesus senantiasa membuat hati sejuk para pendengarNya dan damai yang dialami itu senantiasa diharapkan semua mahkluk di muka bumi karena selalu menarik hati.  

Kesimpulan

Dengan demikian, ditemukan sebuah benang merah bahwa Siapkanlah jalan bagi Tuhan, dijawab oleh mereka yang dibaptis di Sungai  Yordan, karena hanya melalui cara itu, mereka yang dibaptis boleh mendengarkan suara Allah Bapa: “Engkaulah Putera dan Puteriku yang Terkasih”.  Kita semua yang telah dibaptis menjadi putera dan puteri yang dikasihi Tuhan, selalu dekat dengan Tuhan, bahkan bukan hanya itu melainkan kita juga selalu menjadi orang yang berkenan bagi Tuhan untuk tinggal bersamaNya sebagai orang yang selalu hidup di dalam Keluarga Allah (Kej 9:16/tema Natal 2015).  Dan satu contoh yang menjadi tanda nyata sebagai orang yang selalu hidup di dalam keluarga Allah adalah Senantiasa Rajin Berbuat Baik bagi semua orang tanpa syarat apapun. ***

Renungan Misa Harian Sabtu 9 Januari 2021



*P. Benediktus Bere Mali, SVD*


Bacaan Misa Harian 

1Yoh 5:14-21

Yoh 3:22-30


Rendah hati Memindahkan Kesombongan pada tempatnya 


Di antara sekian banyak kata kerja aktif yang paling penting dalam Kitab Suci, bagi saya hanya satu kata kerja yang paling penting yaitu bukan menyombongkan tetapi merendahkan diri sampai titik nol (zero) di hadapan Tuhan dan Sesama dalam kehidupan bersama. Kesadaran penuh menempatkan Diri di titik zero, kosong, nol, 0 adalah sebuah kesempatan emas untuk siap menerima semua dari luar Diri untuk diisi, dilengkapi, disempurnakan, diperkaya oleh yang dari luar Diri yaitu Tuhan dan Sesama yang menyelamatkan bukan dari Setan sombong yang menindas, menguasai, menghancurkan, melemahkan, memporakporandakan Diri. Kesadaran penuh dan kemauan yang kuat serta kejujuran membuka Diri yang  berada pada titik 0, kosong untuk siap diisi oleh kehendak Tuhan dan Masukan dari sesama yang Positif. Pada saat yang sama, kesadaran penuh menutup Diri yang berada posisi nol, 0, kosong, rendah hati terhadap hal-hal Negatif dari Setan sombong.


Kerendahan Hati dan Kesombongan adalah dua kata yang tepat diangkat di dalam permenungan. Seorang misionaris yang sudah bekerja di sejumlah negara yang berbeda, melihat tema kerendahan Hati dan Kesombongan dari pengalaman melayani Tuhan dan Sesama. Beliau hidup dimana saja senantiasa merasa cocok tanpa soal dengan dirinya sendiri. Kuncinya satu rendah hati. Kerendahan Hati Memindahkan Kesombongan pada tempat dan waktunya. Baginya dirinya adalah tempat tinggal makhluk kerendahan Hati bukan makhluk Kesombongan. Makluk Kesombongan tempatnya pada orang lain. Bagi dirinya, waktu adalah waktu bagi bekerja makhluk kerendahan Hati bukan bagi kerja makhluk Kesombongan. Baginya, begitu banyak orang sangat dekat dengan orang yang rendah hati di hadapan Tuhan dan dalam berelasi dengan Sesama. Tetapi pengalaman membuktikan bahwa Kesombongan Diri mematahkan dan bahkan menghancurkan semua hal Positif bekerja dalam kehidupan bersama untuk kebaikan bersama. Kesombongan fokus pada Diri sendiri tetapi tidak fokus pada kebersamaan dalam komunitas atau organisasi besar. Persoalan hidup Bersama sentralnya pada salah seorang yang memenangkan Diri dengan mengalahkan kebersamaan hidup berkomunitas. Maka solusinya adalah semua anggota komunitas mengalahkan Diri dan harus memenangkan kebersamaan untuk kebaikan bersama. Kuncinya adalah kerendahan Hati bukan kesombongan. Kerendahan Hati selalu fokus untuk keselamatan bersama. 


