Sabtu, 20 Februari 2021

Mengapa Sebelum Yesus Mewartakan Injil di depan publik di Galilea, Roh membawa Yesus ke padang gurun dicobai Iblis selama 40 hari dan 40 malam?

     *Benediktus Bere Mali, SVD* 


Renungan Hari Minggu 

21 Februari 2021

Kej. 9:8-15

1Ptr.3:18-22

Mrk.1:12-15


Iblis vs Injil


Mengapa Sebelum Yesus Mewartakan Injil di depan publik di Galilea,  Roh membawa Yesus ke padang gurun dicobai Iblis selama 40  hari dan 40 malam?  



Menerima tugas perutusan mewartakan Sabda Allah di depan publik dalam masyarakat Yahudi memiliki syarat utama yaitu usia biologis  minimal 30 tahun. karena itulah Yesus dibaptis oleh Yohanes Pembaptis pada usia 30 tahun untuk sebuah tugas perutusan. Selain itu pewarta Injil di depan publik harus memiliki kedewasaan dalam hal pengetahuan, kecerdasan emosional, kecerdasan sosial, dan memiliki kebijaksanaan di dalam hidup bersama. Bijaksana berarti mempertimbangkan semua aspek kehidupan dalam mengambil keputusan untuk berbicara dan bertindak sehingga sulit memberi peluang bagi terjadinya kesalahan fatal dalam melaksanakan tugas perutusan. 


Ada berbagai cara untuk mencapai ideal di atas. Tetapi di dalam Injil hari ini cara spesial untuk meraih ideal di atas melalui retret Agung di Padang Gurun dan dicobai Iblis selama 40 hari dan 40 malam. Yesus mengalami cobaan iblis di padang gurun selama 40 hari  dan Yesus lulus dari cobaan iblis itu. Ia tidak jatuh dalam kuasa iblis yang menyesatkan. Tetapi ia menguasai iblis. 



Dengan lulus dari cobaan iblis di padang gurun ini, ia kini fokus pada mewartakan Injil, pertobatan, dan mengantar semua orang untuk percaya kepada Injil.  Artinya bahwa Yesus tidak terbelenggu oleh persoalan diri dan persoalan dari luar diri yang datang dari iblis. Yesus telah membereskan diri dengan baik. Yesus telah mengurus dirinya secara baik  dan benar. Yesus fokus melayani untuk menyelamatkan semua orang. 


Kita sebagai pengikut Yesus seringkali terhalangi oleh urusan-urusan pribadi yang belum dibereskan secara tuntas sehingga kita belum dapat konsentrasi pada tugas mewartakan Injil kepada sesama. Atau barangkali kita masih sibuk mengurus urusan egoisme dan mengabaikan urusan pelayanan dan pewartaan Injil untuk keselamatan orang lain. Atau barangkali kita masih sibuk dengan harta, takta dan wanita/kenikmatan duniawi dan lupa urus harta surgawi. 

Bacaan Injil hari ini dapat membantu kita untuk pertama-tama bereskan lebih dahulu urusan pribadi lewat cara ret-ret Agung pengolahan diri sebagai persiapan diri untuk menjadi pelayan Injil di depan publik.***

Jumat, 19 Februari 2021

Metanoia Levi

  *Benediktus Bere Mali, SVD*


Renungan Misa Harian

Sabtu 20 Februari 2021


Yes.58:9b-14

Luk.5:27-32


Mengapa orang Farisi dan ahli-ahli Taurat  bersungut-sungut terhadap urusan murid-murid Yesus yang makan bersama Levi dan orang-orang berdosa? 


Pertobatan dirayakan dengan makan bersama. Perjamuan ini adalah sebuah syukur bersama Levi yang bertobat mengikuti Yesus dan hidup bersama Yesus. Bertobat berarti dahulu orang yang jauh dari Yesus baik secara fisik, pikiran, perasaan, dan tindakan, kini dekat dan tinggal bersama Yesus secara fisik, pikiran, perasaan dan tindakan. Demikian intisari "metanoia" dari Levi dalam Injil hari ini. Ia meninggalkan kebiasaannya sebagai pemungut pajak bagi kaisar Romawi, rentan korupsi dan kini ia ikut Yesus meninggalkan semua yang tidak baik dalam level sebagai pemungut pajak.


Levi adalah orang yang terbuka dan membuka diri untuk membentuk dan dibentuk oleh Tuhan Yesus. Ia tidak ingin tenggelam dalam masa lalu yang kelam. Ia sungguh senantiasa menghayati " ecclesia semper reformanda" artinya Gereja terus menerus membentuk dirinya dalam bimbingan Roh Kudus. Setelah ia terbentuk dalam dunia perpajakan, kini ia beralih kepada bertobat dari pemungut pajak yang rentan korupsi, kepada hidup jujur tulus dan terbuka untuk dibimbing berjalan setia bersama sang sabda Allah.

