Senin, 22 Februari 2021

Mengapa penulis Injil Matius mengakhiri doa Bapa Kami dalam bacaan Injil hari ini dengan pengampunan terhadap sesama sebagai hal yang sangat penting ?

   *P. Benediktus Bere Mali, SVD* 


Renungan Misa Harian 

Selasa 23 Februari 2021

Yes.54:10-11

Mat.6:7-15


Mengapa penulis Injil Matius  mengakhiri doa Bapa Kami dalam bacaan Injil hari ini dengan pengampunan terhadap sesama sebagai hal yang sangat penting ?

 

Pengampunan sesama dengan tulus dan ikhlas membuat  situasi dan kondisi  diri yang layak untuk menerima pengampunan dari Tuhan. Tetapi orang yang rajin berdoa bapa kami tetapi tidak dapat mengampuni orang, maka Allah pun tidak akan mengampuninya. 


Untuk Tuhan mengampuni dosa kita, kita memiliki sakramen pengakuan secara langsung tatap muka atau langsung bertemu dengan imam dalam situasi dan kondisi  yang normal. 

Tetapi pada masa pandemi covid-19 ini, orang dan keluarga sulit tatap muka dengan imam untuk menerima sakramen pengampunan dosa dari seorang imam tertahbis.

Pada masa seperti ini yang paling penting adalah bertobat secara tulus dari dalam hati sendiri menjadi hal yang paling penting. Mengampuni  semua yang menyakiti hati kita di waktu lalu secara tulus, menjadikan kita berdoa bapa kami secara layak di mata Tuhan. Tuhan Tahu isi hati kita yang berdoa Bapa kami. Tuhan pasti mengabulkan doa bapa kami yang lahir dari sebuah hati tulus mengampuni sesama. Ampunilah sesamamu maka Allah mengampuni dosa-dosamu.   ***



Mengapa di antara begitu banyak pemimpin yang lebih hebat, Justru hanya Petrus - lah yang dipilih memegang Kunci Kerajaan Surga?

  *Benediktus Bere Mali, SVD*



Misa Hari Senin 22 Februari 2021

pesta Tahkta St.Petrus 


1Ptr. 5:1-4

Mat.16:13-18


 Salah satu tema ensiklik Fratelli Tuti dari Paus Fransiskus yang dikeluarkan pada 4 Oktober 2020 adalah "individualisme Radikal" dalam 4 Pilar yaitu dalam pilar politik orang mencari jabatan atau kuasa dengan menghalalkan segala cara hanya untuk kepentingan pribadi dalam level psikologis dan untuk kepentingan kelompok atau golongan dalam tingkat sosiologis. Kedua, pilar Religious, orang menggunakan  Agamanya yang mayoritas dengan menafsir ayat Kitab Suci Agama sesuka hati tanpa bijaksana, memanipulasi data Kitab Suci untuk mengontrol kelompok minoritas hanya  untuk mencari keuntungan diri sendiri dan kelompoknya, misalnya kelompok fundamentalist teroris. Pilar Budaya, orang menggunakan budaya mayoritas sebagai alat untuk menindas kelompok minoritas misalnya kelompok adat, tanpa kemanusiaan dan solider, hanya untuk mencari keuntungan dan kepentingan diri sendiri dan hanya untuk kepentingan kelompoknya . Pilar ekonomi,  orang mengumpulkan harta sebanyak-banyaknya dengan menghalalkan segala cara untuk kepentingan diri sendiri. 


Keempat pilar itu menjadi latarbelakang keprihatinan Gereja Katolik, sekaligus yang menjadi Alasan mendasar dari terbitnya Ensiklik "Fratelli Tuti: Semua Bersaudara: Persaudaraan dan Persahabatan Sosial," yang diterbitkan oleh Paus Fransiskus. Sikap Gereja pada masa puasa ini jelas bahwa di masa prapaskah ini Umat Katolik dipanggil untuk puasa dari kuasa yang menghalalkan segala cara,  kepada pemimpin untuk melayani dengan kasih dan kelembutan dan utamanya memberi contoh bagi masyarakat publik. Pemimpin adalah seorang gembala yang memberi contoh kepada yang dilayani, dengan tulus hati sesuai kehendak Allah, tanpa paksaan, tidak mencari keuntungan diri sendiri. Pemimpin adalah "ing ngarsa sung tulada" bagi mereka yang dilayani dari bangun pagi sampai bangun Pagi kembali di hari berikutnya. Pemimpin menjadi Teladan dan harus bijaksana dalam segala segi bidang kehidupan.


Petrus memiliki keutamaan-keutamaan tersebut maka Petrus diberi kunci kerajaan Surga untuk membuka pintu Surga bagi semua orang agar semua orang  masuk ke dalam Kerajaan Surga. Mereka yang layak masuk ke dalam Kerajaan Surga adalah mereka yang berkuasa untuk melayani dalam kasih dan kelembutan sesuai kehendak Allah Tritunggal Maha Kudus, mereka yang solider dengan semua aneka budaya yang dijumpai dan hidup bersama bertetangga berdasarkan prinsip kemanusiaan universal, mereka menderita bersama sesama yang menderita (compassion), dan mereka yang membagikan apa yang mereka miliki yaitu waktu tenaga, pikiran dan harta kepada sesama yang membutuhkan agar sesama sebagai secitra Allah dapat mengalami kemajuan dan kesejahteraan bersama. 


Selamat Pesta Tahkta St. petrus, sang pemimpin yang melayani Umat Gereja Katolik sesuai kehendak Allah dan umat  yang mau dibentuk sesuai Kehendak Allah agar semua dapat berjalan bersama Sang Sabda berarak memasuki Kerajaan Allah.***