Yohanes bekerja Keras Siang dan Malam untuk keselamatan Dunia yang pasti terpenuhi dalam Diri Yesus sang juru Selamat dunia. Yesus adalah Allah yang telah menjadi manusia untuk keselamatan umat manusia. Kuncinya adalah rendah hati. Lahir di Kandang Bethlehem bukan di istana atau Rumah Sakit Istimewa. Blusukan kepada orang miskin, tertindas, sembuhkan Sakit Fisik, Psikologis, Sosial,   dan membangun iman yang mendalam di dalam Diri domba-domba/umat yang dilayani. 


Yohanes bekerja basisnya rendah hati. Mayoritas tersentuh pelayan yang melayani dengan rendah hati. Tetapi banyak orang merasa tidak nyaman hidup Bersama orang yang bekerja dengan cara yang sombong. Kesombongan pada prinsipnya disukai oleh orang yang sombong tetapi tidak dibutuhkan Sesama di dalam kehidupan bersama, baik dalam komunitas mikro, maupun komunitas makro. Pengalaman misionaris telah tinggal dan bermisi di sejumlah negara, menemukan bahwa Kesombongan pada akhirnya bukan merusak atau menghancurkan orang lain saja tetapi pada akhirnya menghancurkan Diri sendiri. Sebaliknya kerendahan Hati pasti menyelamatkan Diri dan Sesama. ***

Jumat, 08 Januari 2021

Renungan Misa Harian Sabtu 9 Januari 2021

  

*P. Benediktus Bere Mali, SVD*


Bacaan Misa Harian 

1Yoh 5:14-21

Yoh 3:22-30


Pewarta Sabda Allah: Menonjolkan Diri atau Mengutamakan Tuhan dan orang lain


Di antara sekian banyak gaya pelayanan para misionaris, salah satu gaya Misi yang menciptakan anti-pati mayoritas umat yang menerima pelayanan-nya adalah pelayan lebih Menonjolkan Diri sendiri daripada Menonjolkan orang lain dan memuliakan Allah. Penonjolan Diri seorang gembala di segala lini, ber-dampak pada semakin menambah jumlah umat yang  antipati terhadap gembalanya. Seorang gembala yang sombong dalam melayani, sering menutupi pintu dirinya untuk menerima koreksi dan kritik membangun dari para domba. Para domba kalau terus menerus mengalami seorang gembala yang sombong, biasanya merasa rumput tetangga lebih Hijauh. Domba-domba akan pergi meninggalkan gembalanya dan pergi kepada gembala lain yang lebih bermutu dalam pelayanan berbasis managemen pelayanan secara lebih mantap  dan professional.  Domba- domba akan meninggalkan gembala yang sombong dan menuju dan bergabung dengan gembala di tempat lain,  yang tampil rendah hati terbuka pada Masukan Positif untuk kemajuan dan keselamatan bersama.


Ia harus makin besar, tetapi aku harus makin kecil. Kata-kata ini adalah prinsip dasar Yohanes dalam  melayani. Pelayanannya berbasis kerendahan Hati bukan kesombongan. Fokus Yohanes dalam melayani adalah untuk membesarkan nama Yesus bukan untuk membesarkan nama dirinya sendiri. Yohanes secara jujur berkata rendah hati kepada setiap orang yang bertanya kepadanya. 


Tuhan nomor 1 sedangkan dia adalah 0. Sehingga Jika Tuhan dan dirinya disatukan maka akan menjadi Angka 10. Angka ini Sempurna. 


