Kamis, 28 Agustus 2008

P. Martin BHISU SVD BERSAKSI TENTANG PRESIDEN PARAGUAY

Salam dari Paraguay untuk Robert dan Alles. Kunjungan Budiman Sujatmiko dan Rikard Bagun di Paraguay sudah selesai. Sebelumnya konfrater kita di Brasil menjamu mereka dengan daging bakar, lalu ke Paraguay. Langsung kami ke rumah Lugo, makan malam di rumahnya. Keduanya hampir menangis melihat segala sesuatu begitu sederhana dan manusiawi. Malam itu kami "culik" Lugo. Masa depan Paraguay ada di tangan kami bertiga. Saya nyetir, Budiman dan Rikard mengawalnya di tempat duduk belakang. Maklum saya melihat Lugo malam itu agak tegang, dua hari menjelang pelantikan. Saya bilang: Ayo kita ke rumah SVD. Secepat mungkin saya dan dan seorang bekas suster yang bekerja di rumahnya mengatur tasnya dan kularikan dia ke rumah induk. Lugo larang pengawal-pengawalny a mengikuti kami. Paginya, sehari sebelum pelantikan, wawancara eksklusif Lugo dengan Budiman dan Rikard. Wartawan dari dalam dan luar negeri mengerumuni rumah induk kami. Kami bertiga menghantar Lugo sampai di kendaraanya. Sayangnya, hari itu kami tidak sempat memenuhi undangannya untuk makan siang di istana negara. Tanggal 15 agustus. Jam 5 pagi Lugo tiba rumah induk untuk Laudes, minta berkat dari konfrater yang hadir di kepela. Sedangkan saya masih mengorok di kamar. Budiman dan Rikar, apalagi. Satu jam menjelang pelantikan, kami bertiga tiba di rumahnya. Ratusan wartawan dan petugas keamanan membuat hari itu jadi lain sekali. Kami tiga masuk rumah, seperti di rumah sendiri, membuat wartawan lain cemburu.Di kamar makan saya jumpai sekretaris pribadinya. Kami berpelukan dan menangis, tidak pernah kami duga hari ini akhirnya tiba. Kedua wartawan kita membisu, mengarahkan kamera ke segenap pojok kamar makan yang sempit sekaligus dipakai sebagai kamar tamu, bersebelahan dengan dapur. Saya lalu ke biliknya Lugo. Masih di kamar mandi. Di atas tempat tidur ada selembar baju putih dan celana bekas berwarna coklat yang dikenakannya dalam acara pelantikan, dan dilantai sebuah sandal kulit yang barusan ia semir. Keluar dari kamar mandi, setengah bogel, dengan handuk melilit di pinggulnya. Kami dua berpelukan, berdoa, menangis. Kemudian kuberkati sahabat saya. Bisik Lugo: Jalan masih panjang Martín.Hari berikutnya kami ke San Pedro, wilayah utara paling miskin untuk mengikuti pelantikan gubernur kami, teman dekat saya dan Lugo, yang sekaligus katekis dan ketua seksi liturgi di paroki saya. Hadir juga dalam acara Hugo Chavez, presiden Venezuela. Nasib mujur bagi kedua wartawan. Hari minggu misa di paroki saya. Budiman dan Rikard hadir. Bapak gubernur menyiapkan Liturgi. Koor tidak ada. Semuanya bernyanyi, berdoa, berekspresi, bersyukur, puji Tuhan, dengan misa yang disederhanakan gaya umat sederhana amerika latin (mujur Vatikan belum tegur saya) diringi dengan dua buah gitar. Kedua wartawan kita belum pernah melihat suasana doa begitu khusuk tapi penuh nuansa kemanusiaan. Itulah liturgi orang-orang miskin. Sesudah misa kami ke rumah gubernur. Langsung duduk di dapur. Maklum Budiman ingin pamit dan anak-anak gadis bubernur. Sorenya di Asunción dengan Lugo kami masuk Istanah Negara untuk pertama kalinya. Hari berikutnya Rikard ke Indonesia dan Budiman ke Brasil ketemu Edi Doren dengan MST-nya. Ok. Robert. Saya merasa ditantang oleh Rikard, Budiman dan Anda. Mereka sudah setuju dengan tema yang saya pilih. Pertama: MEMBACA SOSIALISME AMERIKA LATIN DALAM BELANTARA NEOLIBERALISME. Sudah sampai 32 halaman. Yang kalau dibukukan bisa mencapai 40 hingga 50 halamam. Budiman anjurkan supaya bukunya jangan terlalu tebal, nanti orang tidak baca. Rencana saya hanya sampai 100 halaman, Moga-moga akhir oktober bisa selesai. Tema kedua, PEMIKIRAN-PEMIKIRAN PEMBEBASAN AMERIKA LATIN. Ketiga, ETIKA SOSIAL. Keempat, EKOLOGI SOSIALMoga-moga bisa berjalan baik sesuai dengan rencana kita

1 komentar:

Anonim mengatakan...

kita mesti sedapt mungkin menemukan wajah Yesus yang tersalib dalam realitas kehidupan masyarakat yang tertindas. Proficiat Pater Martin, selamat berjuang dan tentu juga saya dan teman-teman di Indonesia.

<ALEXAN SEBASTIAN OLA