Mengapa para murid Yohanes yang sedang berpuasa merasa aneh saat mereka melihat murid-murid Yesus tidak berpuasa?

     *Benediktus Bere Mali, SVD*


Yes.58:1-9

Mat.9:14-15


Mengapa para murid Yohanes yang sedang berpuasa merasa aneh saat mereka melihat murid-murid Yesus tidak berpuasa?


Keanehan ini cukup penting dibicarakan dan dicari solusi karena untuk menyelesaikan soal aneh ini membutuhkan proses yang tidak gampang tetapi jika dapat menjawabnya maka semua alasan mengapa para murid Yohanes Pembaptis berpuasa dapat temukan jawabannya, dan sekaligus jawaban itu akan meneguhkan iman para murid Yesus dan imam para murid Yohanes Pembaptis.  Jawaban itu sebetulnya sangat sederhana. 

Puasa berarti berjalan kepada Allah dan tinggal bersama Allah sang penyelamat umat-Nya. Allah telah menjadi manusia dan tinggal di antara para murid yaitu Tuhan Yesus sendiri. Maka para murid Yesus tidak berpuasa Karena mereka sedang tinggal bersama Yesus. Jawaban ini membuka jalan lebar bagi semua orang yang sedang berpuasa datang kepada Yesus dan tinggal bersama Yesus. Dengan diskusi tentang puasa dalam Injil hari ini membuat semua orang sadar bahwa berpuasa tidak hanya mengantar diri sendiri kepada Allah tetapi juga  mengantar semua orang kepada Allah. Para murid tidak berpuasa karena tujuan puasa tinggal di dalam Yesus telah terpenuhi. Para murid Yohanes Pembaptis terus berpuasa karena mereka masih berjalan di luar Yesus belum sampai pada tinggal bersama Yesus dan tinggal di dalam Yesus.


Tuhan menerima puasa orang karena puasanya berlangsung secara tulus dan jujur. Hal ini terdapat di  dalam bacaan pertama. Sedangkan orang yang tidak tulus dan jujur dalam mempersembahkan puasanya kepada Tuhan maka Tuhan tidak mengabulkannya. ***



Kamis, 18 Februari 2021

Mengapa ikut Yesus itu harus pikul salib setiap hari?

  *Benediktus Bere Mali*


Ul.30:15-20

Luk. 9:22-25



Orang tidak mau sakit di masa pandemi covid 19 ini. Orang tidak mau cape bekerja di masa pandemi covid 19. Orang memelihara kesehatan otak, tubuh dan rasa serta aksi di masa pandemi covid 19 ini agar usia lebih panjang baik sebagai biarawan biarawati maupun sebagai awam. Ringkasnya manusia lebih menerima hidup enak daripada hidup menderita.



Yesus menerima dan meanggung banyak penderitaan dan ditolak oleh  tua-tua, imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat. Teladan ini menjadi model atau syarat bagi setiap pengikut Yesus. Seorang yang menjadi pengikut Yesus selalu menerima penderitaannya dan memikul salibnya setiap hari. Penderitaan adalah bagian dari panggilan hidup itu sendiri baik sebagai awam maupun sebagai imam, biarawan dan biarawati. 


Saya sangat terkesan dengan seorang imam senior   mantan Provincial sebuah kongregasi yang mengalami sakit serius tetapi ia enjoy menerima dan mengalaminya. Sebagai imam muda, saya tanya, apa kuncinya pater tampil senyum walau derita fisik sangat hebat. Jawabannya sangat membuat saya surprise, saya menikmati derita salib saya sebagai sebuah panggilan menuju kesempurnaan hidup sebagai pengikut Yesus. Psikologi perkembangan pun indah mengatakan bahwa orang yang bahagia di usia senja dan menikmati deritanya adalah orang yang sehat secara psikologis.***


Selasa, 16 Februari 2021

Bagaimana seorang beragama Yahudi mengasah kesalehan pribadi dan kesalehan sosial?

  *Benediktus Bere Mali, SVD*


Rabu Abu 

17 Februari 2021

Yl.2:12-18

2Kor. 5:20-6:2

Mat.6:1-6.16-18


 *Puasa saat mengasah kesalehan pribadi dan kesalehan sosial* 



Dalam agama Yahudi ada tiga hal penting dalam mengasah kesalehan pribadi dan kesalehan sosial yaitu berdoa, berpuasa dan bersedeka atau berderma atau beramal.  