Kita dapat membayangkan betapa luar-biasa-nya kalau Kita semua menomorsatukan Tuhan   dan Kita me-nol-kan Diri atau rendah hati, maka betapa besarnya nilai  satu dan nol disatukan. 


Mari Kita menjadikan Diri Kita pada status nol dengan Tuhan Yesus mendapat posisi pada Angka satu. Artinya bahwa semakin banyak  Angka nol di depan Angka satu, maka semakin besar nilai gabungan Angka 1 dengan Angka nol.  Maka ini menjadi sebuah kekaya-an spiritual yang sangat luar-biasa. Ke-rendahan Hati sang gembala pasti Menarik mayoritas Hati umat yang menerima pelayanan-nya.***

Renungan Berkat Rumah Jumat 8 Januari 2021



*P. Benediktus Bere Mali, SVD*


Bacaan 

1 Raj 8:22-23.27-30 : Fokus pada kata Pentahbisan

 Mat 7: 21-27 : Fokus pada kata Setan


Pentahbisan Rumah dapat Memindahkan Setan ke tempatnya



Setiap orang memiliki saat Istimewa di dalam hidupnya yang menjadi titik pemicu kesadaran pribadi untuk berkembang maju dalam cara berpikir Positif, berkemauan Positif dan selalu bertindak Positif. Misalnya peristiwa Istimewa si B ditahbiskan sebagai imam, dikuduskan sebagai imam untuk melayani Allah dan umat Allah, untuk Membaca dan merenungkan serta melaksanakan Sabda Allah dan berdasarkan basis baca Sabda Allah dan laksanakan Sabda Allah dalam hidup lalu kemudian mewartakan Sabda Allah kepada Sesama agar semakin banyak orang yang mengenal dan melaksanakan Sabda Allah di dalam hidup. 


Ditahbiskan, diberkati, diurapi  dengan Roh Kudus Allah berarti hidup dalam kekudusan Allah. Hidup di dalam bimbingan Roh Kudus dalam setiap waktu dan tempat. Sebagai orang beriman, kita dapat hidup setia kepada Tuhan dalam setiap waktu dan tempat Kudus. Waktu dan tempat adalah Kudus karena diciptakan dan diberikan Allah Maha Kudus kepada Kita manusia. Contoh bahwa waktu itu Kudus dan dikuduskan. Seluruh Dunia setiap jam mengadakan Perayaan Ekaristi dengan time zone yang berbeda-beda. Maka 24 jam sehari itu diisi dengan Ekaristi secara universal. Inilah Contoh kasih Tuhan artinya inilah Contoh Tuhan beri/kasih kepada Kita waktu dan tempat yang Kudus kepada Kita yang juga diciptakan oleh Allah yang Kudus. Maka Kita adalah bait Roh Kudus. Kita adalah tempat tinggal Roh Kudus. Dengan demikian Kita  hidup dan bertindak sesuai bimbingan Roh Kudus dalam mengisi waktu 24 jam sehari di mana pun Kita berada. 


Sebagai orang beriman kita selalu berpikir dan berperasaan serta bertindak sesuai kehendak Allah Roh Kudus. 


Di sisi lain, Tuhan yang Kudus menciptakan Kita bukan seperti robot yang remotenya kontrolnya dipegang oleh pencipta robot sehingga Semua gerak robot sesuai setingan pencipta robot. Kita dicipta dilengkapi dengan kebebasan. Tuhan memberi kebebasan kepada Kita untuk memilih sesuai yang Kita putuskan termasuk untuk berlaku Kudus atau berlaku yang tidak sesuai dengan kehendak sang pencipta yaitu Allah Maha Kudus. 


Ketika Kita gunakan kebebasan Kita untuk memiliki dan melakukan yang bukan kehendak Allah maka  Kita mengikuti kehendak Setan. Dalam Bacaan Injil Hari ini satu kata yang Menarik adalah adalah kata Setan. Pertanyaan bagi Kita adalah: Apakah Kita pernah melihat Tuhan dan Setan secara fisik?  Tentu semua Kita akan setuju bahwa Kita belum pernah lihat Setan dan Setan secara fisik tetapi kita dapat  lihat orang yang  bertingkahlakunya senantiasa merusak Diri, alam dan Sesama. Orang yang demikian sering disebut orang yang hidup dalam kuasa kegelapan atau Setan atau Iblis. Tetapi orang yang selalu melakukan kebaikan, kebenaran dan keadilan kepada Sesama dan alam dunia dapat disebut sebagai orang yang hidup dalam bimbingan kuasa Allah Bapa, Allah Putera dan Allah Roh Kudus. 


Kita dapat mengukur apakah seseorang itu hidup sesuai kehendak Tuhan atau Kuasa Setan berdasarkan tindakan nyata yang dilakukannya yang dapat dilihat oleh indera mata Kita. Apakah pikiran dan Perasaannya dikuasai oleh Allah atau Setan, Kita sulit menentukan Karena dua hal itu tidak dapat dilihat indera mata Kita. Sebagai orang beriman kita hanya memilih Kehendak Allah yang selalu setia menyelamatkan Kita dalam setiap waktu dan tempat yang diciptakan oleh Allah Maha Kudus. Tidak ada kata dan tindakan abu-abu di dalam mengisi waktu dan tempat yang Kudus, bagi Kita orang beriman. Kebebasan Kita digunakan untuk berkata tidak dan bertindak tidak pada kuasa kegelapan Setan yang merusak Diri, Sesama dan alam sekitar. Maka tepat kata Injil Matius 5:37 " Jika Ya katakana Ya. Jika Tidak katakan tidak."  Selalu katakan Ya dan tindakan Ya pada Sabda Allah. Senantiasa katakan Tidak dan Aksi tidak pada kuasa kegelapan Setan. Di sini Kita sebagai orang yang beriman dan Percaya kepada Yesus sebagai satu-satunya jalan kebenaran kehidupan, pilihan Kita hanya satu Ya pada Yesus di setiap tempat dan waktu. Kita memilih tidak pada kuasa kegelapan Setan pada setiap waktu dan tempat. 


Hari ini pemberkatan Rumah. Hari ini Rumah ini dikuduskan Allah. Kita sebagai orang yang beriman melihat bahwa Rumah ini berasal dari Allah Maha Kudus dan Kita persembahkan kepada Allah Maha Kudus. Semua perabot dan seluruh bangunan ini diciptakan oleh Allah Maha Kudus. Semuanya ini berasal dari Allah. Semua ini kasih Allah yang nyata. Semua ini pemberian Allah lewat cara yang indah. Lewat hasil kerja dan usaha, lewat orang tua, lewat penderma, lewat cara- cara indah yang Tuhan gunakan sampai Rumah ini kokoh berdiri. Allah memberikan secara indah kepada pemilik Rumah ini. Segala sesuatu indah pada waktunya. Memiliki Rumah mewah seperti ini pasti lewat cucuran airmata dan keringat. Artinya

Memperoleh Rumah seperti ini melalui sebuah kerja Keras yang luarbiasa. Dan menurut pengalaman orang-orang tua bahwa sebuah Rumah yang dimiliki lewat usaha dan kerja Keras sendiri, sungguh-sungguh memberikan sebuah makna yang sangat mendalam bagi Diri sendiri bila dibanding dengan sebuah Rumah yang diberikan orang lain. 


Tentu pada zaman seperti ini Rumah semewah ini tidak mungkin diberikan secara gratis kecuali oleh kedua orang tua sebagai kehadiran Allah yang kelihatan atau Allah yang memberikan kasihNya kepada anak-anak melalui dan dalam Diri  kedua orang tuanya. 



Begitu besar Kasih Allah bagi Kita teristimewa kepada pemilik Rumah ini. Kita bersyukur bersama keluarga ini lewat setia mendengarkan Sabda Allah dan melaksanakan Sabda Allah dalam hidup Kita kapan dan dimana saja. 