Berdoa berarti berkomunikasi dengan Tuhan dan bertindak sesuai kehendak Tuhan. Berpuasa berarti mengosongkan diri untuk memberi tempat yang lapang kepada kehendak Allah mendiami rumah hati, budi  dan rasa sehingga wajah aksi yang tampil di depan publik dapat menampilkan wajah kehendak Allah untuk menyelamatkan sesama dari berbagai latar belakang budaya dan suku dan tempat asal. Bersedeka berarti solider atau simpati dan empati dengan sesama yang menderita dengan aksi berbagi harta, waktu, tenaga  dan pikiran bagi sesama yang menderita. 


Fratelli Tuti ensiklik Paus Fransiskus lahir dari empat latarbekakang persoalan dunia yaitu semakin tampak bahwa dunia ini dibangun berdasarkan kekuasaan yang dicapai dengan  menghalalkan segala cara untuk kepentingan diri sendiri;  kedua, kontrol semua orang dan sumber daya alam dengan berbagai cara hanya untuk kepentingan diri sendiri; mengumpulkan harta kekayaan sebanyak-banyaknya untuk kepentingan diri sendiri, serta berkompetisi dengan berbagai cara untuk kepentingan diri sendiri. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa dunia dewasa ini dibangun atas dasar relativisme hanya untuk kepentingan diri sendiri atau egoisme. Melihat situasi dan kondisi seperti ini Paus Fransiskus secara tegas menampilkan sikap Gereja Katolik dalam ensiklik Fratelli Tuti ini.


Gereja Katolik Dunia dewasa ini melalui ensiklik ini menegaskan kembali bahwa dunia ini harus dibangun berdarkan ketekunan cinta yang lembut kepada sama saudara tanpa kekerasan, empati bersama sama saudara yang menderita,  berbagi harta kekayaan bagi sama saudara, dan solider dengan semua sama saudara dari berbagai latar belakang budaya  materil maupun imateril. Secara materil yang berkaitan dengan aspek fisik budaya yang dijumpai di dalam hidup bersama dan secara imateril yang berkaitan dengan cara berpikir dan perasaan dan bahasa verbal dan bahasa nonverbal.

Bagi saya sikap Gereja dalam ensiklik ini adalah sebuah kesalehan sosial Gereja yang semestinya dimiliki dan dilakukan oleh semua orang Katolik dalam dunia dewasa ini. ***


Mengapa Yesus mengatakan kepada para murid-Nya supaya mereka berjaga-jaga dan waspada terhadap ragi orang Farisi dan ragi Herodes?

     *P.Benediktus Bere Mali,SVD*



Renungan Misa Harian

Selasa 16 Februari 2021

Kej. 6:5-8.7:1-5.10

Mrk.8:14-21


Mengapa Yesus mengatakan kepada para murid-Nya supaya mereka berjaga-jaga dan waspada terhadap ragi orang Farisi dan ragi Herodes?


Para murid semestinya selalu waspada terhadap ragi Farisi yang munafik dalam penampilan  kata yang bertentangan dengan tindakan dengan tujuan hanya untuk mencari dan menemukan kepentingan dan keuntungan dirinya sendiri. Artinya orang Farisi memanipulasi data demi egoisme pribadinya sendiri. Demikian juga ragi Herodes harus diwaspadai karena Herodes menghalalkan segala cara untuk mempertahankan kekuasaannya, untuk mengontrol semua orang dan sumber daya alam, tidak ingin disaingi oleh orang lain yang lebih berkualitas, mengumpulkan harta kekayaan sebanyak-banyaknya, hanya untuk kepentingan dirinya sendiri. Data Kitab suci menunjukan bahwa ia tidak mau dinasti status quo- takta-harta-tidak mau disaingi oleh orang lain yang lebih unggul. Herodes menghalalkan segala cara termasuk membunuh semua anak laki-laki yang lahir seumuran Yesus di kota Bethlehem dan sekitarnya karena Yesus Raja Israel baru lahir di Bethlehem. Selain takta-harta,  wanita dicari untuk memuaskan libidonya dengan menghalalkan segala cara. Herodes tidak ingin ditegur oleh siapapun atas pelanggaran moral yang dilakukannya yaitu ia mengambil Herodias isteri Filipus saudaranya, menjadi isterinya. Herodes memenggal kepala Yohanes Pembaptis yang menegurnya atas pelanggaran moral tersebut.


Dalam bacaan pertama, ditampilkan bahwa di antara sekian banyak orang yang jahat, masih ada Nuh bersama keluarganya yang diberkati Tuhan dan menjadi teladan bagi keluarga-keluarga di dunia sepanjang zaman. Nuh setia berjalan di Jalan kebaikan di mata Tuhan di antara mayoritas yang melakukan kejahatan di mata Allah. Nuh diselamatkan dan menjadi babak kedua sejarah manusia dalam Kitab Suci setelah Adam dan Hawa. Nuh diselamatkan di Laut dalam perahu Nuh setelah lewat babak sejarah keselamatan Adam dan Eva di darat di Taman Eden berakhir. Apakah kelak Tuhan menyelamatkan alam semesta di udara, setelah di darat dan air? Bagi Allah tidak ada yang mustahil.