Kita semua yang hadir menyatukan doa Kita bagi keluarga pemilik Rumah ini agar Kita berharap Tuhan memberikan berkat berlimpah ganda kepada keluarga ini dan rahmat itu pun terus dialirkan kepada Sesama dengan cara yang indah sesuai rencana indah dari Allah sendiri.***

Kamis, 07 Januari 2021

Homili Misa Harian Jumat 8 Januari 2021

 Iman yang Menyelamatkan


*P. Benediktus Bere Mali, SVD* 


Renungan Misa Harian

Jumat 8 Januari 2021

1Yoh 5:5-13

Luk 5: 12-16


Seorang yang baru-baru ini Sembuh dari Positif covid 19, diminta banyak sahabatnya untuk berbagi pengalaman Sembuh dari covid 19. Kemudian ia mengawali sharingnya dengan pertanyaan ini.

Apa perbedaan pengalaman Sakit dan tinggal di Rumah Sakit Selama Masa pandemik covid-19 dengan Sakit dan tinggal di Rumah Sakit pada saat normal sebelum pandemik covid-19? 

 Sakit pada saat normal lebih baik daripada Sakit lalu Masuk Rumah Sakit pada saat pandemik covid 19. Sakit pada saat situasi normal, banyak sahabat dan anggota keluarga yang memperhatikan Kita yang sedang Sakit. Tetapi Sakit dan masuk Rumah Sakit Karena covid, lalu keluar isolasi mandiri, benar sebuah pengalaman yang sangat tidak enak. Sakit Positif covid  , Kita sendiri yang Cucu pakain-setrika khusus atau terpisab dari orang lain, termasuk makan minum dan lain-lain. Orang pun menjauh dari Diri Kita sendiri. Secara Psikologis, lebih banyak stress dan itu menurunkan imun tubuh. Sampai  Sembuh  dari Sakit Positif corona virus  19, secara bertahap si Sakit menata kembali  hidup secara normal. Kemudian satu hal utama yang membuat imun si penderita tetap kuat adalah ketika si sakit melewati pergulatan yang hebat sampai pada akhirnya ia tiba pada titik Percaya total kepada Tuhan, "kalau Tuhan mau maka saya disembuhkan."  Kata-kata pasrah ini pada akhirnya membuat si sakit Damai dengan Diri sendiri. Meskipun Positif covid, tetapi selera makannya baik sehingga makanan dapat menambah imun tubuh dan damai dengan Diri yang sedang Sakit Positif covid 19, menambah imun tubuhnya.   Penerimaan Diri yang sedang Sakit dan damai dengan Diri dan memiliki selera makan yang bagus, pada akhirnya kembali Negatif covid 19. 


Si penderita kusta mengalami Sakit Fisik, Psikologis dan Sosial. Secara Sosial, si kusta diasingkan dalam pergaulan bersama. Secara Psikologis, si kusta mengalami tekanan Psikologis. Secara Fisik, Sakit kusta sulit disembuhkan. Tetapi tampaknya bahwa secara psikologis ia telah berdamai dengan Diri yang sedang Sakit Fisik-sakit kusta, dan secara Sosial, ia juga sudah Sembuh Karena ia berani mendekati Yesus dengan berkata kepada-Nya: " Jika Tuhan mau, tahirkanlah aku." Kata-kata nya ini adalah dasar pasrah dan Percaya total si kusta kepada Tuhan Yesus sang penyembuh atau dokter   spiritual baginya. Tuhan tidak menutup mata terhadap dirinya. Tuhan Yesus berkata: "Aku Mau, jadikan engkau Tahir." Maka sembuhlah si kusta dan ia menyatakan kemuliaan Tuhan Yesus yang menyembuhkannya kepada imam dan mempersembahkan persembahan untuk pentahiran seperti yang diperintahkan Musa, sebagai bukti bagi mereka. 