Pengalaman di Taman Eden Adam dan Hawa yang diawalinya dalam kesempurnaan itu diakhiri oleh dosa manusia sehingga yang kosmos Eden menjadi keos. Tuhan memulai dengan pembersihan air bah dan keturunan keluarga Nuh yang diselamatkan untuk melanjutkan babak kedua sejarah keselamatan dalam Kitab Suci.


Pesan bagi kita, kita fokus pada jujur dalam kata dan perbuatan karena itulah jalan  bagi Tuhan mengalirkan Rahmat-Nya bagi kita secara efektif. Kita berharap seperti Nuh bersama keluarga dan semua makhluk ciptaan-Nya dalam perahu Nuh yang Tuhan selamatkan. Kita ingin dunia ini dibangun tidak dengan kuasa, kontrol, kumpul harta, kompetisi dengan halalkan segala cara demi ego pribadi semdiri. Tetapi kita memiliki kemauan yang kuat untuk membangun  dunia mulai dari lingkungan komunitas keluarga kita dengan ketekunan lembut tanpa menggunakan kekerasan, menderita bersama sesama yang menderita, berbagi harta dengan sesama, dan bersimpati dengan budaya sesama yang kita jumpai.***

Minggu, 14 Februari 2021

Mengapa Yesus tidak memberi tanda kepada orang-orang Farisi yang datang meminta pada-Nya suatu tanda dari Surga?

  *Rm. Benediktus Bere Mali, SVD*

 

Renungan Misa Harian

Senin 15 Februari 2021

Kej.4:1-15.25

Mrk.8:11-13

 

Mengapa Yesus tidak memberi tanda kepada orang-orang Farisi yang datang meminta pada-Nya suatu tanda dari Surga? Yesus memiliki alasan tersendiri tidak melayani orang-orang Farisi yang meminta tanda daripada-Nya karena mereka tidak jujur dan mereka memiliki intensi untuk mencobai Yesus. Tuhan Yesus mengetahui intensi jahat orang-orang Farisi yang meminta tanda dari Yesus untuk menjerat Yesus. Yesus tegas tidak melayani permintaan orang-orang Farisi dan meninggalkan mereka. Tuhan Yesus tidak melayani orang Farisi dan meninggalkan mereka ini tentu menciptakan kemarahan dan permusuhan terhadap Yesus. Kemarahan mereka berpucak pada menangkap Yesus dan menyiksa Yesus di salib dan wafat di Kayu Salib. 

 

Bacaan pertama jelas menyampaikan Kain yang berhati jahat dalam mempersembahkan bahan persembahannya kepada Tuhan sehingga Tuhan tidak menerima bahan persembahannya. Sedangkan bahan persembahan Habel adiknya Tuhan terima. Kain membunuh Habel karena hati yang jahat yang telah diketahui Tuhan. Ia membunuh Habel yang persembahannya diterima Tuhan. Ia jengkel pada Habel adiknya karena persembahannya diterima Tuhan sedangkan bahan persembahan dari hasil pertaniannya kepada Tuhan itu tidak dikabulkan.

 

Tuhan tidak pernah tidur. Tuhan tegas terhadap orang yang berhati jahat dan bertindak jahat terhadap sesamanya. Bacaan pertama menampilkan bahwa Tuhan mengutuk orang yang membunuh sesamanya karena hidup itu milik Tuhan bukan milik manusia. Tuhan juga marah pada orang Farisi yang tidak jujur dalam meminta Yesus untuk memberikan tanda dari surga. Kemarahan itu terungkap dalam Yesus tidak melayani keingingan mereka untuk mencobai Yesus dan langsung Yesus meninggalkan mereka. Tuhan mengutuk Kain karena ia membunuh Habel saudaranya. 

 

 

Kita minta Tuhan Yesus mengabulkan doa kita. Permintaan kita itu tidak akan sia-sia kalau kita meminta berdasarkan kebutuhan tetapi bukan menurut keinginan kita. Lebih dari itu kita mengharapkan komunikasi dengan Tuhan melalui persembahan doa, material dan kegiatan kita berdasarkan hati jujur dan tulus maka semua persembahan kita dikabulkan. Kita yakin bahwa orang jujur di hadapan Tuhan yang membawa persembahkan kepada Tuhan, pasti Tuhan kabulkan. Tetapi orang yang tidak jujur, pasti Yesus marah tidak memberi pelayanan dan bahkan meninggalkan orang-orang yang  meminta untuk dilayani. ***