Bukti Bahwa Yesus adalah dokter spiritual yang menyembuhkan dirinya. Dan dalam aturan Yahudi seorang yang Sembuh dari Sakit setia memberikan persembahan syukur kepada imam.   


Iman Kita dalam situasi normal seringkali iman Kita bertumbuh biasa-biasa saja. Tetapi pada saat tubuh Fisik dan Psikologis serta Sosial tidak berdaya lagi, satu-satunya kekuatan hidup Kita adalah pasrah total kepada Tuhan sumber hidup Kita. Pasrah total kepada Yesus sungguh dapat menyembuhkan Kita dari Sakit penyakit yang Kita alami dan derita. Iman yang bertumbuh di dalam Kepasrahan dapat menyembuhkan Kita.***

Lukas 4:14-22a : Misi ala "blusukan" dari Yesus versus Setan Padang gurun berusaha supaya menang

* P. Benedict Bere Mali, SVD *



Daily Mass Devotional 

Thursday, 7 January 2021

1Jo 4: 19-5: 4

Luke 4: 14-22a

The devil of the Wilderness enemies the mission of "blusukan" Jesus



In the Network (online) all Positive and Negative information floods every person. Only a handful of people choose Negative information over a long period of time. The majority of the population chooses positive information for themselves and others. One of the positive information that every human being has is that everyone wants to be treated positively by others and thus he is motivated to do positive things to others.


One of the positive things that attracted the public's heart and went viral on social media in the (online) network this Sunday is the downward movement by our Social Affairs minister. The minister came to touch the hearts of the homeless and immediately knew them and especially the need for housing, food and clothing for the homeless that the Social Affairs Minister met. Serving with the "blusukan" down to the bottom is needed by the general public in this country. This is a public service revolution "leaving the way behind the desk" towards "going to the field" both at the beginning, process, evaluation, revision, process, evaluation, mission until the goal is achieved, namely common prosperity equitably for everyone. 


Jesus ministered by means of a "descending" gesture, that of being born in the Stables of Bethlehem. Since the beginning, he has shown his humility. His mission is not at the prijaji level only, but the "blusukan mission" model of Jesus to bring the Good News to the poor, deliverance to captives, to see the blind, and to liberate the oppressed. Jesus took ministry to marginalized people, small and simple people who had not received maximum service from their fellowmen. The ministry mission of Jesus was always looking for opportunities that were not normally accessible to other people. 


Bahaya kemapanan seorang misionaris zaman ini bisa direduksi oleh sapaan gaya misi Yesus. Misi seperti ini dimiliki setelah lulus ujian dari Iblis di Padang gurun.  Ada tiga ujian penting di Padang gurun yaitu harta duniawi, kuasa duniawi, mental instant. Yesus bermisi "blusukan" lewat proses bukan instant dalam bermisi. Yesus tidak terbelenggu oleh harta dan kuasa duniawi. Yesus komitment pada misi kepada orang yang belum dilayani yaitu orang miskin, tertawan, buta/Sakit, tertindas secara Psikologis, Sosial, dan Fisik.

Dengan sederhana dapat dikatakan bahwa sesungguhya Yesus sudah menyelesaikan persoalan-persoalan yang berhubungan dengan dirinya sendiri. Pengolahan Diri yang matang telah teruji  Iblis dalam pencobaan di Padang gurun Selama 40 Hari sebagai sebuah Retret Agung. Sekali lagi Yesus sudah menyelesaikan semua soal  yang berhubungan dengan dirinya sendiri. Yesus kini hanya memfokuskan Diri pada persoalan persoalan dunia lainnya dan persoalan Sesama atau orang lain. Yesus tidak dikuasai oleh harta, kuasa dan wanita. Ujian itu oleh Iblis di Padang gurun. Kini Yesus fokus Misi ala "blusukan" yang bagi mayoritas sulit dilakukan. 


Konstitusi Kita berbasis Misi Yesus mulai dari pinggiran  atau orang kecil inilah yang sebaiknya menjadi dasar misi Kita pada zaman ini. Benturan keuangan adalah sebuah soal diskusi hangat dalam misi Kita. Tetapi management keuangan yang belum tepat sering dijadikan alasan untuk tidak bermisi seperti Yesus dalam Injil Hari ini. Padahal Yesus bermisi tidak punya uang tetapi misinya menjadi sumber atau dasar bagi misionaris sepanjang zaman. ***

Rabu, 06 Januari 2021

Homili Misa Harian Kamis 7 Januari 2021

 Iblis musuh misi "blusukan" Yesus



*P. Benediktus Bere Mali, SVD*


Renungan Misa Harian 

Kamis, 7 Januari 2021

1Yoh 4:19-5:4

Luk 4: 14-22a



Dalam Jaringan (daring) semua informasi Positif dan Negatif membanjiri setiap pribadi. Hanya segelintir orang yang memilih informasi Negatif dalam jangka waktu yang panjang. Mayoritas penduduk memilih informasi Positif bagi Diri dan Sesama. Salah satu informasi Positif yang dimiliki oleh setiap manusia adalah setiap orang ingin diperlakukan secara Positif oleh orang lain  dan dengan demikian ia pun termotivasi untuk melakukan hal-hal Positif kepada Sesamanya.


Salah satu hal Positif yang Menarik hati publik dan menjadi viral di media Sosial dalam Jaringan (daring) dalam Minggu ini adalah gerak turun ke bawah oleh menteri Sosial Kita. Sang menteri turun sentuh Hati tuna wisma dan langsung mengenal mereka dan terutama kebutuhan akan perumahan, makanan dan pakaian para tunawisma yang dijumpai mensos. Melayani dengan cara "blusukan" turun ke bawah ini dibutuhkan masyarakat umum di tanah air.  Ini adalah Sebuah revolusi pelayanan publik "tinggalkan cara di belakang meja" menuju "turun ke lapangan" baik pada awal, proses, evaluasi, revisi, proses, evaluasi, Misi hingga tercapai goal yaitu kesejahteraan bersama secara Adil merata bagi semua orang. 


Yesus melayani dengan cara gerak "turun" yaitu lahir di Kandang Bethlehem. Sejak Awal sudah menunjukan kerendahan hatiNya. Misinya bukan pada level priyayi saja tetapi model "misi blusukan"  Yesus membawa Khabar Gembira kepada orang miskin, pembebasan kepada tawanan, penglihatan kepada yang buta, dan membebaskan orang-orang yang tertindas. Yesus menempuh pelayanan kepada orang - orang pinggiran, orang kecil dan sederhana yang  belum mendapat pelayanan maksimal dari Sesamanya. Misi pelayanan Yesus selalu mencari peluang-peluang yang tidak biasa dijangkau oleh orang lain. 


Bahaya kemapanan seorang misionaris zaman ini bisa direduksi oleh sapaan gaya misi Yesus. Misi seperti ini dimiliki setelah lulus ujian dari Iblis di Padang gurun.  Ada tiga ujian penting di Padang gurun yaitu harta duniawi, kuasa duniawi, mental instant. Yesus bermisi "blusukan" lewat proses bukan instant dalam bermisi. Yesus tidak terbelenggu oleh harta dan kuasa duniawi. Yesus komitment pada misi kepada orang yang belum dilayani yaitu orang miskin, tertawan, buta/Sakit, tertindas secara Psikologis, Sosial, dan Fisik.


Konstitusi Kita berbasis Misi Yesus mulai dari pinggiran  atau orang kecil inilah yang sebaiknya menjadi dasar misi Kita pada zaman ini. Benturan keuangan adalah sebuah soal diskusi hangat dalam misi Kita. Tetapi management keuangan yang belum tepat sering dijadikan alasan untuk tidak bermisi seperti Yesus dalam Injil Hari ini. Padahal Yesus bermisi tidak punya uang tetapi misinya menjadi sumber atau dasar bagi misionaris sepanjang zaman. ***